Posts

Pantai Suluban, Surga di Balik Karang

Image
Sudah lama Runaway Diary nggak nulis tentang traveling. Padahal bahan untuk menulis masih banyak loh. Apalagi kalau menuliskan kisah di Pulau Bali, nggak pernah ada matinya. Setiap tempat pasti punya cerita. Dari daratan hingga dalam lautan, dari pantai hingga pegunungan. Nah kali ini aku akan mengajak teman-teman sekalian mengunjungi sebuah pantai indah di bagian selatan pulau bali. Pantai ini biasa disebut Pantai Suluban. Mungkin banyak di antara pembaca yang belum pernah mendengar nama ini. Aku juga baru tahu saat itu kok. Tapi aku jamin setelah kalian mengenalnya kalian akan jatuh cinta padanya, dan ingin kembali lagi mencumbunya. Berkali-kali kesanapun nggak akan pernah bosan. Aku sendiri nggak menyangka akan menemui pantai seeksotis ini, dengan begitu banyak pesona. Pada awalnya sebenarnya tujuan utama kami bukan ke pantai ini, tapi ke pantai Padang-padang. Berhubung pantai padang-padang saat itu penuh sekali pengunjungnya, maka kami urungkan dan pindah ke pantai suluban yang le...

Malaikat Pelindung

Image
dari sini  "karna kau tak lihat.. Terkadang malaikat.. Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..." Wahai para suami, sadarkah kamu bahwa istrimu itu malaikat pelindungmu? Mungkin dia tak secantik Luna Maya, dan tak seseksi Megan Fox. Mungkin dia hadir dengan daster kebanggaannya dan koyo di punggungnya. Mungkin dia tak pernah peduli dengan kecantikannya sendiri. Itu karena dia sibuk memikirkan penampilanmu, agar kamu tak malu tampil di depan teman-teman dan rekan kantormu. Dia sibuk memikirkan mau membelikan kemeja baru untukmu, sedangkan dia sendiri tak pernah kamu belikan baju. Kamu selalu mengeluh kenapa istrimu memakai daster yang itu-itu saja, tapi kamu tak pernah memberikan busana yang layak untuknya. Kamu membandingkan kenapa istrimu nggak secemerlang teman-teman wanitamu yang tampil dengan busana modis dan riasan mahal, sedang kamu sendiri nggak memenuhi kebutuhan sandangnya. Wahai para suami, istrimu adalah malaikat pelindungmu. Dia melindungimu dari nafs...

Merajut untuk Terapi Jiwa

Image
Assalamualaikum... Permisiii.. Duh rasanya kok jadi canggung gini masuk rumah blogku sendiri. Mungkin karena udah lama aku nggak nengokin blogku ini. Jadi mohon maaf  buat teman-teman yang sudah mampir kesini tapi nggak ada respon dari pemiliknya. Kemana aja sih pemiliknya? Pemiliknya lagi sibuk... (ah alasan aja..). Beneran kok, sibuk banget.. (mana buktinya? Keknya dari tadi cuma bengong aja) Aku sibuk menata hati... (jiaaaah #gubrak!) Yah begitulah. Mohon maaf kalau aku belum sempat mampir ke blog teman-teman semua. Takut malah mengacau.. Hihihi. Kalau soal menulis sih aku tetap menulis. Tapi tulisannya seputar curhatan saja, dan nggak layak untuk disuguhkan ke pembaca setia blogku ini. Jadi tulisanku masih tersimpan rapi di-draft, dan sepertinya nggak akan di-publish.. Hehehe Nah, intinya aku sedang menghadapi masalah berat, dan membutuhkan prioritas utama untuk diselesaikan. Makanya banyak hal yang terpaksa harus aku sisihkan dulu agar aku bisa fokus ke masalahku ini. Ta...

Kecanduan Belanja Online

Image
Ting! Tong! "Pakeeeet!" suara teriakan si kurir jne. Hari berikutnya.. Ting! Tong! "Paket paaak!" suara si pengirim paket. Hari berikutnya, sepulang dari kantor... Kulihat tumpukan beberapa barang berbungkus warna cokelat. Semuanya paket barang-barang yang dibeli secara online. Bukan aku yang beli, tapi suamiku. Hari berikutnya lagi sepulang dari kantor.. Masih saja kutemukan tumpukan paket di ruang tamu. Berarti hampir setiap hari suamiku ini membeli barang secara online. Aku heran juga, kok bisa sih setiap hari belanja online. Ada saja barang yang dia beli. Mulai dari peralatan kamera, perlengkapan sepeda, hingga pakaian olahraga. Karena penasaran akupun bertanya "Kenapa sih kok suka banget beli barang lewat online? Emangnya di toko-toko biasa nggak ada ya?" Suamiku menjawab "Toko online itu sering lebih lengkap loh dibanding toko biasa. Barangnya juga unik-unik. Dan barang-barang yang aku beli itu, nggak dijual di toko biasa"...

