Friday, July 25, 2014

Mukena Putih

"Jenenge rukuh ki yo kudu putih" kata ibuku waktu itu.
Yang artinya, namanya mukena tuh ya harus putih.

"Ah, ibuk ini kuno. Sekarang kan lagi happening mukena warna-warni. Kan bagus tuh, jadi lebih manis 'n ceria. Lagian nggak ada ketentuannya kan kalau mukena itu harus putih" pikirku saat itu. Iya, mukena berwarna memang membuat tampilan kita beda, dan mungkin tampak lebih bagus dibanding mukena putih biasa. Dan mungkin pula dengan mukena yang lebih bagus, jadi lebih semangat sholatnya. Benarkah? Itu sih tergantung niatnya.. hehehe.

Intinya, beberapa tahun yang lalu aku memang suka mukena berwarna dan banyak variasi. Tapi sekarang nggak lagi. Sekarang, aku lebih memilih mukena putih. Kenapa? Mungkin faktor U alias faktor umur.. hahaha.. #ketauan tua. Ah entahlah.. aku kok merasa mukena-mukena sekarang ini terlalu mengikuti fashion layaknya tren hijaber masa kini. Makin lama makin parah kombinasi warnanya. Ada warna-warni ngejreng, tabrak sana, tabrak sini. Belum lagi motif kainnya, dari yang bunga-bunga, kotak-kotak, hingga motif tokoh kartun. Kebayang nggak sih ada mukena motifnya putri salju atau minion? Jadi mirip sprei di kamar anakku donk. Yup, saking kreatipnya sang pembuat, apapun dilakukan untuk menarik minat konsumen, tanpa memikirkan kaidah syar'i-nya. Alasannya "Inikan mukena buat anak-anak, jadi dibikin seru dengan motif kartun kesukaan mereka, biar anak-anak semangat sholatnya". Ya sudahlah kalau berpendapat demikian. Kalau aku sih tetep nggak sreg..hehe..  Anggap saja ini masalah selera yang berbeda.

Sejak anak perempuanku masih balita, aku memang nggak pernah memberikannya mukena bermotif manusia atau hewan, apalagi tokoh kartun. Walaupun saat itu aku suka mukena berwarna, tapi aku memilih warna-warna soft, yang hampir mirip putih. Dan untuk yang bermotif, aku pilih motif yang bukan makhluk bernyawa. Begitu juga mukena untuk anak perempuanku. Alhamdulillah, anakku tetap semangat sholatnya kok, walaupun tanpa ditemani tokoh kartun favoritnya. Lah tokoh favoritnya waktu itu Teletubies sih. Masa' iya aku ngasih anakku mukena bergambar Teletubies? Betapa noraknya kan kalau itu terjadi? hihihi.

Nah, masalahnya sekarang saat aku pengen kembali ke mukena putih, justru makin jarang produsen mukena putih. Yang banyak dijual sekarang ya mukena yang warna warni, dari atasannya hingga bawahannya. Sebenarnya aku bukan sama sekali nggak suka ama mukena bercorak atau warna warni kok. Aku masih oke dengan mukena bercorak, tapi untuk bawahannya atau variasinya aja, sebagai pemanis, sedangkan buat atasannya aku memaksa harus putih. Seperti kata ibuku "mukena itu putih".

Okelah, daripada aku ribet nyari kesana kemari, kenapa nggak bikin sendiri aja? Kebetulan masih punya kain katun putih. Tapi kain putihnya cuma cukup buat bikin atasannya aja, jadi bawahannya aku buat pakai kain sarung tenun. Dari dua lembar kain itu menghasilkan sebuah mukena lengkap dengan tasnya. Seperti apa penampakan mukena buatanku. Inilah diaa.. 

