Monday, March 26, 2012

Mencicipi Nuansa Jepang di Animaku no Hibi 3

numpang narsis
Ohayo gozaimasu minna san…
Selamat datang di Animaku no Hibi 3 @ STAN expo 2012..
Yang belum tahu apa itu Animaku no Hibi, bisa lihat tentang detil acara ini di sini. Dari namanya sudah ketahuan ya kalau acara ini adalah salah satu acara bernuansa jejepangan. Animaku no Hibi 3 adalah sebuah festival kebudayaan Jepang yang merupakan salah satu acara dari rangkaian acara Departemen Seni dan Budaya BEM STAN. Berhubung aku ini penyuka jejepangan, tentu aku tak melewatkan acara ini. Apalagi acara ini diselenggarakan di kampusku, yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalku. Jadi sekalian bernostalgia.. hehe..

Oke, tak perlu berpanjang lebar lagi, mari simak liputanku tentang acara ini ya. Apa saja yang ada di Animaku no Hibi ini? Yuk, kita lihat satu per satu ^_^




Stan pernak pernik Jepang
Begitu masuk ke dalam lokasi acara, kami langsung disambut oleh stan-stan penjual pernak pernik Jepang yang berjejer rapi. Bermacam-macam benda lucu-lucu khas negeri Sakura, digelar di sini. Bagi yang suka pernak pernik Jepang, pasti bakalan mupeng abis di sini. Tentu saja akupun begitu.. hehe...


pernak pernik Jepang
Penjual  makanan khas Jepang
Nah, yang ini tak hanya membuat mupeng, tapi juga membuat ngiler. Berbagai macam makanan dan minuman ala Jepang, lengkap tersaji di sini. Ramen, udon, sushi, takoyaki, dorayaki, okonomiyaki, bento, dll, semua ada. Aroma masakan yang mengambang di udara, makin membuat perut lapar saja. Ditambah dengan aneka minuman yang segar, cocok sekali dengan cuaca yang panas siang itu. Tapi untuk mendapatkan itu semua, perjuangannya tak mudah teman-teman.. Kita harus rela mengantri dalam antrian yang panjang. Dan karena aku paling tak tahan ngantri, maka aku hanya berhasil membeli dorayaki saja. Dorayaki yang membuatku menyesal, karena harganya mahal. Bayangkan, 1 dorayaki yang ukurannya cuma sebesar kue lumpur itu dihargai Rp 7000/biji. Padahal di rumah aku bisa membuat puluhan dorayaki hanya dengan bermodalkan tak lebih dari Rp 10.000 saja. Dan rasanya tak kalah lezat dari dorayaki yang kubeli itu. Mmm.. jadi kepikiran mo jualan dorayaki nih.. hehe..


antrian pencinta kuliner Jepang

dorayaki

Pertunjukan band
Band-band yang tampil di sini adalah band-band yang memiliki jalur music Japanese pop, rock dan jazz. Kebanyakan band-band ini sudah biasa tampil di acara-acara komunitas Jepang. 


gaya atraktif personil band
Rumah Hantu
Di sini ada rumah hantu juga loh. Tentunya hantunya adalah versi Jepang. Yang kangen sama hantu wanita Sadako, bisa ikutan masuk di rumah hantu ini. Aku hanya mengintip dari jauh saja. Tapi aku tak mendengar suara-suara jeritan orang-orang dari dalam, tak seperti di rumah-rumah hantu yang lain. Mungkin hantu-hantu Jepang masih kalah serem dari hantu Indonesia kali ya.. hehe..


banner rumah hantu

Cosplay
Pasti teman-teman tahu cosplay kan? Nah di sini kita bisa lihat muda-mudi berpakaian unik layaknya tokoh animasi. Yuk lihat foto-fotonya.. Seru kan?





