Tuesday, August 27, 2013

Berani Pacaran?


gambar dari sini

Sebenarnya postinganku ini masih ada hubungannya dengan postinganku sebelumnya. Bukan tentang travelingnya, tapi tentang fenomena remaja-remaja muda belia yang makin marak pacaran di mana-mana. Entah ini akibat dari apa, hingga sepertinya makin banyak saja yang tidak malu mengumbar kemesraan secara berlebihan di tempat umum. Pertanyaannya adalah, di tempat umum saja mereka berani separah itu, apalagi di tempat tak umum.

Seperti yang aku saksikan malam itu, saat aku dan suami menikmati makan malam di resto Bebek Kaleyo Bintaro. Aku sengaja memilih tempat duduk di lantai atas yang menghadap ke taman. Hasrat hati ingin menikmati suasana taman yang kerlap kerlip di malam hari, tapi kami malah disuguhi tontonan 18 tahun keatas, secara live! Puluhan pasangan menempati beberapa spot di taman itu. Bisa dibilang itu acara pacaran berjamaah. Dari om-om hingga anak ingusan. Bahkan beberapa ada yang masih memakai baju seragam sekolah.

Jiwa emak-emakku muncul ketika aku melihat remaja putri berseragam SMA (lengan baju dan rok-nya panjang, sepertinya dari sekolah Islam), sedang 'sangat dekat' dengan seorang cowok yang tampaknya sangat agresif. Ngeri sekali melihat pemandangan ini. Tiba-tiba aku ingat anak perempuanku di rumah. Sanggupkah aku menjaganya untuk tidak berbuat seperti itu kelak. Saat teman-temannya ramai-ramai berpacaran, apakah anakku sanggup menahan diri untuk tidak mengikuti arus?

Mungkin ada yang bilang "Ah, Cova sok suci.. Kaya' nggak pernah pacaran aja". Nah, justru karena aku pernah pacaran, makanya aku tahu betul tantangan apa yang dihadapi saat memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa ikatan seperti ini. Aku tahu bagaimana rasanya menahan diri untuk tidak berbuat macam-macam. Apalagi kalau punya pacar yang 'nakal', dan atas nama cinta membujuk untuk memenuhi nafsunya. Karena takut diputusin atau karena saking cintanya, maka 'terpaksa' memenuhi keinginan pacarnya. Sungguh sebuah pemikiran yang sempit. Padahal, lebih baik diputusin, daripada sudah berbuat terlalu jauh, tapi akhirnya putus juga. Lebih rugi mana coba?

Bukan kerugian masalah kehormatan saja loh, tapi juga dalam pergaulan. Banyak pengakuan, bahwa pacaran membuat diri menjauh dari teman-teman. Sibuk kesana kesini sama pacar. Pokoknya apa-apa berdua. Apalagi kalau pacar cemburuan, dan melarang dekat-dekat dengan teman lain. Wah, bisa nggak eksis lagi deh. Selain itu, ada lagi kerugian materi. Bayangkan saja, masih sekolah, uang saku pas-pasan, tapi harus rela menraktir pacar. Lagi-lagi atas nama cinta semua itu dijalani. Ah, anak-anak remaja ingusan, tahu apa kalian tentang cinta.

"Cov, pacaran itu kan untuk penjajakan, biar lebih mengenal dan nggak kaget saat menikah nanti". Menikah? Lah remaja-remaja usia sekolah kok mikirin nikah. Masih jauh kaliiiiii... Tugas mereka itu sekarang belajar, memperluas wawasan, pergaulan dan ketrampilan, sebagai bekal hidup di masa depan. Hingga saatnya menikah nanti, sanggup menafkahi anak istri dengan cukup, lahir batin.

