Thursday, October 31, 2013

Mama Jangan Mati

Kemarin malam sebelum berangkat tidur, tiba-tiba Ariq berkata "Kalau Ariq udah gede, Ariq mau kerja kaya' mama".
"Iya nak" jawabku.
"Tapi kalau Ariq udah gede, berarti Mama udah tua donk"
"Ya iyalah"
"Kalau mama tua, berarti mama bentar lagi mati donk"

Jleb! Mati. Dari bibirnya yang mungil, Ariq mengingatkanku akan kematian. Yah, memang normalnya manusia mati di saat sudah tua. Tapi banyak pula manusia mati tanpa harus menunggu usia tua tiba. Termasuk manakah diriku ini? Tak ada yang tahu. Berapa lama lagi aku menikmati dunia? Tak pernah ada petunjuknya. Hanya Allah yang yang menyimpan rahasia.

Kuhitung-hitung usiaku kini, dan kuperkirakan kapan aku akan mati. Kalau aku mengikuti siklus normal kehidupan manusia, kemungkinan masa hidupku tinggal tiga puluh tahunan lagi. Tiga puluh tahun bukan masa yang lama. Buktinya, usiaku sekarang sudah kepala 3, tapi rasanya baru kemarin aku masuk TK. Baru kemarin rasanya aku meringkuk nyaman dalam gendongan ibuku. Ternyata tiga puluh tahun itu waktu yang singkat.

Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan tiga puluh tahun yang tersisa? Apa aku masih saja berkutat dengan pekerjaan kantor yang menguras waktu dan energi, sehingga waktu untuk keluarga sangat kurang? Atau malah mengejar duniawi, hingga melupakan kehidupan akhirat? Bagaimana dengan anak-anakku? Mampukah aku mendampingi mereka dan mengantarkan mereka ke kehidupan yang lebih baik? Mampukah aku mendidik anak-anakku menjadi manusia yang berguna, hanya dengan tiga puluh tahun yang tersisa?

Rasanya waktu yang ada sangat kurang untuk semua itu. Padahal itu perkiraan normal usia matiku nanti. Bagaimana kalau ternyata aku termasuk yang tidak normal, alias mati lebih cepat dari perkiraan di atas? Bagaimana kalau dua puluh atau sepuluh tahun lagi aku mati? Siapkah? Atau bagaimana kalau tahun depan atau besok aku mati? Apa yang bisa aku lakukan? Aku tak punya bekal apa-apa untuk kehidupan di akhirat. Aku juga belum memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk dunia yang kutinggalkan.

Sayangnya, kematian itu tak mengenal kompromi. Siap atau tidak, jika sudah waktunya, aku tak bisa mengelak. Bagaimanapun aku mencari alasan, tetap tak bisa mengundur kematian.

"Mama..." suara Ariq mengusik lamunanku.
"Mama jangan mati.. Aku nggak mau pisah sama mama" kata Ariq dengan wajah sedih. Aku hanya bisa tersenyum, dan tak mampu menjawab kata-katanya.
Tiba-tiba Lita menyahut "Ariq... Mana bisa mama nggak mati. Semua manusia itu bakal mati. Kita semua pasti mati nanti"

Benar, semua makhluk yang hidup pasti akhirnya mati. Jika ingat itu, masihkah aku bisa membanggakan diri, sementara kematian selalu mengintai. Setiap detik waktu yang bergulir, semakin mendekatkanku pada kematian. Sadarlah manusia, kita semua sedang mengantri untuk mati...

Thursday, October 24, 2013

Menyapa Senja di Embung Nglanggeran


Suasana senja selalu asyik untuk dinikmati. Sinar matahari yang meredup, membawa rona jingga dan keemasan yang berpadu indah di langit yang mulai gelap. Romantis.. Tak heran jika banyak penggemar fanatik dari sang senja. Dan banyak yang melakukan traveling 'hanya' untuk mengejar momen senja alias matahari terbenam ini. Coba lihat saja Uluwatu dan pantai Kuta, yang ramai dikunjungi orang di saat malam menjelang. Semua itu demi menyaksikan momen sunset yang konon sangat indah di tempat tersebut.

