Thursday, September 29, 2011

The True Love Story *_^ (Part 2)

4 tahun kujalani hari-hari bersamanya. Macam-macam rasa sudah kualami, suka, duka, kangen, sedih, cemburu bahkan frustasi. Semua rasa yang kadang melelahkan namun mendewasakanku. Hari-hari kujalani bak rollercoaster. Kadang dia membuaiku setinggi langit, tapi tiba-tiba pula dia seolah menghempaskanku begitu saja.. 4 tahun bukan masa yang mudah bagiku. Menjalani hubungan tanpa kepastian, sering membuatku meragu, akankah hubungan kami ini akan berakhir ke pelaminan? apakah benar dia jodohku? Tapi entah kenapa dia selalu bisa membawaku kembali. Dia selalu bisa meyakinkanku bahwa hanya dia yang bisa membahagiakanku. 

Lama menjalin hubungan, kami ingin mengakhiri semuanya dengan pernikahan. Namun restu orang tua tak mudah kami dapatkan. Memang kami masih sangat muda, mungkin orang tua kami tidak yakin dengan keseriusan kami dan masa depan kami nantinya. Orang tua Mas Andi menganggap anaknya belum cukup mampu untuk berumah tangga. Sedangkan orang tuaku mengharapkan aku mendapatkan calon suami yang lebih baik dari Mas Andi. Sempat pula aku disodori beberapa cowok-cowok pilihan, tapi tak ada yang pas di hati. Ya sudahlah, tak ada gunanya menentang orang tua, mereka pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Kami jalani semua semampu kami. Kalau memang jodoh pasti Allah memberi jalan terbaik.

9 tahun yang lalu..

Akhirnya restu orang tua kami dapatkan. Melihat kami masih menjalin hubungan, sepertinya orang tua kami menyadari keseriusan kami. Bulan Agustus 2002 keluarga Mas Andi melamarku. Dan tanggal 29 Sepetember 2002, bertepatan dengan hari ulang tahun ibuku, akhirnya aku resmi menjadi Ny. Andi :D. Dan dimulailah babak baru dalam hidupku..

Menjalani hidup berumah tangga memang tidak seindah dan semudah yang aku bayangkan. Tapi aku selalu berusaha menerima pasanganku apa adanya. Manusia tak ada yang sempurna. Begitu juga dengan kami. Terkadang dia membuatku kecewa dan sakit hati. Dan aku pun pernah menggoreskan luka di hatinya. Namun keikhlasan dan kebesaran hati untuk saling memaafkan yang merekatkan kami kembali. 
Kehidupan rumah tangga kami makin lengkap dengan hadirnya 2 orang buah hati kami. Mereka adalah anugerah terindah dan harta terbesar kami. Kebahagiaan mereka adalah tujuan utama kami, memberikan yang terbaik untuk mereka adalah keinginan kami. Semoga kami selalu bisa menjaga anugerah yang Allah berikan ini. 

Hari ini, 29 September 2011

Hari ini ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tak ada kado special ataupun untaian kata-kata cinta untuk dia, suamiku. Hanya sepenggal kisah nostalgia yang kutuliskan ini, sebagai bukti bahwa aku tak pernah melupakan setiap momen bersamanya. Baik suka maupun duka. Walaupun waktu terus bergulir, namun semua kisah itu takkan bisa hilang dari hati dan ingatanku. Tak kan cukup kata untuk menguraikan kisahnya, namun aku berharap semoga tulisan ini bisa mewakilinya.


♥♥ Happy Wedding Anniversary to me ^_^ ♥♥

Wednesday, September 28, 2011

The True Love Story *_^ (Part 1)

17 tahun yang lalu..

Kulihat dia pertama kali, berdiri di sudut depan kelasku. Wajahnya dingin dan angkuh , dengan bibir yang menekuk kebawah. Ah dasar senior.. apa maksudnya dia berdiri di situ dengan memasang wajah jutek seperti itu. “Mmm.. siapa ya namanya?” tanyaku dalam hati. Ternyata aku penasaran juga. Ah sebut saja si muka dingin :D.
Hari berikutnya, aku baru tahu nama dia ada didaftar orang yang harus aku mintai tanda tangan. Andi SJ, Jabatan Wakil Ketua OSIS, mmm.. tinggi juga jabatannya, berarti dia cukup populer di sekolah ini. Ok, mari kita lihat apa yang dia bisa.

Ah sebal sekali rasanya melihat antrian pemburu tanda tangan begini. Pasti para senior ini merasa bangga banget, bergaya sok artis, dan dengan seenaknya ngerjain para juniornya. Nah itu dia si muka dingin, mumpung lagi sendirian, aku mintai tanda tangan sekarang aja. Kira-kira aku mau diapain ya?
Huh! Orang ini ternyata benar-benar dingin dan nggak seru sama sekali. Sama senior yang lain aku disuruh macam-macam, eh sama makhluk yang satu ini aku dilirik pun tidak! Dasar si muka dingin!

Beberapa hari kemudian aku dengar kabar dia jadian sama temanku yang juga tetanggaku, Tere. Si Tere itu menurutku bukan sesuatu banget. Kelebihannya hanya karena muka dan sikap menggodanya, ditambah dengan keberanian dia mengenakan baju-baju minim. Dan satu lagi, dia itu pacarnya banyak. Jadi kenapa si muka dingin itu bisa tertarik sama dia? Ternyata semua cowok sama saja, mudah diperdaya. Okelah lihat aja, pasti tak akan bertahan lama.
Kira-kira sebulan kemudian, seperti yang sudah kuduga semula, kisah cinta mereka berakhir. Terlalu singkat memang, dan kabarnya mereka putus karena si Tere punya pacar lain. 

14 tahun yang lalu..

“Coba tebak aku abis ketemu siapa?” tanya teman sekamarku sehabis pulang dari kampus. Ah mana aku tahu, ada-ada saja Diana ini. “Aku liat mas Andi, kakak kelas kita dulu!” kata Diana. Diana ini dulunya sekolah di SMA yang sama denganku, tentu saja dia tahu si muka dingin, eh mas Andi :D. Ternyata kami satu kampus, tapi beda jurusan.