Dan kata-kata kalau pacaran itu sebagai pengenalan diri pasangan sebelum menikah, itu hanya MITOS. Banyak loh yang pacarannya lama, lalu menikah, tapi pada akhirnya malah bercerai. Bahkan usia perkawinannya lebih pendek dari masa pacarannya. Aku sendiri menjalani masa pacaran selama 4 tahun, sampai sekarang sudah menikah bertahun-tahun, tapi masih saja bingung dengan sikap antik suamiku #curcol. Jadi nggak ada bukti nyata bahwa dengan pacaran membuat kita lebih mengerti pasangan.
So, masih berani pacaran?

Saturday, August 24, 2013

Air Terjun Kedung Kayang: Keindahan yang Ternoda

Air terjun Kedung kayang, adalah sebuah air terjun yang terletak di Desa Wonolelo, Sawangan, Kabupaten Magelang, tidak jauh dadi Ketep Pass. Makanya sayang sekali kalau sudah sampai ketep pass tapi tidak mampir kesana. Apalagi kami yang menyebut diri sebagai waterfall lover, sudah pasti akan memburunya. Dan seperti sudah aku sadari sejak awal, bahwa umumnya sebuah air terjun berada di lokasi yang cukup sulit. Semakin sulit medannya, dijamin pemandangannya makin memukau, karena makin terjamin keasliannya.

Namun aku benar-benar tak menduga, ternyata medan menuju lokasi air terjun kedung kayang itu tingkat kesulitannya sangat tinggi. Setelah memarkir kendaraan dan membayar tiket masuk, kami masih harus berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju lokasi air terjun, dengan kondisi jalan yang masih sangat alami, berliku-liku, berbelok-belok, naik turun, terjal dan licin. Ditambah dengan tidak adanya penunjuk arah yang jelas. Sempurna sekali untuk membuat kami nyasar.

Ya, kami benar-benar nyasar. Rupanya kami salah berbelok, dan jalan salah itu membawa kami ke lokasi buntu yang pemandangannya wow banget! Yaitu pemandangan air terjun kedung kayang dari atas, lengkap dengan dataran berbukit-bukit yang menghijau. Kereeen! Rasa lelah dan ngos-ngosan langsung terobati melihat pemandangan yang memukau itu. Sejenak kami menikmati suasana di sana. Dan mengabadikan beberapa spot.

 

Sebenarnya aku masih betah berada di tempat itu. Tapi suami dan anakku, Ariq, tidak puas hanya memandang air terjun dari atas. Mereka bersikeras ingin menjangkau bagian bawah air terjun, agar bisa main air. Sedangkan kami para wanita, merasa risau dengan track yang harus kami lalui nanti. Sampai bagian ini saja susahnya minta ampun, apalagi kalau sampai ke bawah sana. Kulihat, anak perempuanku Lita sudah kelelahan. Fisiknya memang tak sekuat Ariq. Dan perlu diingat saat itu masih bulan Ramadhan, jadi kami semua sedang berpuasa. Kebayang kan gimana rasanya menahan haus dahaga karena kelelahan dan ngos-ngosan.
"Masa' udah sampe sini, nggak sekalian ke bawah. Sayang donk" paksa suamiku.
"Ayo ma.. Ariq pengen main air" paksa Ariq juga.
Ya sudahlah, akhirnya kami mengikuti mereka. Lagian mau nunggu di tempat ini juga ngeri, habis tempatnya sepi.


Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba Lita menarik-narik lengan bajuku. "Ma, dua orang yang duduk di gardu itu lagi CIUMAN" bisik Lita.
"Ciuman?? Astaghfirullah.. Kak Lita lihat??" tanyaku kaget.
"Sempet lihat bentar, tapi aku langsung tutup mata"
Ya Allah, geram rasanya mendapati anakku yang masih di bawah umur "dipaksa" melihat adegan tak senonoh seperti itu. Kok bisa mereka nggak malu berbuat "gituan" di tempat umum. Memang tempatnya sepi, tapi kan tetap ada orang lain juga, seperti kami ini. Yang lebih miris lagi, mereka melakukannya di bulan Ramadhan! Dan setelah kuperhatikan di sekitar lokasi itu, rupanya bukan hanya pasangan itu saja, tapi masih ada lagi beberapa pasangan yang sedang pacaran. Parahnya lagi, kalau kuperhatikan, dari wajah dan perawakannya, mereka itu masih anak-anak, paling-paling seumuran anak SMP. Ah, andai orang tua mereka tahu, pasti sedih sekali.

