Friday, December 27, 2013

Penjajahan Abad 21

tetap gaya meski belum merdeka :P
Hari peringatan kemerdekaan negara kita telah lama lewat. Tapi tak ada salahnya kita bahas lagi tentang kemerdekaan. Kenapa? Karena aku merasa diriku ini belum merdeka. Emang sih secara de jure aku ini nggak mengalami masa penjajahan. Nggak perlu juga jadi relawan di medan perang. Namun sejatinya aku ini masih terjajah. Dan sepertinya aku nggak sendiri. Artinya, banyak juga yang masih terjajah, baik secara sadar maupun nggak sadar. Maksudnya dijajah nggak sadar itu apa? Maksudnya, banyak loh yang sebenarnya terjajah, tapi nggak merasa. Kenapa bisa nggak merasa? Karena bentuk penjajahan masa kini itu beda dengan penjajahan jaman dulu. Tapi efeknya sama-sama menyakitkan... #halah. Nah inilah beberapa bentuk penjajahan abad 21. Yuuuks..

1. Dijajah sosial media

Nah ini nih penjajahan yang nyata kita alami. Tapi kelihatannya banyak yang malah suka sama bentuk penjajahan ini. Bayangkan, setiap saat harus buka sosial media. Bahkan hidup terasa hampa tanpanya. Bangun tidur yang dilihat facebook. Pagi-pagi buru-buru cuma mau ngetwit. Sepertinya lagu "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi" udah nggak relevan lagi buat kehidupan orang masa kini. Yang ada lagunya jadi "bangun tidur kubuka facebook, tidak lupa mengecek twitter". Ah, liriknya jadi maksain gini yak.. Hihihi..

Bukan hanya itu ajah. Jaman sekarang ini, seolah ada kewajiban untuk selalu ngetwit atau bikin status di facebook. Habis itu ribet harus njawabin komen-komen yang masuk, atau ngeretweet balasan teman. Lah gimana lagi? Abis kalau nggak cepat direspon, takutnya dibilang sombong. Karena hal-hal itulah makanya bagi sebagian besar orang, disadari maupun tidak, kehidupan sosial media sudah menjadi hal yang utama, bahkan seolah menyingkirkan kehidupan nyata. Misalnya saja demi mau membalas komen temen-temen di facebook,  terpaksa harus nyuekin suami yang duduk disebelahnya #pengakuan :P

2. Dijajah cinta

Penjajahan oleh cinta ini sebenarnya penjajahan klasik sepanjang masa. Hayoo yang sedang jatuh cinta, pasti nggak nyadar nih udah dijajah. Siapa sih yang nggak takluk oleh cinta? Bahkan apapun rela dilakukan demi cinta. Misalnya nih, setiap ngapel harus rela nraktir pacarnya, walaupun nggak punya uang dan harus ngutang tetangga. Padahal nggak ada kan yang maksain harus nraktir? Nggak ada juga yang maksa harus ngutang tetangga? Nggak ada. Yang mengharuskan seseorang melakukan itu semua adalah cinta.

Ada juga nih seorang cewek yang sedang pdkt ama cowok idamannya. Demi mendapatkan hati si cowok, cewek itu mati-matian menjadi sosok idaman si cowok. Yang biasanya nggak suka dandan, tiba-tiba pake blush on. Yang tadinya chubby, tiba-tiba jadi nirusin pipi. Yang tadinya bergaya sporty, tiba-tiba harus maksain pakai high heels yang bikin kaki nyeri. Hal-hal yang menyiksa harus dilakukan demi mendapatkan cinta sang cowok idaman. Padahal siapa juga yang nyuruh begitu? Nggak ada. Semua dilakukan lagi-lagi karena cinta.

3. Dijajah pekerjaan

Sebenarnya setiap pekerjaan itu pasti ada konsekuensinya. Pengen dapat gaji besar, tentu effort yang dilakukan juga besar. Kalau pengen kerjaan yang biasa-biasa saja, tentu penghasilan yang didapat juga biasa saja. Namun ada kalanya masalah pekerjaan ini, benar-benar menekan jiwa. Aku pernah nih bertemu seseorang yang berbohong demi perusahaannya. Padahal gajinya kecil loh. Alasannya karena dia takut dipecat. Keknya nggak worth it banget harus menambah dosa dengan berbohong, padahal gaji yang didapat sangat kecil. Kenapa juga mesti mempertahankan pekerjaan yang tidak bisa mensejahterakan jiwa dan raga? Bukankah lebih baik kalau dipecat saja, kemudian mencari pekerjaan lain yang lebih baik? Tapi kenyataannya banyak orang yang rela tertekan dijajah pekerjaan.

4. Dijajah pembantu rumah tangga

Wah kalau ini sih asli curhatanku.. Hehehe. Gimana nggak dijajah coba? Setiap hari aku kerja dari pagi sampai malam. Waktuku di rumah cuma sebentar. Otomatis pembantukulah yang menguasai rumahku sepanjang waktu. Semua fasilitas di rumah bebas dia pakai, tanpa batasan pemakaian. Mau tidur, mau nonton tivi, mau dangdutan, mau makan banyak, semua boleh. Bahkan ac, telepon, internet, dan kendaraan dia bisa pakai. Kurang apa coba? Yang aku inginkan hanyalah dia mau kerja serius dan betah. Itu saja. Tapi yang kudapat malah sebaliknya. Justru pembantu makin banyak saja tuntutannya. Dari minta gaji dinaikin, terus minta liburan, terus nawar buat ngurangi beban kerjaan. Dan posisi tawar menawar, pada akhirnya selalu dimenangkan oleh pembantu. Habis mau gimana lagi? Daripada dia minta berhenti.

Itulah 4 bentuk penjajahan versi Cova. Kalau versi teman-teman seperti apa? Ayuk silahkan kalau mau menambahkan.. ^^

Tuesday, December 24, 2013

Pangandaran, Antara Galau dan Mistis

pagi di Pantai Timur Pangandaran

Gerimis mengiringi perjalanan malamku ke Pangandaran bersama 19 orang temanku. Malam yang sendu dan basah, seperti pelupuk mataku yang penuh dengan air mata. Pertengkaran dengan suamiku sore itu menjadi penyebabnya. Dan perihnya kini masih terasa. Mungkin aku salah, tidak seharusnya aku pergi di saat pertikaian kami sedang memanas seperti ini. Tapi di sisi lain aku berharap kepergianku ini mampu mendinginkan hati kami yang membara disengat emosi jiwa. Lagipula acara jalan-jalan ini sudah lama kurencanakan. Sayang kalau harus dibatalkan. Prinsipku, kegalauan tidak boleh membuyarkan acara jalan-jalan. Ah, prinsip dari mana itu? Aku menghela nafas panjang, dan menatap butiran air hujan yang menerpa kaca jendela bus yang kutumpangi.

"Cov, kamu nggak tidur?" tanya mbak Ambar, teman yang duduk disebelahku. Buru-buru aku seka air mataku. Aku tahu sebenarnya dia tahu kegalauanku, tapi aku tak mau terlihat lebay di depan teman-temanku.
"Besok pagi, begitu sampai di hotel kita langsung jalan ke Green Canyon. Jadi sekarang kita harus istirahat. Biar nggak kecapekan" kata mbak Ambar memberi saran. Aku turuti saran temanku itu. Dia sudah berkali-kali ke Pangandaran. Jadi sudah cukup hafal dengan medan yang akan kami tempuh. Memang benar, daripada galau, mending tidur aja. Dan bagiku tidur itu cara yang cukup ampuh untuk mengobati sakit hati. Wajah suami dan anak-anakku terbayang saat aku mencoba memejamkan mata. Dan perlahan-lahan kabur dan menghilang, seiring dengan laju bus dan suara rintik hujan. Gelap. Akupun tertidur..

***

"Braaaaaakkkk!!!!" suara kencang memekakkan telinga, dan hentakan keras membuat tubuhku terdorong kedepan. Aku yang tertidur pulas, tiba-tiba terbangun, dan butuh waktu beberapa saat untuk menyadari apa yang terjadi.
"Hah?! Kecelakaan??"
"Kita nabrak apa??"
"Ada apa ini?"
Suara teman-temanku panik dan bersahut-sahutan.
"Ada sesuatu nabrak bus kita" kata pak sopir memberi penjelasan.
"Kita nabrak apa pak?" tanya seorang temanku.
"Justru itu yang kami bingung. Dari tadi kami nggak melihat ada apa-apa di depan bus kita. Tapi tiba-tiba ada yang membentur kaca depan bus" kata pak kondektur yang duduk paling depan.