Dan sejak itu Diana sering cerita seputar kegiatan Mas Andi. Maklumlah mereka kuliah di gedung yang sama. Dari Diana pula aku tahu kalau seniorku itu sudah punya pacar. Mereka pasangan yang cukup mencolok karena sering mempertontonkan kemesraan di depan umum. Ih apasih.. paling juga cuma pegangan tangan atau gandengan. Tapi cerita Diana cukup membuatku penasaran. Makanya kami sering melakukan investigasi alias memata-matai mereka, dengan membuntuti mereka pacaran. Semoga saja mereka tak menyadari ulah junior-junior usil seperti kami ini.. hihi.

Tentu saja aksi kami ini cuma sekedar iseng saja. Tapi entah kenapa suatu ketika aku merasakan sesuatu yang beda saat melihat pasangan itu, ada semacam perasaan tertusuk di hatiku. Apakah aku cemburu? Ah tentu saja tidak, kami tak saling mengenal, aku tahu dia, tapi dia tak tahu aku. Mana bisa aku cemburu. Dasar ABG labil! :P. Lebih baik aku memikirkan cowok lain yang lebih jelas saja.

13 tahun yang lalu..

Nasib mempertemukanku dengan si muka dingin lagi di sebuah angkot di terminal Lebak Bulus. Kok angkot sih? Settingnya nggak keren banget ya.. hehe. Jangan dilihat settingnya ya, tapi lihat dong ceritanya..halah.. Ya, di angkot kami bertemu tanpa sengaja. Waktu itu kami sama-sama baru kembali dari liburan di kampung. Dan di angkot itulah pertama kalinya aku berkomunikasi dengan dia secara langsung. Tak kusangka ternyata kami cukup ‘nyambung’, dan kesan dinginnya selama ini menguap sudah. Semua obrolan mengalir begitu saja seolah kami sudah saling mengenal cukup lama.

Aku tak mengharapkan apapun dari pertemuan tak sengaja itu. Aku menganggap itu hanya obrolan biasa sebagai pengisi waktu saja. Apalagi aku sedang patah hati *cie..uhuk.. :D*, rasanya tak ada minat untuk menjalin hubungan dekat dengan cowok lagi. Tapi kuakui pertemuanku dengannya itu cukup menyenangkan, dan rasa penasaranku selama ini cukup terobati :D

“Tadi ada telpon buat kamu, dari cowok, katanya dari Andi” kata Diana malam itu. “Andi siapa ya?” kucoba mengingat-ingat apakah aku punya teman bernama Andi. Maklumlah aku cukup sering dapat telpon dari cowok, baik yang aku kenal maupun tidak ku kenal. Kesannya aku laris banget ya.. hihi.. Yah beginilah resiko kuliah di kampus yang mahasiswanya mayoritas cowok :D. Hmmm.. jangan-jangan Mas Andi yang tadi ketemu di angkot. Ah masa sih? Ngapain nelpon?

Ternyata pagi-pagi dia menelponku lagi, dan benar itu Mas Andi, si muka dingin. Aha! Sepertinya dia tertarik padaku.. ihiiir.. :D. Sejak saat itu kami jadi dekat dan sering telpon-telponan, dia pun mulai berani datang ke kostanku. Pendekatan yang singkat namun intensif itu membuatku tak bisa menolak saat dia menyatakan cinta *uhuk..  abg banget.. :D*. Tanggal 18 Desember 1998 kami resmi menjadi sepasang kekasih. ♥♥

To be continued ^_^

Tuesday, September 27, 2011

Ketika si Mbak Pergi

Malam tadi, pembantuku, si mbak, datang menghadap, setelah dia kembali dari liburan akhir pekannya. Semenjak dia menikah 2 tahun yang lalu, aku memang selalu mengijinkannya berlibur di akhir pekan, agar dia bisa berkumpul dengan suaminya. Biasanya sehabis liburan dia selalu kembali dengan membawa cerita dan curhatan seputar rumah tangganya. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. “Bu, saya mau ngomong..” dengan hati-hati dia membuka percakapan. Nada bicara dan raut mukanya membuat perasaanku tidak enak. “Kemarin saya periksa ke bidan” lanjutnya. “ Kata bidan saya positif hamil.. keknya ibu mesti cari pengganti saya”. Aku tak bisa menjawab apa-apa, hanya “Ooh..” yang keluar dari mulutku, speechless.

Seharusnya aku ikut bersuka cita atas berita gembira yang dia sampaikan itu. Sudah lama dia mendambakan ingin punya anak, dan sekarang keinginannya terwujud. Seharusnya aku katakan “Alhamdulillah yah..” atau “Selamat yah”, tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutku. Tentu saja aku ikut senang atas kehamilannya, tapi rasa itu tertutup oleh kegalauan yang tiba-tiba menyelimutiku. 

6 tahun sudah kami menjalani hidup bersama. Dia sudah seperti saudaraku sendiri, dia pun menganggap anak-anakku sebagai anaknya sendiri. Sifatnya yang penyayang dan penuh pengertian membuatku percaya dia bisa menjaga anak-anakku dengan baik selama aku tidak di rumah. Walaupun kalau dilihat dari pekerjaan lainnya dia tidak terlalu bagus. Masakannya tidak selalu pas dengan seleraku, hasil setrikanya tidak selalu halus, hasil cuciannya tidak selalu bersih, dan dia sering lupa menyapu kolong tempat tidur. Tapi tak apalah, manusia tak ada yang sempurna, aku terima saja, dan aku tidak pernah cerewet mengomentari pekerjaannya. Mungkin karena itulah dia jadi betah bekerja di tempatku. 

