Tuesday, February 26, 2013

Jenang Gulo.. Jangan Lupakan Aku

Kisah cinta memang tak terlupakan. Ada saja yang membuat kita terkenang. Seperti saat ini, tiba-tiba saja sayup-sayup terdengar lagu masa-masa pdkt dengan kekasihku dulu. Lagu itu yang membuatnya klepek-klepek saat mendengar aku menyanyikannya. Pasti banyak yang menyangka aku menyanyikan lagu cinta romantis dari penyanyi internasional, macam Adele, Katy Perry, atau Lady Antebellum. Atau lagu-lagu romantisnya Kahitna dan Geisha. Padahal bukan. Yang aku nyanyikan bukan sebuah lagu biasa, dan tak banyak yang tahu. Aku menyanyikan sebuah lagu campur sari berjudul "Jenang Gulo".

Dia terpana mendengar suaraku mengalun syahdu. Antara heran dan kagum. Heran, karena aku yang bertampang oriental ini, bisa menyanyikan lagu campur sari sefasih itu. Mungkin itu yang ada di pikirannya. Dan aku puas karena strategiku berhasil. Dari awal aku sudah tahu bahwa laki-laki incaranku ini orangnya njawani banget. Jadi aku mengambil hatinya dengan menampilkan sisi jawaku, lewat lagu. Ehemm..
Ada yang penasaran seperti apa lagunya? Ini aku tuliskan liriknya

Jenang gulo,
kowe ojo lali marang aku iki yo kangmas
Nalikane nandang susah sopo sing ngancani,
Dhek semono aku tetep setyo serta tetep tresno yo kangmas.
Durung nate gawe gelo lan gawe kuciwo
Ning saiki bareng mukti kowe kok njur malah lali marang  aku
Sithik-sithik mesti nesu terus ngajak padu
Jo ngono… ojo ngono…
Opo kowe pancen ra kelingan jamane dek biyan yo kangmas
Kowe janji bungah susah padha dilakoni


Lagu ini berirama lembut dan syahdu membuat orang terlena. Tapi daya tarik lagu ini tak hanya itu. Liriknyapun sarat makna. Bukan sekedar tema cinta biasa. Lagu ini mengajarkan kesetiaan, dan mengingatkan kita untuk tidak terlena pada kemakmuran hingga melupakan orang yang selama ini mendampingi kita dalam suka dan duka.
Dan ini terjemahan liriknya secara lengkap

Jenang gulo (gulali : lali, artinya lupa)..
Kamu jangan lupa pada diriku ini
Ketika hidup susah siapa yang menemani?
Dulu aku selalu setia dan cinta
Belum pernah membuat kecewa
Tapi sekarang setelah hidup makmur kamu jadi lupa padaku
Sedikit sedikit kamu marah, terus ngajak berantem
Jangan begitu.. Jangan begitu..
Apa kamu tidak ingat jaman dahulu kangmas
Kamu janji bahagia dan susah sama-sama kita jalani..


Bagus kan liriknya? Dan terbukti lagu dengan bahasa daerah jawa ini mampu menaklukan hati sang gebetan. Nggak kalah dong sama lagu-lagu luar negeri. Jadi siapa nih yang mau ngikuti jejakku, nggebet cowok pakai lagu daerah.. Hihihi
Eh iya cowok gebetanku itu sekarang jadi suamiku loh. Dan kini aku makin suka dengan lagu-lagu berbahasa Jawa, alias lagu-lagu campur sari ;)

 ****

"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway


Monday, February 25, 2013

Bingkisan Itu..