Aku ikut melongok melihat kaca depan yang terkena benturan. Retaknya parah, dan makin merembet. Kami khawatir, sedikit lagi kacanya bisa pecah. Kalau dilihat dari kerusakan dan suara kencang yang ditimbulkan, sesuatu yang membentur itu pasti keras dan besar. Rasanya tak mungkin jika itu manusia atau binatang. Harusnya, walaupun suasana gelap, sesuatu itu tetap terlihat karena tersorot lampu depan bus. Tapi nyatanya memang tak ada apa-apa di sana. Jadi bus kami ini menabrak sesuatu yang tidak terlihat oleh mata! Hiiiii. Tiba-tiba tubuhku merinding.

bus pasca benturan
Kami tidak berani berhenti saat itu juga untuk mengecek kondisi bus. Suasana sepi, gelap dan hujan, di jalan sempit yang diapit tebing, memang bukan tempat yang tepat untuk berhenti. Akhirnya kami menunggu matahari terbit, untuk mengecek kondisi bus pasca peristiwa ganjil itu. Dan penemuan kami, makin membuat bulu kuduk berdiri. Di titik pusat retakan kaca (berarti titik pusat benturan), ada beberapa helai rambut tertinggal di sana. Rambut siapa hayoo??

Ah, kenapa sih ada peristiwa mistis begini di saat aku galau? Apa ini karena suamiku nggak merestui perjalananku ini? Tiba-tiba aku menyadari semua kesalahanku. Sudah seharusnya aku minta maaf pada suamiku, aku nggak ingin terjadi apa-apa dalam keadaanku yang durhaka ini. Buru-buru aku menelpon suami dan anak-anakku di rumah. Senang rasanya mereka menyambutku dengan ceria. Suamikupun bertutur kata manis padaku, seolah aku ini tak pernah salah apa-apa. Ah, legaa.. Aku nggak jadi istri durhaka.. Hehehe.. Akupun bisa tersenyum lagi :).

***

Sesuai rencana, pagi itu kami langsung menuju Green Canyon. Tapi berhubung bus kami mengalami kerusakan yang cukup parah dan tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan, maka terpaksa kami naik angkot. Dua angkot kami sewa untuk kami berduapuluh. Di angkot, kami masih membahas peristiwa ganjil semalam. Bahkan abang sopir angkot ikut angkat bicara. Menurut abang sopir, kemungkinan bus kami semalam bertemu dengan bajing loncat. Tahu bajing loncat kan? Itu kawanan perampok. Biasanya mereka memasang perangkap yang membuat pemakai jalan menghentikan laju kendaraannya. Dan pada saat kendaraan berhenti, saat itulah mereka beraksi, menjarah harta benda yang ada. Seram sekali! Untung semalam bus kami tidak berhenti. Entah benar apa tidak, sampai sekarang peristiwa tersebut masih menjadi misteri.

Baru saja kami selesai membahas peristiwa aneh itu, tiba-tiba, kami mendengar suara wanita di dalam angkot yang kami tumpangi. Kami semua terpaku dan saling berpandangan. Jelas itu bukan suara salah satu di antara kami. Suara wanita bernada lembut mendayu namun menebarkan aura mistis. "Haiiii.. Halooo.. Haloooo....."
Kami seolah beku beberapa saat. Tak ada yang berani bersuara, sampai suara wanita tanpa wujud itu menghilang. Huhuuu.. Mungkinkah sesuatu yang tak berwujud itu mengikuti perjalanan kami? Imajinasi kami mengembara tanpa ada penjelasan yang masuk akal. Aku hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa saat kami nyemplung ke Green Canyon nanti.
sungai menuju Green Canyon
Akhirnya kami sampai di pintu gerbang Green Canyon. Setelah kami naik perahu menyusuri sungai yang berkelok-kelok dan desar arusnya, sampailah kami ke Green Canyon yang kesohor itu. Green Canyon ini semacam gua berstalaktit dan stalaknit unik, dengan air sungai yang mengalir di bawahnya, dan beberapa batu besar di dasarnya. Semburat sinar matahari yang menembus dindingnya semakin menambah keindahannya. Walaupun pada saat ini airnya tidak hijau, tapi pemandangannya tetap mengagumkan. Untuk mencapai bagian dalam Green Canyon, tidak bisa menggunakan perahu, karena terhalang batu besar. Satu-satunya cara adalah dengan nyemplung ke air sungai yang arusnya lumayan deras itu. Wuuih benar-benar uji nyali nih, maklumlah aku kan nggak bisa berenang. Gimana kalau aku terbawa arus nanti? Susah payah ku kumpulkan keberanianku, dan ku enyahkan ketakutanku.. Nekad aja ah.. "Kalau aku bisa menaklukkan arus sungai ini, aku pasti bisa menaklukkan dunia" pikirku menyemangati diri. Byuur!!

Dengan hanya bermodalkan pelampung dan seutas tali, aku menceburkan diriku ke sungai. Bbrrrr.. tak disangka airnya dingin sekali! Mampukah aku bertahan? Tubuhku harus berjuang melawan arus sungai, dan beberapa kali aku terpaksa ‘meminum’ airnya.. huek.. Lelah dan nafas tersengal-sengal. Aku baru bisa bernafas lega saat berada di permukaan yang airnya dangkal, atau saat menemukan batu besar, hingga aku bisa beristirahat di atasnya. Di atas batu itu aku bisa melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Rasa lelahku seketika hilang. Bersyukur aku bisa sampai di sini, walaupun dengan perjuangan yang tidak mudah. Sesuatu yang berharga memang harus diraih dengan perjuangan keras.. *sok bijak.. :D.

batas akhir perahu
tetap narsis walau muka berantakan

***

Alhamdulillah, walaupun banyak peristiwa janggal, tapi acara ke Green Canyon siang tadi berjalan lancar. Cukup lancar, walaupun aku sempat kelelahan melawan arus, dan 'meminum' air sungai saat nyemplung di Green Canyon.. hehehe.. Kini saatnya kembali ke hotel yang terletak di pantai timur pangandaran. Setelah itu menikmati makan malam bersama. Namun seolah tak mau lepas dari kami, peristiwa mistis kembali terjadi malam itu.

Sehabis makan malam bersama di sebuah rumah makan seafood, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Letaknya memang tidak jauh. Seorang temanku memimpin di depan sebagai penunjuk arah. Kami mengikutinya dengan setia. Sampai di sebuah gang, tiba-tiba dia membalikkan badan ke arah kami. Dengan muka pucat dia berkata "Kita cari jalan lain aja ya?". Walaupun bingung kami tetap mengikutinya. Dengan berbisik aku bertanya "Emangnya kenapa mas nggak jadi lewat jalan tadi?"
"Ada sosok putih-putih di sana" jawabnya dengan berbisik pula.
Sosok apa yang dia maksud? Mungkinkah itu hanya halusinasinya atau memang ada makhluk lain di sana? Hening...

***

Ah, Pangandaran.. Sebuah tempat indah yang menyimpan sejuta misteri. Tempat ini membuatku mengatasi kegalauanku. Tempat ini yang menumbuhkan keberanianku. Dan tempat ini pula yang membuatku percaya ada hal-hal yang kadang sulit dijelaskan dengan akal namun nyata adanya.. Aku menyebut tempat ini Pangandaran Sang Pelipur Lara..

Happy traveling ^^

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam "My Itchy Feet...Perjalananku yang tak terlupakan"


Sunday, December 22, 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Ibuku cantik. Nggak percaya? Lihat aja anaknya. Kalau anaknya cantik, pasti ibunya juga cantik. Teteeeup narsis :P. Sayangnya beliau ini nggak suka difoto. Katanya "Ibuk ini udah tua, udah jelek, nggak bagus difoto. Dulu waktu ibu masih muda, masih cantik, malah nggak ada yang moto". Dengan melengoskan wajahnya, dan mengangkat tangannya menutupi kamera. Gayanya mirip sekali dengan selebriti yang dikejar paparazi. Makanya foto-foto ibuku kebanyakan foto candid. Dan foto ini satu-satunya foto ibuku yang agak memandang kamera.

ibuku bersama 2 bidadarinya ^^
Itulah ibuku. Nggak narsis seperti anaknya. Tapi sebenarnya ibuku berperan besar dalam jiwa kenarsisanku. Sejak aku kecil beliau sering bilang kalau aku ini cantik, pintar, dan berbakat. Jadi, nggak ada alasan untuk malu-malu. Ya iyalah, semua ibu pasti bilang anak perempuannya cantik dan pintar. Aku juga bilang persis seperti itu ke anak perempuanku.. Hehehe. Tapi kata-kata yang sederhana itu cukup mampu menaikkan percaya diriku. Apalagi dengan banyak hal positif yang berhasil kuraih, aku semakin yakin, ibuku benar, bahwa aku memang punya kelebihan. Tentu kelebihan yang aku punyai tak ada artinya tanpa ikhtiar dan doa. Terlebih lagi doa orang tua. 