Akupun termasuk pecinta senja. Makanya ketika suamiku mengajakku mengejar sunset ke Embung Nglanggeran, aku langsung menyetujui. Walaupun sebenarnya ketika itu aku nggak punya gambaran sama sekali seperti apa tempat yang dinamakan Embung Nglanggeran itu. Dan aku yakin, banyak dari pembaca blog-ku ini yang juga belum tahu apa itu Embung Nglanggeran. Yang jelas, tempatnya bukan di pantai, tapi di pegunungan. Wah, makin bikin penasaran. Menikmati sunset di pantai, itu sudah biasa. Tapi menikmati sunset di pegunungan, itu baru berbeda. Seperti apa bedanya? Yuk simak terus ceritaku ~_^

Jadi apakah Embung Nglanggeran itu? Embung adalah sebuah kata dalam bahasa jawa yang artinya tampungan air. Sedangkan Nglanggeran adalah nama sebuah desa di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Di desa Nglanggeran ini terdapat sebuah gunung api purba, yang konon pernah aktif sekitar 30-60 juta tahun yang lalu. Dan kini kawasan gunung api purba tersebut dijadikan tempat wisata, yang bernama Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Wuih, nggak nyangka di Gunung Kidul ternyata ada peninggalan jaman purba. Nah, Embung Nglanggeran ini merupakan salah satu obyek wisata di kawasan tersebut.

Kami mulai melakukan perjalanan ke arah Nglanggeran dari Pantai Siung, sekitar pukul 2 siang hari. Setelah puluhan menit perjalanan sampailah kami di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Tapi bukan Gunung Kidul namanya kalau jalannya lurus-lurus saja. Tentu saja jalan menuju Nglanggeran juga begitu adanya. Bahkan lebih parah dari jalan menuju daerah pantai. Ya iyalah, inikan menuju ke pegunungan. Jadi selain berkelok-kelok, jalannya juga menanjak curam, dan banyak tikungan tajam. Yang makin memperparah adalah kondisi jalannya yang masih alami, alias masih berbatu-batu, dan sempit. Lebarnya hanya muat untuk satu mobil saja. Aku jadi membayangkan bagaimana kalau papasan dengan mobil lain. Untungnya jalan di kawasan ekowisata ini dibuat satu arah, artinya jalan masuknya berbeda dengan jalan keluarnya. Jadi nggak usah kuatir. Tapi tetap harus ekstra hati-hati dalam mengemudi, dan siapkan performa kendaraan yang prima, setidaknya yang kuat dibawa nanjak.

  
Akhirnya sampailah kami di parkiran area Embung Nglanggeran yang cukup luas, dengan pemandangan yang menawan. Dari brosur yang dibagikan tertulis bahwa kawasan Gunung Api Nglanggeran ini berada di ketinggian antara 200-700 mdpl dengan suhu udara rata-rata 23 derajat celcius - 27 derajat celcius. Hmmm, pantas saja udaranya sejuk, walaupun berada di tanah lapang seperti di parkiran ini. Area Embung Nglanggeran ini di kelilingi bukit-bukit berbatu, dengan tebing-tebing yang besar. Di sela-selanya tumbuh pepohonan yang hijau dan subur. Dan karena kita berada di dataran tinggi, maka kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta dari sini. Asyik kan? Eh, ini baru area parkirnya. Lalu dimana letak embungnya? Rupanya, untuk mencapai ke embungnya kita harus menaiki ratusan anak tangga. Waduh lumayan tinggi juga. Bisa ngos-ngosan nih. Ah, dasar body tua. Tapi jangan kuatir, menaiki anak tangganya nggak akan berasa ngos-ngosan kok. Soalnya semakin ke atas pemandangannya semakin keren, jadi makin terpacu untuk terus naik. Apalagi di sini udaranya sejuk dan segar, bebas dari polusi. Anggap saja lagi olah raga. Kalau capek, bisa leyeh-leyeh sebentar di gardu-gardu yang sudah disediakan. Sembari leyeh-leyeh, boleh donk bernarsis ria dulu.. hehehe.