Hari Senin, seperti biasa berangkat ke kantor dengan mata mengantuk, dan tak semangat, seakan tak rela hari libur telah berakhir. Dengan langkah gontai aku menuju ke meja kerjaku. Sesaat sebelum sampai di mejaku, mata ngantuk ini menangkap sesuatu yang tidak biasa di sana. Sebuah bingkisan nangkring manis di mejaku yang berantakan. Yeay.. Sebuah paket! Mata ngantukku langsung berbinar saat kulihat nama pengirimnya, Ladaka Handicraft. Alhamdulillah hadiahnya sudah sampai. Ini adalah hadiah Giveaway yang diadakan oleh Ladaka Handicraft. Tentu ini sangat istimewa bagiku. Karena selama setahun lebih malang melintang di dunia perbloggeran, dan beberapa kali ikut kontes, baru kali ini aku berhasil menjadi pemenang *terharu*.

Dengan tak sabar aku buka bingkisan itu. Dan.. Taraaa... Hadiahnya bagus banget. Sebuah tempat pulpen warna ungu yang unyu banget. Pas banget dengan yang kumau. Saat ikut kontes ini, aku sudah mendambakan tempat pulpen itu. Secara aku memang tak punya tempat pulpen. Adanya tempat pulpen ala kadarnya dari bekas wadah permen *malu*. Itupun berantakan sekali, karena kepenuhan muatan. Jadi hadiah dari Ladaka Handicraft ini memang pas dengan kebutuhanku. Lihat nih penampakan pulpen-pulpenku sebelum dan sesudah memakai tempat pulpen dari Ladaka Handicraft.


Sangat elegan ya tempat pulpennya. Berasa kaya’ meja pejabat saja.. Hihihi. Tapi sepertinya sayang kalau tempat pulpen sekeren itu nangkring di mejaku yang berantakan. Ya sudahlah, mau nggak mau aku harus beresi mejaku. Beberapa temanku yang melihat pemandangan aneh di mejaku langsung komentar.
"Wah bagus banget tempat pulpennya.. Dapat darimana?"
"Wuiih keren nih cuy.. Dikasih siapa?"
Dan tak ada satupun yang nanya "Beli di mana?", Penasaran, akhirnya aku balik nanya ke mereka "Kok kalian nggak ada yang nanya beli di mana?". Jawaban mereka "Ya iyalah pasti nggak beli sendiri. Lo mana mampu beli barang sekeren itu". Haduuuh.. mereka ini minta ditimpuk rupanya :P.

Tapi memang benar sih. Kalau bukan karena menang giveaway, aku mana kepikiran beli tempat pulpen sebagus itu.. Hehehe.. Makasih Ladaka Handicraft yang sudah memenangkan tulisanku yang berjudul Boneka yang Kurajut Dengan Cinta. Dan semoga aku berhasil memenangkan kontes-kontes yang lainnya. :D

Saturday, February 16, 2013

Bogor Rasa Bali

walaupun gerimis tetap narsis
Selamat pagi teman-teman.. Adakah yang belum pernah ke Bali? Hmm..lumayan banyak juga ya. Yah maklumlah, walaupun Bali itu most wantednya tempat wisata, namun untuk kesana perlu modal dan effort lebih, terutama bagi yang tempat tinggalnya jauh dari Bali.  Tapi jangan berkecil hati karena kali ini aku akan mengajak teman-teman untuk merasakan nuansa bali, tanpa harus pergi jauh-jauh, dan tentu saja minim budget. Nah, yang pengen mencicipi rasa Bali, atau yang sedang kangen sama Bali, yuk ikuti tripku kali ini. Trip ke Bogor.

Loh kok ke Bogor sih? Apa miripnya sama Bali? Jangan membayangkan Bogor itu hanya daerah puncak atau kebun raya saja. Karena di Bogor ada sebuah tempat wisata yang sangat mirip dengan di Bali, yaitu sebuah pura. Pura yang diberi judul Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ini merupakan pura terbesar di Jawa Barat dan bahkan yang terbesar di luar pulau Bali. Bahkan pura ini disebut-sebut sebagai pura terbesar kedua setelah Pura Besakih. Dan menurut keterangan beberapa orang temanku yang pernah kesana, pura ini tak hanya megah, namun pemandangannya juga sangat indah.

