Monday, April 29, 2013

Voucher Pelipur Lara

Aku sedang terkantuk-kantuk di meja kerjaku, saat seorang teman mendatangiku. Tangannya memegang sebuah amplop dan menyodorkan padaku. "Nih surat buat kamu.. Keknya isinya voucher deh".
"Hmmm.. voucher? Voucher apa ya"
"Voucher yang hadiah lomba kemarin itu sepertinya"
Oh iya, aku menang Blogiveaway yang diadakan oleh Tomkuu alias TK. Dan benar, diamplopnya tertera nama Tomkuu. Alhamdulillah hadiahnya sampai tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan Tomkuu. Tak sabar aku pengen lihat wujud vouchernya. Maklumlah aku ini agak sedikit ndeso, jadi nggak tahu tentang voucher-voucher belanja seperti ini. Dan beginilah perwujudan vouchernya. Ada 4 buah voucher belanja senilai Rp 50.000, jadi totalnya Rp 200.000. Wuih lumayan banget ya.. hehe



Nama vouchernya adalah voucher belanja MAP. Dan voucher ini bisa digunakan diberbagai toko seperti di bawah ini. Banyak banget ya. Aku jadi bingung mau membelanjakannya kemana. Yang jelas toko-toko itu menjual produk yang keren-keren.

 
Makasih banget ya Tomkuu dan para juri yang sudah memenangkan salah satu postinganku. Ini benar-benar keajaiban. Karena peserta lombanya ada buanyaaak banget loh. Total postingan yang ikut serta ada 1535 postingan! Wow!. Blogiveaway yang bertema tentang "review sesuatu" ini memang mengundang antusiasme yang luar biasa dari para blogger. Dan dari ribuan postingan itu hanya diambil 15 postingan yang paling menarik sebagai pemenang. Masing-masing mendapatkan voucher belanja MAP sebesar Rp 200.000. Dan aku salah satunya! Nggak nyangka banget kan.. Senangnya.. Ternyata aku bisa hoki juga.. hehehe.. ^^. Eh masih ada 1 hadiah doorprize berupa voucher belanja sebesar Rp 1.000.000, tapi bukan aku pemenangnya.

Pokoknya buat Tomkuu, kalau ngadain Giveaway lagi jangan lupa ajak-ajak aku ya. Aku pasti ikut serta lagi *ketagihan*. Dan jangan sungkan-sungkan menangin aku lagi.. hihhihi.. *ngarep*

Oh iya, postinganku yang menang berjudul Bogor Rasa Bali, bisa dilihat di sini.
Happy blogging ^^



Wednesday, April 24, 2013

Kebanjiran (Lagi)

gambar dari sini

Sebagus apapun sistemnya, tapi kalau dijalankan oleh orang yang tidak kompeten, tetap saja hasilnya berantakan. Seperti yang terjadi pada rumahku sore itu. Sejak musibah kebanjiran yang menimpa rumah kami pada tahun 2007 silam, kami merenovasi rumah sedemikian rupa agar terhindar dari banjir di kemudian hari. Meninggikan lantai dan membuat semacam tanggul agar air tak masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah banjir tak lagi menghampiri. Sampai sore itu saat aku menelpon ke rumah, suara Ariq mengejutkanku "Mamah, rumah kita kebanjiran!"
Astaghfirullah.. Kejadian lagi. Lemas aku mendengar berita itu. Membayangkan bagaimana kondisi di rumah, membuatku kalut. Posisiku yang masih ada di kantor, tak memungkinkan untuk melihat langsung kondisi rumah saat itu juga.

Masih heran aku memikirkan bagaimana air bisa masuk, padahal posisi rumah kami sudah ditinggikan. Apakah sedasyat itu debit air hujannya hingga bisa melampaui tingginya permukaan rumah kami? Hari itu hujan memang turun deras, namun durasinya nggak lama. Aku rasa nggak kan sampai menimbulkan efek banjir. Tapi kenyataannya hari itu rumah kami kebanjiran.