Ibuku selalu mendorong anak-anaknya mempunyai cita-cita setinggi langit. Tapi untuk dirinya sendiri, beliau tak punya ambisi muluk-muluk. Yang beliau inginkan hanya melihat anak cucunya hidup bahagia dan jadi orang berguna. Ibuku juga nggak pernah minta dibelikan ini itu. Nggak pernah pula minta diajak jalan-jalan plesir. Yang ibuku inginkan hanyalah berkumpul dengan anak dan cucu. Dan menghabisnya waktu bersama. Walaupun hanya sekedar jalan-jalan di taman dekat rumah saja.

ibuku bersama anak dan cucu yang narsis :D
Yah, keinginan ibuku hanya sesederhana itu. Tapi itupun belum bisa aku wujudkan. Boro-boro membuat ibuku senang, yang ada malah merepotkan. Sampai kini aku masih saja sering mengeluh, dan minta bantuan. Dari masalah anak-anak sampai masalah pembantu, dari urusan dapur sampai urusan baju. Tapi ibuku tak pernah merisaukan semua kerepotan itu. Bahkan ibuku berkata "Kalau kamu ada masalah, cerita saja sama ibu. Jangan kamu pendam sendiri. Ibu pasti bisa bantu". 

Memang sih, tidak semua masalah aku ceritakan ke ibuku. Ada beberapa masalah yang sengaja aku sembunyikan. Itu semata-mata karena aku tak ingin merepotkan dan membebani orang tuaku lagi, dengan masalah yang menurutku bisa aku tangani sendiri. Tapi feeling seorang ibu selalu kuat. Dia bisa melihat dan merasakan yang anak-anaknya rasakan, walaupun tak terucapkan. Itulah cinta. Merasa senang kalau orang yang dicintai bahagia. Merasa sedih jika orang yang dicintai terluka. Dan cinta seorang ibu pada anaknya, adalah cinta sejati tanpa akhir, dan tanpa pamrih. Walaupun terkadang anaknya melupakannya, namun doa ibu selalu ada untuknya. Seperti sebuah status yang ditulis temanku di FB:
"Jika matahari tenggelam dan redup cahayanya, cinta dan kasih sayang ibu pada anaknya tidak akan pernah hilang hingga akhir hayatnya"

Semoga Allah masih memberi kesempatan padaku untuk membahagiakan ibu dan melihat senyum cerianya :)
Selamat hari ibu.. untuk ibuku.. untukku.. dan untuk semua ibu di dunia ^^

Tuesday, December 17, 2013

Menghening di Pantai Mengening

 

"Saya belum pernah dengar namanya" kata Bli Made, driver sewaan kami.
"Tapi gampanglah, nanti saya tanya penduduk sekitar. Yang penting udah tahu arahnya" sambungnya.
Suamiku membuka kembali buku saku fotografinya. Dia baca beberapa kalimat di dalamnya "Letaknya di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Lokasinya berdekatan dengan Pura Tanah Lot, Bali".
Sepertinya Pantai Mengening ini memang belum dikenal oleh para wisatawan. Wajarlah Bli Made belum tahu, karena belum pernah ada orang yang minta diantar kesana.

Mendung menemani perjalanan kami ke Pantai Mengening. Kami agak was-was dengan kemungkinan akan turun hujan. Tapi mau nggak mau kami harus jalan. Sayang kan, jika waktu yang cuma sebentar hanya dilewatkan di kamar hotel saja? Jadilah kami mengambil resiko itu. Kami sadar cuaca mendung tidak mendukung untuk menikmati pantai. Tapi enjoy ajalah. Yang penting kan perjalanannya. Seperti kata quote "Traveling is about the journey, not the destination". Terlebih lagi kalau journey-nya bersama orang tercinta..hehehe.

Seperti petunjuk di buku fotografi milik suamiku, kami menuju ke arah Pura Tanah Lot. Dari sana Bli Made mulai bertanya ke penduduk sekitar tentang jalan menuju Pantai Mengening. Sayang, seorang ibu-ibu penjaga warung yang ditanya, mengaku belum pernah mendengar nama pantai itu, karena dia seorang pendatang. Yah, terpaksa mencari target lain. Seorang laki-laki setengah baya yang sedang berdiri di depan rumahnya menjadi sasaran kami berikutnya. Sepertinya dia penduduk asli. Bli Made bertanya pada laki-laki itu dalam bahasa bali. Tapi lagi-lagi kami gagal mendapat pencerahan. Wah, bagaimana ini? Masa' orang asli sini nggak tahu? Ya sudahlah, yang penting jalan terus, sambil mencari petunjuk.

Tak berapa lama, kami berpapasan dengan dua orang remaja putri berpakaian sekolah. Kubilang pada Bli Made "Tanyain aja bli.. Biasanya anak muda lebih gaul dan lebih tahu".
Dan benar dugaanku. Dengan raut muka agak malu-malu, kedua remaja itu menunjukkan dengan detil arah menuju Pantai Mengening. Tuh kan? Anak muda memang lebih banyak tahu loh.. Hehehe.

Jalan yang kami lalui, mengingatkanku pada jalan menuju Pura Tanah Lot. Tentu saja, karena kedua obyek ini berdekatan. Di kanan kirinya terhampar persawahan sehabis dipanen. Ada beberapa hotel dan resort mewah sedang dalam tahap pembangunan. Ini tandanya kami sudah mendekati obyek. Dari sini aku menduga obyeknya pasti keren. Kalau nggak, nggak mungkin investor membangun hotel mewah di sini.


Tak berapa lama akhirnya kami sampai. Dan inilah pantainya. Kami disambut oleh hamparan pantai berpasir kehitaman dengan batu-batu karang yang besar. Deburan ombak yang menghantam bebatuan menambah kuat pesonanya. Cuaca mendung tidak mampu menutupi keindahan Pantai Mengening ini. "Kalau cuaca cerah pasti lebih bagus lagi" batinku. Sekilas pantai ini mengingatkanku pada Tanah Lot. Karena berdekatan dan berada di garis pantai yang sama, kedua pantai ini mempunyai tipikal yang sama. Bedanya, pantai ini sepiiiiii sekali. Tidak seperti Tanah Lot yang kini bagaikan lautan manusia. Gimana nggak sepi kalau hanya kami saja yang menjadi pengunjungnya siang itu. Keren ya, berasa punya pantai pribadi.. Hihihi. Baru kali ini kami menemukan pantai indah di Bali tanpa pengunjung. Tapi jangan harap pantai ini akan selalu sepi. Menurut prediksiku, mulai tahun 2014 nanti, Pantai Mengening ini bakal ramai pengunjung. Apalagi setelah kuposting di blogku ini.. Hehehe

pura
 Di pantai ini juga terdapat sebuah pura yang dibangun mengarah ke laut dan dikelilingi batu-batu karang. Keberadaan pura ini seolah membagi pantai ini menjadi dua sisi. Sisi sebelah kiri yang berbatu, dan sisi sebelah kanan lebih berpasir. Batu karang, pasir kehitaman, dan deburan ombak, berpadu apik dengan keanggunan pura itu. Jauh dari hiruk pikuk keramaian, membawaku semakin terhanyut dalam keheningan. Hanya suara ombak, suara angin, dan detak jantungku yang terdengar. Ada rasa excited saat melihat dan mendengar deburan ombaknya. Ada rasa ngeri, tapi ingin mendekati. Dan aku pun berjalan makin ketengah, kearah lautan, dengan berpijak pada batu-batu karang.

sisi kiri

sisi kanan

Aku keluyuran sendiri, sementara suamiku asyik mengabadikan deburan ombak dengan kameranya. Saking asyiknya, dia jadi lupa sama istrinya yang manis ini.. hiks! Terus yang motoin aku siapa donk kalau suamiku lebih tertarik moto ombak ? #malah galau. Ya sudahlah, daripada galau nggak ada yang motoin. Lebih baik aku foto-foto sendiri. Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, narsis harus tetap jalan terus. Soalnya kalau nggak ada foto diriku di sana, nanti disangkanya hoax.. Hehehe. Tapi baru beberapa jepretan, gerimis datang.. Yah bubar jalan deh. Sampai jumpa Pantai mengening. Kutinggalkan dirimu dalam keheningan..

Hasil jepretan suami
 Happy Traveling

Wednesday, December 11, 2013

Emak-emak Sadar Listrik

Punya suami memang enak. Ada yang nganter jemput kemana-mana. Ada yang nraktir kalau makan di luar. Ada yang ngangkatin galon akua. Ada yang mbenerin genteng dan kran yang bocor. Eh, itu suami atau tukang? Hehehe. Intinya, suami itu membantu dalam banyak hal. Terutama hal-hal yang tidak bisa aku lakukan sendiri dikarenakan keterbatasanku sebagai wanita. Misalnya acara angkat mengangkat galon tadi.

Eh, tapi bisa dibilang aku ini istri yang manja. Banyak hal yang sebenarnya bisa aku lakukan sendiri, tapi aku nggak mau melakukan karena males repot. Mending suamiku aja yang nanganin.. Hehee. Misalnya, mentang-mentang ada yang nganter jemput kemana-mana, sampai saat ini  aku belum punya keinginan belajar mengendarai motor atau mobil. "Ah, ada suami kok yang setia nganterin" pikirku. Atau ketika alat-alat elektronik nggak berfungsi, paling-paling aku nunggu suamiku yang ngutak atik. Abis aku nggak ngerti tentang elektronik dan alat listrik. Takut kesetrum.. Hehehe

listrik alami
Tapi sekarang kemanjaanku mulai berkurang loh. Itu terjadi sejak suamiku meninggalkanku. Eh meninggalkannya nggak lama sih, cuma 2 hari saja. Saat itu dia pergi untuk hunting foto sekaligus mengikuti perlombaan fotografi. Nah saat dia nggak ada di rumah itu, ada aja urusan yang harus aku handle. Dan aku sama sekali nggak ngerti. Tiba-tiba pembantuku komplain tentang colokan yang nggak berfungsi. Habis itu komplain tentang setrikaan yang nggak panas. Ada lagi tentang kabel rol yang putus. Waduh! Hal-hal yang berbau listrik seperti ini, bikin aku pusing. Mau nunggu suamiku datang, pasti kelamaan. Ya sudah, mau nggak mau aku harus berusaha ngutak atik sendiri. Dan membeli pernak pernik listrik sendiri.