 

Nah, sampai deh di embungnya. Ternyata penampungan air ini luas sekali. Seperti kolam ikan raksasa. Tapi tentu saja pengunjung dilarang nyebur di embung ini. Embung Nglanggeran ini merupakan embung buatan yang fungsinya sebagai sumber pengairan kebun buah seluas 20 hektar. Embung ini bukan hanya bermanfaat, tapi juga menyajikan pemandangan yang memukau. Sebuah kolam tenang di puncak ketinggian, dengan latar belakang tebing-tebing yang besar dan kokoh, dan pemandangan lepas yang menawan. Semua tampak indah dilihat dari ketinggian ini. Disinilah kami akan menunggu dan menyapa senja. Tak sabar rasanya ingin melihat kecantikannya. Puluhan pengunjung juga mempunyai maksud yang sama. Saat matahari mulai meredup, mereka justru enggan meninggalkan embung ini. Sayang rasanya melewatkan momen romantis ini. Makin sore angin bertiup makin kencang dan dingin. Aku berharap nggak masuk angin, dan tetap bertahan.




Matahari mulai tenggelam, memberikan warna orange keemasan dan warna jingga. Semburatnya terpantul di permukaan air embung yang tenang. Sedangkan siluet kerumuman pengunjung yang menyaksikan senja, malah semakin menghidupkan keindahannya. Sempurna.


Happy traveling ^^

Thursday, October 17, 2013

Jauh Di Mata Dekat Di Hati

Gara-gara ngepoin akun twitter dan facebook seorang teman, aku jadi pengen nulis tentang ini. Ini tentang sesuatu yang bernama Long Distance Relationship, alias LDR. Namanya keren ya? Dan jujur, aku juga merasa hubungan yang disebut LDR ini romantis dan sekeren namanya. Lihat saja film-film yang menayangkan adegan di bandara atau stasiun saat menanti atau melepas sang kekasih. Sangat jelas terlihat rasa cinta di sana. Rasa tak ingin berpisah yang mengharukan, dan rasa bahagia tak terkira saat bertemu kembali dengan pasangan. Dua-duanya sangat menggetarkan. Bak sepasang remaja yang masih pacaran, kerinduan selalu menggebu di saat jarak memisahkan.


gambar dari sini

Ah, pasti ada yang protes nih. "Cov, kamu nggak pernah ngrasain sih. Menjalani LDR itu nggak gampang dan banyak makan atinya. LDR itu tak seindah yang kamu lihat di pelem-pelem korea".
Oke, memang benar, aku berpendapat demikian karena aku cuma melihat film yang kebanyakan malah menyesatkan. Dan semakin banyak teman-temanku yang harus menjalani LDR, aku jadi semakin tahu kalau LDR itu sangat tidak mudah. Apalagi kalau LDRnya bukan hanya beda kota, tapi beda negara. Kalau tidak dewasa menjalankannya, bisa-bisa keutuhan rumah tangga menjadi taruhannya. Sepertinya inilah yang dikhawatirkan suamiku, ketika aku mengungkapkan keinginanku mengejar beasiswa ke Jepang.

Kekhawatiran suamiku itu tentu tidak mengada-ada. Karena ada teman kami yang bercerai gara-gara ini. Kabarnya istrinya yang kuliah di luar negeri berselingkuh dengan laki-laki lain, dan rumah tangga mereka tak bisa dipertahankan lagi. Sebuah komitmen dan kesetiaan memang sangat diuji di sini. Kalau aku jadi sang istri, tentu aku nggak akan sampai hati mengkhianati suami yang sudah rela berkorban melepaskan istrinya mengejar cita-cita. Itu sebuah pengorbanan yang besar. Begitu pula sebaliknya kalau aku jadi sang suami. Aku tak akan mengkhianati istri yang susah payah mencari ilmu dan membantu nafkah demi masa depan keluarga. Lagi pula selingkuh itu cuma indah diawalnya saja, lama-lama menjadi musibah.