Keherananku terjawab saat mendengar penjelasan Ariq "Ma, airnya masuk lewat lubang saluran air di lantai kamar mandi". Ah, jadi ini penyebabnya.
"Loh kenapa lubangnya nggak langsung ditutup dari tadi mbak?" tanyaku pada pembantuku melalui telpon. Gemas aku menghadapi si mbak yang nggak punya inisiatif ini. Ada rasa sesal dan kesal berkecamuk di dadaku. Seharusnya peristiwa banjir ini nggak akan terjadi kalau pembantuku punya inisiatif menutup lubang air itu saat hujan turun. Sampai saat air mulai masuk memenuhi lantai rumahku, pembantuku tetap saja tak punya inisiatif menutupnya, hingga aku menginstruksikannya. Tentu saja itu sudah terlambat. Walaupun air yang masuk tidak terlalu tinggi, namun beberapa barang sempat terendam.

Yah, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ini salahku juga yang nggak memberi tambahan ilmu dan wejangan ke pembantuku di rumah, tentang situasi darurat seperti ini. Cukuplah peristiwa itu jadi pelajaran bagi kami. Dan semoga nggak terulang lagi. Amin..


Monday, April 15, 2013

Menaklukan Mercusuar, Sensasi di Ketinggian

Bangunan menara bercat putih yang tinggi menjulang itu, sangat mencolok di antara bangunan-bangunan lain di sepanjang pantai anyer. Sendiri, anggun dan kokoh. Itulah kesan yang aku tangkap. Rasa penasaran merambat menggelitik urat nadiku, membayangkan bagaimana rasanya berada di puncak sana, sambil memandang lautan lepas. Aku menyukai ketinggian. Karena itu aku mengagumi mercusuar.


Mercusuar tak hanya megah tapi juga sangat berguna. Dari wikipedia dijelaskan bahwa mercusuar adalah sebuah bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut. Begitu juga mercusuar Anyer ini, cahaya yang dipancarkannya mampu menuntun kapal sampai jarak 21 mil laut. Sumber cahayanya berasal dari panel surya dan batere sebagai penampung daya. Hmm.. Seperti apa ya? Yuk ikuti perjuanganku menapaki lantai demi lantai dan menaiki ratusan anak tangga, demi merasakan sensasi di ketinggian. Jangan lupa siapkan stamina yang prima. Hehe..


Kulangkahkan kaki menuju pintu masuk mercusuar. Aku lihat persis di atasnya terdapat sebuah prasasti bertuliskan "onder de regeering van Z.M.Willem III......... 1885. Walaupun aku nggak bisa bahasa Belanda, tapi aku coba mengartikannya. Kira-kira artinya mercusuar ini dibangun pada masa Raja Willem III, tahun 1885. Wuiih sudah tua sekali tapi masih kokoh berdiri. Pasti material bangunannya dari kualitas terbaik. Kulihat dindingnya terbuat dari lempengan-lempengan baja. Tangganya terbuat dari lempengan besi. Semua masih dalam kondisi baik. Oh iya, sebelum naik keatas dan mengeksplore mercusuar yang tingginya mencapai 75,5 meter dan terdiri dari 18 lantai itu, kita harus bayar dulu sebesar Rp 3000/orang.


Tangga demi tangga aku lalui perlahan-lahan. Sesekali beristirahat di tiap lantainya sambil menikmati pemandangan dari jendela. Sayangnya, jendelanya banyak yang kondisinya sudah mengenaskan. Beberapa jendela ada yang kacanya pecah. Sedangkan yang kacanya masih utuh, permukaannya kotor, sehingga pemandangannya tak terlalu jelas. Yah, wajarlah, siapa juga yang mau repot-repot mbersihin kaca di ketinggian seperti ini. Kalaupun dibersihin, pasti cepat kotor lagi oleh debu dan kotoran yang terbawa angin.



Makin keatas ruangannya makin menyempit. Menjelang lantai teratas, napas mulai ngos-ngosan, seiring dengan perasaan excited. Sebentar lagi sampai di puncak! Sepertinya tak hanya aku yang excited, beberapa orang yang pernah singgah di sini juga merasakan hal yang sama. Terbukti dengan banyaknya coretan di dinding mercusuar bagian atas ini. Tulisan nama dan tanggal seolah menjadi tanda dan bukti bahwa mereka pernah ada di sini. Sungguh sebuah cara yang salah. Gregetan rasanya melihat bangunan yang bersejarah ini mesti ternoda akibat ulah jahil para pengunjungnya.


