Friday, January 23, 2015

Sejuk dan Segar di Curug Cigamea

Baru nyadar, ternyata udah lama banget nggak nulis tentang traveling di blogku ini. Pantas aja rasanya ada yang hilang. Kalau dulu dalam satu bulan minimal ada 2 cerita traveling, tapi akhir-akhir ini malah nggak sama sekali, kebanyakan nulis curhatan.. hehe.. *jadi malu. Sebenarnya bahan nulis tentang traveling masih banyak, tapi sayangnya banyak yang terlewat, lupa ditulis. Bahkan ada yang sampai lupa nama tempatnya.. *dasar emak-emak pikun. Dan ini salah satu tempat yang sempat terlupa, alias aku nggak ingat namanya. Padahal aku cukup terkesan loh dengan curug yang satu ini. Tapi berhubung curug yang udah aku kunjungi cukup banyak, aku jadi susah mengingat namanya satu-satu. Nah sekarang mumpung aku udah ingat namanya, akan kuceritakan di sini sebelum keburu lupa lagi. Inilah dia Curug Cigamea.

Curug Cigamea merupakan salah satu curug yang ada di Kawasan Wisata Gunung Salak Endah di kaki Gunung Salak, Bogor. Di kawasan wisata tersebut selain Curug Cigamea, masih ada curug-curug yang lain, di antaranya Curug Luhur, Curug Sewu, dan Curug Nangka. Awalnya sih, aku penasaran dengan Curug Nangka, karena dulu pernah gagal menuju kesana gara-gara angkotnya salah belok. Nah kali ini mau mencoba ke sana lagi dengan kendaraan sendiri. Tapi entah kenapa pada akhirnya malah beloknya ke Curug Cigamea. Yuk langsung saja kita tengok seperti apa curugnya.

Kawasan Curug Cigamea memiliki area parkir yang cukup luas. Di sini kita dapat menikmati pemandangan daerah Bogor dari ketinggian, keren loh. Dari area parkir, masih harus jalan kaki menuju area air terjun. Bagiku lumayan jauh dan bikin ngos-ngosan. Jalannya berupa jalan setapak yang dibuat menjadi susunan anak tangga yang rapi dan nggak licin ketika dilalui. Tapi walaupun jalanannya cukup aman, aku tetap was-was juga, karena di sini banyak monyet yang menggemaskan . Sejak pengalamanku diganggu monyet Uluwatu beberapa tahun yang lalu, aku jadi agak trauma kalau ada di dekat makhluk yang satu itu. Jadinya ngos-ngosan campur ama deg-degan, takut dicolek monyet. Huft.. Tapi kecemasanku cukup beralasan loh, soalnya ada tuh pengunjung yang tas kreseknya disamber ama monyet. Untungnya kami nggak mengalami itu. Anak-anakku justru senang melihat monyet yang makmur-makmur itu. Sepertinya kalau ke sini perlu jaga-jaga bawa cemilan buat monyet-monyet ya, biar nggak dinakali.. hehe..


Di sepanjang jalan setapak kita nggak hanya menjumpai monyet-monyet kok, ada yang lebih seru dari itu, yaitu penjual makanaaan! Yup, ini yang paling aku suka, jajanannya banyak, seperti cilok, somay, bakso bakar, gorengan, dan indomie. Ada juga penjual cinderamata, seperti kaos, gelang, dan kerajinan lainnya. Selain menikmati jajanan, kita juga bisa menikmati pemandangan yang menawan, karena Gunung Salak jelas terlihat dari sini.



Setelah menuruni ratusan anak tangga, sampailah kami ke curugnya. Yeaay saatnya main aiiir! Seperti ini penampakan curugnya. Curugnya ada dua bagian. Curug yang pertama permukaan airnya lebih dangkal, jadi aman buat anak-anak. Sedangkan curug yang kedua permukaan airnya lebih dalam dan berwarna biru. Cantik bukan?









Sebenarnya waktu itu aku nggak ikutan nyemplung, cuma main air di pinggir air terjun aja. Kenapa? Karena aku nggak tahan ama airnya yang dingin banget.  Takut masuk angin.. hehe..
Buat teman-teman yang ada di daerah Jakarta dan sekitarnya, curug ini cukup rekomended untuk dikunjungi. Selainnya tempatnya yang relatif dekat dan mudah dijangkau, curug ini juga memberikan kesegaran  jiwa raga yang penat oleh hiruk pikuk kehidupan ibukota.

Happy traveling ^^

Monday, January 12, 2015

Calon Buku, Pelipur Laraku

Namanya hidup itu, pasti ada suka, ada duka, ada sedih, ada bahagia. Dan kalau ada luka, pasti ada pelipur lara. Memang begitu adanya. Jadi jangan takut bersedih, jangan takut berduka, karena Allah pasti sudah menyiapkan obatnya. Seperti disebutkan dalam Qs. Ar Ra'du:28, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. 

