Thursday, October 27, 2011

My New Best Friend

Sebagai pecinta traveling, pasti aku punya teman setia yang selalu menemani kemanapun aku pergi. Dia adalah sebuah kamera.  Bisa dibayangkan traveling tanpa kamera, pasti bakalan mati gaya... hehe.. Tapi bagiku kamera bukan sekedar alat untuk bernarsis ria. Kamera sangat membantuku untuk merekam tiap momen perjalanan dengan lebih detil, yang kadang tidak tertangkap oleh mataku. 

by Sony Ericson Xperia X-8
Aku mendapatkan kamera pertamaku saat aku umurku 14 tahun. Kamera Fuji (lupa serinya), kamera yang masih menggunakan negative film, waktu itu belum ada kamera digital. Kamera Fujiku merupakan kamera yang paling gaul di jamannya, kameranya kawula muda..hehe. Kamera itu pula yang menemani traveling pertamaku,  hiking dan kemping di Gedong Songo, Ambarawa. Kurang lebih 7 tahun aku memakai kamera itu, hingga akhirnya beralih ke kamera digital.

Kamera Kodak (lupa serinya), sempat ku pakai beberapa tahun, kemudian beralih ke kamera Kodak seri lain yang spesifikasinya lebih baik. Saat awal-awal pemakaian memang hasilnya memuaskan, tapi makin hari performanya makin berkurang. Akhirnya aku hanya mengandalkan kamera di hp saja. Walaupun hanya memakai hp, tapi hasil jepretan Sony Ericson Xperia X8 ku ini tak kalah dengan jepretan kamera digital. Namun sebagus apapun hasilnya, kamera di sebuah hp tentu sangat terbatas dari segi kapasitas maupun fiturnya. Maka akhirnya aku memutuskan mencari kamera baru yang benar-benar sesuai dengan seleraku.



Dan setelah masa pencarian yang tidak terlalu lama, akhirnya kuputuskan untuk memilihnya. This is it.. My new best friend.. Nikon Coolpix L120. Dari pandangan pertama aku langsung suka kamera ini. Lekuk bodinya seksi, dan warna merahnya menggoda hati :D. Bentuknya tidak semungil kamera digital saku, tapi tidak sebesar kamera SLR. Awalnya aku sempat ragu dengan kepraktisannya, karena ukurannya yang lebih besar dari pocket camera, tak memungkinkan kamera ini untuk dikantongi. Satu-satunya cara paling praktis adalah dengan mengkalungkan kamera ini di leher. Dan.. surprise! Ternyata aku cocok sekali dengan kamera ini, jadi kelihatan lebih gaya.. hihi.. Coba deh lihat poseku dengan kamera ini. Keren kan.. hehe..

by Nikon Coolpix L120
Bukan itu saja, yang membuatku makin suka adalah hasil jepretannya yang keren. Kamera ini dilengkapi beberapa mode shot, jadi kita tinggal menyesuaikan dengan kondisi obyek untuk hasil yang maksimal. Seperti mode sunset, close up, portrait, landscape, beach, pet, party, night landscape, food, dll. Jadi kita tinggal memilih modenya tanpa harus ribet membuat settingan lagi seperti di kamera SLR. Maklumlah, aku awam di dunia fotografi, jadi maunya yang praktis-praktis saja. Dan yang membuatku kagum adalah kemampuan optical zoomnya sampai dengan 21X! Jadi bisa ngintip yang bening-bening dari jauh.. tanpa ketahuan.. hihihi.. Dengan kamera ini, aku jadi makin suka memotret. Hampir tiap hari aku bawa kamera ini, bahkan hanya sekedar makan siangpun aku sempatkan untuk foto-foto.. hehe.. Dan kali ini aku yang jadi fotografernya, bukan lagi jadi modelnya.. Say cheese.. ^_^

without zoom
with zoom



Friday, October 14, 2011

Pesona Kota Tua Jakarta (2)

Museum Fatahillah

 Dari luar gedung ini memang sangat megah dan indah. Dan begitu masuk ke dalam museum ini, aura eksotisme dan misterius terasa menyelimuti. Apalagi ada lukisan yang menggambarkan beberapa orang tawanan yang kepalanya ditutup dengan kain, dan lehernya diikat dengan tali. Sepertinya itu proses hukuman mati bagi para tawanan pribumi di jaman penjajahan dulu. Aku merinding membayangkan prosesnya. Seram sekali. Ruangan-ruangan lainnya juga menarik, apalagi untuk orang-orang yang tertarik di bidang sejarah, pasti betah berada di sini.
Saat mengamat-amati ruangan di museum ini, tiba-tiba pandanganku tertuju pada rombongan turis bule, yang ditemani oleh seorang guide. Si bapak guide bertampang tidak meyakinkan, berbadan kecil dan berwajah pribumi asli, alias ndeso. Tapi begitu dia ngomong bahasa Inggris, ckck.. fasih sekali. Dan para bule itupun dengan manut mendengarkan celotehannya. Ah, jadi penasaran apasih yang dibicarakan. Akhirnya aku mengikuti rombongan itu, sambil menguping pembicaraan mereka. 