Manis bukan? Keknya boleh juga nih kalau diperbanyak terus dijual.. hihihi.. Yuk pakai mukena putih, biar kompakan pas sholat Ied nanti :D




Sunday, July 20, 2014

Langit Kubah Emas

Kubah masjid berlapis emas itu tampak megah dan indah, hingga membuat setiap orang yang memandang berdecak kagum. Keindahan arsitektur bangunannya menarik banyak pengunjung ingin merasakan beribadah di bawah naungan atapnya. Masjid Dian Al Mahri atau biasa disebut dengan Masjid Kubah Emas, memang membuat penasaran setiap orang. Keindahannya bukan hanya di bagian luarnya saja, tapi juga detil arsitektur bagian dalamnya. Salah satunya bagian langit-langit kubah emasnya. Perpaduan lukisan langit cerah berwarna putih dan biru, sangat apik berpadu dengan kaligrafi dan ornamen emas. Ditambah dengan lampu bersusun yang sangat mewah.. Menakjubkan..





Tuesday, July 15, 2014

Dari Pantai Indrayati ke Pantai Kukup

Pantai Indrayati

Kira-kira 2 tahun yang lalu aku mendengar nama pantai ini. Namanya cantik, Indrayati. Jarang banget nama pantai di Gunung Kidul sebagus ini, biasanya namanya aneh-aneh. Seperti Ngrenehan, Nguyahan, Ngobaran, Krakal, Sundak, atau Siung. Nama yang cantik membuatku penasaran, apakah pantainya sebagus namanya? Dan mulailah aku mencari info tentang pantai ini. Dari hasil gugling aku dapat pencerahan bahwa pantai ini nama sebenarnya bukan Indrayati, tapi Pantai Pulang Syawal. Pulang Syawal maksudnya pulang lebaran ya? Mungkin karena banyak yang mengunjungi pantai ini pas mudik lebaran.. hehe *sok tahu. Lalu kenapa sekarang namanya jadi Indrayati? Katanya, Indrayati itu diambil dari nama seorang pengelola swasta yang mengelola pantai ini. Jadi dulu Pantai Pulang Syawal belum dikelola dengan profesional. Nah setelah dikelola oleh pihak swasta namanya jadi Pantai Indrayati, dan konon pesonanya melebihi pantai-pantai di Gunung Kidul lainnya. Benarkah demikian? Yuks kita lihat langsung.

Kami sampai di pantai ini saat hari sudah siang, karena sebelumnya kami mengunjungi Pantai Pok Tunggal dulu. Ceritanya ada di postinganku sebelumnya. Jaraknya nggak jauh dari Pantai Pok Tunggal, dan petunjuk jalannya jelas. Intinya kami nggak menemukan kesulitan yang berarti untuk mencapai Pantai Indrayati, apalagi jalannya lebih manusiawi daripada jalan ke Pantai Pok Tunggal. Ya iyalah, namanya juga udah dikelola. 


Sampai di area parkir kami disambut oleh padatnya kendaraan yang parkir di sana. Wuih ramai loh. Padahal kami kesana pas hari kerja loh, dan bukan musim liburan. Bayangkan kalau pas lebaran nanti. Siap-siap aja ngeliat  lautan manusia #serius. Rupanya ketenaran pantai ini udah sedemikian hebatnya, hingga orang berbondong-bondong ingin menikmati keindahannya. Pantai ini sebenarnya memang indah, namun sayang, kerumunan manusia membuat pantai ini berkurang pesonanya di mataku. Aku yang abis menikmati Pantai Pok Tunggal yang eksotis dan lengang, jadi kaget melihat pemandangan pantai Indrayati yang sangat bertolak belakang. Ramee!


Bukan hanya ramai pengunjungnya loh, tapi beberapa unsur bangunan juga menambah semarak suasana pantai ini. Banyak kafe dan rumah makan yang didirikan di pinggir pantai, yang membuat pantai ini terasa penuh. Payung-payung pantai warna warni yang ditata dengan rapat satu sama lain, membuat pantai ini semakin padat. 