Taiko
Ini adalah seni menabuh drum, yang digabungkan dengan tarian. Jadi mereka tak hanya menabuh drum saja, tapi juga melakukan gerakan tarian dengan penuh semangat. Kostumnya seru juga loh. Walaupun menggunakan kostum nuansa Jepang, tapi kainnya menggunakan batik. Unik ya, perpaduan 2 kebudayaan. 



penabuh taiko yang penuh semangat
Berbagai macam lomba
Aneka lomba juga diadakan di sini, antara lain Yugi Oh! Tournament, Cosplay competition, Otaku competition, Lomba makan takoyaki, dan Lomba animasi genero. Ada juga workshop manga loh.

Nah, itulah beberapa acara yang ada di Animaku no Hibi 3. Seru ya, terutama buat para penggemar Jejepangan. Lumayan sebagai pengisi waktu di hari akhir long weekend kemarin. Setelah seharian mengikuti acara Animaku no Hibi, rasa lelah dan lapar melanda. Saatnya dinner dengan menu bernuansa Jepang.. Itadakimasu… ^_^ 



konnyaku freshly

hot ramen


Monday, March 19, 2012

Negeri 5 Menara: Novel vs Film

Sejak film Negeri 5 Menara ini tayang perdana, aku sudah penasaran ingin nonton. Tapi berhubung tak ada partner yang oke buat nonton, akhirnya tertunda-tunda. Inginnya sih nonton bareng suami, tapi suamiku tak berminat. Sepertinya dia berpendapat, film Indonesia kebanyakan tidak bermutu. Aku maklum, karena film-film Indonesia yang beredar saat ini memang kurang sedap ditonton, dibandingkan dengan film-film dari luar. Tapi film Negeri 5 Menara ini tidak seperti film-film Indonesia kebanyakan. Film yang diangkat dari sebuah novel ini, memang sarat makna dan pelajaran hidup. Aku sudah sangat tahu ceritanya, karena aku sudah membaca novelnya. Dan novel Negeri 5 Menara termasuk novel terbaik yang pernah aku baca. Sangat inspiratif, menggugah, dan menyentuh hati. Itulah yang membuatku penasaran dengan filmnya, aku berharap filmnya juga sebagus novelnya.

gambar dari sini
 Akhirnya akhir pekan kemarin, aku berdua dengan Lita, putriku, memutuskan nonton film ini. Kebetulan sebelumnya Lita cerita padaku “Ma, temen-temenku di kelasku udah pada nonton Negeri 5 Menara, katanya bagus loh Ma.. Aku jadi penasaran”. Aha! Akhirnya aku dapat partner nonton juga. Inilah asyiknya punya anak perempuan yang punya hobi sama.. bisa seru-seruan bareng.. hihihi.. Saatnya kita nonton!

******


“Yaaaah…” gumamku menunjukkan kekecewaan. Baru 5 menit film berlangsung, aku sudah kecewa dengan film ini. Adegan awal Alif dan sahabatnya, Randai, cukup membuatku berkerut. Sebenarnya bukan adegannya sih, tapi pemainnya. Aku kecewa dengan pemeran Randai, kenapa tak seganteng bayanganku yah?. Emang sih, di novel tidak disebutkan kalau si Randai tuh ganteng, tapi setidaknya menurut bayanganku, seharusnya Randai lebih ganteng dari Alif. Okelah, jangan kecewa dulu. Lihat saja kelanjutannya.


Ada amak dan ayah. Aku kesemsem dengan akting David Khalik sebagai ayah Alif. Dia tampak begitu kebapakan dan sangat arif. Pas sekali dengan gambaran di novelnya. Apalagi saat adegan percakapan Alif dan ayah, setelah menjual kerbau, demi biaya Alif sekolah. Ada dialog yang membuatku berkesan, kira-kira seperti ini “Hidup itu harus dijalani dulu, baru kita bisa tahu mana yang terbaik bagi kita”. Sayangnya akting menawannya tidak diimbangi dengan akting Lulu Tobing sebagai amak. Menurutku akting Lulu Tobing di sini sangat biasa, ‘feel’nya kurang menggigit.