Demi menjawab rasa penasaranku maka aku melakukan one day trip ke Bogor bersama keluarga dan teman-temanku. Untuk mengunjungi pura ini dari Jakarta, transportasinya cukup mudah dan murah. Dan tentunya tidak perlu bermacet-macet ria seperti di daerah puncak, karena kami menggunakan transportasi kereta commuter line. Dengan tiket seharga Rp 9000 per orang, dan waktu tempuh 30 menit saja, kami sudah sampai di pusat kota Bogor. Praktis sekali bukan? Dari pusat kota Bogor kami ber-12 melanjutkan perjalanan ke pura yang ada di kaki Gunung Salak tersebut dengan mencarter angkutan umum. Dan ongkos per orangnya Rp 6.000 saja.

Seperti daerah pegunungan lainnya, jalan menuju kesana menanjak dan berkelok-kelok. Namun pemandangannya memang menawan. Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di Pura Parahyangan Agung Jakatkarta. Di depan pura kami disambut oleh bli penjaga pura yang menggunakan baju sembahyang warna putih dan udeng putih. Dia menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi. Wah, serasa ada di bali nih, ketemu bli-bli yang pakai udeng. Tapi sayang, kenapa mereka nggak ramah ya? Apakah memang begitu atau itu hanya perasaanku saja? Aku merasa bli yang disini perangainya berbeda dengan bli-bli di Bali sana yang ramah dan santun. Ah sudahlah, hatiku memang tak bisa berpaling dari bli yang di Tanah Lot itu :P.


Gerimis mulai turun saat kami memasuki area pura. Wah, sayang sekali, kami terpaksa harus menunggu hujan reda untuk bernarsis ria. Untungnya hujan tak berlangsung lama, dan cuaca berubah menjadi cerah. Pemandangan di sini memang sangat indah. Sebuah pura yang megah berlatar belakang pegunungan, dilengkapi dengan pelataran yang tumbuhi rumput hijau yang menghampar bagaikan sebuah permadani. Suasana yang sejuk dan asri membuat betah berlama-lama di sini. Dan dari ketinggian ini, pemandangan kota Bogor tampak menghampar indah, berpadu dengan langit biru dan awan yang cerah. Wow.. Keren..

Pemandangan Kota Bogor
Tempat ini memang cocok untuk refreshing. Tak heran banyak yang datang berkunjung, bukan dari kalangan umat Hindu saja. Bahkan beberapa turis manca negarapun tampak menikmati keindahan pura ini. Namun layaknya sebuah tempat ibadah, tentu kita tetap harus menghormati peraturan di pura ini. Salah satunya, bagi wanita yang sedang haid, dilarang memasuki area pura. Dan salah satu temanku ternyata saat itu sedang haid. Yaah, sayang, sudah jauh-jauh ke sini tapi hanya bisa pasrah menunggu kami di bawah.

pengunjung pura

Hanya sekitar 1 jam-an kami berada di sana. Rencana selanjutnya adalah ke Curug Cinangka. Tapi sayang, dalam perjalanan kami salah arah. Bukannya mendekati curug, tapi malah menjauhi curug. Yaah batal deh. Ya sudahlah, mungkin belum berjodoh. Semoga lain waktu bisa kesana lagi.\

jalan pulang


Friday, February 08, 2013

[Narsisis-Artistik] Menatap Senja

Model: Cova
Fotografer: Andhie
Lokasi: Pantai Anyer


Selamat pagi teman.. Selamat hari jum'at..
Walaupun masih pagi boleh dong kita bicara dan menatap senja sesaat lewat postinganku ini. Senja, dimanapun itu, memang selalu membawa suasana romantis. Suasana temaram sebelum gelap menjelang, berpadu dengan eksotisnya semburat warna orange dari sinar matahari terbenam. Tak heran banyak yang berlomba-lomba mengabadikan momen indah tersebut. Termasuk diriku. Seperti foto di atas yang diambil saat liburan di Pantai Anyer. Keren bukan? :D

Nah, karena aku merasa foto ini lumayan berkelas (awas kalau ada yang nggak setuju :P), maka aku ikutkan dalam GA-nya Jeng Una manis yang judulnya Narsisis-Artistik Giveaway. Udah tahu dong ya apa yang dimaksud narsisis-artistik? Maksudnya itu bernarsis ria tapi tetap bernilai seni. Bukan sekedar narsis dengan monyong-monyongin bibir loh #eh.