Sampailah rombongan bule itu di bagian bawah museum ini. Ternyata itu sebuah penjara. Di sana ada 5 unit penjara. Tapi menurutku sungguh tidak layak disebut penjara. Ruangan itu hanya seperti gorong-gorong selokan, berdinding beton dan berjeruji besi, dengan tinggi sekitar 1,5 meter, dan lebar 3 meter. Dan makin ke dalam, tinggi ruangannya makin berkurang. Sempit sekali, baik dari segi lebar, panjang maupun tingginya. Di dalamnya aku melihat ada bola-bola besi sebesar bola voli, pasti bola-bola besi itu dulunya dikaitkan ke rantai yang mengikat para tawanan. Menurut keterangan bapak guide, 1 penjara itu ditempati tidak kurang dari 20 orang tawanan, bahkan bisa sampai 80 orang tawanan. Ih sadis sekali! Bayangkan, puluhan manusia dijejalkan di ruangan pengap seperti itu, hanya untuk menunggu hukuman mati.


Herannya bule-bule itu kok mau ya masuk ke dalam penjara itu, walau mereka harus bersusah payah membungkukkan badan. Sedangkan aku malah merinding disko begini, boro-boro mau masuk ke dalam, dari luar saja aku merasa seperti mencium bau darah, bau penderitaan. Tak tahan rasanya membayangkan nasib para tawanan itu. 


Akhirnya aku memisahkan diri menuju halaman belakang bangunan ini. Sambil memandangi meriam yang sedang dikerubuti orang-orang narsis, pikiranku masih melayang ke penjara dan bule-bule yang masih ada disana. Aku heran kok warga negara asing bisa tertarik dengan sejarah bangsa lain. Kalau aku bukannya tidak tertarik dengan sejarah negeri sendiri, tapi aku merasa miris dengan fakta-fakta yang ada. Menghadapi kenyataan bahwa bangsaku pernah diperlakukan lebih rendah dari binatang oleh para penjajah, sungguh membuat batinku pedih. 


Nah, bule-bule itu sudah keluar, dan langsung mengerumuni sebuah patung. Patung itu adalah patung Dewa Hermes, sebuah patung telanjang laki-laki yang mempunyai sayap di kaki dan kepalanya, tangannya memegang tongkat bersayap yang dililit 2 ekor ular, mirip lambang apotek. Si bapak guide menjelaskan asal usul patung itu, tapi aku tak begitu mengerti. Maklumlah, kemampuan bahasa Inggrisku tidak memadai untuk mencerna penjelasannya :D.


Museum Wayang


Kami sempat mampir sejenak di Museum Wayang. Bangunannya sepertinya lebih baru dibanding gedung-gedung yang lain. Sesuai namanya, Museum Wayang ini menyimpan semua koleksi wayang dari seluruh wilayah nusantara, bahkan ada pula wayang-wayang dari berbagai negara di dunia. Semua jenis wayang ada di sini, dipajang, dan dilengkapi dengan paparan informasi tentang masing-masing jenis dan tokoh wayang. Tapi sayang wayang-wayang ini tidak boleh difoto menggunakan lampu flash, katanya sinarnya dapat merusak wayang yang umurnya sudah sangat tua dan rentan. Jadi harap maklum, aku tidak mempunyai satupun foto di tempat ini. Kalau dipaksakan memotret tanpa lampu flash hasilnya pasti gelap, karena penerangan di sini terbatas.

Pelabuhan Sunda Kelapa


 Tak lengkap rasanya kalau kita tidak mampir ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari alun-alun Kota Tua kami naik ojek sebentar ke pelabuhan itu. Tepat tengah hari kami sampai di sana, saat matahari sedang terik-teriknya. Wuiih.. panas sekali dan berdebu. Tapi pemandangannya keren sekali. Kapal-kapal besar menjulang, tampak berpadu serasi dengan birunya air laut dan langit yang berawan putih. Pantas sekali banyak fotografer profesional yang mengabadikan gambar di sini. 

Pelabuhan Sunda Kelapa ini merupakan pelabuhan untuk bongkar muat barang. Tampak beberapa pekerja yang berbadan kekar dan berkulit legam sedang sibuk naik turun kapal sambil memanggul barang. Banyak pula truk-truk pengangkut barang yang lalu lalang. Cukup ramai juga pelabuhan ini. Tapi aku tak tahan berlama-lama, takut gosong.. hehe..