Memasuki adegan awal kegiatan belajar mengajar di Pondok Madani, aku cukup terpana saat Ustad Salman memasuki kelas. Ya ampun! Ternyata pemeran Ustad Salman tuh Donny Alamsyah. Haduuh.. kalau ustadnya macho plus keren gini, aku rela banget jadi santrinya.. hihihi.. * salah fokus*.  Selain pemeran Ustad Salman, ada lagi yang membuatku salah tingkah sendiri, yaitu pemeran Kak Fahmi, Andhika Pratama. Tak tahu kenapa, rasanya di film ini Andhika Pratama tampak lebih ganteng dari biasanya. Kalau ada santri senior seganteng ini, aku mau banget jadi santri juniornya.. halah.. lagi-lagi salah fokus.. :D.


gambar Ustad Salman dari sini

gambar Kak Fahmi dari sini
 Pemeran Ustad Salman dan Kak Fahmi memang cukup memukau, tapi sayang sekali pemeran Kyai Rais sangat jauh dari ekspektasiku. Aku membayangkan sosok Kyai Rais adalah sosok yang sangat berwibawa dan bersemangat, dengan pidato-pidatonya yang menggugah. Jadi miriplah dengan wibawanya Dumbledore di film Harry Potter. Tapi ternyata di film ini acting Ikang Fawzi sebagai Kyai Rais terkesan dipaksakan. Dan bagiku jauh dari kesan berwibawa dan disegani.

Nah untuk pemeran para Sahibul Menara, menurutku sudah sangat pas, dan sesuai dengan gambaran karakternya di novel. Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Raja dari Medan, Dulmajid dari Madura, dan Alif dari Padang. Terutama karakter Baso, aku suka sekali. Sosok remaja yang bersemangat, cerdas, menginspirasi, dan punya tujuan mulia. Dan sosok Baso ini, diperankan dengan sangat apik oleh Billy Sandy. Siapa dia? Aku juga baru dengar namanya.. hehe.


Dari segi pemainnya memang ada beberapa yang tidak sesuai dengan bayanganku, tapi dari segi alur cerita, aku juga kecewa. Karena tidak semua bagian cerita di novelnya di tampilkan di film ini, jadi kesannya antar adegan seperti lompat-lompat, layaknya cuplikan saja. Tapi aku cukup memaklumi, karena tentunya tidak mungkin menampilkan semua adegan di novel ke dalam film yang hanya berdurasi kurang dari 2 jam itu.  Sayangnya ada beberapa bagian di novel yang menurutku menarik untuk divisualkan, justru malah tak ditampilkan di filmnya.


Namun, terlepas dari itu semua, film ini memang layak untuk ditonton. Apalagi pemandangan yang ditampilkan sangat indah. Membuat kita sadar bahwa alam Indonesia memang mempesona. Juga gambaran persahabatan remaja-remaja dari berbagai daerah di pelosok tanah air yang hidup dalam satu asrama, digambarkan dengan indah pula. Itulah Indonesia :).


*****

Dalam perjalanan pulang, aku merasa masih ada rasa kurang ‘klik’ dengan filmnya. Karena menurutku novelnya jauh lebih bagus. Semangat ‘Man jadda wajada’, terasa lebih hidup di novelnya. Tiba-tiba Lita meraih tanganku sambil berkata dengan wajah sumringah “Ma, filmnya bagus banget ya? Aku udah nyangka loh, pasti yang nonton banyak.. Tuh kan bener.. soalnya filmnya bagus sih.. Man jadda wajada!”. Alhamdulillah, ada rasa lega di hatiku saat mendengar kata-kata putriku itu. Ternyata pesan yang terkandung di film Negeri 5 Menara ini, sampai juga di hati dan pikirannya, walaupun dia tentu saja belum pernah membaca novelnya. Aaah, senangnya bisa memberikan hiburan yang mendidik untuk putriku :).