Nggak punya pengetahuan tentang alat listrik, ternyata cukup merepotkan. Terutama saat mau membeli peralatan listrik yang diperlukan. Kadang tahu barangnya, tapi nggak tahu namanya. Nggak tahu juga berapa harga pasarannya. Wah kalau begini bisa-bisa kena tipu kalau belanja alat listrik sendiri. Sayang kan kalau dapat harga kemahalan. Belum lagi harus ke toko listriknya, duh ribet! Nggak ada yang nganterin.

Tapi untungnya sekarang sudah ada toko online distributor alat listrik. Nggak usah kuatir nggak tahu nama barangnya, karena di sana ada gambarnya. Nggak usah kuatir pula dengan harganya, karena harganya tercantum jelas di sana dan dijamin nggak kemahalan. Kalau nggak percaya, you bisa dicek di toko sebelah.. *pedagang glodok mode on* hehehe.. Dan enaknya, semua bisa diakses sambil duduk manis, nggak perlu keluar rumah.  Pas banget kan untuk emak-emak sepertiku yang awam soal listrik. Daripada celingak celinguk di toko listrik, mending searching aja barangnya secara online. Mau nanya-nanya juga bisa kok. Kan ada costumer servisenya. Jadi nggak perlu malu kalau nggak tahu.

Nah, nggak ada alasan untuk takut listrik kan? Apalagi takut kesetrum.. Hihihi

Monday, December 09, 2013

Award dari Bali

Semoga teman-teman pembaca Runaway Diary tidak bosan dengan beberapa postinganku yang akhir-akhir ini beraroma bali. Dan jangan harap ini akan berakhir. Karena aku masih menyiapkan banyak cerita tentangnya. Termasuk yang satu ini.

Saat aku lagi asyik nongkrong di Pantai Kuta, tiba-tiba dapat message dari bali.. Dari cowok pula.. Ihiiiiir.. jadi tersipu-sipu nih. Begini bunyinya, "Dapat pesan gambar dari saya. Silahkan dilihat pesannya ya mbak.. Hehe"
Wah kok pas banget ya.. Tahu aja aku suka banget sama Bali. Jadi deg-degan bin penasaran. Apa ya pesannya? Tanpa buang waktu lagi aku segera meluncur ke kediaman si pengirim pesan. Seorang cowok tampan rupawan yang berdomisili di denpasar, sudah menyiapkan sebuah kejutan untukku. Dialah Bli Kstiawan, admin blog Nakusan Bali Technology.

Tadaaaa...! Sebuah award keren mentereng diberikan untukku! Wah, bangga dan tersanjung rasanya menjadi salah satu blogger penerima award dari Bli Kstiawan. Dalam rangka memperingati ulang tahun blognya yang pertama, bli kstiawan membagikan award kepada sahabat-sahabat blogger yang selama ini setia berkunjung dan mensupport blognya secara langsung maupun tidak langsung. Kata Bli Kstiawan, award ini sebagai ungkapan terima kasih dan untuk mempererat tali silaturahmi.

Padahal, tanpa award-pun aku tetap setia kok berkunjung ke rumah blognya. Apalagi kalau dikasih award seistiwewa ini, pasti tambah sering mampirnya.. Hehehe. Walaupun blognya isinya gado-gado, tapi tetap asyik dibaca. Karena gado-gadonya bukan sembarang gado-gado. Gado-gadonya tetap sarat informasi. Aku juga suka dengan bahasa tulisannya yang to the point, tidak bertele-tele, dan mudah dicerna. Yang penasaran dengan blognya, monggo silahkan mampir aja :)

Tahu nggak? Aku benar-benar sukaaaa sama tampilan awardnya. Indonesia banget dan sangat kental rasa aroma Balinya. Terima kasih buat Bli Kstiawan yang berkenan membagikan award ini padaku. Semoga persahabatan kita selalu terjalin dan semakin erat. Bukan hanya di dunia maya, tapi dunia nyata juga (aku masih nunggu undangan ke Bali.. Hihihi :P). Doaku untuk Bli Kstiawan dan blog Nakusan Bali Technology, semoga selalu eksis di dunia perbloggeran, tetap menyajikan informasi yang bermanfaat. Dan tentunya semakin banyak teman dan sahabat. 

Selamat Ulang Tahun blog Nakusan Bali technology..
Happy blogging buat Bli Kstiawan dan teman-teman semua ^^

Wednesday, December 04, 2013

Orang Ketiga

"Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran orang ketiga tidak selamanya merusak. Terkadang malah bisa membantu. Di perjalanan ini, aku menemukan keduanya"

###

Bandara Ngurah Rai terasa sendu menyambut kedatangan kami. Perjalanan ini sudah aku impikan sejak sebelas tahun yang lalu. Kala itu dia berjanji akan membawaku bulan madu ke pulau Bali. Sungguh indah.. Namun sayang, belasan tahun berselang, rencana itu tak jua menjadi kenyataan. Aku terus bersabar, dan tetap menjaga impian, hingga akhirnya hari yang kunantikan datang. Yup, anggap saja ini bulan madu kedua kami. Jangan dibayangkan perjalanan ini akan romantis seperti pasangan pengantin baru yang masih menggebu-gebu. Kami hanyalah sepasang suami istri yang tak muda lagi. Tapi mempunyai semangat yang selalu berapi-api.. #Halah

Untuk honeymoon wannabe ini, suamiku sudah menyiapkan fasilitas yang tidak biasa. Hotel kelas menengah atas, dan menyewa mobil beserta sopirnya, agar kami bisa berkelana dengan leluasa. Aku yang biasa traveling ala gembel, merasa yang dia berikan terlalu istiwewa, dan membuatku canggung. Kenapa canggung? Entahlah.. Sejujurnya aku menganggap kehadiran sopir itu malah menjadi orang ketiga yang membatasi gerak kami. Andai boleh meminta, aku lebih suka naik motor berdua saja. Itu terasa lebih intim dan romantis bukan? Ketika di sepanjang jalan aku bisa memeluk erat pinggangnya.. #eeaaa.

Tapi bagaimanapun juga perjalanan ini harus dinikmati. Lagi pula suamiku sudah berusaha memberikan yang terbaik. Dan maksudnya menghadirkan orang ketiga alias sopir, demi kebaikan kami. Tentunya biar nggak capek dan nggak nyasar.

Hari 1: Namanya Nyoman atau Komang?

Dan di sinilah kini kami berada. Dalam perjalanan menuju ubud dan kintamani, dengan mobil sewaan dari e-kuta yang dikendarai oleh orang ketiga, eh sopir. Namanya Nyoman atau Komang, entahlah, aku tak begitu jelas menangkap kata-katanya. Anggap saja namanya Nyoman. Bukan hanya kata-katanya saja yang nggak jelas, tapi bahasa tubuhnya juga. Aku mulai curiga ketika di sepanjang perjalanan dia tak henti-hentinya mengambil air minum. "Apa dia diabetes? Kok minum terus..?" tanyaku dalam hati. Aku tambah curiga ketika makin lama nyetirnya makin membuat kami pusing dan mual. Apa karena kondisi jalannya? Ah, tidak. Jalannya baik-baik saja kok.

Kecurigaanku akhirnya terjawab ketika kami hampir sampai di obyek yang pertama, Goa Gajah. "Maaf, saya mau cuci muka dulu. Ngantuk banget.." kata Nyoman. Waduh, pantas saja nyetirnya bikin pusing. Rupanya dia ngantuk. Ah, nggak profesional banget sih. Untuk apa kami membayar mahal kalau hanya membahayakan diri gara-gara sopir yang ngantuk.

Walaupun was-was, aku tetap berbaik sangka. "Semoga sehabis cuci muka, ngantuknya hilang" batinku. Tapi rasa was-was justru makin bertambah. Entah karena masih ngantuk atau karena lagi galau, si Nyoman ini ketika ditanya makin nggak nyambung dan nggak komunikatif sama sekali. Dan yang membuat senep, dia ini selalu merekomendasikan tempat makan yang mahal. Ah, benar-benar nggak aman jalan sama sopir ini, baik jiwa raga maupun biaya.