Dan sekarang saatnya kebersamaan kami harus berakhir. Aku tahu tak ada yang abadi, aku sadar saat seperti ini akan terjadi. Tapi masalahnya sekarang aku belum mendapatkan penggantinya :(. Galau, bingung dan ragu, akankah kutemukan pengganti yang sebaik dia, atau lebih baik dari dia. Kadang aku berpikir, andai aku tidak harus bekerja di luar rumah, pasti kegalauan seperti ini tak kan terjadi. Ah sudahlah.. tak ada gunanya berandai-andai, toh masalahnya sudah ada di depan mata.  Mau resign sekarang pun tidak semudah itu, justru malah akan menambah masalah saja. Mau cuti, sudah tak punya jatah cuti :(

Ya Allah berikan petunjukmu, aku harus selalu sabar dan terus ikhtiar untuk mendapatkan yang terbaik. Kurelakan si mbak pergi dengan gembira, semoga kebahagiaan selalu bersamanya. Dan semoga si mbak juga selalu mendoakanku, agar aku dapat menemukan yang terbaik, yang bisa ku percaya untuk menjaga investasi terbesarku, anak-anakku. 


NB: Bagi yang ingin membantu mencarikan pengganti si mbak, berikut persyaratannya:
  1. Wanita, usia 20 – 30 tahun
  2.  Sehat lahir dan batin
  3. Rajin, jujur, sopan, setia, dan penurut
  4. Menyayangi anak-anak
  5. Bisa memasak
  6. Tidak suka keluar malam
  7.  Tidak suka nonton sinetron
  8.  Tidak genit
  9. Tidak berwajah cantik
  10. Tidak berbodi seksi
Terima kasih  ^_^

Wednesday, September 21, 2011

Don't be Emotional

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba aku menerima sms dari temanku “hoi! lo kemana aja sih? Ditelpon nggak diangkat, disms nggak dibales. Pas lo ada masalah, gue selalu ada buat lo, sekarang pas gue ada masalah besar kek gini, lo malah nggak peduli sama sekali. Lo nggak pernah nanyain kabar gue!”
Deg! Apa salahku? Setahuku aku sudah berusaha mendampingi dia, mendengar keluh kesahnya, memberikan saran jika dia minta, dan menjaga rahasianya. Apapun yang aku bisa akan kulakukan untuk membantunya menyelesaikan masalah. Tapi tiba-tiba dia bilang aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Jadi usahaku selama ini tidak dia anggap? Apa semua yang aku lakukan buat dia tak berarti apa-apa? 
Ups.. hampir saja aku terbawa emosi. Aku berusaha mengendalikan diri. Tak ada gunanya menyangkal kata-katanya, malah makin memperkeruh suasana. Aku berusaha mengerti perasaannya. Aku ingat aku pernah merasakan perasaan seperti itu. Di saat aku ada masalah atau sakit hati, aku sering merasa sendiri. Ingin berbagi ke orang lain, tapi sepertinya mereka tak bisa mengerti.  Bahkan kadang aku merasa teman-temanku malah menghakimi dan menjauhi. Aku merasa diperlakukan tidak adil. Aku selalu berusaha membantu teman-temanku, tapi di saat aku butuh mereka, mereka justru menjauh. Ya, tentu saja itu hanya perasaanku saja. Maklum saat itu aku sedang galau, pasti hanya focus memikirkan diri sendiri saja, dan merasa diri ini yang paling menderita sedunia.
Kalau dipikir-pikir, rasanya tidak bijak jika aku menyalahkan mereka karena masalahku. Teman-temanku bukan diriku, mereka punya dunia sendiri, punya urusan sendiri, dan punya masalah sendiri. Mana mungkin mereka bisa memikirkanku setiap saat. Tak bijak pula jika aku menuduh mereka tak memperdulikanku. Tentu saja mereka peduli dan punya rasa simpati kepadaku. Tapi bukan berarti mereka selalu bisa membantuku. Seharusnya rasa peduli dan simpati itu sudah cukup memberiku semangat. 
Seiring dengan berjalannya waktu aku makin memahami itu. Sakit hatiku dan masalahku, tidak bisa hilang dengan mengharapkan bantuan orang lain. Karena kadang malah berakhir kecewa. Berharaplah hanya kepada Allah :D. Tumben ya, aku bisa berpikir bijak.. hehe. Dari pengalamanku, sharing kepada teman yang dipercaya memang bisa meringankan beban, tapi pemecahannya tetap ada di tangan kita. Besar kecilnya masalah tergantung dari cara pandang kita, parah tidaknya rasa sakit hati tergantung bagaimana kita mensikapi.  Jadi semua kembali pada diri sendiri. Aku selalu percaya, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Bukankah dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan? Dan setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, walau aku sering terlambat menyadarinya. 
“Jangan emosional..” saat seseorang mengatakan ini padaku, aku berpikir seolah-olah dia menyepelekan perasaan dan masalahku. Tapi sebenarnya tidak, justru kata-kata ini adalah kunci pengendalian diri. Tentu saja kalau benar-benar dilakukan. Emosi yang berlebihan sering kali menutup akal kita, hingga kita tidak bisa berpikir jernih. Bahkan masalah yang sebenarnya sederhana menjadi semakin rumit karena emosi yang berlebihan. Dan yang lebih parah lagi sikap emosional ini tanpa kita sadari sering membuat orang-orang terdekat kita sakit hati.  Wah maaf ya, kalau kata-kataku jadi seperti menggurui. Semua ini untuk mengingatkan diri sendiri :D. So friends.. Don’t be emotional.. so you can think clearly and act wisely.. Dan satu lagi, fokuslah pada pemecahan masalah, jangan berlarut-larut ‘mencari sebab serta mencari alasan’ (red: diambil dari lirik lagunya Exist), apalagi mencari kambing hitam… :D

Tuesday, September 20, 2011

Aku Ingin...