Jadi jelas kan kalau fotoku di atas itu masuk kriteria narsisis-artistik (pokoknya anggap saja begitu). Walaupun foto ini sangat beda dengan pose-pose narsisku yang lain yang biasanya menampilan senyum manis dan mata menggoda, tapi tetap aku anggap foto ini narsis. Nah untuk kriteria artistik, jelas dong ya.. kurang artistik apa lagi coba? Momen sunset dengan pose siluet yang ciamik. Emang sih bentuk siluetnya kurang aduhai, nggak seperti siluet gadis-gadisnya James Bond. Itu sih dari faktor body modelnya.. Hehe.. Tapi pokoknya "I love myself  no matter what!" Hidup narsis!

Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway

Wednesday, February 06, 2013

Boneka yang Kurajut dengan Cinta


Aku sudah mengenal dunia rajut merajut sejak kelas 1 SMP. Saat itu kurikulum ketrampilan di sekolahku salah satunya adalah merajut. Kalau kata guruku dulu, aku cukup berbakat di bidang ini. Terbukti hasil rajutanku laku keras di bazar yang diadakan pihak sekolah. Kala itu aku membuat taplak berbagai jenis dan ukuran. Senang rasanya hasil karya kita digemari banyak orang. Terlebih untuk ukuran seorang anak SMP, merajut bukanlah pekerjaan yang mudah. Tentu saja aku bangga, punya ketrampilan yang tidak semua orang bisa.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin disibukkan oleh banyak kegiatan, sehingga merajut mulai kulupakan. Namun belasan tahun kemudian secara tak sengaja, aku mulai merajut lagi. Saat aku lihat benang rajut yang dipajang di etalase gramedia, tiba-tiba aku ingat, "oh iya, aku pernah bisa merajut. Gimana kalau aku coba lagi". Penasaran apakah talentku masih ada atau sudah hilang, akhirnya aku beli satu gulung benang rajut dan hakken. Dan mulailah dengan pemanasan melemaskan jari-jariku. Aku merajut lagi.

Ada keasyikan tersendiri saat merajut. Sungguh aku merasa terhibur. Bagiku merajut itu sebuah proses yang ajaib. Bagaimana tidak, dari sehelai benang, bisa menjadi berbagai bentuk dan produk yang indah. Dan yang diperlukan hanyalah ketelaten.

Satu per satu aku mulai membuat tempat hp, dompet, tas, dan boneka rajut. Dan yang terakhir inilah yang menjadi spesialisku saat ini. Kenapa aku memilih boneka rajut? Itu karena kecintaanku pada dunia anak. Anak-anakku yang awalnya memintaku membuat boneka. Padahal aku belum pernah membuat sama sekali. Jadi secara otodidak aku mencoba membuatnya. Dan alhamdulillah anak-anak sangat menyukai hasilnya. Sejak saat itu aku mulai membuat boneka dengan berbagai karakter, dan aku design sendiri polanya. Tidak mudah memang, karena itu membutuhkan daya imaginasi yang tinggi. Tapi semua itu membuatku senang saat melihat hasilnya yang memuaskan.


Ternyata boneka rajutku tak hanya disukai anak-anakku. Banyak temanku tertarik dengan hasil karyaku ini. Beberapa temanku mulai banyak yang pesan. Ada pula yang meminta karakter yang beda. Dan berkat ide mereka karakter boneka yang aku buat terus berkembang. Banyak pula yang meminta dibuatkan boneka dengan karakter tokoh kartun favorit mereka.