Sungguh miris, tempat yang indah harus ternoda dengan perilaku orang-orang ini. Rupanya suasana yang sepi dan sulit dijangkau, mereka manfaatkan untuk berbuat yang tidak-tidak. Tak hanya itu saja. Untuk mengabadikan momen pacarannya, mereka mencorat-coret tempat tersebut dengan nama mereka, plus kata-kata norak. Ada di batu sungai, di dinding gardu, di plang, di jalanan, bahkan di pohon. Sungguh tega sekali mengotori tempat ini! Bagaimana bisa kita pasrahkan kelangsungan bumi kita pada generasi muda model begini? Sambil berjalan ngos-ngosan aku memberi wejangan ala emak-emak kepada kedua anakku dan adikku yang masih jomblo. Amit-amit deh, kalau sampai mereka berbuat seperti itu.


Jalan yang kami lalui makin lama makin menantang. Turunan terjal yang sempit dan licin memaksa kami harus ekstra hati-hati. Dan aku mengomeli diriku sendiri yang menggunakan flat shoes saat itu, bukannya memakai sandal gunung. Ah, salah kostum. Sayup-sayup kudengar suara air dan orang yang yang berteriak kegirangan. Berarti sudah hampir sampai. Beberapa langkah kemudian, pemandangan inilah yang kami temui...



Ah, indahnya... Ah, capeknya... Haus pula..


***
Tips jika ingin kesini:
1. Jangan kesini di saat musim hujan! Saat musim hujan debit airnya sangat banyak dan arus sungainya sangat deras. Berbahaya!

2.  Gunakan pakaian yang nyaman dan tidak membatasi gerak. Jangan pakai baju pesta!
3.  Pakai alas kaki yang nyaman dan tidak licin, misalnya sandal gunung. Jangan pakai highheels!
4.  Bawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Di area air terjun nggak ada yang jual makanan. Tapi jangan buang sampah sembarangan!
5.  Siapkan fisik yang prima
6.  Dan jangan lupa berdoa.

Happy traveling ^^

Tuesday, August 20, 2013

Ketep Pass Theatre, Tragedi Rekaman Merapi

Momen libur lebaran dan pulang kampung selalu aku manfaatkan seefektif dan seefisien mungkin selain untuk silaturahmi, juga untuk jalan-jalan. Namun cuti bersama yang ditempatkan sebelum hari lebaran, cukup merisaukan. Karena, itu berarti beberapa acara jalan-jalan harus dilakukan pada saat kami menjalankan ibadah puasa. Bagi kami para orang dewasa insya allah kuat. Tapi bagaimana dengan anak-anak? Nah, demi menjaga ibadah puasa kami tetap lancar, tapi juga tetap bisa jalan-jalan, maka aku memutuskan melakukan traveling ke tempat yang sejuk dingin saja. Setidaknya di tempat itu kami nggak jadi kehausan karena kepanasan.


Dan inilah pilihanku, Ketep Pass. Bagi warga Magelang tentu sudah tidak asing lagi dengan nama tempat wisata ini. Akupun sudah sering mendengarnya. Namun untuk mendatangi tempat ini, aku yakin masih banyak orang Magelang yang belum pernah kesana, termasuk diriku *malu*. Nah, sebagai bakal calon duta wisata Magelang, tentunya aku wajib mendatanginya.. Hehehe