Ah sudahlah. Tinggalkan tulisan-tulisan tak bermutu itu. Kini saatnya tiba di puncak! Angin berhembus kencang menyambut kedatangan kami. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki kelantai bagian luar. Woow..  Kurasakan lantainya seolah bergoyang. Deg! Kucoba bersikap biasa saja. “Ah, mungkin ini efek dari angin yang kencang” batinku menenangkan diri. Kualihkan pandanganku ke pemandangan yang terhampar. Di sebelah barat lautan luas dengan beberapa pulau yang tampak samar-samar. Di sebelah timur tampak gugusan pegunungan hijau nan subur. Sebuah perpaduan alam yang sangat menawan. Rasanya betah ada di atas sini. Tapi karena beberapa pengunjung lain mulai berdatangan, maka kami harus undur diri. Tak mungkin berdesak-desakan di puncak mercusuar yang space-nya sangat sempit ini.



Tapi sebelum turun, aku sempatkan mengintip bagian yang lebih atas lagi, yaitu bagian lampu suar. Ternyata seperti ini penampakannya.

Kalau sudah di atas jangan lupa turun ya, karena di sanalah kehidupan nyata  menanti. Dan sepertinya es kelapa muda sangat pas untuk mengembalikan stamina. Yuuks mariii..!



Tuesday, April 09, 2013

Selingan Semusim, Selingan Terindah?

create a gif here

Judul Buku       : Selingan Semusim
Penulis             : Alaika Abdullah
Penerbit           : Smart Garden Publishing & Printing
Tahun Terbit     : 2013
Tebal                : 197 hlm
ISBN               : 978-602-17944-01

Sinopsis
Perang batin berkecamuk dalam diri Novita, antara mempertahankan kesetiaannya terhadap Arief, sang suami, atau menuruti sisi kelamnya untuk larut dalam hubungan terlarang dengan Fajar, sang fasilitator yang juga memendam ketertarikan terhadapnya. Campur tangan Tuhan hadir dengan memberinya ujian. Dimulai dengan kecelakaan yang menimpanya, yang dia sambut sebagai peringatan Tuhan untuk segera membersihkan noktah merah perkawinannya. Namun ujian masih berlanjut dengan tragedy tsunami yang merenggut kehidupan Arief dan Niken, anaknya. Dan sejak itu, kisah sendu hidupnya dimulai. Dalam pengembaraannya mencari keberadaan Arief dan Niken, walau hanya dalam bentuk pusara, akhirnya mempertemukannya kembali dengan Fajar. Akankah asmara terselubung itu bersemi kembali? Lalu bagaimana dengan Shenny, istri Fajar? Akankah Novita menerima cinta dr. Ridge?

***

Selingan Semusim adalah novel perdana karya sahabat bloggerku mbak Alaika Abdullah. Nama Alaika Abdullah tentu sudah tidak asing lagi di dunia perbloggeran. Kelihaian dan produktifitasnya dalam menulis, membuat para penggemarnya, termasuk diriku, selalu menunggu-nunggu karyanya, salah satunya kisah Selingan Semusim ini. Sejak cerita bersambung Selingan Semusim ini hadir di blognya yang bernama Episode Kehidupan, aku langsung jatuh hati, dan setia mengikuti terus setiap episodenya.  Hingga ketika Mbak Alaika mengungkapkan idenya untuk menerbitkan cerita bersambung ini menjadi sebuah novel, tentu aku sangat bersuka cita.