Kini penggemar boneka rajutku bukan hanya dari kalangan anak-anak saja. Tapi juga remaja dan orang dewasa, laki-laki maupun wanita. Bisa dibilang boneka rajutku ini boneka untuk segala usia dan gender. Bahagia rasanya melihat binar mata para pelanggan saat melihat boneka pesanan mereka sudah jadi. "Waah lucunya..", "waah manis banget..", "wow baguuus..", "Mau pesan lagi dong..", begitu komentar mereka.


Tapi walaupun banyak yang menggemari, aku belum berani mempromosikan lebih jauh. Paling cuma upload foto di facebook saja. Kenapa? Karena semuanya aku kerjakan seorang diri. Dan untuk mengerjakannya waktunya sempit, sebab aku ini pekerja kantoran yang waktu kerjanya cukup ketat. Biasanya aku mengerjakan saat istirahat di kantor atau saat sudah pulang kantor, dan saat weekend saja. Aku takut kalau kebanyakan yang pesan aku kewalahan, dan hasilnya tidak memuaskan. Bukan sombong atau nolak rejeki, tapi karena aku cukup tahu diri dengan kondisiku, tak ingin mengecewakan penggemar.. Hehe..

Sebenarnya aku ingin lebih serius di bidang ini. Semoga suatu saat bisa. Dan semua harus dipersiapkan dengan baik dan matang, terutama untuk tenaga perajutnya. Untuk membuat usaha ini lebih berkembang rasanya tak mungkin kalau semua aku kerjakan sendiri, Nah untuk saat ini sementara aku memajang karyaku di facebook. Boneka rajutku ini aku beri label "Cova Amigurumi". Cova adalah namaku, dan amigurumi artinya seni merajut boneka. Foto-foto di atas adalah beberapa contoh boneka rajutku. Kalau ingin melihat secara lengkap bisa kunjungi pagenya di www.facebook.com/CovaAmigurumi. Monggo silahkan dilihat-lihat dan di-like. Eh, malah promosi.. Hihihi.. Kalau mau pesan juga boleh, tapi harus sabar ya… ^^




*Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3 Tahun Ladaka Handicraft*




*dan dalam rangka memeriahkan gerakan #7HariMenulis*

Tuesday, February 05, 2013

[BeraniCerita#1] Enam Tiga Puluh


Kulirik jam tanganku, 6.30 pagi. Seperti biasa aku menunggunya di persimpangan jalan ini.  Menunggunya untuk berangkat sekolah bersama. Inilah saat yang selalu aku rindukan. Saat aku bisa melihat wajah cerianya dan kerlingan mata jenakanya, ketika dia berceloteh riang. Setiap hari ada saja yang dia ceritakan. Semua terasa indah didengar. Walaupun aku hanya meresponnya dengan senyuman, anggukan, atau kata "Ouu.." saja, tapi dia tak merasa keberatan. Dia memang sangat mengerti aku, seorang cowok dingin dan pendiam, begitu kata teman-temanku. Sedangkan dia seorang gadis periang yang tak bisa diam. Aku ibaratkan kami ini seperti Rangga dan Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta. Kami berbeda, tapi satu dalam cinta.

Tap.. tap.. Suara langkah kakinya mendekat. Dia selalu datang dengan setengah berlari. Rambut panjangnya yang diikat bandana berkibar menutupi sebagian wajah manisnya. Setelah ini dia pasti menyapaku riang "Hai.. Udah lama nunggu ya? Sori ya kelamaan". Dan selalu kubalas dengan anggukan saja. Tapi, kali ini dugaanku meleset. Dia tak menyapaku. Dia hanya diam dengan ekspresi datar, dan melanjutkan langkah kakinya tanpa melirikku sedikitpun. Aku segera menyusul di sampingnya. Seribu tanda tanya berkecamuk di otakku. Apakah dia ada masalah? Apakah dia marah? Apa dia sakit?