Hari 2: Pak Ketut yang nyentrik a.k.a genit

mobil pak ketut di pantai Pandawa
 
Karena tidak aman dan nyaman dengan sopir sebelumnya, kami meminta pihak e-kuta untuk mengganti sopir, dan mereka menyanggupi. Namun rupanya kami dibohongi oleh pihak e-kuta. Sampai dengan saat yang ditentukan, mobil sewaan kami tak kunjung datang. Kami mencoba menelpon semua nomor e-kuta, baik nomor kantor maupun hape, namun tak ada satupun yang mengangkat. Di-SMS juga nggak ada balasan. Akhirnya kami tunggu sampai 1 jam lebih. Dan ternyata benar-benar nggak datang.

Wah kenapa begini? Jelas kami kecewa sekali. Waktu kami di pulau ini cuma sebentar. Tapi malah terbuang sia-sia gara-gara di PHP-in sama e-kuta. Harusnya kalau nggak bisa, bilang terus terang, jangan terus kabur tanpa ada kejelasan. Setahuku rental e-kuta itu cukup besar dan bukan rental abal-abal. Tapi kejadian ini membuatku berpikiran sebaliknya.

Ya sudah, bagaimanapun kecewanya kami, "Life must go on" bukan? Akhirnya dengan bantuan pihak hotel, kami mendapatkan mobil sewaan beserta sopirnya. Harganya lumayan mahal sih. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kepepet.

"Nama saya Ketut" kata laki-laki nyentrik ini sambil mengulurkan kartu nama ke kami. Topi koboi, kacamata remang-remang dan kemeja batik warna ungu yang tidak dikancingkan, ditambah beberapa aksesoris, melengkapi penampilan sopir baru kami. Umurnya sudah tidak muda, namun gayanya modis maksimal. Pembawaannya cukup ramah dan lumayan komunikatif. Tapi aku menangkap ada binar genit di matanya. Dan itu terbukti saat dia mendekatiku di tepi pantai Pandawa. Tentu saja saat suamiku tidak ada di dekatku.

"Pantainya indah ya? Seperti di Paris.. " katanya sambil tersenyum. Kemeja ungunya berkibar-kibar tertiup angin.
"Hah? Paris? Paris mana pak?" tanyaku dengan muka bingung.
Jelas aku bingung. Mana ada pantai seindah ini di Paris? Setahuku Paris yang ada pantainya, ya cuma Paris yang di Jogjakarta, alias Parangtritis.
"Paris yang di Perancis donk.. Kamu udah pernah kesana belum?" dia melirikku genit.
Wah, sepertinya dia akan membawaku mengkhayalkan Paris, kota yang romantis itu. Daripada kebablasan mending aku bergegas kembali ke mobil. Dia mengikutiku. Kemudian membukakan pintu mobil untukku, seolah aku ini seorang puteri. Hmm.. Nice try :P

Hari 3: Bertemu bli Made "yaw"

Hari ketiga terpaksa kami ganti sopir lagi. Bukan karena kegenitan Pak Ketut loh. Tapi karena tarifnya terlalu mahal buat kami. Setelah searching sana sini akhirnya dapat juga rental mobil yang harganya masuk akal. Kalau nggak salah namanya rental mobil Kharisma. Pihak Kharisma memberikan kontak sopir yang akan mengantar kami.

"Yang mau nyopirin kita namanya Made" kata suamiku dengan nada tidak biasa. Aku hanya tersenyum saja.
"Kok mbales SMSnya begini ya?" tanya suamiku dengan nada yang makin tidak biasa.
"Begini gimana?"
"Baca deh. Masa' pakai kata 'YAW'? Bukannya dijawab 'baik' atau 'oke'. Jangan-jangan orangnya agak-agak 'gimana' gitu.." suamiku risau.
"Udahlah jangan berprasangka. Kali aja dia typo. Maksudnya 'ya', eh ketulis 'yaw'" aku mencoba netral, walaupun aku juga berpikiran kata-kata di-sms itu ga sopan, untuk orang yang baru kenal.

Alhamdulillah, bli Made "yaw" datang tepat waktu. Dan jauh berbeda dari bayanganku. Ternyata orangnya nggak 'gimana gitu'. Malahan cukup ramah, sopan, dan berpenampilan rapi. Sepertinya dia rajin merawat diri. Ah, lega deh.

Bli Made cukup menguasai jalan. Setiap tempat yang kami minta, dia siap mengantar sampai tujuan. Bahkan walaupun dia belum pernah ke tempat itu. Seperti ketika kami minta diantar ke Pantai Mengening. Dia sebenarnya belum tahu lokasinya, tapi dia nggak malu-malu mencari tahu dengan bertanya ke penduduk sekitar.

Selain itu, aku juga mengagumi pengetahuannya tentang kuliner halal di Bali ini. Tempat makan yang dia rekomendasikan, bukan hanya halal, tapi juga enak, enak sekali, dan murah. Pokoknya tenang, aman dan nyaman jalan dengannya. Helpful bangetlah. Suatu saat nanti kalau ke Bali lagi, aku mau diantar Bli Made "yaw" ajah.. Hehehe..

 ###

Itulah ceritaku tentang orang ketiga, semoga bisa diambil hikmahnya. Dan terima kasih sudah membaca.

Happy traveling ^^

Saturday, November 30, 2013

Ada Suka di Pantai Kuta

Buka facebook, pusing rasanya
Baca status teman-teman blogger yang isinya tentang Jogja semua
Nengok twitter, rasa iri malah melanda
Cuap-cuap mereka masih tentang Jogja saja
Iyalah, hari ini di Jogja sedang digelar event besar di dunia perbloggeran
Kopdar Blogger Nusantara 2013

Trus kenapa aku nggak ikutan?
Apa aku bukan blogger?
Tentu aku ini blogger walaupun bukan blogger kondang
Apa karena aku nggak punya uang?
Tentu aku punya, tapi kalau buat ke jogja memang pas-pasan.
Kecuali kalau ada yang ngasih gratisan
Apa aku sibuk dengan kerjaan?
Tentu, kerjaan akhir tahun yang pastinya tak bisa ditinggalkan
Apa lagi aku juga harus mendampingi anak-anakku belajar untuk ujian
Jadi beginilah.. Hanya bisa ngiler baca kabar gembira dari teman-teman perbloggeran


Ya sudah, daripada aku galau gundah gulana,
Lebih baik aku nongkrong saja di pantai kuta,
Duduk di teduhnya payung-payung berwarna pelangi
Sambil melototin bule-bule berbadan seksi yang sedang lari pagi
Ada juga yang membawa papan surfing berwarna warni
Hmm.. Segar sekali.. Dan kameraku ikut beraksi


Banyak juga yang menikmati pantai kuta bersama keluarga
Salah satunya sempat memintaku mengambil gambarnya
Bolehlah, daripada hanya nongkrong saja
Lebih baik aku membantu mereka

Sehabis motret orang lalu lalang,
rasanya seru juga kalau aku ikutan
bergaya ala model kesiangan
Walaupun kostum tak meyakinkan


Tanpa bikini, dan jauh dari seksi
Tak menyurutkan ambisi diri
Akupun bisa berpose bak angelina jolie
Yang terdampar di pulau Bali


Ternyata capek juga bergaya narsis ya
Mungkin karena aku sudah tua
Nggak pantas bergaya ala abege muda
Ah, Biarin ajah
Yang penting aku sukaaah..
Dadaaaah..


* Happy traveling *

Friday, November 22, 2013

Makan enak dan halal di Bali

Yeaay! Setelah beberapa hari nggak nongol di sini, akhirnya aku datang kembali membawa cerita soal makanan. Perlu teman-teman ketahui, demi postingan ini aku harus rela melakukan perjalanan jauh ke sebuah pulau yang indah, yaitu Bali. Eh kok kesannya pengorbanannya besar ya, padahal aslinya seneng banget kalau bisa jalan-jalan ke Bali.. Hehehe.

Oke, kembali ke topik awal. Urusan makan bagiku adalah nomer 1. Tak terkecuali ketika traveling. Kalau bisa, di setiap tempat yang baru, aku bisa merasakan makanan yang baru pula. Tapi sayangnya, untuk urusan makan di pulau dewata ini memang sedikit ribet. Maklumlah, pulau ini mayoritas penduduknya beragama Hindu. Jadi sebagai muslim aku harus hati-hati dalam memilih makanan. Jangan sampai sengaja maupun tak sengaja memakan makanan yang tidak halal. Lihat saja di mana-mana si babi guling dengan santainya bergelantungan di warung-warung makan. Apa nggak horor tuh.

Pernah nih aku menemukan sebuah rumah makan padang muslim. Tertera di plangnya 100% halal. InsyaAllah terjamin kehalalannya. Tapi masalahnya....persis di sebelah warung makan padang itu, ada sebuah warung babi guling! Dua warung, halal dan haram, bersanding dengan damai di sana. Mungkin ini yang disebut pluralisme. Ah damai untuk mereka, tapi tidak damai untukku. Mana bisa aku makan makanan padang dengan nikmat, sementara sudut mataku masih bisa melihat moncong si babi guling. Hiii.. Mending cari tempat yang lain deh.