sayang lagi berkabut jadinya gunungnya ga keliatan :(
Sebenarnya apa sih Ketep Pass itu? Ketep Pass itu semacam puncaknya daerah Magelang. Kalau di Bogor ada Puncak Pass, maka di Magelang ada Ketep Pass. Bedanya, Ketep Pass ini bebas dari macet, dan lebih menarik pemandangannya. Di sini kita bisa melihat dan menikmati panorama perbukitan, dan 5 gunung yang mengitari wilayah Magelang. Lima gunung atau yang biasa di sebut panca arga itu adalah Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Slamet. Amazing kan? Bukan hanya itu, di sana juga ada beberapa fasilitas menarik seperti Volcano Centre, Volcano Theatre, gardu pandang dan pelataran panca arga. Lebih lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini ya. Selain asyik untuk refreshing, tempat ini juga seru untuk sarana menambah pengetahuan dan media belajar untuk anak-anak. Dan bagiku, Ketep Pass ini memberi pengalaman yang lumayan menggelitik alias konyol. 

pelataran panca arga
gardu pandang
Seperti pada saat kami mengunjungi fasilitas yang disebut dengan Ketep Pass Theatre. Bioskop mini ini berada tak jauh dari pintu masuk Ketep Pass. Jadi setelah membayar tiket masuk area Ketep Pass seharga Rp 7.000/orang, kami langsung disambut oleh bangunan ini. Rasa penasaran langsung menghinggapiku saat aku mendengar suara menggelegar yang berasal dari dalam bangunan itu.

"Ouu ini yang namanya Ketep Pass Theatre.. Masuk yuk!" ajakku dengan semangat 2013.
"Hah, masuk aja gitu?" tanya adikku.
"Iyalah, masuk aja. Kan kita dah bayar tiket" jawabku penuh percaya diri.
Di depan theater itu kami disambut oleh seorang bapak-bapak penjaga. "Mau masuk bioskop mbak?" tanyanya dengan ramah.
"Iya pak, masuk aja kan?" kataku sok tahu.
"Iya, buat berapa orang? Tapi filmnya usah main 5 menit yang lalu. Apa nggak apa-apa?"
"Nggak papa pak, buat 5 orang"
"Cuma ketinggalan 5 menit aja nggak masalah, lagian gratis ini" kataku dalam hati.

Buru-buru aku panggil suami, adik dan anak-anakku untuk masuk ke dalam. Eh, tapi, kenapa si bapak penjaga ini nggak beranjak dari depan mukaku, seolah menunggu sesuatu. Apa ada yang salah ya? Tanda tanya dibenakku langsung terjawab saat dia menyodorkan 5 buah tiket yang tertera angka Rp 7.000. Jreng! Ternyata bayar lagi sodara-sodara! *glek* Tujuh ribu kali 5 berarti Rp 35.000. Duh! Merasa terjebak nih. Aku pikir tiket masuk Ketep Pass di loket depan tadi sudah termasuk untuk masuk ke theatre ini. Ah, salah sendiri nggak nanya-nanya dulu. Dasar emak-emak sok tahu :P.

Dengan berat hati aku keluarkan dompetku, mengais-ngais uang yang tersisa #lebay (soalnya saat itu aku hanya bawa uang pas-pasan). Ingin rasanya membatalkan saja. Masa cuma mau lihat rekaman gunung meletus beberapa menit aja harus bayar Rp 35.000? Mendingan nonton Nicolas Cage di bioskop 21 pas nomat. Tapi mau mbatalin, gengsi donk ah, lagian anak-anak pasti bisa belajar dari film bioskop ini. Rupanya keberuntungan berpihak padaku, seolah tahu kegalauanku, si bapak penjaga bilang "Bayarnya buat 4 tiket aja mbak, jadi Rp 28.000". Ah, makcess.. Mungkin dia ga tega lihat tampang memelasku.. Hihihi. Lumayan dapat potongan harga :D

Volcano Theatre
Dalam kegelapan si bapak penjaga memandu mencarikan posisi duduk buat kami. Dan seperti dugaanku, suamiku langsung mengeluarkan kameranya untuk merekam film merapi itu. Awalnya sih aku ingin menegurnya. Karena di bioskop manapun juga, merekam tayangan bioskop adalah DILARANG. Tapi aku mengurungkan niatku. Ada rasa penasaran di benakku, seperti apa sih penanganan pihak Ketep Pass ini terhadap kejahilan kami :D.