Kucoba tetap tenang. Tidak lama lagi dia pasti menceritakan keluh kesahnya seperti biasanya.  Sepuluh menit telah berlalu dari 6.30, dan dia tetap diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Belum pernah aku sejengah ini berasa di sisinya. Aku tak bisa diam saja, aku tak tahan lagi. Akhirnya kuberanikan diri bertanya "Rin, ada apa?” Dia hanya menggeleng, tanpa menghentikan langkahnya.

Semakin jelas dia ada masalah. Belum pernah sekalipun dia mengabaikanku seperti ini. Dorongan rasa penasaran membuatku bicara lebih banyak “Kenapa kamu diam saja? Ada masalah apa?". Secara tak terduga dia menghentikan langkahnya, tepat di depan gerbang sekolah. Dengan mata berkilat dia menatapku tajam, dan berkata "Kamu benar-benar ingin aku bicara? Untuk apa? Untuk apa aku bicara, untuk apa aku banyak cerita kalau kamu tak pernah menanggapi. Bahkan aku tak pernah tahu selama ini kamu benar-benar mendengarku atau tidak . Aku bosan jadi radiomu!"

Kata-katanya deras mengguyurku hingga beku. Dan aku hanya bisa terpaku, memandangnya berlalu.

***
*Mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, adalah salah satu cara mencintai. Tapi terkadang mendengar saja tidak cukup*

 ***
"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."

Monday, February 04, 2013

Damn! I love Indonesia

Dia berdiri di sana pagi itu, seorang diri. Rambut panjangnya yang pirang kecoklatan, dan kulit putih kemerahannya sangat jelas menandakan dia bukan pribumi. Tanktop orange dengan kardigan warna hitam, dipadu celana kargo dan sepatu kets, kostum yang dipakainya hari itu. Dalam hati aku berpikir, mungkinkah si bule ini salah satu anggota rombongan trip kami? Tapi aku jadi ragu saat melihat tas yang dikenakannya. Bukan backpack yang biasa dipakai para traveler, tapi tas kerja kantoran, mirip punya ibuku.

Menjelang keberangkatan tanda tanyaku terjawab. Ya, dia ikut rombongan trip kami. "Halo selamat pagi. I'm Tara" begitu dia memperkenalkan diri. Unik juga pengalamanku traveling bareng bule begini. Tak disangka, ternyata bule asal New York ini tak kalah ndeso dan norak dari kita loh. Saking noraknya aku sampai merasa seperti jalan-jalan bareng anak umur 3 tahun. Bayangkan saja, dia begitu heboh melihat perkebunan teh. "Wow cool! Kereeeen!" kata dia dengan mata yang berbinar-binar. Setiap inchi jalan difotonya. Berkali-kali dia mesti pindah tempat duduk demi mendapatkan jepretan yang oke. Bahkan dia 'memaksa' turun di perkebunan teh demi bisa foto-foto. Kami yang sudah sangat terbiasa dengan kebun teh, terpaksa harus mengikuti dia. Ikut foto-foto juga, dan ikutan norak pastinya. Ternyata dia memang terobsesi dengan teh. Dan keinginannya adalah pengen minum teh tawar! Ya ampun, cuma gara-gara teh aja loh, seheboh itu.

Siapa yang tak kenal gemblong dan tahu sumedang? Yang biasa kena macet di daerah puncak pasti tahu. Siapa sangka makanan sederhana seperti ini ternyata bikin lidah teman manca negaraku ini ngiler setengah mati. "Hmm, so good, I like it! What is it?" kata dia. Kata-kata yang sama juga keluar dari bibirnya saat menyantap nasi padang bungkus. Satu porsi nasi padang yang isinya banyak sekali itu langsung tandas tak bersisa.