Mungkin inilah yang membuat orang-orang senang ke sini, bukan hanya karena pemandangannya yang indah, tapi karena fasilitasnya cukup lengkap. Namun bagiku, aku lebih suka tampilan pantai yang alami, sepi, dan lengang. 

Pantai Kukup

Hanya sebentar kami singgah di Indrayati. Yah sekedar memuaskan rasa ingin tahu aja. Ouu.. Ternyata kaya' gini pantainya. Di Indrayati kami nggak sempat foto-foto, karena suamiku udah hilang selera, jadi mau buru-buru ke pantai lain aja. Dan pilihan kami jatuh ke Pantai Kukup. Pantai ini udah lebih lama dibuka untuk umum dibanding Pantai Indrayati. Tapi sepertinya pamornya kini menurun, dikalahkan oleh Pantai Indrayati, sang primadona. Tapi jujur, aku justru merasa lebih nyaman di pantai ini. Suasananya tenang, nggak terlalu ramai, pantainya juga lumayan luas, cocok banget untuk leyeh-leyeh saat sore hari begini. Duduk-duduk di pinggir pantai, bercengkrama bersama keluarga, sambil menunggu senja. Indah bukan? Apalagi kalau diselingi dengan acara ngemil bersama. Untuk urusan cemilan, nggak perlu repot-repot bawa bekal, soalnya di area pantai ini banyak penjual cemilan ikan-ikanan. Seperti ikan goreng, udang goreng krispi, peyek, dan kripik rumput laut. Cocok juga buat oleh-oleh. Dan harganya cukup bersahabat.

Seperti inilah suasana sore di Pantai Kukup.. tenang dan teduh.. :)

 


Happy traveling ^^



Wednesday, July 02, 2014

Uji Nyali di Pantai Pok Tunggal

"Kita mesti kearah mana nih?" tanya suamiku. Kami celingukan di pertigaan jalan. Anak-anakku juga ikut tengak tengok. Kubuka lagi hapeku untuk memastikan arah kami benar. Dari hasil browsing disebutkan bahwa lokasi Pantai Pok Tunggal ada di daerah Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta. Tepatnya ada di antara Pantai Indrayati dan Pantai Siung. Berdasarkan petunjuk tersebut , kami mengikuti petunjuk arah ke kedua pantai tersebut, karena plank permanen yang bertuliskan arah ke Pantai Pok Tunggal belum ada. Namun kami nggak menyangka akan menemukan persimpangan jalan seperti ini. Dan parahnya lagi, nggak ada plank petunjuk. Bagus deh, jadi kami harus berspekulasi dan berani ambil resiko. Ke kanan atau ke kiri? Haduh bikin galau aja.
"Kita ke kiri aja ya?"kata suamiku memutuskan.
"Ya udah, kalau nyasar paling ke pantai lain" kataku.
Baru beberapa meter mobil kami bergerak, Lita berteriak "Ma! kita salah arah! Harusnya ke kanan"
"Yang bener kak? Tahu dari mana?" tanyaku sangsi.
"Aku barusan sekilas lihat tulisan Pok Tunggal ke arah kanan" Lita menjelaskan.
"Masa' sih? kok kita nggak lihat ya Pa.. Ya udah coba balik aja"

Alhamdulillah, ternyata benar, ada petunjuk arah bertuliskan Pantai Pok Tunggal ke arah kanan. Tapi memang nggak jelas tulisannya, pantas saja kami nggak lihat. Untung anakku, Lita, punya penglihatan yang tajam, jadi nggak jadi nyasar deh.. hehe. Kami melanjutkan menyusuri jalan tersebut. Setelah beberapa meter, ada plank ala kadarnya buatan penduduk sekitar yang bertuliskan "Pantai Pok Tunggal". Kami melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk plank tersebut. Namun makin mendekati lokasi pantai, kondisi jalan yang kami lalui semakin mengocok perut. Mengocok perut bukan karena lucu, tapi mengocok perut dalam arti sebenarnya. Naik turun, berkelok-kelok dan berbatu. Benar-benar dibutuhkan skill mengemudi yang tinggi. Bukan cuma itu aja, kita juga mesti sabar, karena dengan kondisi jalan yang seperti itu, rasanya jalannya seperti tak berujung. Kapan penderitaan ini akan berakhir? huhuuu..