Jembatan Kota Intan


Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kami mampir dulu ke Jembatan Kota Intan. Jembatan unik ini cocok sekali buat foto-foto. Yuk mari pose dulu.. ;)

Tuesday, October 11, 2011

Pesona Kota Tua Jakarta (1)

Kalau bicara tentang Jakarta, pasti yang terlintas dibenak kita adalah kemacetan, panas dan polusi. Bahkan aku pernah menemui beberapa orang turis asing yang mengatakan bahwa Jakarta itu kota yang tidak nyaman, terlalu padat penduduk dan kemacetannya parah. Waduh kemacetan Jakarta ternyata terkenal sampai ke manca negara. Sayang sekali ya.. padahal Jakarta memiliki banyak tempat menarik yang patut dikunjungi oleh wisatawan, baik manca negara maupun domestik. Salah satunya adalah Kota Tua. Bagi para pencinta fotografi, Kota Tua bukanlah tempat yang asing lagi. Tempat dengan nuansa Kota Jakarta tempo dulu ini, memiliki banyak spot-spot menarik untuk diabadikan. Jadi jangan heran kalau di tempat ini banyak kita temui para fotografer profesional yang sedang hunting foto atau melakukan sesi pemotretan, seperti foto pre wedding. Selain fotografer profesional, banyak juga fotografer amatiran yang hanya bermodalkan kamera saku dan hp, sekedar untuk memuaskan hasrat narsis dalam diri. Berhubung aku ini penganut paham narsisme, maka pastilah tempat ini takkan kulewatkan..hehe.. Berdua saja dengan suamiku, akhirnya kami memutuskan untuk menjelajah Kota Tua ini. Yuk ikuti perjalananku menyibak misteri Kota Tua! 

Museum Bank Mandiri

 
Ruang remang-remang
Tempat yang pertama kali kukunjungi adalah Museum Bank Mandiri. Saat masuk ke museum ini, aku disambut oleh pemandangan suasana bank tempo dulu, dengan ruangan luas dan langit-langit tinggi. Ruangan ini disokong oleh banyak pilar, yang semakin menambah kesan kokoh pada bangunan tersebut. Di bagian depan terdapat meja yang terbuat dari batu granit, meja ini memanjang di sepanjang ruangan, semacam meja teller yang membatasi antara nasabah bank dengan pegawai bank. Di langit-langitnya tergantung lampu-lampu gantung bulat yang memancarkan cahaya warna orange, yang memberikan kesan temaram dan eksotis. Sungguh sebuah seni arsitektur yang indah.
Tapi entah kenapa setiap berada di ruangan yang luas dan berlangit-langit tinggi seperti ini, aku merasa menjadi sosok yang kecil, dan ruangan ini seolah mengintimidasiku. Apalagi cahayanya remang-remang begini. Sepertinya patung-patung di museum ini mengawasiku. Kalau berada di tempat ini sendirian pasti serem juga. Duh.. kok jadi cerita horor begini -__-.



Noni Belanda berwajah asia
Ngecek simpenan
Selain menyimpan dokumen surat-surat berharga dan peralatan perbankan, museum ini memang memiliki banyak patung. Patung-patung ini sengaja dibuat untuk memvisualisasikan transaksi perbankan tempo dulu. Beberapa tokoh seperti petugas sekuriti, petugas bank, dan nasabah bank, ada patungnya di sini. Dan mereka ini sangat kooperatif untuk diajak berfoto.. hihi..










kerja yang bagus ya pak...
 
 Jalanan dan alun-alun Kota tua
 
sepeda di mana-mana...
Wuiih.. panas sekali! Makanya kalau mau jalan-jalan ke sini jangan lupa pakai sunblock dan bawa payung, kecuali kalau kamu memang ingin membuat kulit lebih eksotis, alias gosong *ngomong sama diri sendiri*. Tapi panasnya matahari tak menyurutkan langkahku untuk terus menjelajah.
Berjalan kaki di antara bangunan tua nan megah, seolah membawaku ke nuansa yang berbeda. Aku bisa merasakan kemegahan Kota Jakarta tempo dulu, dengan segala pesonanya. Tentu saja bangunan-
bangunan tua tersebut kini sudah berubah fungsi, beberapa masih dikelola sebagai tempat usaha, seperti toko, rumah makan bahkan studio foto. Namun banyak juga yang sudah tidak berpenghuni. Di pinggir bangunan tersebut banyak penjual makanan, tak ubahnya penjual makanan di Blok M, seperti penjual minuman, buah potong, batagor dan cireng. Pedagang-pedagang tersebut menurutku sedikit mengurangi pesona bangunan itu. Tapi kalau tak ada pedagang-pedagang itu pasti mulutku jadi kering sekali, tak bisa ngemil.. hehe. Masa’ mau ngemil harus ke restoran, boros bo’:D.
motor pinjeman