Aku ingin setiap pagi bisa menyiapkan sarapan dan bekal buat anak-anak dan suami, bukan sibuk menyiapkan diri berangkat ke kantor 

Aku ingin setiap hari bisa mengantar dan menjemput anak-anak sekolah, bukan sibuk melakukan kunjungan ke kantor lain

Aku ingin setiap saat bisa berbagi cerita dan mendengar keluh kesah anak-anakku, bukan sibuk melayani konsultasi di kantor

Aku ingin setiap saat bisa mengawasi perkembangan anak-anakku, bukan sibuk mengawasi penerimaan kantor


Aku ingin setiap hari bisa menemani anak-anak belajar dan menyiapkan bahan-bahan pelajarannya, bukan sibuk menyiapkan materi presentasi 

Aku ingin setiap malam bisa menenangkan suamiku di kala dia lelah dan gundah, bukan sibuk menenangkan diri karena pekerjaan kantor yang membuat emosi

Aku ingin akhir minggu ini menemani anak-anakku bermain sepuasnya, bukan ikut acara outbond kantor…

Outbond.. oh outbond.. bagaimana caraku menghindarimu..? aku sungguh merindukan anak-anakku.. hiks


Monday, September 19, 2011

Pangandaran Pelipur Lara (Part 2)

Pantai Timur Pangandaran, 24 Juli 2011

Aaah segarnya… bersepeda di pagi hari menyusuri Pantai Timur Pangandaran. Di pantai ini terdapat banyak penyewaan sepeda, bentuk dan modelnya pun bermacam-macam, ada yang kecil, ada yang besar, ada pula yang model tandem. Harga sewanya cukup murah, Rp 10.000 untuk yang single, dan Rp 15.000 untuk yang tandem. Selama bersepeda, banyak yang dapat ditemui di pantai ini, selain pemandangannya yang indah, di pinggir pantai ini juga terdapat pasar. Tentu saja para ibu tak kan melewatkan pasar yang satu ini. Pasar ini menjual berbagai macam ikan, dari ikan segar sampai ikan asin. Salah satu yang menarik perhatianku adalah penjual udang dan ikan kecil-kecil yang digoreng krispi. Wah aromanya sangat menggugah selera, cocok sekali buat cemilan atau buat lauk. Langsung deh aku borong.. hehe.. Puas berbelanja ikan, temanku mengajakku mencari ikan jambal dan terasi. Ya ampun jauh-jauh ke Pangandaran kok yang dicari terasi.. -__-. Eits jangan underestimate dulu, katanya terasi di sini kualitasnya nomor satu, apalagi kalau ke pembuatnya langsung. Si ‘pabrik’ terasi dan ikan jambal ini berada tidak jauh dari pasar, hanya selisih beberapa gang saja. Tadinya aku tak tertarik membeli, tapi setelah sampai di sana eh malah mborong lagi… ah dasar emak-emak..


Pantai Barat Pangandaran, 24 Juli 2011

Salah satu keunikan Pantai Indah Pangandaran adalah memiliki dua sisi, timur dan barat. Karena itulah kita bisa menikmati sunset dan sunrise di pantai yang sama, sunset di pantai barat dan sunrise di pantai timur. Kini saatnya mengeksplore pantai bagian barat. Pantai ini lebih banyak pengunjungnya, dan banyak perahu-perahu yang bisa disewa. Dari sini kami naik perahu menuju Pantai Pasir Putih. Sebenarnya jaraknya tidak jauh dari pantai barat, dan bisa ditempuh melalui jalur darat dengan berjalan kaki. Tapi daripada susah payah berjalan kaki, sepertinya lebih cepat dan lebih seru ditempuh dengan perahu. Dasar pemalas.. :D

Sesuai dengan namanya Pantai Pasir Putih, pantai ini memang benar-benar berpasir putih. Putihnya pasir dan birunya laut berpadu dengan indah.  Di sini juga cocok untuk snorkeling, terbukti dengan banyaknya orang yang berenang memakai semacam selang dan kacamata renang. Melihat itu, jadi timbul keinginanku untuk mencoba. Sekali lagi aku tegaskan di sini bahwa aku tidak bisa berenang! Apa bisa snorkeling?. Temanku meyakinkanku “nggak bisa berenang tetep bisa snorkeling kok, kan pakai pelampung, jadi nggak kan tenggelam”. Yosh! Mari kita coba.. kau tak kan bisa tahu kalau tidak mencoba.

Berbekal pelampung dan perlengkapan snorkeling, yaitu kacamata renang berpenutup hidung digabung dengan selang yang harus dimasukkan ke mulut, jadilah aku snorkeling. Hueek.. asin sekali! Lagi-lagi kejadian menelan air terjadi lagi (baca: Pangandaran Pelipur Lara (Part 1)). Ternyata bernafas di dalam air dengan menggunakan mulut itu susah sekali teman! Bukan udara yang masuk tapi malah air laut yang masuk. Boro-boro bisa melihat pemandangan bawah laut, mengatur nafas sendiri saja susah. Belum lagi usahaku untuk mengapungkan diri, kacau sekali. Sepertinya berat bagian atas tubuhku lebih besar daripada bagian bawah tubuhku, alhasil kepalaku tenggelam, tapi kakiku mencuat keatas, dan aku kelabakan menyeimbangkan diri. Benar-benar konyol! Ya sudahlah.. sepertinya aku harus belajar renang dulu sebelum mencoba snorkeling lagi. Dari pinggir pantai aku melihat dengan perasaan iri kearah temanku yang jago berenang, kelihatan menikmati sekali. Saat dia menepi, dia berkata padaku “wah keren ya.. ikannya banyak.. keliatan kan?”. Kujawab “iya.. bagus banget”. Dan itu suatu kebohongan yang besar, sesungguhnya aku tidak sempat melihat pemandangan apapun di bawah air, paling sekilas cuma melihat ganggang yang terdampar. Huhuu.. malu :(.



Cagar Alam Pangandaran, 24 Juli 2011

Tak lengkap rasanya kalau ke Pangandaran tanpa mampir ke kawasan ini. Cagar alam ini seperti hutan, dengan pepohonan besar yang rindang. Sesekali kami pun harus melalui semak-semak yang kadang berduri. Sepanjang jalan, sang pemandu dengan tekun menjelaskan satu per satu tempat-tempat yang kami lalui. Sayangnya aku tidak terlalu tertarik mendengarkan. Aku justru asik berfoto ria, sementara teman-temanku yang lain serius mendengarkan ‘wejangan’ sang pemandu. Jadi maklumlah kalau tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang tempat ini. Yang aku tahu kami sempat melalui beberapa buah gua, di antaranya Gua Panggung dan Gua Lanang. Seperti apa guanya? Silahkan lihat saja fotonya ;).