Nah, mengingat segala keribetan mencari makanan halal, makanya banyak para traveler muslim mencari aman, dengan memilih makanan semacam KFC, MC Donald, atau masakan padang. Tapi kalau setiap makan harus ke mekdi, apa nggak bosan tuh? Makanya kali ini aku akan mengajak teman-teman mengintip makanan enak dan halal di Bali yang sempat aku cicipi. Di antaranya warung-warung berikut ini:

Nasi Pecel Bu Tinuk

dari seberang jalan

Warung pecel ini aku temukan secara tak sengaja. Kebetulan aku menginap di hotel yang gangnya berseberangan persis dengan warung pecel ini. Letaknya di jalan Raya Kuta. Warungnya cukup besar dan mencolok, jadi gampang dicari. Berada di seberangnya hotel Ibis Kuta. Bagaimana rasanya? Lumayan enak, tapi standar aja. Nasi pecel jawa timuran. Kalau nggak suka pecel, jangan kuatir, menunya bukan cuma pecel kok. Aku sendiri malah memilih menu ayam bakarnya. Dan menurutku rasanya lebih maknyus dibanding pecelnya. Harganya juga standar, nggak murah tapi nggak kemahalan juga. Tergantung menu apa yang kita pesan. Lumayan lebih murah dibanding makan di mekdi. Cara pembayarannya cukup unik. Kita akan diberi kartu yang tertera harga makanan kita. Setelah makan tinggal kita bayar sesuai harga yang tertera di kartu. Praktis.

bagian dalamnya ada logo halalnya
kartu harga
Di sekitar warung pecel Bu Tinuk ini, banyak kok rumah makan halal. Kebanyakan pemiliknya pendatang dari Banyuwangi, Jawa Timur. Ada warung soto, bakso, mie ayam, sate kambing, dll. Tinggal pilih saja.

Ayam Betutu Khas Gilimanuk


Pasti teman-teman sudah sering dengar rumah makan ini. Itu loh yang warungnya ada gambar badut bali. Cabangnya ada di mana-mana, bukan hanya di Bali saja. Bahkan di Jakarta juga ada. Tapi konon katanya ayam betutu khas gilimanuk yang di jalan raya Tuban Kuta lah yang paling enak. Pantas saja warung ayam betutu ini ramai sekali pengunjungnya. Bahkan banyak yang rela berdiri demi menunggu bangku kosong. Wuih, pasti rasanya istimewa sekali.

ramai pengunjung
Aku pesan 1 porsi ayam betutu setengah ekor, harganya Rp 40.000. Mahal juga ya? Sedangkan suamiku memilih ayam bakar biasa setengah ekor, harganya cuma Rp 20.000. Lah sama-sama setengah ekor kenapa harganya beda? Rupanya 1 porsi ayam betutu, isinya bukan hanya ayam saja, tapi ada plecing kangkung ukuran besar, sambal matah, dan kacang sangrai. Rasanya wuiiih nikmat banget. Pedes, seger, dan bumbunya meresap banget. Dan sambel matah yang isinya irisan bawang merah itu, ternyata enak loh.
Di sini menunya nggak cuma ayam betutu aja. Tapi ada bebek betutu juga, ada pula nasi campur, dan menu yang lain. Sebenarnya aku pengen coba nasi campurnya, tapi sayang saat itu nasi campurnya udah habis.

ayam betutu yang maknyus

Nasi Pedas Ibu Andika

Ini nih salah satu rekomendasi dari Bli Made, sopir mobil sewaan kami. Aku bilang ke dia "Tolong carikan tempat makan yang enak dan halalan toyiban". Dan saat memasuki Jl. Patih jelantik, depan petokoan Kuta Galeri. Dia memberi pilihan "Mau Nasi Pedas Ibu Andika atau Warung Mbok Limbok?". Kami pilih Nasi Pedas Ibu Andika. Menunya masakan Indonesia rumahan. Sistemnya mirip dengan Nasi pecel Bu Tinuk. Kita pilih makanannya, terus kita diberi kartu harga. Masakannya enak-enak. Menurutku lebih enak dari masakannya Nasi pecel Bu Tinuk. Dan yang istimewa adalah sambelnya. Namanya juga nasi pedas. Pasti sambelnya pedas banget. Aku pesan nasi putih dengan lauk suwiran ayam, kripik usus, dan sayur daun singkong. Alhamdulillah enaaaak dan kenyang. Harganya juga standar, nggak jauh beda dengan harga di warung pecel Bu Tinuk.

pesananku
si chubby tukang makan

Oh iya, di dekatnya ada Warung Mbok Limbok, menunya ayam kalasan. Katanya sih enak, tapi aku belum nyoba. Mungkin lain kali bisa dicoba.


Nasi Bebek Warung Bu Rima

maap.. ada penampakan pantat penjualnya.. #eh
Ini juga rekomendasi dari Bli Made. Dari puluhan masakan bebek yang pernah aku coba, nasi bebeknya ibu Rima ini yang paling lezat rasanya. Sueeer deh. Resto Bebek Kaleyo ga ada apa-apa! Kalah jauh. Padahal tempatnya sederhana saja, berada di sebuah ruko di jalan Raya Kuta. Menurut keterangan Bli made, warung ini mulai buka saat sore hari, sampai dengan dini hari. Dan selalu ramai pengunjungnya. Apa sih istimewanya? Yuk kita lihat makanan yang aku pesan.

pesanan datang
Seporsi bebek goreng. Seperti pada umumnya, seporsi bebek goreng terdiri dari sepotong bebek goreng, ditambah lalapan, dan sambal. Bedanya, bebek goreng di sini teksturnya empuk dan lembut, nggak liat, nggak keras. Di atasnya disiram kuah santan kental, yang guriiiih banget. Lalapannya juga beda dari yang lain. Kalau biasanya lalapan itu isinya kol, selada, ketimun dan kemangi, tapi di sini lalapannya isinya kol dan daun bayam rebus. Sambalnya juga pas pedasnya, pas enaknya. Pokoknya rekomended banget. Untuk dua porsi bebek goreng plus 2 nasi putih, ditambah 2 gelas jeruk hangat, dihargai Rp 60.000.

pemandangan dari seberang jalan

Di sekitar warung Bu Rima, banyak loh tempat makan yang halal. Telusuri saja sepanjang jalan raya Kuta. Macam-macam kulinernya. Ada yang di ruko, ada pula di warung tenda. Ternyata banyak juga ya makanan halal di Bali, asal kita mau jeli.

Selamat makan-makan dan jalan-jalan
Happy traveling ^^



Wednesday, November 13, 2013

Taman Sari, Tempat Mandi Para Putri

 

Laki-laki setengah baya berperawakan tinggi besar itu, membawa kami menyusuri jalanan sempit di sela-sela pemukiman penduduk. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa benar ya ini jalan menuju Taman Sari? Kok lewat pemukiman penduduk sih? Seolah tahu pikiranku, laki-laki itu, yang adalah guide kami, menunjuk sebuah bangunan tua mirip seperti benteng, dan berkata "Taman Sarinya ada di dalam sana, ada beberapa bagian. Dan kita akan masuk dari benteng itu"
"Ouuu.." sahut kami hampir berbarengan.
Sebenarnya adikku pernah mengunjungi Taman Sari ini. Tapi dia mengaku sempat nyasar dan muter-muter di pemukiman penduduk, karena bingung nyari jalannya. Karena itu, dia menyarankan agar kami memakai jasa guide. Nggak mahal kok tarifnya, biasanya cukup Rp 20.000 saja.

Sudah sering kami ke Yogyakarta, tapi baru kali ini mengunjungi Taman Sari. Konon, dua ratus tahun yang lalu, Taman Sari merupakan sebuah tempat rekreasi dan kolam pemandian bagi Sultan Yogyakarta dan seluruh kerabat istana. Taman Sari yang artinya taman yang indah ini, terletak tidak jauh dari kompleks Keraton Yogyakarta. Bangunannya memang sudah sangat tua, bahkan ada beberapa bagian yang sudah hancur karena perang dan gempa bumi. Namun aku masih bisa membayangkan keindahannya di masa lalu. Bahkan aku sempat membayangkan kalau aku jadi putri atau selir Sultan di masa itu.. Hihihi. Beginilah, entah mengapa setiap berada di bangunan tua, aku selalu mengkhayalkan diriku hidup di masa itu. Halah



Pertama-tama si bapak tinggi besar itu mengajak kami masuk ke bagian benteng. Benteng ini merupakan bagian dari Taman Sari. Jadi walaupun namanya taman, namun bangunan yang ada disana bukan hanya taman saja. Tapi ada masjid, tempat istirahat, kolam pemandian, dan benteng. Rupanya selain sebagai sarana rekreasi, taman ini berfungsi juga sebagai sarana untuk menghadapi situasi bahaya, makanya dibangunlah sebuah benteng. Tidak banyak yang bisa kami nikmati di benteng ini, karena bangunannya sudah banyak yang hancur. Ah, sayang sekali.