Beberapa waktu lalu, dia juga sempat mengunggah sebuah video di facebooknya. Video itu menampilkan perjalanannya dengan angkot di daerah Bogor. Tampak di video itu seorang pengamen memainkan sebuah lagu dengan ukelelenya. Pengamen, pemandangan yang biasa kita temui, sesuatu yang tak pernah kita anggap sebagai sesuatu, bahkan terkadang membuat kita merasa terganggu. Tapi justru membuat si teman buleku ini sangat terkesan. Video itupun menuai komen kekaguman dari keluarga dan teman-teman senegaranya.

Tara, gadis bule calon dokter ini, membuatku semakin sadar bahwa Indonesia itu memang benar-benar menarik. Alamnya, budayanya, kulinernya, semua sangat menggoda. Banyak warga negara lain mengagumi keindahan dan keunikan negeri kita ini, bahkan untuk hal-hal yang kita anggap sangat biasa. Jadi temans, tak perlu iri dan berkecil hati karena kita belum pernah ke luar negeri. Lihatlah sekeliling kita, lihatlah Indonesia. Keindahannya tiada tara. *Pesan untuk diri sendiri*

Saturday, February 02, 2013

Belitung, Apa Kabarmu?

Kalau ada yang mengira aku akan menulis tentang jalan-jalanku ke Belitung, maaf aku mengecewakan kalian. Ini bukan cerita senang-senang, tapi ini cerita tentang kegagalan. Kegagalanku menjangkau Belitung. Kegagalanku menapakkan kaki di bumi Laskar Pelangi itu. Sejak bertahun-tahun yang lalu keinginanku ingin jalan-jalan kesana sudah membara di hati. Tapi bagaikan sebuah cinta yang tak direstui, berkali-kali aku harus mengalami kegagalan. Mungkin memang aku dan belitung tak berjodoh. Hiks

gambar pinjam dari sini
Kegagalan yang pertama terjadi beberapa tahun yang lalu. Sesaat sebelum aku memesan tiket online. Tiba-tiba temanku yang tinggal di Bali "memaksa"ku berkunjung ke pulau dewata itu. Dengan segala rayuan tingkat dewa, tentu saja membuatku takluk juga. Bagaimana tidak, aku dijanjikan keliling bali, segala akomodasi dan transportasi for free. Tentu saja ini tak bisa kudapatkan jika aku ke belitung, dimana segalanya harus kutanggung secara mandiri. Menimbang semua hal tersebut, maka aku alihkan liburan ke belitung menjadi ke bali. Dan aku sama sekali tak menyesal.

Kegagalan kedua terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Aku sudah menyiapkan dana untuk keliling Belitung. Tapi dana tersebut malah terpakai untuk keperluan mudik lebaran. Yah, mau bagaimana lagi, masa' mau jalan-jalan harus ngutang. Terpaksa harus aku batalkan.

Dan kegagalan yang ketiga adalah kegagalan yang terparah sepanjang masa. Semoga teman-teman tak ada yang mengalaminya. Sekitar 3 bulan yang lalu aku sudah membeli tiket pesawat Batavia Air tujuan Tanjung Pandan, untuk penerbangan bulan Mei 2013 nanti. Biasalah, aku memanfaatkan momen promo, jadi belinya jauh-jauh hari. Tapi siapa sangka 3 hari yang lalu Batavia Air dinyatakan pailit, dan tidak beroperasi lagi. Aku langsung shock mendengar berita itu. Namun, aku tetap berusaha menenangkan diri dan berbaik sangka. Ya sudahlah kalau batal terbang, yang penting tiketnya bisa direfund.