Perjalanan kami di cagar alam berakhir pada sebuah pantai. Ternyata cagar alam ini merupakan jalan tembus ke sisi Pantai Pasir Putih yang lain. Dan di sini pantainya lebih sepi dan tenang. Lagi-lagi kami ditawari untuk snorkeling. Tentu saja teman-temanku menyambut dengan suka cita, terutama yang tadi belum sempat snorkeling. Tapi aku sudah cukup jera dengan pengalaman snorkelingku sebelumnya. Jadilah kali ini aku hanya ikut naik perahu ke spot snorkeling dan duduk manis di perahu. Perjalanan berperahu kami cukup menyenangkan, dan pemandangannya sangat memanjakan mata. Laut biru luas menghampar, dengan karang-karang yang unik, ada yang berbentuk seperti kapal layar, adapula yang berbentuk seperti buaya raksasa.
Pangandaran memang indah, dan menghadirkan banyak petualangan yang belum pernah kualami sebelumnya. Sampai jumpa di petualangan berikutnya :D.






Wednesday, September 14, 2011

Pangandaran Pelipur Lara (Part 1)

Green Canyon, 23 Juli 2011

Perjalanan ke Green Canyon ternyata lumayan lama. Sebelumnya temanku mengatakan dari Pangandaran ke Green Canyon paling cuma 15 menit, eh ternyata hampir 1 jam.  Kondisi jalannyapun tidak bagus, banyak yang berlubang. Sayang sekali, obyek wisata bagus tapi tidak didukung oleh fasilitas yang memadai.

sungai menuju Green Canyon
Sampai di Green Canyon, perjuangan kami belum berakhir. Kami harus mengantri untuk naik perahu. Satu perahu harga tiketnya Rp 75.000, bisa muat untuk 5 orang. Nah proses mengantri ini yang menguras energi. Bayangkan 3 jam kami menunggu  belum dapat giliran juga. Memang sih waktu itu sedang ramai, tapi dengan jumlah perahu sebanyak itu rasanya tidak masuk akal kalau kami harus menunggu begitu lama. Sepertinya ada yang tidak beres dengan system antriannya. Banyak rombongan-rombongan yang baru datang tapi langsung didahulukan naik ke perahu, hingga kami harus dikalahkan. Tak mau menunggu lebih lama lagi, salah satu temanku mengambil tindakan. Apalagi kalau bukan protes dengan nada menantang.. mmm.. ini memang keahliannya.. hehe. Adu mulutpun terjadi, dan otomatis jadi tontonan semua orang. Ada yang mendukung, ada pula yang mencibir, ah itu biasa.. biarlah orang berkata apa.. halah.. :D. Akhirnya, walaupun harus tebal muka, tapi perjuangan kami tidak sia-sia. Yeay.. kami bisa naik ke perahu!


batas akhir perahu
Perahu kami menyusuri sungai menuju Green Canyon. Karena habis hujan, air di sungai ini arusnya kencang dan lebih keruh. Tapi perjalanan kami cukup menyenangkan, kami melewati sungai yang berkelok-kelok dengan pepohonan yang rimbun. Setelah melewati beberapa tikungan, akhirnya sampai juga di Green Canyon. Wow! keren sekali! Kami terpana oleh pemandangan yang ada di depan mata. Green Canyon ini semacam gua dengan stalaktit dan stalaknit unik, dengan air sungai yang mengalir di bawahnya dan beberapa batu besar di dasarnya. Semburat sinar matahari yang menembus dindingnya semakin menambah keindahannya. Walaupun pada saat ini airnya tidak hijau, tapi pemandangannya tetap mengagumkan. 

istirahat di atas batu
Untuk mencapai bagian dalam Green Canyon, tidak bisa menggunakan perahu, karena terhalang batu besar. Satu-satunya cara adalah dengan nyemplung ke air sungai yang arusnya lumayan deras itu. Saatnya uji nyali nih, maklumlah aku kan tidak bisa berenang.. huhuu.. malu. Tapi melihat banyak orang yang sepertinya sangat menikmati air sungai itu, aku pun memberanikan diri.. alias nekat :D. Dengan hanya bermodalkan pelampung dan seutas tali, aku menceburkan diriku ke sungai. Bbrrrr.. tak disangka airnya dingin sekali! Mampukah aku bertahan? Tubuhku harus berjuang melawan arus sungai, dan beberapa kali aku terpaksa ‘meminum’ airnya.. huek.. Lelah dan nafas tersengal-sengal. Aku baru bisa bernafas lega saat berada di permukaan yang airnya dangkal, atau saat menemukan batu besar, hingga aku bisa beristirahat di atasnya. Di atas batu itu aku bisa melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Rasa lelahku seketika hilang. Bersyukur aku bisa sampai di sini, walaupun dengan perjuangan yang tidak mudah. Sesuatu yang berharga memang harus diraih dengan perjuangan keras.. *sok bijak.. :D.

Pantai Batu Karas, 23 Juli 2011

 Hari sudah sore saat kami sampai di pantai ini, jadi cuaca tidak terlalu panas. Walaupun pasirnya tidak putih, tapi pantai ini sangat menyenangkan untuk bermain air. Terdapat beberapa permainan air yang bisa dicoba. Beberapa temanku tampak antusias mencoba beberapa permainan, heboh dan seru. Tapi aku tidak berminat untuk mencoba, rasanya tubuhku sudah cukup lelah sejak dari Green Canyon tadi. Cukuplah bagiku menikmati pemandangan pantai sambil cuci mata melihat bule-bule cowok yang perutnya six pack dan memakai celana kolor di bawah puser nyaris melorot.. #eh.. hihi.. Beberapa bule itu tampak membawa papan surfing. Sepertinya pantai ini termasuk tempat favorit untuk surfing.



Monday, September 12, 2011

Menuju Pangandaran.. Bertemu Bajing Loncat?

“Yuk ke Pangandaran!” ajak temanku waktu itu. Pastilah aku setuju. Kebetulan suasana hatiku sedang galau segalau-galaunya, sepertinya ikut ke Pangandaran ide yang bagus. Aku berharap bisa sedikit menghibur diri. Travelling tak pernah gagal mengobati gundahku. Yuk ah jalan.. :D.