masjid bawah tanah

rombongan bule
Selanjutnya si bapak guide menggiring kami ke bangunan yang disebut sebagai masjid. Hmm? Masjid? Di mataku ini tidak seperti sebuah masjid pada umumnya. Masjid yang berada di bawah tanah ini, berbentuk membundar dari dindingnya hingga ke langit-langit. Ada 2 tingkat, tingkat bawah untuk jama'ah perempuan, dan yang atas untuk jama'ah laki-laki. Yang lebih unik lagi adalah tangga yang menghubungkan antara lantai 1 dan 2. Tangga tersebut berada di tengah-tengah bangunan masjid, berjum'ah 5 buah, dengan poros ditengahnya. Pak guide menjelaskan bahwa lima buah tangga itu melambangkan lima rukun Islam. Dan di bawah tangga itu ada kolam untuk mengambil air wudhu. Masjid dan tangga itu memang unik, makanya banyak wisatawan baik lokal maupun luar negeri, bergaya narsis di sana. Trus giliranku narsis kapan nih? Gantian dong!

tangga di tengah masjid
Habis dari masjid, yuk mari mendinginkan badan dulu di kolam pemandian Taman Sari. Wah suara gemericik airnya sudah terdengar. Kubayangkan di siang yang panas ini, aku bisa nyemplung di kolam pemandiannya, pasti segar rasanya. (Eiits.. Emangnya boleh nyemplung? Lo pikir ini waterboom? #plak). Kolam pemandian ini ada 3 bagian, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk para putri), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk sultan). Di kolam untuk sultan, terdapat sebuah menara. Dari menara itu sultan mengintip para selirnya yang sedang mandi. Dari situ pula Sultan akan melemparkan sebuah bunga ke arah kolam para selir. Nah selir yang kena lemparan bunga itu, dialah yang akan menemani sultan mandi. Nulis ini kok rasanya jadi malu sendiri, jadi mbayangin sultan dan selir mandi bareng #tutupmuka #sensor.

gapura taman

menara tempat ngintip selir di umbul pamuncar

Sudah ya, itu saja yang bisa aku ceritakan tentang Taman Sari ini. Sebenarnya masih banyak bagian-bagian lain yang unik dari Taman Sari ini. Tapi berhubung aku ini kurang suka pelajaran sejarah (bukan nggak suka sejarah), dan nggak senang menghafal, makanya hanya ini saja yang bisa aku serap dari penjelasan si bapak jangkung, guide kami. Kalau teman-teman masih ingin tahu lebih banyak bisa kunjungi langsung ke tempatnya. Masa' sih kalah sama turis-turis manca negara. Saat kami berkunjung ke Taman Sari waktu itu, justru lebih banyak turis asingnya loh daripada wisatawan lokal.

bule main air di umbul panguras


putri atau selir? :P
Eh iya, rupanya kami boleh kok mencelupkan kaki di air kolam pemandiannya. Aaiih.. Seger banget deh...
Happy traveling ^^

Thursday, November 07, 2013

Yeaay..! Kopdaran

Kurang lebih sudah 2 tahun aku menjadi blogger aktif. Maksudnya aktif adalah rutin membuat postingan, walaupun intensitasnya masih di bawah para blogger-blogger senior. Dan selama 2 tahun itu, aku banyak berinteraksi dengan para blogger lain. Baik melalui komunitas blogger maupun dari komen-komenan di postingan. Awalnya sih agak minder juga komen di postingan orang dan di grup. Tapi karena teman-teman blogger ini tak segan-segan memberikan komentar di blog-ku, makanya akupun berusaha melakukan hal yang sama. Dari situ aku mengenal yang namanya blogwalking. Blog artinya blog, dan walking artinya jalan-jalan. Jadi blogwalking itu artinya jalan-jalan dari blog yang satu ke blog yang lain. Ternyata kegiatan blogwalking ini menyenangkan. Kita bisa kenalan sama blogger yang lain, juga bisa menambah wawasan dan ide. Dan sebagian besar info-info lomba yang aku ikuti, berasal dari kegiatan blogwalking ini. Bahkan ada temanku yang menemukan jodohnya lewat blogging dan blogwalking loh. Kalau aku sih cukuplah menambah teman saja, bukan mencari pasangan hidup.. Hehehe

Nah, tentang menambah teman, Alhamdulillah lewat blog, aku mendapatkan banyak teman baru. Walaupun hanya sebatas di dunia maya, alias belum pernah ketemu secara live, atau secara langsung. Dan aku cukup puas dengan keadaan itu. Tapi, makin lama aku makin penasaran, gimana sih rasanya ketemu sama teman-teman dunia mayaku. Apalagi banyak teman-teman blogger yang menceritakan pengalamannya kopdaran sama blogger lain, yang kelihatannya seru banget. Sebenarnya cukup sering komunitas emak-emak blogger mengadakan acara kopdar, tapi aku masih minder untuk ikutan *malu*. Pernah juga beberapa teman blogger ngajak ketemu, tapi aku nggak bisa karena bertepatan dengan acara keluarga.

Karena itulah sampai sekarang aku jarang sekali kopdaran dengan blogger lain. Setelah kopdaranku dengan Mas Seagate setahun yang lalu, aku belum pernah kopdaran lagi, hingga hari ini. Yup! Akhirnya aku kopdaran lagi dengan sesama blogger. Ayo tebak siapa dia? Hehehe.. Dia adalah seorang blogger cantik berperangai lembut, anggota dari KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger), yaitu mak Astin Astanti. Bisa dibilang kami ini berjodoh. Berawal dari saling komen di blog, berlanjut dengan berteman di facebook. Kebetulan kami sama-sama suka merajut, jadilah sering diskusi masalah perajutan. Habis dari facebook, kami lanjutkan di whatsapp. Dari hasil ngobrol-ngobrol di WA, ternyata terungkap bahwa kantor pusat tempat mak astin bekerja, dekat sekali dengan kantorku. Itu berarti, suatu saat nanti, kalau mak astin ditugaskan ke kantor pusat, kami bisa ketemuan. Asiiik... ^^

Dan akhirnya hari yang dinanti-nanti itu tiba *kaya' nunggu hari gajian*...hehehe. Kemarin Rabu, jadi juga kami ketemu di jam istirahat kantor. Tepat jam 12.30, kami ketemu. Tak ada acara tunggu-tungguan yang memakan waktu. Karena sebagai pegawai kantoran yang waktunya sangat ketat, kami harus disiplin, dan pandai memanfaatkan waktu. Molor sedikit, bisa bikin kacau urusan kantor (dasar emak-emak kantoran sok sibuk, gaya banget ngomongnya :P).

Sebelum ketemu tentunya aku sempat bertanya-tanya, seperti apa ya penampakan aslinya mak astin ini. Kalau di dunia maya, secara fisik aku melihat mak astin ini cantik, imut, dan langsing. Kalau secara sifat, sepertinya mak astin ini orang yang selalu ceria, dan penuh semangat. Bagaimana aslinya ya? Dan rasa penasaranku perlahan terjawab ketika seorang wanita berkerudung orange tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Dialah mak Astin Astanti. Ternyata aslinya memang cantik dan langsing. Tapi tinggi badannya sedikit lebih tinggi dari bayanganku.

Seolah tak ingin membuang-buang waktu kami langsung capcus ngobrol ngalor ngidul, tentang banyak hal. Saking asiknya ngobrol, aku sampai nggak inget gimana rasa pecel lele yang aku santap saat itu.. Hihihi. Seru banget ngobrol sama mak Astin ini. Padahal kami belum pernah ketemu tapi rasanya seperti udah kenal lama. Obrolan kami cukup padat, dengan berbagai tema. Dari curhatnya mak Astin seputar lomba Acer-nya, curhatku tentang si bos yang unik, tentang keluarga, anak-anak, transportasi, kampung halaman, perajutan, perpajakan, dan tentu saja tentang perbloggeran, gimana cara membagi waktu antara karier, keluarga, dan blog.. Cieee.. #gaya :D
Dan nggak terasa waktu sudah menunjukkan jam 13.05. Kami harus buru-buru kembali ke dunia kerja. Kalau telat bisa dipelototin sama bos. Sayang, padahal yang mau diobrolin masih banyak. Tapi, mau bagaimana lagi, sebagai pegawai yang baik, kami harus disiplin bukan?

Eh, nggak seru kalau kopdar tanpa foto-foto, nanti dikira hoax.. Hehe.. Sebelum berpisah kami foto-foto dulu di samping gedung kantornya mak Astin. Dan tepat jam 13.15, akhirnya kami berpisah. Walaupun pertemuan kami hanya sebentar, tapi cukup menyejukkan hati, di tengah-tengah kesibukan kami. Ternyata kopdar itu seru banget yaa.. Hayoo siapa yang mau kopdaran ama aku? Hihihi


 aku dan mak Astin

Thursday, October 31, 2013

Mama Jangan Mati

Kemarin malam sebelum berangkat tidur, tiba-tiba Ariq berkata "Kalau Ariq udah gede, Ariq mau kerja kaya' mama".
"Iya nak" jawabku.
"Tapi kalau Ariq udah gede, berarti Mama udah tua donk"
"Ya iyalah"
"Kalau mama tua, berarti mama bentar lagi mati donk"

Jleb! Mati. Dari bibirnya yang mungil, Ariq mengingatkanku akan kematian. Yah, memang normalnya manusia mati di saat sudah tua. Tapi banyak pula manusia mati tanpa harus menunggu usia tua tiba. Termasuk manakah diriku ini? Tak ada yang tahu. Berapa lama lagi aku menikmati dunia? Tak pernah ada petunjuknya. Hanya Allah yang yang menyimpan rahasia.