Jadi kenapa tiba-tiba tulisanku jadi bijaksana gini?  Apa gara-gara abis galau abis-abisan kemarin? Ya bisa dibilang itu salah satu penyebabnya. Kemarin rasanya hampir putus asa dan nggak pengen ngapa-ngapain lagi. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa semua yang terjadi padaku adalah atas ijin Allah, jadi aku juga optimis Allah akan menghiburku.

Nah, nggak berapa lama dari kesadaranku itu, tiba-tiba aku dapat kabar dari mbak editor bukuku. Dia mengirimkan email yang isinya layout buku tulisanku. Alhamdulillah, akhirnya bukuku akan cetak juga. Tertulis disana cetakan pertama Januari 2015, berarti bulan ini. Amazing rasanya melihat namaku tercantum di cover sebuah buku ketrampilan. Dari dulu aku paling penasaran sama buku ketrampilan, karena buku ketrampilan itu nggak hanya menampilkan tulisan aja, tapi juga karya. Tentu penulisnya bukan hanya pandai menulis, tapi juga terampil membuat produk. Apalagi kalau layout dan foto-foto yang ditampilkan bagus. Wah, pasti perlu proses yang rumit untuk menghasilkan sebuah buku ketrampilan seperti itu. 

Dan siapa sangka sekarang justru aku yang menjadi pelakunya. Aku bukan hanya tahu bagaimana proses pembuatannya, tapi aku juga bagian dari lahirnya karya itu. Sebuah buku ketrampilan memerlukan kerjasama dan ide kreatif banyak orang. Dari penulis, editor, fotografer, designer, hingga OB dikantor penerbit.. hehe. Aku juga mengikuti proses pemotretan produk, yang ternyata ribet dan memerlukan banyak properti. Nanti kapan-kapan aku ceritain acara pemotretannya yang seru.

Namun, terima layoutnya bukan berarti prosesnya udah selesai loh. Aku masih diminta mengoreksi kembali settingan bukunya. Ini proses yang bikin mataku pedas. Apalagi dengan komputer di rumah yang mati segan hidup tak mau. Duuuh.. bikin emosi. Bukan berarti aku nggak senang loh bukuku mau terbit. Tapi karena rasa ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan, tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Ini sedikit membuat frustasi.. #halah lebay.

Tapi walaupun sempat frustasi, ternyata kesibukanku mengoreksi calon bukuku cukup ampuh mengalihkan perhatianku dari kegalauan kemarin. Nah benar kan, ada pelipur lara. Yang penting tetap optimis aja. Akan ada pelangi setelah hujan turun :)

Tuesday, January 06, 2015

Akhir Sebuah Penantian Panjang

"Mbak, udah keluar SKnya"
"Terus gimana hasilnya?"
"Permohonan pindahmu ditolak"

Sesaat aku diam. Masih berusaha mencerna kata per kata yang cukup singkat itu. Kupandang wajah sang pembawa berita. "Ditolak??" tanyaku lagi, untuk memastikan aku nggak salah dengar.
Dengan wajah penuh keprihatinan dia menjawab, "Iya".

Seketika itu juga rasa lemas merasuki sekujur tubuhku. Bersamaan dengan itu emosi jiwaku begitu menyesakkan menuntutku berteriak. Namun kesadaranku mengendalikan. Aku nggak bisa berteriak di ruangan yang penuh dengan rekan kerjaku. Walaupun akhirnya rasa tidak terima terlontar juga dari bibirku dengan lantangnya. Huff.. Apa bedanya dengan teriak?

Dua tahun aku digantung, menunggu tanpa ada kejelasan maupun kabar. Selama itu aku bukan diam saja. Berkali-kali aku bertanya tentang nasib permohonan pindahku, tak ada satupun yang memberi keterangan dengan transparan. Mereka hanya bilang "Tunggu saja, sedang diproses". Berkali-kali jawabannya tetap sama, "Sedang diproses".

Dan kini setelah 2 tahun aku menunggu, aku resmi ditolak. Yang bikin aku emosi itu, kenapa harus nunggu 2 tahun untuk menolak? Ini sangat nggak manusiawi. 

Bapakku mulai sakit-sakitan udah bertahun-tahun yang lalu. Karena itu aku mengajukan permohonan pindah, agar bisa lebih dekat dengan beliau. Selama ini tak ada yang bisa aku berikan untuk orang tuaku. Sekedar untuk membantu berobat bapakku aja aku nggak sanggup membantu. Apalagi kehadiranku. Aku pulang kampung hanya setahun sekali, dalam waktu yang singkat. 

Jadi sebelum semuanya terlambat, aku berikhtiar mengajukan permohonan pindah, lengkap dengan sebundel data-data medis milik bapakku. Optimis dan berharap mereka yang berkuasa akan tergerak hatinya untuk membantuku. 