Tepat pukul 10 malam aku berangkat dari kantor bersama dengan 20 orang teman kantorku, diperkirakan pukul 6 pagi sudah sampai di tempat tujuan. Tapi sepertinya cuaca saat itu kurang bersahabat, sepanjang jalan hujan mengguyur, hingga perjalanan jadi lebih lama. Seharusnya kan bulan Juli masih musim kemarau.. Ah.. harapan melihat Green Canyon yang hijau pupus sudah, karena kalau  habis hujan begini air di Green Canyon jadi keruh :(.


Saat subuh kami masih di perjalanan, istirahat sebentar untuk sholat, kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Dan tiba-tiba peristiwa ganjil itu terjadi. Entah apa yang menimpa bus kami, tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup memekakkan telinga. Kaca depan bus membentur sesuatu! Semua penumpang bus terkejut dan bertanya-tanya, bus kami menabrak apa? Namun tak satupun dari kami menemukan sesuatu tertabrak, bahkan si kondektur yang duduk tepat di depan tak melihat ada sesuatu yang tertabrak.  Bus kami membentur sesuatu yang tidak tampak! Hiiii.. Jika dilihat dari kerusakan bus itu, pastilah sesuatu itu benda yang keras dan besar. Tapi apa? Dan yang lebih ganjil lagi, di retakan kaca bus itu ada beberapa helai rambut! Rambut siapa hayoo…?

Akhirnya sampai juga di Pangandaran, walaupun dengan perjalanan yang cukup menegangkan. Kami langsung menuju Green Canyon dengan naik angkutan umum, karena bus kami mengalami kerusakan yang cukup parah. Di dalam angkot kami sempat ngobrol dengan pak sopirnya, termasuk menceritakan peristiwa tadi malam. Dari pak sopir kami sedikit mendapat kemungkinan jawaban dari peristiwa itu. Menurut pak sopir, kemungkinan bus kami semalam bertemu dengan bajing loncat. Tau bajing loncat kan? Itu kawanan perampok, biasanya mereka memasang perangkap  yang membuat pemakai jalan menghentikan laju kendaraannya. Dan pada saat kendaraan berhenti itulah mereka beraksi, menjarah harta benda yang ada. Seram sekali! Untung semalam bus kami tidak berhenti. Entah benar apa tidak, sampai sekarang peristiwa tersebut masih menjadi misteri.

Run Away to Bali (Part 3)

Tanah Lot, 12 Juni 2011

Tanah lot selalu dihati… Entah mengapa Tanah Lot ini selalu membiusku. Setiap sudutnya mempesona, menyimpan misteri, dan selalu ada cerita tersendiri. Aku masih ingat waktu pertama kali kesini.. waktu itu bulan Desember, bertepatan dengan perayaan Kuningan. Cuaca yang mendung dengan deburan ombak laut pasang di waktu senja, semakin menambah sakral ritual perayaan itu. Aura magisnya sangat terasa. Dan dia ada disana, seorang laki-laki bali mempesona dengan kemeja putih dan udeng di kepalanya. Sesaat pandangan kami saling bertemu.. aku terpaku dan tersipu.. menyadari itu, buru-buru aku palingkan pandanganku kearah lain. Tapi rasa penasaran membuatku kembali membawa pandanganku ke arahnya.. tapi dia sudah tidak ada! Secepat itu dia berlalu, seperti hantu.. 

Kali ini aku kembali ke Tanah Lot, dengan membawa memori Desember lalu, Tanah Lot yang magis dan sendu. Tapi yang kudapati sangat berbeda.. Tanah Lot kali ini sangat cerah dan ceria, seolah menyambutku penuh kehangatan bagai kawan lama. Langit yang sangat biru dan sawah-sawah hijau membentang mengiringi perjalananku kesana. Begitu sampai disana kami disambut oleh pemandangan yang membuat decak kagum. Laut yang dulu pasang saat ini surut, dan kami bisa menjejakkan kaki didasarnya yang berupa batu-batu karang. Di antara batu-batu karang tersebut ada beberapa ikan warna warni yang terjebak disana, rasanya seperti melihat akuarium.. :D. Wah kereeeen… aku bisa menyentuh air laut Tanah Lot.. *Lebay deh.. hihi.  Kini saatnya foto-foto!


 Selain keindahan alamnya, orang-orang Bali juga unik, salah satunya preman bali yang aku temui di Tanah Lot ini. Dia ini seorang pembuat temporary tattoo. Dilihat dari fisiknya.. preman bangetlah, badan gempal dengan tato bertebaran di tubuhnya. Tapi saat bicara.. aku tahu hatinya begitu lembut, dan kata-katanya sangat mengharukan. Begini kata-katanya “saya senang ketemu mbak-mbak ini, rasanya g bisa diungkapkan kata-kata.. selama ini saya ketemu sama orang-orang kasar seperti saya ini, orang jalanan, tiap hari bergaul ama alcohol.. tapi sekarang saya bisa dengar kata-kata yang halus dari mbak ini, keliatan banget klo mbak ini orangnya baik, orang baik-baik…”. Huhuuu.. masih ada yang menganggapku baik, disaat banyak orang menghujatku.
 
Garuda Wisnu Kencana, 12 Juni 2011

pemandangan kota Denpasar
Jangan bilang pernah ke Bali kalau belum pernah ke GWK.. hehe. Mungkin slogan itu tepat untuk tempat ini. Sebenarnya aku kurang tertarik kesini, tapi karena aku belum punya foto dengan si patung raksasa itu, makanya aku sempetin kesini. Masuk ke kawasan ini mahal juga tiketnya, Rp 25.000. Mahal kan kalau dibandingkan ke obyek wisata lain yang masuknya gratisan.. hehehe.. Wah keren juga tempat ini. Ternyata patung-patung ini terpencar-pencar anggota tubuhnya. Tangannya ada di bagian bawah, terus naik ke atas kita bisa lihat patung badan dan kepalanya yang sangat terkenal itu, dan di bagian yang lebih rendah ada patung kepala si garuda. Apa menariknya cuma ngliatin patung raksasa? Eh jangan salah.. dari sini kamu bisa melihat pemandangan kota Denpasar, keren sekali.. Bandara Ngurah Rai bisa terlihat dari sini, dan terlihat pesawat-pesawat yang berseliweran. Lekuk-lekuk daratan dan lautan begitu indah dilihat dari atas sini. Mau melihat lebih jelas? Jangan kuatir, disini ada teropongnya kok, tinggal masukin koin aja, koinnya beli dulu dong.. :D. Nah adalagi yang tak kalah menarik, disini ada semacam dinding tebing-tebing, aku tak tahu itu buatan atau aslinya memang seperti itu. Susah mendiskripsikannya.. tapi bagus sekali buat berfoto ria.. silahkan lihat fotonya saja ya.. :D.