Ketika kesetiaan dan komitmen dapat bertahan, apakah tak ada lagi masalah? Ternyata tidak. Ada lagi cerita dari temanku yang suaminya kuliah di Australia, dan dia di Indonesia. Menjalani dan mengurus rumah tangga tanpa suami di sisinya tentu berat. Banyak hal yang tadinya dilakukan suaminya, harus dia lakukan sendirian. Salah satunya harus mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Pernah saat pulang dari mengantar anaknya sekolah, dia mengalami musibah, ban sepeda motornya bocor. Susah payah dia harus mendorong motor hingga menemukan tukang tambal ban. Ditambah lagi hujan mulai turun saat itu. Bisa dibayangkan betapa nelangsa kondisinya. Baru saja sampai di tukang tambal ban, suaminya mengirimkan message plus fotonya sedang traveling bersama teman-temannya ke tempat yang indah. Jleb! Di saat galau begini kok suami malah tega memamerkan kesenangannya. Benar-benar tak bisa tenggang rasa. Begitulah kira-kira pikiran temanku saat itu. Hingga berita gembira yang dishare suaminya itu, dia tanggapi dengan emosi. Suaminya jadi bingung.Maksudnya ingin menceritakan kondisinya, eh malah membuat istrinya marah-marah. Sejak itu suaminya jadi tak terbuka kepada istrinya. Takut membuat istrinya sakit hati.

Tuh kan jadinya malah nggak saling terbuka. Kalau aku jadi suaminya aku nggak akan ujug-ujug mengirimkan pesan berisi "pamer", tanpa tanya dulu keadaan istrinya. Dan walaupun niatnya baik, yaitu ingin melaporkan setiap kegiatannya kepada istrinya agar istrinya mengerti keadaannya dan tak berpikiran macam-macam, tapi cara penyampaiannya juga harus diperhatikan. Jangan sampai memberi kesan pamer, atau bersenang-senang di atas penderitaan istri #lebay. Begitu pula sebaliknya kalau aku jadi si istri. Nggak usah terlalu emosian deh. Kesal itu wajar, tapi harus disampaikan secara elegan, agar suami nggak merasa terlalu disalahkan. Dan tentunya demi menjaga agar komunikasi tetap lancar, tanpa praduga macam-macam. Positif thinking ajalah.

Ada cerita lain lagi. kemarin aku tiba-tiba terusik saat melihat status seorang teman yang sedang studi di Jepang. Statusnya sih baik-baik aja, hanya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha. Yang tidak biasa adalah komentar-komentarnya. Rupanya belasan komen itu semua ditulis oleh istrinya. Segala keluh kesah dan kekecewaan terhadap suaminya dia curahkan secara vulgar di situ. Intinya dia kecewa karena suaminya mengingkari janji untuk online. Bahkan di komen itu si istri me-mention komunitas suaminya di sana, yang dianggap sebagai penyebab perubahan sikap suaminya. Wah parah juga ya.. Kok sepertinya sengaja ingin mempermalukan, Apa dia nggak sadar kalau komentarnya itu bisa dibaca orang-orang seluruh dunia. Kenapa sih nggak memakai jalur yang lebih private aja, seperti melalui message FB. Ah begitulah kalau lagi emosi. Tak bisa berpikir jernih. Padahal yang dia lakukan itu sama saja mengumbar aib keluarga dan mempermalukan diri sendiri.