Penjajahan Abad 21

Image
tetap gaya meski belum merdeka :P Hari peringatan kemerdekaan negara kita telah lama lewat. Tapi tak ada salahnya kita bahas lagi tentang kemerdekaan. Kenapa? Karena aku merasa diriku ini belum merdeka. Emang sih secara de jure aku ini nggak mengalami masa penjajahan. Nggak perlu juga jadi relawan di medan perang. Namun sejatinya aku ini masih terjajah. Dan sepertinya aku nggak sendiri. Artinya, banyak juga yang masih terjajah, baik secara sadar maupun nggak sadar. Maksudnya dijajah nggak sadar itu apa? Maksudnya, banyak loh yang sebenarnya terjajah, tapi nggak merasa. Kenapa bisa nggak merasa? Karena bentuk penjajahan masa kini itu beda dengan penjajahan jaman dulu. Tapi efeknya sama-sama menyakitkan... #halah. Nah inilah beberapa bentuk penjajahan abad 21. Yuuuks.. 1. Dijajah sosial media Nah ini nih penjajahan yang nyata kita alami. Tapi kelihatannya banyak yang malah suka sama bentuk penjajahan ini. Bayangkan, setiap saat harus buka sosial media. Bahkan hidup terasa hamp...

Pangandaran, Antara Galau dan Mistis

Image
pagi di Pantai Timur Pangandaran Gerimis mengiringi perjalanan malamku ke Pangandaran bersama 19 orang temanku. Malam yang sendu dan basah, seperti pelupuk mataku yang penuh dengan air mata. Pertengkaran dengan suamiku sore itu menjadi penyebabnya. Dan perihnya kini masih terasa. Mungkin aku salah, tidak seharusnya aku pergi di saat pertikaian kami sedang memanas seperti ini. Tapi di sisi lain aku berharap kepergianku ini mampu mendinginkan hati kami yang membara disengat emosi jiwa. Lagipula acara jalan-jalan ini sudah lama kurencanakan. Sayang kalau harus dibatalkan. Prinsipku, kegalauan tidak boleh membuyarkan acara jalan-jalan. Ah, prinsip dari mana itu? Aku menghela nafas panjang, dan menatap butiran air hujan yang menerpa kaca jendela bus yang kutumpangi. "Cov, kamu nggak tidur?" tanya mbak Ambar, teman yang duduk disebelahku. Buru-buru aku seka air mataku. Aku tahu sebenarnya dia tahu kegalauanku, tapi aku tak mau terlihat lebay di depan teman-temanku. "...

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Image
Ibuku cantik. Nggak percaya? Lihat aja anaknya. Kalau anaknya cantik, pasti ibunya juga cantik. Teteeeup narsis :P. Sayangnya beliau ini nggak suka difoto. Katanya "Ibuk ini udah tua, udah jelek, nggak bagus difoto. Dulu waktu ibu masih muda, masih cantik, malah nggak ada yang moto". Dengan melengoskan wajahnya, dan mengangkat tangannya menutupi kamera. Gayanya mirip sekali dengan selebriti yang dikejar paparazi. Makanya foto-foto ibuku kebanyakan foto candid. Dan foto ini satu-satunya foto ibuku yang agak memandang kamera. ibuku bersama 2 bidadarinya ^^ Itulah ibuku. Nggak narsis seperti anaknya. Tapi sebenarnya ibuku berperan besar dalam jiwa kenarsisanku. Sejak aku kecil beliau sering bilang kalau aku ini cantik, pintar, dan berbakat. Jadi, nggak ada alasan untuk malu-malu. Ya iyalah, semua ibu pasti bilang anak perempuannya cantik dan pintar. Aku juga bilang persis seperti itu ke anak perempuanku.. Hehehe. Tapi kata-kata yang sederhana itu cukup mampu menaikkan per...