 
 Uluwatu, 12 Juni 2011

Huwaaa.. sereeem.. banyak monyet! Yah itu kesan pertama saat sampai di sana. Monyet-monyet itu sangat menghantuiku, bertebaran, bergelantungan, dan memasang aksi menantang. Aku merasa diintimidasi :(. Tapi perjuangan tak sia-sia, walaupun rasa was-was tetap ada, tapi aku sangat terhibur dengan pemandangan uluwatu.. subhanallah.. indah sekali! Tak pernah ku lihat laut sebiru ini, tak pernah ku lihat langit secerah ini, tak pernah kulihat tumbuhan sehijau ini.. dan tak pernah kulihat monyet sesehat ini.. #eh monyet lagi. Maaf ya jadi nyeritain monyet lagi, tapi memang aku agak trauma dengan monyet disini, ganas sekali! Saat aku sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba seekor monyet melompat menunggangi punggungku. Aku shock, membeku, benar-benar terpaku, dan si monyet semakin leluasa menjajahku, menarik bros dan kerudungku. Dan aku sukses jadi bahan tertawaan turis-turis Jepang.. “Huh! Sok-sok care tapi ngetawain... Gak pernah liat cewek cantik ditunggangi monyet ya..?!” aku mengumpat di dalam hati. 

Walaupun pengalaman di Uluwatu sedikit menyisakan trauma, tapi aku sungguh bersyukur bisa sampai di sini. Sebenarnya rencananya kami ingin menunggu sunset disini, katanya bagus banget, sayang untuk dilewatkan. Tapi karena banyak gangguan (baca: monyet), akhirnya kami putuskan mengalah saja. Sampai jumpa Uluwatu.. ku kan kembali saat aku dah sembuh dari trauma ini..

   Lion Air, 12 Juni 2011

Bali dikenal dengan sebutan Pulau Dewata… tapi aku menyebutnya Pulau Penuh Cinta.. yang selalu menyambutku dengan penuh kehangatan.. Bali ku kan datang kembali.. :D

Run Away to Bali (Part 2)

Pantai Padang-padang, 11 Juni 2011

Wuiiih.. seperti di dunia lain.. seperti bukan di Indonesia. Kami terbengong-bengong, terpana dengan pemandangan yang terhampar di depan mata. Sebuah pantai yang indah dengan lautnya yang biru, dihiasi batu-batu karang dan pasirnya yang putih bersih, serta tanaman yang tumbuh di antara tebing batu karang.. indaaah. Dan yang tak kalah indahnya adalah pemandangan bule-bule tanpa busana.. hihihi. Dengan santai dan tanpa malu-malu mereka berjemur cuma memakai bikini dan G-string.. ckckck.. Justru malah kami yang malu melihat pemandangan gratis ini. Kami malah jadi tontonan, mungkin mereka merasa aneh, ada orang berbusana tertutup muncul di antara mereka yang berbugil ria.. hihihi.
Pantai Padang-padang itu kecil, jadi tampak seperti kawasan private untuk para wisatawan asing. Dan pas kami kesana memang tak ada satu pun wisatawan domestic. Sepertinya kami sudah salah masuk nih.. ke ‘adult area’.. hihihi.




Pantai Nusa Dua


Tenang, damai dan nyaman. Itu kesan pertama yang aku rasakan saat melihat pantai ini. Lautnya benar-benar biru, pasirnya benar-benar putih, menenangkan. Untuk memasuki pantai ini harus melewati kawasan-kawasan elit, semua tertata rapi, pantainya pun bersih dan rapi. Pasti asik main air disini atau sekedar nongkrong-nongkrong sambil menunggu sunset. Aaaah.. benar benar surga dunia.





Seminyak, midnight, 11 Juni 2011


Alhamdulillah.. beruntung sekali aku bisa merebahkan tubuh rentaku ini di tempat yang luar biasa nyaman. Tempat ini bukan sebuah hotel berbintang yang lengkap dengan AC dan pemanas air, tempat ini sangat sederhana tapi penuh cinta.. ;). Lebay ya.. ? tapi itulah yang kurasakan. Berkat kebaikan dari seorang ibu, aku bisa mendapatkan fasilitas senyaman ini. Tempat tidur dan makanan berlimpah yang sangat enak.. Pelarian tak pernah senyaman ini.. hihihi.. Singkatnya, selama di Bali kami mendapat tumpangan di rumah seorang teman, Mas Wibi. Dan ibunya menyajikan banyak makanan yang menggugah selera. Roti cinta, rujak serut, peyek udang, capcay, nasi goreng, ati ayam goreng..  semuanya uenaak.. membayangkannya aja bikin air liurku menetes.. slurup.. :D
Malam itu sebenarnya kami berencana mo clubbing, alias nongkrong-nongkrong di pinggir pantai kuta sambil ngopi-ngopi. Tapi apa daya kami sudah kelelahan, dan tertidur pulas sampai pagi menjelang.


To be continued… ^_^

Run Away to Bali (Part 1)

Jakarta, 10 Juni 2011

Siang itu hatiku gundah dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku sudah memutuskan untuk berangkat ke Bali bersama temenku Ayu, hanya berdua saja. Keputusan yang sudah bulat walau harus disertai dengan perjuangan yang tidak mudah. Terutama berjuang mengatasi perasaan sendiri. Perasaan bersalah karena kembali meninggalkan keluargaku demi kesenangan pribadi. Tapi sisi hatiku yang lain mengatakan aku butuh pelarian sejenak, aku butuh menyerap energi lebih besar untuk menghadapi hidup, aku butuh liburan ini. Ya aku harus berlibur.