Satu menit.. Dua menit.. Film yang memperlihatkan letusan gunung merapi itu berlangsung menggelegar. Namun nggak ada reaksi apa-apa dari bapak penjaga. Padahal aku yakin dia melihat tindakan suamiku itu. Sampai 20 menit kemudian, saat film selesai, tak ada reaksi apa-apa dari dia. Tapi begitu kami hendak keluar ruangan theatre, dia mencegat kami.
"Maaf pak, di sini dilarang merekam film. Jadi tolong rekamannya dihapus" katanya tegas, tapi tetap sopan.
"Iya, nanti saya hapus" jawab suamiku.
"Saya minta dihapus sekarang pak!" katanya agak memerintah.
"Iya pak, nanti saya hapus di luar ruangan" jawab suamiku agak ngeyel.
Geli, tapi sekaligus malu juga dilihatin pengunjung yang lain. Pak penjaga masih mengawasi kami saat keluar ruangan. Namun kami mampu memanfaatkan momen beberapa detik saat pak penjaga teralirkan perhatiannya. Saatnya untuk kabuuuuur..!! Untunglah penjaga itu nggak mengejar kami. Mungkin karena dia lagi puasa, jadi nggak mau energinya habis. Bisa-bisa batal puasanya.. Hihihi

Monday, August 19, 2013

Aku Kembali

Hai.. Hai.. Selamat pagi teman-teman.. Apa kabar?
Hari ini tanggal 19 Agustus 2013, tepat 19 hari aku meninggalkan rumah blogku ini. Lama banget ya? Aku minta maaf buat teman-teman yang berkunjung kesini di saat aku nggak ada, jadi nggak bisa nyediain cemilan deh.. Hehehe.. Aku janji bakal silaturahmi ke rumah teman-teman sekalian, dengan membawa cemilan senyuman :D. Tapi sebelumnya aku mau bersih-bersihin dulu bagian-bagian yang berdebu, nyapu-nyapu, ngepel, semprotin pengharum ruangan ke blogku ini.. #halah :D.

Selama 2 minggu di kampung memang kegiatanku di dunia maya mau nggak mau banyak berkurang. Bukan karena sibuk silaturahmi atau sibuk menjadi upik abu, tapi karena sinyal internet di kampungku ini benar-benar bikin emosi. Aku harus puas dengan sinyal EDGE ajah. Sekedar buka facebook dan twitter aja harus nunggu sampe setengah hari baru bisa loading, apalagi buat ngeblog (*alesan :P).

Terus terang aku ngiri sekaligus malu pada teman-teman blogger sekalian yang tetap aktif ngeblog walaupun dalam masa liburan. Apalagi beberapa blogger ada yang ikut tantangan 30 hari ngeblog. Sedangkan aku masih bersantai-santai menggemukkan badan, dengan ngunyah cemilan tiada henti *lirik lemak di perut.

Nah, berhubung masa liburan sudah habis dan aku sudah kembali ke ibukota, tak ada alasan lagi buat bersantai-santai ria. Saatnya kembali di kehidupan nyata maupun maya (lah emang selama ini ada di mana? #plak). Kembali bangun pagi-pagi siap-siap ke kantor, dengan baju seragam kantor yang kini kesempitan.. Hiks. Kembali membangunkan anak-anak di pagi hari, dan nyiapin bekal buat sekolah. Kembali bermacet-macet ria dengan jalanan ibukota. Dan kembali menyapa teman-teman semua.. Kehadiran dan senyum hangat teman-teman, kembali menyejukkanku di dunia yang keras ini #lebay :D

Untuk mengejar ketinggalan karena idle selama 19 hari, aku akan blogrunning (bukan lagi blogwalking, biar cepet sampe :P) ke rumah blog teman-teman. Tunggu kunjungan dan postinganku yaa..
Oh iya, mohon maaf lahir batin semuanyaaa... MERDEKA!!

aku yang makin bulet 'n chubby