Monday, March 12, 2012

Weekend di Pantai Anyer

Setelah seminggu full membanting tulang *halah kok lebay :D*, waktu akhir pekan adalah saat yang kunanti-nanti untuk memulihkan jiwa dan raga. Seperti akhir pekan kemarin, aku sudah berencana menghabiskan Sabtu Minggu hanya dengan bermalas-malasan dan tiduran saja, pokoknya doing nothing lah. Tapi rencana itu terpaksa harus aku batalkan karena suami dan anak-anakku berkehendak lain. Suamiku mengajak kami ke pantai. Kelihatannya seru ya? Tapi karena aku sedang tidak fit, jadinya aku agak kurang bersemangat. Belum lagi urusan packing-packing yang cukup membuatku repot. Tapi melihat anak-anakku yang begitu bersemangat diajak ke pantai, maka mau tak mau aku harus bersemangat juga. Apalagi aku ingat kata seorang psikolog, bahwa otak anak-anak itu akan sangat aktif ketika mereka beraktifitas di alam bebas, dibanding jika mereka hanya diam di rumah, menonton televisi atau hanya main game saja. Okelah, memang aku harus membawa mereka ke alam bebas. Lets go to the beach! 

Pantai Anyer adalah pilihan kami karena lokasinya yang dekat dari Jakarta dan banyak penginapan yang friendly dengan anak-anak.  Sepanjang perjalanan kami tak mendapatkan hambatan yang cukup berarti. Bahkan jalan raya Serpong yang sering macet, pagi itu lancar jaya. Tapi memasuki wilayah Anyer justru kondisi jalannya sangat parah. Jalan banyak yang berlubang, berlumpur, dan becek tak karuan. Kondisi jalan yang parah otomatis membuat lalu lintas macet, ditambah lagi banyak sekali truk-truk besar yang memenuhi jalan yang sempit itu. Sungguh sangat disayangkan, sebuah objek wisata yang menarik dan ramai dikunjungi wisatawan, tapi fasilitas jalannya sangat mengenaskan. 

 
kondisi jalan yang parah
  
Ah, akhirnya sampai juga di Pantai Anyer. Dan kami memilih menginap di Villa Marina. Anak-anak dijamin suka, karena persis di depan kamar kami ada sebuah kolam renang tertutup dengan suasana yang asri. Andai badanku sedang fit, pasti aku sudah ikut berenang bersama anak-anak. Tapi kali ini aku harus rela mengawasi mereka dipinggir kolam saja, sambil mengambil beberapa gambar mereka. 

kolam renang depan kamar

trio endut :D
Setelah puas berenang di kolam renang, barulah kami ke pantai. Tapi kami tak menyangka, ternyata kali ini kondisi pantai sangat tidak bersahabat. Ombaknya bergulung-gulung sangat besar,menghantam bibir pantai. Air laut sangat keruh, dan anginnya sangat kencang. Saat itu aku sempat membayangkan bagaimana kalau terjadi tsunami.. hiiii.. bikin parno aja. Akhirnya kami mengurungkan niat main-main di pinggir pantai, dan kembali berenang di kolam renang saja. 

deburan ombak besar
Melihat pemandangan laut yang cukup membuat merinding, membuatku enggan untuk kembali ke pinggir pantai. Tapi ajakan suamiku untuk berburu sunset di pantai, sangat sulit untuk ditolak. Sepertinya memang romantis, dan siapa tahu kami bisa mendapatkan gambar yang menarik. Bukankah senja memang selalu indah untuk diabadikan? :).  Sesampainya di sana, kondisi laut dan pantai masih saja sama, bahkan lebih seram lagi, dengan deburan ombak dan angin yang lebih besar. Sepertinya aku cukup nekad kali ini, dalam kondisi meriang malah keliaran menantang badai, hanya demi sunset. Tapi kenekadanku itu cukup terbayar dengan hasil foto yang lumayan bagus, walaupun kondisi alam sedang tidak bagus. Nah inilah hasil jepretanku.. Masih kalah bagus sih dari jepretan suamiku, tapi not bad lah buat amatiran.. hehe..