Kami sempat mencoba studio foto terbuka di jalanan itu. Murah kok, Rp 10.000 saja per foto disertai dengan CD. Enaknya foto di situ, sang fotografernya tidak pelit memotret, dia memotret kita dengan banyak pose, dan kita bisa memilih foto mana yang kita sukai. Dan di situ disediakan banyak properti yang menguatkan kesan tempo dulu, seperti mobil, motor dan sepeda jadul. Pas sekali dipadukan dengan background bangunan tua. Menarik bukan?

nongkrong dulu
numpang lewat
Panasnya Kota Tua ternyata cukup menguras energiku. Sementara suami asyik hunting foto, aku istirahat dulu ah, nongkrong di alun-alun Kota Tua sambil makan cireng.. priceless.. :D. Alun-alun ini dikelilingi gedung-gedung keren, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni Rupa, dll. Di pinggirnya banyak penyewaan sepeda yang laris manis. Pengunjung Kota Tua ternyata banyak juga, bahkan banyak pula wisatawan manca negara. Sekedar duduk sambil mengamati tingkah polah para pengunjung, sudah cukup menghiburku. Apalagi disuguhi pose-pose narsis orang-orang yang heboh berfoto ria. Pokoknya tempat itu adalah tempat parade orang narsis.. hehe.

Bersambung.... *_^





Monday, October 03, 2011

Kenapa Nge-blog?

“Kamu bikin blog?”
“Wah aku nggak tau kamu punya blog”
“Bikin blog? Kaya’ kurang kerjaan aja”
“Hahaha.. narsis”
“Hari gini masih jaman ya ngeblog?”


Itulah komentar teman-temanku waktu aku mengabarkan blog baruku. Dari nadanya sepertinya mereka meragukan kemampuanku.. hihihi.. Aku maklum kok, aku tidak bertampang bisa menulis. Apalagi untuk urusan perinternetan dan design grafis.. wiih gaptek! Aku sendiri juga ragu dengan kemampuanku, apalagi orang lain. Lalu kenapa aku tiba-tiba tertarik membuat blog? Berikut ini alasannya:

1.    For my self healing
Semua bermula dari kegalauanku, rasanya jiwa dan pikiranku ini dipenuhi hal-hal yang membuat aura positifku meredup. Kecewa, sakit hati, sedih dan putus asa. Ingin rasanya melupakan semua itu. Dan dengan mengingat hal-hal yang menyenangkan adalah salah satu cara mengobatinya. Maka mulailah ku tulis hal-hal yang membuatku senang. Saat menuangkannya dalam tulisan, otomatis pikiranku focus di tulisan tersebut, dan otomatis pula hal-hal yang membuatku galau terlupakan. Dan saat aku membaca kembali tulisanku, aku menyadari.. “Hey, ternyata aku mengalami banyak masa-masa menyenangkan.. Jadi kenapa mesti galau saat Allah memberiku sedikit kesusahan..?”

2.    To arrange my mind
Aku ingin tulisanku, pemikiranku, pengalamanku, tertata dan tersimpan rapi, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari file-nya saat aku ingin membacanya. Nah jawabannya ada di blog. Aku menjadikan blogku ini semacam diary. Berhubung sekarang zamannya internet, maka diary juga lewat internet dong, masa’ pakai buku agenda yang ada gemboknya.. hihihi..

3.    To build self confident
Awalnya aku hanya memberitahukan blog ku ini ke orang-orang terdekatku saja. Maklum masih tidak percaya diri, malu karena blogku masih acak-acakan. Tapi saat mereka mengapresiasi blogku ini, perlahan rasa percaya diriku mulai muncul. Wah ternyata aku bisa! Semua komentar mereka, baik yang memuji maupun mengkritik, makin meningkatkan percaya diriku dan semangatku untuk terus berkarya.. cie.. :D. Makasih temans..

4.    To share with others
Bahagia rasanya kalau ada teman yang menyukai blogku. Apalagi bisa membuat mereka terhibur, rasanya aku ikut terhibur pula. Maka aku berusaha untuk menuliskan hal-hal yang baik di blogku ini. Walaupun kadang ada versi curhat juga, tapi bukan untuk diratapi, cuma buat sharing saja. Aku tahu banyak teman-temanku yang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Dengan kutuliskan sedikit pengalaman burukku, aku berharap mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri :).

So buat teman yang masih ragu ingin memulai ngeblog karena tidak berbakat menulis atau gaptek seperti aku ini, ayolah mulai saja.. “learning by doing” itu lebih efektif teman.. Kamu bisa! Kalau aku memang lemot di bidang beginian, jadi maklum saja ya kalau blogku tampilannya begini-begini saja :).