Perselingkuhan dan cinta segitiga, memang sebuah tema yang sangat menarik untuk diungkap. Tak heran banyak cerpen, novel, lagu bahkan puisi mengangkat tema ini. Namun persamaan tema bukan berarti tidak ada keunikannya. Dan bukan Alaika Abdullah namanya kalau membuat cerita yang biasa-biasa saja. Dengan gaya penulisan yang sangat mengalir, dan tidak bertele-tele, membuatku terhanyut dalam alur cerita. Ditambah dengan bumbu adegan dewasa yang ditulis dengan detil, namun tetap manis, makin membuat panas dingin. Aku sungguh mengagumi keberanian mbak Alaika menuliskan adegan sacral ini tanpa terkesan vulgar. Tak banyak penulis wanita yang bisa melakukannya. Ajarin donk mbak caranya.. :D

Tentu bukan karena adegan dewasa saja yang membuatku menyukai novel ini. Bagi diriku penganut paham “cinta manusia tak ada yang sempurna”, dan bukan penganut kisah cinta ala Cinderella, novel ini klik banget di hati. Novel ini mengungkapkan bahwa cinta saja tak cukup untuk membangun sebuah hubungan. Karena kadar cinta seseorang pada pasangannya tidak selalu sama. Adakalanya ujian datang menghampiri. Seperti kehadiran Novita yang menjadi orang ketiga bagi kehidupan perkawinan Fajar dan Shenny. Dan otomatis Fajar juga menjadi orang ketiga bagi kehidupan perkawinan Novita dengan suaminya. Disanalah cinta dan kesetiaan pada pasangan masing-masing diuji. Sanggupkah mereka mempertahankan perkawinannya? Atau malah mengikuti hasrat mengejar cinta yang lain?

Jika selama ini orang menganggap perselingkuhan hanya terjadi pada sebuah perkawinan bermasalah. Itu tidak selamanya benar. Karena perselingkuhan bisa terjadi pada sebuah perkawinan yang tidak bermasalah sama sekali, bahkan sangat harmonis. Namun apapun penyebabnya, bukanlah suatu pembenaran atas perbuatan dosa atas nama cinta. Dan setiap perbuatan pasti menuntut sebuah konsekuensi.


Novel Selingan Semusim ini tak hanya menghibur, tapi juga memberikan banyak pelajaran dan makna kehidupan. Novel yang ditulis dengan apik oleh mbak Alaika ini, sangat menarik untuk dibaca para pembaca dewasa. Ingat ya, DEWASA.. hehe..
Selamat membaca!
 ^^

***

Penasaran dengan kisah lengkapnya dan ingin memiliki bukunya? Silahkan hubungi mbak Alaika di
ym: alaika_abdullah@yahoo.com
email: admin@alaikaabdullah.com atau
smartgarden3@gmail.com

Friday, April 05, 2013

Review Buku: Cerita Di Balik Noda

dari sini
Judul Buku  : Cerita Di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis        : Fira Basuki
Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal           : 235 hlm
ISBN           : 978-979-91-0525-7

Noda. Kata dengan empat huruf berbeda ini sering dikonotasikan negatif. Saat kita mendengar kata itu, yang ada dalam pikiran kita seringkali adalah hal-hal yang buruk. Contohnya saja saat seseorang berkata " Bajuku kena noda". Respon otomatis kita biasanya "Yaah sayang sekali, jadi kotor dong". Kotor dan noda, dua hal yang paling membuat orang kecewa bahkan jijik. Tak hanya itu saja. Noda juga sering diidentikkan dengan aib. Kotor diidentikkan dengan dosa. Tak heran jika ada kata-kata "Kamu telah menodai kesucianku" atau "aku ini wanita kotor". Namun, setelah membaca buku Cerita Di Balik Noda, karya terbaru penulis terkenal Fira Basuki, penilaianku terhadap noda perlahan berubah. Ternyata noda itu indah, noda itu menginspirasi, dan noda itu penuh arti.

Fira Basuki, sang penulis yang telah melahirkan karya-karya best seller, tentu tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam merangkai kata. Dan untuk karyanya kali ini Fira Basuki mengembangkan dengan apik kisah-kisah nyata para ibu yang semula ditulis dalam rangka lomba yang diadakan oleh Rinso di facebook, dengan tema “Cerita Di Balik Noda”.  Kisah-kisah tersebut menginspirasi Fira untuk membuat cerita dengan tema serupa. Dan hasilnya ada 4 buah karyanya di buku itu, yaitu  “Bos Galak”, “Sarung Ayah”, “Pohon Kenangan”, dan “Foto”. Sehingga total ada 42 kisah inspiratif tertuang di buku tersebut.