 
Saat malam menjelang, saat itulah penderitaanku dimulai. Badanku meriang makin menjadi. Rasa kembung, mual dan perih mengaduk-aduk perutku. Aduuh.. aku benar-benar masuk angin nih.. huhuuu.. Tolak angin, minyak angin, hingga wedang jahe anget kukerahkan untuk menghalau si angin jahat ini. Tapi si angin ini belum juga mau pergi. Semalaman hingga pagi hari, aku harus bolak balik ke kamar mandi untuk buang angin dan air. Duuuh lemas sekali.. Niat hati ingin liburan, eh malah jadi tambah meriang.. hiks.. Beginilah nasibku yang punya penyakit gampang masuk angin. Tapi aku tetap bersyukur karena anak-anak dan suamiku sehat wal afiat dan tetap ceria. 



*****

Itulah cerita weekendku yang penuh suka duka.  Oh iya, maaf ya, berhari-hari ga nengokin blog. Balas komen dan blogwalking juga telat nih. Beginilah kalau dikejar-kejar waktu, jadi harus ada yang diprioritaskan. Tapi selalu aku usahakan untuk berkunjung ke rumah blog teman-teman semua walaupun agak telat yah.. Harap maklum.. ‘n happy blogging ^_^

Tuesday, March 06, 2012

Dikejar Waktu

Menjadi ibu bekerja yang tidak mempunyai asisten rumah tangga, sungguh melelahkan bagiku. Urusan rumah dan pekerjaan di kantor harus bisa ku handle sendiri. Dan managemen waktu adalah hal yang paling penting dalam hal ini, agar semua urusan bisa kutangani dengan baik.



Selama tidak ada asisten, biasanya aku tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dengan bangun jam segitu, aku mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan semua, termasuk memasak, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal anak-anak, mencuci piring, menyapu lantai, mandi, dandan, dan berbenah diri untuk berangkat ke kantor pada pukul 5.45 pagi. Alhamdulillah, walaupun cukup melelahkan tapi beberapa hari ini aku lumayan berhasil menerapkan managemen waktuku ini. Tapi tidak pagi ini.



*****

“Ma, bangun ma.. “ dengan lembut suamiku membangunkanku pagi ini. Refleks aku membuka mata dan melirik jam di dinding. “Hah! Udah jam 5.20! Aduuuh.. aku kesiangan!” pikirku dengan panik. Buru-buru aku loncat dari tempat tidur, dan langsung berlari menuju dapur, bergegas menyiapkan segalanya. Padahal aku harus sudah siap ke kantor pada pukul 5.45, itu artinya aku hanya punya waktu 25 menit saja untuk mempersiapkan segalanya. Dan itu harus! Tak ada 1 urusanpun yang bisa di skip.. hadeeeh.. -__-


Dengan menahan rasa mulas di perutku, dan rasa nyut-nyutan di leherku akibat salah posisi tidur, aku buru-buru menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anakku. Akhirnya dalam waktu 15 menit aku berhasil membuat nasi goreng dan menghangatkan semur ayam yang kumasak tadi malam. Waktu hanya tinggal 10 menit lagi untukku mempersiapkan diri ke kantor. Dan tiba-tiba aku ingat, astaghfirullah.. aku belum sholat subuh! Ya Allah.. ampuni hambaMu ini yang mudah sekali melupakanMu. Gara-gara bangun kesiangan, kacaulah semuanya. 


Sholat subuh, mandi, dandan, sarapan dan menata bekal, cukupkah hanya dengan waktu 10 menit? Tentu saja tidak. Hopeless deh rasanya bisa tepat waktu. Dan benar saja, pukul 6.00 aku baru siap ke kantor, itupun minus sarapan dan dandan. Jam berangkat ke kantor memang hanya molor 15 menit, tapi ini Jakarta, beda 5 menit saja bisa berakibat fatal, karena kondisi jalan yang tidak bisa diprediksi. Yang pasti semakin siang jalanan akan semakin macet. 