Kalau aku jadi si suami, aku tentu akan berusaha menepati janji. Sesibuk apapun kegiatanku, seketat apapun jadwalku. Kalau tak sanggup menepati, ya nggak usah janji. Begitu juga kalau aku jadi istrinya, sekali lagi jangan emosian. Positif thinking aja sama suami. terkadang apa yang kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan, belum itu yang sebenarnya terjadi. Di sinilah pentingnya kedewasaan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, agar walaupun jauh di mata, namun tetap selalu dekat di hati.

Eh, kok aku jadi sok tahu begini, padahal aku belum pernah ngrasain #siap-siap ditimpuk para pelaku LDR :P. Yah sudahlah, aku cukupkan saja tulisanku yang hanya teori tak pasti ini. Maaf ya kalau ada yang tersinggung... *melipir*.

Wednesday, October 09, 2013

Digiscrapbook Ala Cova

Dear pembaca Runaway Diary..
Sebenarnya aku udah nulis beberapa postingan, dan udah kusimpan di draft. Tapi kok masih gamang mau mempublishnya. Malahan aku lebih tertarik untuk mengedit-edit foto. Bukan ngedit foto biar lebih langsing, atau biar lebih mulus mukanya, tapi memberi ornamen-ornamen biar tampilan fotonya ada tambahan sentuhan seni..:)

Dan pilihanku jatuh pada digital scrapbook. Apa sih digiscrapbook itu? Penjelasannya lihat aja di sini dan di sini. Nah, aku mengenalnya pertama kali dari jeng Mayya,  si pemilik blog Morning Raindrops. Emak cantik ini juga pernah membuatkan digiscrapbook spesial buatku. Bisa dilihat di sini dan di sini

Dan kali ini aku tertarik untuk membuat digiscrapbook sendiri. Kebetulan aku menemukan website digiscrapbook yang menyediakan gratisan berbagai theme kit, element, paper, frame, dan quickpage. Yaitu di http://bestfreedigitalscrapbook.com/.  Lumayanlah buat pemula seperti diriku ini :D. Berbekal software photoscape, kususun foto beserta ornamen-ornamennya. Hasilnya seperti di bawah ini. Belum terlalu oke sih, maklum masih pemula .. Hehe

 
 

Itu beberapa buatanku. Ada yang tertarik bikin juga?
Selamat mencoba ^^
  

Thursday, October 03, 2013

Pantai Siung, Si Taring Kera Raksasa

Siapa yang tak kenal daerah Gunung Kidul Yogyakarta? Daerah yang dahulu terkenal tandus, dengan permukaan tanah dan perbukitan yang berbatu-batu, kini makin menunjukkan innerbeauty-nya. Gunung Kidul memang memiliki keindahan alam yang memukau. Dibalik bukit-bukit berbatu dan medan yang sulit dijangkau, terdapat pesona alam yang keeksotisannya membuat penasaran. Inilah yang membuat para traveler memburunya. Dan sampai kini semakin banyak yang berkunjung kesana. Bisa dibilang, Gunung Kidul kini sedang menjadi primadona di antara tempat-tempat wisata lainnya di Yogyakarta.

Aku, tak beda dengan para traveler lainnya. Sejak kunjunganku ke Pantai Ngrenehan, Nguyahan dan Ngobaran, yang ada di Gunung Kidul beberapa waktu lalu,  aku makin penasaran untuk mengeksplore pantai-pantai gunung kidul lainnya. Masih banyak pantai-pantai indah yang belum aku singgahi, salah satunya pantai Siung ini. Bersama suami, anak-anak, adik ipar, dan para sepupu, dimulailah petualangan kami.

Menurut informasi yang kami dapat dari mbah gugel, Pantai Siung ini terdapat di kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di kecamatan Tepus, dengan jarak tempuh sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta. Jadi kalau dari kampung kami, Magelang, memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Untuk menghindari kena macet di kota yogyakarta dan resiko kesiangan, maka kami berangkat pagi-pagi sekali. Berbekal pengalaman waktu ke pantai ngrenehan, kami tahu betul bagaimana kondisi jalanan di daerah gunung kidul. Daerah perbukitan yang berbatu-batu, dengan jalur yang berkelok-kelok, harus kami hadapi. Tanjakan, turunan, dan tikungan tajam, menuntut performa kendaraan, dan pengendara yang benar-benar berpengalaman.