Semua prosedur aku lakukan dengan benar. Nggak ada niat mencari jalan pintas. Atau mungkin karena ini makanya aku ditolak. Aku nggak dekat dengan orang-orang yang berkuasa. Aku juga bukan seorang opportunis yang sok kenal sok dekat sok akrab ama pemegang keputusan, agar keinginanku dikabulkan. Entahlah.. 

Cukup banyak sakit hati yang kurasakan. Bukan sekali ini aku sakit hati sama instansi ini. Semua kebijakan seolah dibuat untuk menjatuhkan pegawai rendahan sepertiku ini. Sebagus apapun prestasiku di kantor, nggak membantu perbaikan nasib. Sungguh! 

Yah, keputusan sudah mereka keluarkan. Mereka mungkin nggak pernah sadar bahwa selembar kertas itu bisa berdampak besar bagi kehidupan dan masa depan seseorang. Mereka juga nggak akan pernah tahu dampak kejiwaan yang ditimbulkan. Apa aku jadi gila karena ditolak? Iya, menurutku aku cukup gila dengan mewujudkan status di fbku berikut ini:

Monday, January 05, 2015

New Year.. New Blog

Alhamdulillah udah memasuki tahun 2015. Cepat sekali satu tahun berlalu. Padahal masih banyak resolusi tahun 2014 yang belum tercapai.. Huhuu.. *mendadak sedih*. Yup, kalau ingat banyak hal yang belum tercapai rasanya mendadak jadi galau.. Rupanya aku masih harus bersabar dan berusaha, untuk meraih cita-cita dan harapan. Tapi aku tetap optimis, kalaupun apa yang kuusahakan tidak tercapai, aku yakin Allah akan memberi yang lebih baik dan lebih aku perlukan. So.. Tetap semangat!!

Nah daripada bersendu-sendu di tahun baru, mending move on aja ke sesuatu yang baru dan fresh. Apa itu? Jreng! Jreeeeng..! Tadaaaa!! Blog baruuuu..!!
Wuiih.. Gaya amat punya blog baru, padahal blog yang ini aja jarang update.. Hehe.. Yah, aku kan manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa. Tapi semangat tetap membara #halah. Karena semangat itu pula maka aku membangun sebuah ruang baru untukku berkarya.

Blog Rajutan Cova
 
Masih inget donk ama tagline blog Runaway Diary? Yaitu "Finding My True Passion". Sebuah tagline yang menggambarkan pencarian jati diri, macam anak-anak abege umur belasan.. Hehe. Tapi begitulah kenyataannya. Sejak aku mulai ngeblog di tahun 2011, aku belum tahu arah hatiku. Tak heran jika isi dari blog ini sangat random sekali. Awalnya sih pengen mengabadikan tulisan tentang traveling, tapi ternyata nggak bisa konsisten karena bahan terbatas. Akhirnya segala macam aku tulis. Pokoknya bebas banget. Apa yang diotakku itulah yang aku tulis, apa pun itu, yang penting aku tetap menulis. Karena menulis itu salah satu terapi jiwa bagiku. Kalau pun akhir-akhir ini jarang update blog, itu bukan karena kehabisan bahan tulisan, tapi karena kesibukanku di luar.

Terus kenapa aku perlu blog baru? Ini terkait dengan passion. Kalau dulu aku belum menemukan passionku, alhamdulillah kini aku sudah mantap dengan bidang yang satu ini. Yaitu crafting atau kerajinan tangan, khususnya rajutan. Passion ini nggak muncul dengan tiba-tiba, tapi melalui suatu proses. Salah satu yang membantu penemuannya adalah blogku ini, Runaway Diary. Jadi bisa dibilang misi blog Runaway Diary sebagai sarana untuk pencarian jati diri telah tercapai. Dan dengan pengalamanku ngeblog sejak 2011 di Runaway Diary, aku merasa cukup percaya diri untuk membangun 1 blog lagi. Semoga aku tetap konsisten di sini.

Punya blog baru bukan berarti aku meninggalkan blog lama. Karena blog baru khusus rajutan, sedangkan blog lamaku tetap untuk tulisan-tulisan random. Dan bersama dengan tulisan ini, aku resmi memperkenalkan blog baruku. Inilah dia RAJUTAN COVA. Blog ini rencananya berisi segala hal tentang rajutanku, yaitu hasil karyaku, tutorial, pola, review buku ketrampilan, dan segala cerita tentang karyaku. Blog Rajutan Cova juga ditujukan untuk melengkapi fanpage FB Rajutan Cova yang udah aku kelola lebih dulu. Semoga Blog Rajutan Cova juga mendapat respon sebagus fanpage-nya.

Yuk mari, silahkan ditengok-tengok.. Dikomentari.. Difollow juga boleh.
Tapi harap maklum, karena masih baru banget, jadi postingannya belum banyak. Tapi tenang aja, masih banyak bahan yang perlu aku posting. Semoga ada waktu dan kesempatan untuk mempostingnya.. 

Semoga aku jadi makin rajin ngeblog ^^