Sebagian cerita yang dituangkan di sini adalah cerita ibu tentang anak-anak mereka. Itu sangat wajar, mengingat ibu adalah sosok yang sering berkutat dengan noda. Terlebih noda itu dibuat oleh anak-anaknya. Dan mereka tidak pernah mengeluh, tapi justru malah terinspirasi. Seperti cerita yang berjudul “Baju Kreatif”. Berawal dari ketertarikan Salsa, anaknya, dalam mengumpulkan sampah, dan menjalani hidup dengan prinsip go green, 3R-reduce, reuse, recyle, maka terbersit ide pada sang ibu untuk memanfaatkan sampah-sampah tersebut. Hasilnya, terciptalah sebuah produk berupa baju dari plastik bekas kemasan. Sungguh kreatif.

Selain menginspirasi, noda ternyata juga menjadi sarana untuk membangun impian. Baca saja cerita yang berjudul “Garuda Di Dada Kiriku”. Cerita itu mengisahkan Anggel, seorang anak yang sangat aktif, dan berbakat dalam seni bela diri karate. Berkat ketekunan sang kakak dalam melatihnya, dan tentu saja bergelut dengan noda, sedikit demi sedikit impiannya Anggel mulai terwujud, yaitu memenangkan berbagai pertandingan karate. Hingga ayah dan ibunya yang semula kurang setuju, belakangan malah menjadi sangat mendukung kegiatan anaknya tersebut.

Cerita-cerita yang lain tak kalah menarik. Bagaimana sebuah noda dapat mengajarkan kita tentang arti sebuah persahabatan tanpa membedakan status. Salah satunya cerita yang berjudul “Si Kaya dan Si Miskin”, kisah Sheva, seorang anak dari keluarga miskin, dan sering diejek oleh teman-temannya, salah satunya Cindy. Namun keadaan berubah setelah Cindy terjatuh dan menyebabkan baju seragamnya kotor. Dia takut dimarahi ibunya karena bajunya kotor. Karena itu Sheva menawarkan diri mencucikan baju seragamnya. Dan sejak saat itu mereka menjadi sahabat.

Selain kisah-kisah di atas banyak pula kisah yang mengharukan. Noda, anak-anak, dan kepolosannya, membukakan mata hati kita tentang sebuah ketulusan, kebahagiaan, dan indahnya berbagi. Seperti kata sang kakek dalam cerita “Harta Sebenarnya”, bahwa “Kebahagiaan itu ada di hati, bukan di benda-benda sekelilingmu”.

Secara keseluruhan buku ini sangat layak untuk dibaca siapa saja, karena temanya sangat universal. Bukan hanya cocok untuk ibu-ibu, namun juga pas untuk semua kalangan, semua gender, dan semua usia. Walaupun kisahnya berasal dari kehidupan sehari-hari yang sederhana, namun buku ini sarat makna dan pembelajaran. Dan kalau masih ada yang berpikir bahwa noda itu jelek, dan kotor itu buruk, sepertinya dia harus membaca buku ini, agar bisa membuktikan bahwa berani kotor itu baik, dan selalu ada hikmah di balik sepercik “noda”.

Selamat Membaca!

Thursday, April 04, 2013

Kotak Kenangan

pinjam dari sini
Kusebarkan pandangan ke setiap sudut kamar ini. Belum lama kutinggalkan, tapi sudah banyak perbedaan di sana. Ah tentu saja, karena kamar ini bukan kamarku lagi. Sejak aku menikah, kamar ini resmi jadi milik adikku. Kini ada poster Harry Potter, dan anime One Piece menghiasi dindingnya. Di meja belajarku yang kini jadi milik adikku, ada beberapa pernak pernik baru, seperti boneka sapi dan jam weker yang menggantikan pernak pernik lamaku. Sebenarnya tidak banyak pernak pernik yang aku punya, paling-paling hanya sebuah kotak terbuat dari kaleng, yang bergambar permen. Oh iya, kemana ya kotak itu? Mungkin sudah dibuang. Ya sudahlah. Toh aku tak memerlukan lagi.
"Mbak, nyari kotak ini ya?" tanya adikku mengusik keheninganku.
"Oh, masih ada ya? Kirain udah dibuang"
"Nggak lah mbak. Soalnya suka aku baca-baca. Nggak papa kan mbak? Lucu-lucu sih.. Hehehe" jawab adikku dengan muka jahilnya.