Tapi makin hari aku malah makin galau, karena sampai detik ini masih belum ada kejelasan apakah tiketnya bisa direfund. Didatangi ke kantornya, ternyata sudah tutup. Aku telpon ke kantornya yang di bandara sukarno hatta, tak ada yang mengangkat. Sampai menghubungi kuratornya, tetap tidak ada penjelasan. Katanya dialihlan ke maskapai lain, tapi kenyataannya harga tiketnya menjadi jauh lebih mahal, sampai lebih dari 2 kali lipat harga tiket dari Batavia Air. Kenapa jadi konsumen yang dirugikan begini? Sungguh tak ada perlindungan bagi kami. Harga tiket Rp 2,5 juta bukan nilai yang sedikit bagiku. Rasanya sungguh menyesakkan dada, jika uang sebanyak itu harus hilang sia-sia.

Gagal sudah rencana ke Belitung, dan uang tiket terancam hangus. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan berdoa, semoga pihak terkait mau bertanggung jawab.

Belitung, apa kabarmu? Kabarku tidak baik-baik saja.


*Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*


Friday, February 01, 2013

Trip Gunung Padang (3): Berburu Curug Cikondang

 Cerita sebelumnya ada di sini

"Kalau hujan gini keknya was-was juga deh klo harus ke curug. Soalnya jalannya licin. Apa nggak jadi aja?" Usul seorang teman tripku. Wah, bisa terancam batal nih rencana ke curug. Kulihat raut kecewa di wajah teman-temanku yang lain. Akhirnya kuusulkan "Udah sampai sini sayang banget kalo nggak sekalian ke curug. Mendingan tetep jalan aja, pelan-pelan. Semoga hujannya cepet reda". Syukurlah banyak yang mendukung. Perjalananpun dilanjutkan.

Namun ternyata yang dikuatirkan temanku memang benar. Jalan menuju curug amatlah susah dilalui oleh mobil elf yang kami tumpangi. Jalanan sempit, licin, menanjak, berkelok-kelok, dan banyak yang berlubang. Aku yang duduk di bangku belakang tak kuasa menahan tubuh hingga terpental-pental. Duh, sakit semua badanku. Yah, mau bagaimana lagi, memang medannya keras begini. Tak hanya itu, beberapa kali kami sempat salah jalan. Maklumlah, banyak persimpangan yang mirip. Temanku yang pernah kesinipun, sempat terkecoh juga.

Tapi untunglah hujan sudah reda, jadi satu kekhawatiran telah teratasi. Dan medan yang sulit memang sepadan dengan keindahan yang disajikan. Di antara jalan yang berkelok-kelok terhampar perkebunan teh yang sangat memanjakan mata. Kamipun menyempatkan diri foto-foto di sana.

gadis manis pemetik teh :P
Semakin dekat dengan curug, kami menemui beberapa lokasi penambangan emas. Wah, tanah Cianjur ini ternyata sangat kaya. Seharusnya masyarakat di sana terjamin kemakmurannya. Tapi kenyataannya kehidupan di sana sangat sederhana. Bahkan toiletpun tak ada yang layak. Aku terpaksa menahan hasrat ingin pipis gara-gara itu.
jejak petualang menuju curug
Menjelang senja kami sampai di curug cikondang. Untuk mencapai lokasinya kami harus berjalan kaki lagi. Nggak papa, sesuatu yang indah memang harus diraih dengan susah payah. Dan benar. Pemandangan yang kami temui sungguh dahsyat. Seumur hidup aku belum pernah melihat air terjun sebesar itu. Deburan airnya membuat merinding. Aku sungguh merasa sangat kecil. Air terjun yang besar dan indah ini terasa mengintimidasiku. Sepertinya musim hujan membuat debit air di curug ini semakin besar.
The Great Curug Cikondang
Aku memilih menikmati curug ini dari jauh. Mau turun main air rasanya ngeri.. Hihi.. Dan sepertinya teman-temanku yang lain berpikiran sama denganku. Akhirnya kegiatan yang kami lakukan di sana tak lain adalah foto-foto! Yah beginilah kalau jalan-jalan bareng para traveler narsis.. Hahaa..
Happy traveling ^^
traveler narsis


*Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*