Tapi siang itu aku kembali gundah. Widi, teman dekatku, muncul menyapaku di gtalk. Dia menanyakan alasanku pergi sendiri tanpa suami dan anak. Dan itu bukan sekedar pertanyaan biasa, dia berusaha mendapatkan jawaban serius dariku. Dia mengabaikan pelajarannya demi mengejar jawaban dariku. Aku sungguh tak ingin membahas tentang ini dengan dia, toh dia tak kan mampu mengerti apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan. Dia tak kan mengerti karena dia laki-laki. Dia bilang “aku punya prinsip aku akan membagi kebahagiaanku dengan keluargaku, jadi kemana pun aku pergi untuk bersenang-senang pasti aku ajak mereka”. Jleb.. rasanya seperti tertusuk tepat di jantungku. Tak tahukah dia, bahwa aku pergi bukan sekedar untuk bersenang-senang. Alasanku pergi untuk pemulihan diri. Aku takkan bisa membahagiakan anak-anakku jika jiwaku ini tidak sehat. Terusik dengan kata-katanya itu, akhirnya aku ungkapkan semua alasanku, dan aku tak peduli apa reaksinya. Tapi sungguh sebenarnya rasa bersalahku karena meninggalkan keluarga semakin menjadi karena kata-katanya. Walaupun akhirnya dia bilang dia mengerti alasanku, tapi rasa bersalah ini sudah terlanjur merasuk. Aku merasa alasan-alasanku  itu hanya pembenaran saja. Sungguh… aku merasa bersalah..

Kintamani,11 Juni 2011

Bbbrrrrr… duuuiiiingiin sekaliiiii.. sampai menggigil tak tertahankan. Ke Kintamani tanpa memakai jaket sungguh suatu kesombongan yang besar, dan itu kulakukan. Siapa yang menyangka bakal dingin luar biasa seperti ini, terutama untuk orang-orang dari Jakarta yang sok pengen bergaya seperti kami ini.. hihihi. Pagi itu sebelum subuh kami sudah berangkat menuju Kintamani dengan harapan dapat menikmati sunrise di sana. Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 2,5 jam akhirnya kami sampai. Ternyata kami tidak disambut oleh sunrise, tapi disambut oleh kabut yang tebaaaal sekali, bahkan jalan raya pun tak kelihatan. Konon di Kintamani itu ada danau dan gunung Batur. Wow bisa kau bayangkan indahnya panorama sunrise yang menyembul dari balik gunung dan danau. Sayang kami tak berhasil mendapatkan momen itu.

Tapi walaupun berkabut, Kintamani tetaplah menarik. Sepanjang jalan ada pura. Pura itu milik pribadi, jadi setiap rumah memiliki pura. Semakin besar puranya berarti semakin kaya orangnya. Bahkan di pasar Kintamani bisa kita temui beberapa pura. Nah ngomong-ngomong tentang pasar, kami akhirnya mampir ke pasar itu untuk mencari sarapan. Pasarnya lumayan bersih dan tidak berbau busuk. Di pasar itu banyak penjual sate ayam, bakso dan soto, makanan yang identik dengan udara dingin. Tapi jangan harap kamu bisa makan bakso sapi di sini. Disini adanya bakso ayam, sepertinya karena penduduk sini tak makan daging sapi. Di sini juga ada penjual makanan mirip warteg, tapi harus hati-hati karena kebanyakan penjualnya bukan muslim. Kalau di depan warung ada tempat sesaji, mending g usah makan di situ, diragukan kehalalannya. Akhirnya kami memutuskan makan sate ayam. Hmm.. sate ayamnya unik juga loh. Ukuran satenya kecil-kecil banget, tapi lontongnya banyak, trus bumbu kacangnya lebih encer. Pokoknya dengan harga sate seporsi Rp 4000 saja kita udah makan kenyang. Hehehe.

Makin siang malah kabutnya makin tebal, makin dingin pula, jadi kebelet pipis. Mampir ke toilet deh. Sebenarnya malas juga sih mampir ke toilet umum, pasti gak bersih dan bau. Aha.. lagi-lagi ada yang unik. Ternyata toiletnya bersih banget tak seperti dugaanku. Malah kelihatan seperti kamar kost-kostan. Dan di setiap pintunya ditempelin kain putih kecil ukuran 15 x 15 cm yang digambari lambang seperti matahari, maksudnya apa ya? Sepertinya semacam tolak bala.
Aku membayangkan Kintamani itu seperti tempat tinggalnya Edward Cullen. Dingin, berkabut, sering hujan, pohon-pohon tinggi, pokoknya mirip banget. Ditambah lagi di sini banyak anjing-anjing berbulu lebat seperti warewolf tapi dalam ukuran kecil. Bayanganku anjing itu jelmaannya Jacob Black yang berbodi seksi… hihihi.. maaf ya malah ngayal :D. Eh tapi jangan salah.. aslinya anjing di sini pinter-pinter. Bahkan konon katanya anjing kintamani itu anjing terpintar di dunia. Hmm.. sulit dipercaya..


sunrise yang malu-malu
toilet yang mirip kamar kost




to be continued *_^

Sunday, September 11, 2011

Hi.. It's Me.. ^_^

Yeah.. It's me.. Covalimawati.. nama yang aneh bukan?. That's my real name.. Nama ini berasal dari sebuah kota di negara Timur Leste, Covalima. Saat aku dilahirkan, ayahku sedang bertugas di sana. Pada masa itu Timur Leste masih menjadi bagian dari negara kita, dengan nama Timur Timur. Nah karena aku perempuan maka ditambahlah kata 'wati' setelah kata "covalima", jadilah covalimawati. Nama yang unik dan tak ada duanya.. :D.
Sesuai dengan namaku yang unik, maka kepribadiankupun juga unik dan sulit ditebak. Tapi yang jelas aku ini pecinta kejujuran, apa adanya, dan tidak suka basa basi kecuali kalau terpaksa. Sifat-sifatku yang lain, aku agak bingung mendeskripsikan, karena itulah aku mencoba menulis blog, berharap aku bisa menemukan jati diriku dan passionku yang sebenarnya.
Runaway Diary.. ini catatanku.. pelarianku.. to find my real passion..