Rupanya surat-surat dari teman-temanku yang kusimpan di kotak itu semua sudah dibacanya. Tapi aku tak marah. Karena ku merasa tak ada yang harus kurahasiakan darinya.
Kubuka kotak itu. Isinya semua masih utuh. Banyak juga surat-suratnya.
"Mbak ternyata banyak penggemarnya ya.. Nggak cowok, nggak cewek.. Pada rajin amat kirim surat. Aku ketawa-ketawa sendiri bacanya"
Aku hanya meringis mendengar komen adikku. Sebenarnya aku sudah lupa, apa saja isinya, dan siapa saja pengirimnya. Kulihat kembali satu persatu surat-surat itu. Aku tersenyum membaca surat dari Pipit, teman masa kecilku yang menceritakan pengalamannya mengejar gebetannya. Dasar ABG.. Hahaa..
Adapula surat dari Retno yang menceritakan kegiatan dakwah di sekolahnya. Dan dia selalu mengingatkanku, agar aku ikut kegiatan kerohanian. Sungguh menginspirasi. Kemudian surat dari Yuyuk yang menceritakan kampusnya. Juga ada Umi yang mengisahkan tentang teman kostnya yang begitu ajaib.

Masih banyak surat dan nama di sana, di antaranya surat dari mantanku.. Cieee.. Ada rasa haru saat membacanya. Bukan karena rayuan gombalnya loh (dia sama sekali tak bisa merayu apalagi ngegombal), tapi karena impian-impiannya yang dituliskan di surat itu. Dia juga bercerita bagaimana usahanya untuk mewujudkannya, demi masa depan kami nanti. So sweet ya? Tapi masa depan bersama itu tak pernah jadi kenyataan, karena aku "mutusin" dia.
Case closed dengan si dia. Dan kini aku berpaling pada sebuah surat dari seseorang bernama Andi. Bisa ditebak dong siapa dia? Dia mantan pacarku juga, tapi sekarang sudah jadi suamiku. Isi suratnya membuatku tersipu-sipu. Ternyata dia pernah romantis juga :D.

Seru juga punya benda-benda kenangan seperti ini. Tulisan-tulisan tangan teman-temanku, bagaikan goresan seorang penulis sekaligus seniman. Goresan pena yang menggambarkan karakter mereka, suasana hati mereka, dan kisah-kisah mereka. Semua bak barang antik bagiku, yang tak dimiliki semua orang. Apalagi anak-anak muda jaman sekarang. Aku yakin tak ada lagi yang main surat-suratan. Surat via pos itu memang terasa sangat jadul sekali di dunia yang serba internet ini. Surat dengan tulisan tangan sudah tergantikan dengan sms, email, dan chatting. Sosial media seperti twitter dan facebook, sangat sukses mendekatkan orang-orang yang jaraknya jauh dari kita. Jadi apa perlunya surat-suratan lagi? Hanya membuang-buang waktu saja. Begitulah pendapat orang-orang.

Tapi aku pribadi sebenarnya kadang kangen dengan masa-masa surat-suratan seperti dulu. Kangen masa-masa menunggu-nunggu pak pos yang membawa kabar berita. Dan rasa senang tiada tara saat pak pos memberikan surat dengan namaku tertulis di sana. Apalagi kalau surat itu dari orang yang istimewa. Wuiih..berjuta rasanya.. *lebay*

Aku masih ingat saat masih di sekolah dasar, waktu itu lagi happeningnya "sahabat pena".  Rasanya keren sekali kalau punya yang namanya "sahabat pena". Sekarang sudah tak ada lagi sahabat pena. Menulis surat tak lagi memakai kertas dan pena, tapi memakai hape dan komputer lewat email, chating dan sosial media. Mungkin sahabat dunia maya, jadi sebutan pengganti dari sahabat pena.

"Ceklek!" Kututup lagi kotak itu setelah kurapikan kembali surat-suratnya. "Tolong simpan baik-baik ya.. Ini salah satu hartaku" kataku pada adikku. Kelak aku akan membukanya lagi, bersama anak dan cucuku.