Setelah kurang lebih 1 jam di perjalanan, dengan menahan rasa lemas dan pusing karena belum sarapan, akhirnya aku sampai di kantor. Alhamdulillah.. aku tidak terlambat. Tapi suamiku bisa dipastikan tak bisa lepas dari keterlambatan. Itu berarti suamiku harus mengganti jam keterlambatan selama 30 menit selepas jam pulang kantor nanti. Itu artinya dia akan terlambat menjemputku nanti sore, dan kami akan terlambat pulang kantor hari ini. Dan berarti akan berkurang pula waktuku buat anak-anakku hari ini. Maafkan mamamu ini ya nak.. :(.



*****

Ternyata managemen dan disiplin waktu itu sangat penting. Terlambat sebentar saja bisa mengakibatkan efek berantai seperti ini. Dan tentu saja aku sangat menyesal. Selama ini sebisa mungkin aku disiplin menjalani semua. Tapi aku ini wanita biasa juga, yang tak lepas dari rasa lelah dan lupa. Ohhh.. aku lelah.. aku butuh asisten.. help!

Thursday, March 01, 2012

Menjelang Kepergiannya

Mataku terpaku ke layar monitor, di kanan kiriku berserakan berkas-berkas yang harus kuselesaikan. Maksud hati memang ingin membereskan semuanya secepat mungkin, tapi otakku tak bisa diajak kerja sama. Walaupun sudah berkali-kali membuka-buka berkas, tetap saja pikiranku tak bisa fokus. Ooh.. beginikah rasanya galau? Resah, takut, bimbang, dan gamang. Saat dia mengatakan akan mengakhiri semuanya, sebenarnya aku tak rela. Aku merasa seperti dibuang begitu saja. Tak pernahkah dia memikirkan bagaimana diriku ini tanpanya. Tak pernahkah dia berpikir bahwa aku sudah terlalu bergantung padanya. Bertahun-tahun kami saling mendukung dan melengkapi. Dan kini dia akan pergi, demi meraih kebahagiaannya sendiri. Lalu bagaimana denganku..?

 Aku masih saja dirundung pilu, terpuruk di pojok kubikelku, menyembunyikan perasaan sendu. Ingin rasanya menahannya pergi, tapi bagaimana lagi? Aku tak punya hak apa-apa atas dia. Aku bukan siapa-siapanya. Sungguh egois jika aku memaksanya tetap di sisiku. Ingin rasanya aku berteriak “Aku butuh kamu!”. Tapi itu tak mungkin kulakukan, karena dia bukan milikku.

Dua jam telah berlalu, dan belum satupun pekerjaan yang berhasil kuselesaikan. Aku masih saja memikirkan nasibku tanpa dia. Sebenarnya aku sudah sangat menyadari bahwa saat-saat seperti ini akan terjadi, saat-saat melepasnya pergi. Tapi saat ini benar-benar terjadi, aku tetap saja tak pernah siap. Tak siap menghadapi hari tanpanya. Aku masih saja resah.


Aku tahu satu-satunya cara yang harus kulakukan untuk menenangkan diri adalah dengan mencari penggantinya. Tapi tidak semudah itu. Bukankah hati tak bisa dipaksa? Dan aku sudah terlanjur merasa bahwa dialah yang paling tahu hatiku. Rasanya aku tak ingin mencari orang lain lagi. Aku takut sakit hati karena memilih orang yang salah. 


Tapi dia akan PERGI.. dan aku HARUS mencari pengganti..



*******

Note: DIA adalah seorang pembantu rumah tangga bernama Siti Rokhana, yang sudah mengabdi di rumahku selama 6 tahun. Dan kini dia harus mengakhiri kariernya, karena dirinya sedang hamil. Tentu saja hamil karena suaminya. Semoga kehamilannya selalu sehat, dan persalinannya lancar.