Kuhitung-hitung usiaku kini, dan kuperkirakan kapan aku akan mati. Kalau aku mengikuti siklus normal kehidupan manusia, kemungkinan masa hidupku tinggal tiga puluh tahunan lagi. Tiga puluh tahun bukan masa yang lama. Buktinya, usiaku sekarang sudah kepala 3, tapi rasanya baru kemarin aku masuk TK. Baru kemarin rasanya aku meringkuk nyaman dalam gendongan ibuku. Ternyata tiga puluh tahun itu waktu yang singkat.

Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan tiga puluh tahun yang tersisa? Apa aku masih saja berkutat dengan pekerjaan kantor yang menguras waktu dan energi, sehingga waktu untuk keluarga sangat kurang? Atau malah mengejar duniawi, hingga melupakan kehidupan akhirat? Bagaimana dengan anak-anakku? Mampukah aku mendampingi mereka dan mengantarkan mereka ke kehidupan yang lebih baik? Mampukah aku mendidik anak-anakku menjadi manusia yang berguna, hanya dengan tiga puluh tahun yang tersisa?

Rasanya waktu yang ada sangat kurang untuk semua itu. Padahal itu perkiraan normal usia matiku nanti. Bagaimana kalau ternyata aku termasuk yang tidak normal, alias mati lebih cepat dari perkiraan di atas? Bagaimana kalau dua puluh atau sepuluh tahun lagi aku mati? Siapkah? Atau bagaimana kalau tahun depan atau besok aku mati? Apa yang bisa aku lakukan? Aku tak punya bekal apa-apa untuk kehidupan di akhirat. Aku juga belum memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk dunia yang kutinggalkan.

Sayangnya, kematian itu tak mengenal kompromi. Siap atau tidak, jika sudah waktunya, aku tak bisa mengelak. Bagaimanapun aku mencari alasan, tetap tak bisa mengundur kematian.

"Mama..." suara Ariq mengusik lamunanku.
"Mama jangan mati.. Aku nggak mau pisah sama mama" kata Ariq dengan wajah sedih. Aku hanya bisa tersenyum, dan tak mampu menjawab kata-katanya.
Tiba-tiba Lita menyahut "Ariq... Mana bisa mama nggak mati. Semua manusia itu bakal mati. Kita semua pasti mati nanti"

Benar, semua makhluk yang hidup pasti akhirnya mati. Jika ingat itu, masihkah aku bisa membanggakan diri, sementara kematian selalu mengintai. Setiap detik waktu yang bergulir, semakin mendekatkanku pada kematian. Sadarlah manusia, kita semua sedang mengantri untuk mati...

Thursday, October 24, 2013

Menyapa Senja di Embung Nglanggeran


Suasana senja selalu asyik untuk dinikmati. Sinar matahari yang meredup, membawa rona jingga dan keemasan yang berpadu indah di langit yang mulai gelap. Romantis.. Tak heran jika banyak penggemar fanatik dari sang senja. Dan banyak yang melakukan traveling 'hanya' untuk mengejar momen senja alias matahari terbenam ini. Coba lihat saja Uluwatu dan pantai Kuta, yang ramai dikunjungi orang di saat malam menjelang. Semua itu demi menyaksikan momen sunset yang konon sangat indah di tempat tersebut.

Akupun termasuk pecinta senja. Makanya ketika suamiku mengajakku mengejar sunset ke Embung Nglanggeran, aku langsung menyetujui. Walaupun sebenarnya ketika itu aku nggak punya gambaran sama sekali seperti apa tempat yang dinamakan Embung Nglanggeran itu. Dan aku yakin, banyak dari pembaca blog-ku ini yang juga belum tahu apa itu Embung Nglanggeran. Yang jelas, tempatnya bukan di pantai, tapi di pegunungan. Wah, makin bikin penasaran. Menikmati sunset di pantai, itu sudah biasa. Tapi menikmati sunset di pegunungan, itu baru berbeda. Seperti apa bedanya? Yuk simak terus ceritaku ~_^

Jadi apakah Embung Nglanggeran itu? Embung adalah sebuah kata dalam bahasa jawa yang artinya tampungan air. Sedangkan Nglanggeran adalah nama sebuah desa di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Di desa Nglanggeran ini terdapat sebuah gunung api purba, yang konon pernah aktif sekitar 30-60 juta tahun yang lalu. Dan kini kawasan gunung api purba tersebut dijadikan tempat wisata, yang bernama Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Wuih, nggak nyangka di Gunung Kidul ternyata ada peninggalan jaman purba. Nah, Embung Nglanggeran ini merupakan salah satu obyek wisata di kawasan tersebut.

Kami mulai melakukan perjalanan ke arah Nglanggeran dari Pantai Siung, sekitar pukul 2 siang hari. Setelah puluhan menit perjalanan sampailah kami di desa Nglanggeran, kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Tapi bukan Gunung Kidul namanya kalau jalannya lurus-lurus saja. Tentu saja jalan menuju Nglanggeran juga begitu adanya. Bahkan lebih parah dari jalan menuju daerah pantai. Ya iyalah, inikan menuju ke pegunungan. Jadi selain berkelok-kelok, jalannya juga menanjak curam, dan banyak tikungan tajam. Yang makin memperparah adalah kondisi jalannya yang masih alami, alias masih berbatu-batu, dan sempit. Lebarnya hanya muat untuk satu mobil saja. Aku jadi membayangkan bagaimana kalau papasan dengan mobil lain. Untungnya jalan di kawasan ekowisata ini dibuat satu arah, artinya jalan masuknya berbeda dengan jalan keluarnya. Jadi nggak usah kuatir. Tapi tetap harus ekstra hati-hati dalam mengemudi, dan siapkan performa kendaraan yang prima, setidaknya yang kuat dibawa nanjak.

  
Akhirnya sampailah kami di parkiran area Embung Nglanggeran yang cukup luas, dengan pemandangan yang menawan. Dari brosur yang dibagikan tertulis bahwa kawasan Gunung Api Nglanggeran ini berada di ketinggian antara 200-700 mdpl dengan suhu udara rata-rata 23 derajat celcius - 27 derajat celcius. Hmmm, pantas saja udaranya sejuk, walaupun berada di tanah lapang seperti di parkiran ini. Area Embung Nglanggeran ini di kelilingi bukit-bukit berbatu, dengan tebing-tebing yang besar. Di sela-selanya tumbuh pepohonan yang hijau dan subur. Dan karena kita berada di dataran tinggi, maka kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta dari sini. Asyik kan? Eh, ini baru area parkirnya. Lalu dimana letak embungnya? Rupanya, untuk mencapai ke embungnya kita harus menaiki ratusan anak tangga. Waduh lumayan tinggi juga. Bisa ngos-ngosan nih. Ah, dasar body tua. Tapi jangan kuatir, menaiki anak tangganya nggak akan berasa ngos-ngosan kok. Soalnya semakin ke atas pemandangannya semakin keren, jadi makin terpacu untuk terus naik. Apalagi di sini udaranya sejuk dan segar, bebas dari polusi. Anggap saja lagi olah raga. Kalau capek, bisa leyeh-leyeh sebentar di gardu-gardu yang sudah disediakan. Sembari leyeh-leyeh, boleh donk bernarsis ria dulu.. hehehe.

 

Nah, sampai deh di embungnya. Ternyata penampungan air ini luas sekali. Seperti kolam ikan raksasa. Tapi tentu saja pengunjung dilarang nyebur di embung ini. Embung Nglanggeran ini merupakan embung buatan yang fungsinya sebagai sumber pengairan kebun buah seluas 20 hektar. Embung ini bukan hanya bermanfaat, tapi juga menyajikan pemandangan yang memukau. Sebuah kolam tenang di puncak ketinggian, dengan latar belakang tebing-tebing yang besar dan kokoh, dan pemandangan lepas yang menawan. Semua tampak indah dilihat dari ketinggian ini. Disinilah kami akan menunggu dan menyapa senja. Tak sabar rasanya ingin melihat kecantikannya. Puluhan pengunjung juga mempunyai maksud yang sama. Saat matahari mulai meredup, mereka justru enggan meninggalkan embung ini. Sayang rasanya melewatkan momen romantis ini. Makin sore angin bertiup makin kencang dan dingin. Aku berharap nggak masuk angin, dan tetap bertahan.




Matahari mulai tenggelam, memberikan warna orange keemasan dan warna jingga. Semburatnya terpantul di permukaan air embung yang tenang. Sedangkan siluet kerumuman pengunjung yang menyaksikan senja, malah semakin menghidupkan keindahannya. Sempurna.


Happy traveling ^^