Alam seolah menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba pemandangan pantai dan lautan ada di depan kami. Akhirnya sampai juga. Rasa pusing dan mual langsung teralihkan oleh rasa takjub akan keindahan alam yang terhampar di depan kami. Jadi ini Pantai Pok Tunggal yang katanya bagus sekali itu. Dan memang kenyataannya demikian. Pantai berpasir putih, lautan biru, awan yang dramatis, dan gugusan batu karang yang eksotis. Tipikalnya memang sama dengan pantai-pantai di Gunung Kidul lainnya, tapi tentu saja setiap pantai ada ciri khasnya. Sepeti Pantai Pok Tunggal ini. Begitu kita menginjakkan kaki di pantai ini, pandangan kita pasti langsung tertuju ke sebuah pohon yang tumbuh unik dan kokoh sendirian. Bisa dibilang pohon yang eksotis itulah iconnya Pantai Pok Tunggal.

Ah, rasanya pengen buru-buru berjemur.. hihii. Tapi berjemurnya tetep pakai payung. Kebetulan di sini banyak payung pantai warna warni yang disewakan untuk istirahat para pengunjung. Payung-payung itu bukan hanya membuat nyaman, tapi juga memberi nuansa ceria, karena warni-warninya yang seolah memberi aksen pada hamparan pasir putih. Dengan menyewa payung seharga Rp 20.000, kita bisa leyeh-leyeh sepuasnya. Eh, ke pantai kok cuma mau leyeh-leyeh. Ya enggak donk.. Pastinya wajib main air dan foto-foto. Lebih tepatnya anak-anakku yang main air, aku yang foto-foto, dan suamiku yang wajib jadi tukang fotonya.. hehehe. Dan mumpung di pantai ini pengunjungnya nggak banyak, aku mewujudkan tantanganku sendiri dengan berfoto pose yoga seekstrim mungkin.. hihihi. 

 

Bosan dengan tantangan yoga pose, aku menantang diriku lagi dengan naik ke tebing. Beneran loh aku naik ke tebing. Pantai Pok Tunggal ini, diapit oleh dua gugusan tebing. Bagi yang mau naik, disediakan jalan untuk keatas. Tapi jangan dibayangkan jalannya rata ya? Jalannya berupa tangga bebatuan, dan di dinding tebingnya dibuatkan jalan dari bambu. Jelas butuh nyali yang tinggi untuk melaluinya. Hanya berpijak pada bambu sodara-sodara! Gemeteran kakiku ini, was-was kalau-kalau bambunya keropos atau nggak kuat menahan tubuhku. bisa-bisa aku nyemplung ke laut. Jadi buat yang takut ketingian, jangan coba-coba ya.. hehe. Nah, dari atas tebing ini kita akan melihat keindahan Pantai Pok Tunggal dari perspektif yang berbeda. Keren abis... Nggak sia-sia uji nyaliku sampai ke atas sini.

 Main air udah, foto-foto udah, naik tebing udah, sekarang saatnya istirahat makan siang, dan membersihkan diri. Banyak kok tempat mandinya. Silahkan mandi sepuasnya, dan dijamin seger, karena walaupun ada di daerah pantai, tapi air di kamar mandinya nggak asin dan nggak lengket. Nggak bawa baju ganti? Tenang aja, di sini banyak penjual pakaian murah meriah kok. Lumayan lah daripada pakai baju basah.. hehe.. Setelah kenyang dan bersih semua, kami siap-siap melanjutkan perjalanan ke pantai yang lain. See you!

Happy traveling!