Namun medan yang menantang, tak membuat kami merasa bosan. Karena pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan sangat mengasikkan. Bukan hanya pemandangan alam, tapi pemandangan kulinernya juga  membuat penasaran. Yaitu belalang goreng! Di pinggir-pinggir jalan para penjaja belalang goreng, memamerkan dagangannya. Ada yang dikemas dalam bungkus plastik dan toples, ada pula yang ditata rentengan. Hmm, aku masih saja penasaran seperti apa rasanya, tapi tetap saja tak punya nyali untuk mencoba. Teman-teman ada yang pernah mencoba? Enak nggak ya?





Setelah melewati beberapa bukit berbatu, sampailah kami di kawasan Pantai Siung. Dengan membayar tiket seharga Rp 5.000/orang kami bebas menikmati pantai ini sepuasnya. Pantai berpasir putih, langit dan laut yang biru cerah, deburan ombak, tebing dan karang yang tampak garang, menyambut kedatangan kami. Perpaduan berbagai unsur alam yang mempesona. Kusapukan pandanganku kearah lautan, mencari-cari batu karang yang konon mirip dengan siung wanara, atau gigi taring kera. Katanya, karena batu karang yang mirip siung kera itu, maka pantai ini disebut Pantai Siung. Namun aku kurang berhasil mengidentifikasi yang mana batu karang yang dimaksud, karena siang itu permukaan laut cukup tinggi, sehingga menutupi sebagian tebing dan batu karang.

Pantai Siung ini memang diapit oleh tebing-tebing karang. Dan tebing-tebing itu sering dijadikan lokasi untuk panjat tebing. Bukan hanya oleh pengunjung dari dalam negeri saja, tapi juga pemanjat tebing dari manca negara. Wuiih keren juga ya manjat tebing yang di bawahnya ada laut. Pasti adrenalin makin terpacu. Kalau buatku sih seru sekaligus serem. Boro-boro mau panjat tebing, naik ke bukit karangnya aja nggak mampu, abis terjal banget.

 Siang itu entah kenapa aku merasa kurang aman di sana. Mungkin karena saat itu ombaknya sedang tinggi dan besar, serta arusnya kencang. Beberapa kali aku nggak bisa memprediksi kapan ombak datang menerjang. Pernah nih, saat sedang asyik foto-foto, tahu-tahu ombak tinggi datang. Wah, langsung ancur posenya. Belum lagi beberapa kali penjaga pantai harus membunyikan sirine peringatan, karena ada pengunjung yang terlalu jauh ke arah laut. Mau nggak mau jadi ikutan panik gara-gara dengar sirinenya. Ah, membuyarkan konsentrasi saja.

Tapi walaupun begitu, Pantai Siung tetap mempesona. Apalagi buat para penggemar fotografi. Perpaduan batu karang dan ombak, sangat cantik jika difoto dengan teknik slow speed (sok ngerti fotografi :P). Hasilnya seperti ini. Cantik bukan? Ini hasil jepretan suamiku.

 Demi mendapatkan gambar yang menawan, suamiku betah berlama-lama berada di bawah terik matahari. Sedangkan aku dan anakku Lita, duduk-duduk saja di pinggir pantai, ditemani perahu-perahu nelayan dan warung kopi. Bagi yang sudah kelaparan, jangan kuatir, karena di sana ada beberapa warung makan. Ada juga tempat penjualan ikan, walaupun tidak sebesar yang ada di Pantai Ngrenehan. Tapi lumayanlah. Siapa tahu ada yang mau beli ikan, buat oleh-oleh ke mertua atau calon mertua.. Uhuk! 

Happy traveling ^^