Monday, May 26, 2014

Ada Cinta di Hape Pertama

Dulu handphone alias hape adalah barang mahal bagiku. Maklumlah, sebagai anak kuliahan yang uang bulanannya pas-pasan, tentu punya hape itu sesuatu yang nggak terpikirkan. Tapi dulu, sekitar 15 tahun yang lalu, memang belum banyak yang punya hape. Bukan karena mereka nggak mampu beli, tapi karena mereka belum paham pentingnya hape, dan mungkin nggak tahu cara pakai hape. Beda dengan jaman sekarang yang hampir semua orang punya hape. Bahkan anak-anak TKpun udah pegang hape. Seiring berjalannya waktu, hape mengalami kemajuan yang pesat. Kalau dulu cuma buat SMS dan nelpon doank, kini buanyaak sekali fasilitasnya, yang membuat kita semakin nggak bisa lepas dari gadget ini.

Aku ingat, dulu rasanya seneng banget bisa ngerubah-ubah ringtone. Berasa udah canggih banget punya hape yang ringtonenya beda dengan yang lain. Padahal kalau didengerin jaman sekarang pasti jadi geli sendiri. Jaduuul banget.. hihii. Kalau sekarang, hape lemot buat internetan aja rasanya udah mati gaya. Serasa lumpuh dunia.. halah. Yah begitulah, waktu berjalan cepat, dan kebutuhan orang-orangpun bergeser seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Kembali ke masa lalu saat aku belum punya hape. Saat itu baru satu dua temanku yang punya hape. Tentu mereka ini dari golongan orang kaya. Aku nggak terlalu ngebet untuk ikutan punya. Toh, masih banyak temanku yang belum punya juga sepertiku. Tapi begitu teman sekostku beli hape baru, aku mulai terusik juga. Beberapa hari kemudian makin bertambah temanku yang pegang hape. Salah satunya sahabatku. Dia datang ke kamarku dengan ceria, memamerkan hape barunya. 
"Siemens?" kubaca merek yang tertulis di kotaknya.Terasa asing merek hape itu di telingaku. Aku tahunya cuma Nokia saja.
"Kenapa milih merek ini? Nggak pakai Nokia?" tanyaku.
"Si Eka kan kerja di Siemens.. Jadi dengan pakai hape Siemens, aku bisa merasa dekat dengan dia. Kan tempat dia kerja sama ama hape di genggamanku.. " jawabnya dengan ceria.
Ah, cinta memang bikin orang nggak masuk akal jalan pikirannya. Aku pikir dia punya alasan yang lebih teknis realistis gitu, eh  ternyata cuma gara-gara gebetan aja.

Aku emang nggak familiar dengan hape merek Siemens, aku lebih terbiasa dengan merek Nokia. Yah, walaupun aku nggak punya hape, tapi aku udah lumayan sering pegang dan ngutak-atik hape orang. Salah satunya hape Nokia 5110 milik pacarku, Mas Andi. Hape yang segede pisang itu loh, warnanya juga sama ama pisang, kuning. Wajar sih kalau dia udah punya hape, dia kan udah kerja dan punya penghasilan sendiri. Saat itu hape tipe itu yang mampu dia beli, walaupun sudah agak ketinggalan jaman. Beberapa hari memakai Nokia 5110, Mas Andi udah gerah pengen ganti. Alasannya ya itu, karena udah nggak in lagi. Dia pengen hape yang lebih slim, lebih canggih, dan lebih mengerti dia #halah.  Apa emang begitu ya laki-laki? Gampang bosan, terus cari yang baru lagi #eh. 

credit

Yah, walaupun orang-orang di sekitarku udah pada punya hape, aku masih istiqomah dengan hidupku yang tanpa hape. Aku masih baik-baik aja kok. Padahal sih pengen banget punya, tapi tetap bertahan karena nggak mampu beli. Tiba-tiba suatu malam, sepulang kerja Mas Andi mampir ke kostku. Tanpa basa basi dia serahkan hape Nokia kuningnya padaku.
"Ini kamu pakai aja. Mau kan?" katanya dengan senyuman yang manis.
"Buatku? Trus mas pakai apa?" tanyaku sumringah.
Dan seperti yang udah aku duga, dia sudah meminang sebuah hape baru, Nokia 3110 yang kinclong dan lebih langsing. Kuakui hape baru Mas Andi saat itu bikin aku mupeng. Tapi aku bersyukur akhirnya aku punya hape juga walaupun nggak baru. Nokia 5110 jadi hape pertamaku. Kuterima hape pemberiannya dengan penuh cinta.. ahaay..

Aku bukan tipe orang yang harus terdepan dalam soal gadget, jadi nggak masalah buatku memakai hape yang kata orang udah ketinggalan jaman. Terlebih lagi hape Nokia 5110 itu bisa digonta ganti casingnya, jadi aku nggak gampang bosan. Casing hape banyak sekali dijual di Blok M kala itu. Ganti casing, serasa ganti hape baru.. hehe. Yup, aku cukup puas dengan hape gratisan pertamaku. Walaupun aku udah kerja, aku nggak punya niat buat ganti hape. 

Tapi lagi-lagi tak disangka, Mas Andi datang menyerahkan hape Nokia 3110-nya padaku. Tentu saja karena dia udah ganti HP yang baru. Dan tentu saja aku menerima dengan hati ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Ya iyalah, gimana nggak senang dapat hape gratisan lagi walaupun hanya lungsuran.  Hape Nokia 3110 jadi hape keduaku. Hape pertama dan keduaku semua gratisan dari pacarku tercinta, yang kini jadi suamiku. Kalau dulu jaman pacaran ngasihnya HP second, alhamdulillah sekarang udah nikah ngasihnya HP baru, gres, dan terkini :)

Giveaway: Cerita Hape Pertama






Friday, May 16, 2014

Sepenggal Sore di Kota Tua


Sebenarnya maksud awalnya sih mau menjemput impian, alias beli mesin jahit inceran. Tapi apa daya udah jauh-jauh datang ke toko aneka mesin jahit yang ada di mangga dua, ternyata hari minggu tokonya tutup. Ya sudahlah, nurutin maunya anak-anak aja, jalan-jalan ke Kota Tua. Ini kedua kalinya aku menemani anak-anak kesini. Tapi yang pertama dulu tempatnya lagi direnovasi, jadinya nggak bisa mengeksplore apa-apa. Makanya mereka masih penasaran pengen ke kota tua lagi.

Jam 3 sore kami baru sampai. Berangkatnya emang udah siang, dan jalanan macet pula. Kami parkir di tempat yang sama, yaitu persis di seberang Toko Merah. Aku selalu senang memandang toko merah yang terlihat mencolok di antara bangunan tua lainnya yang kusam.Toko itu membawa nuansa ceria walaupun kesan tua tetap ada. Penasaran juga pengen masuk kedalam, tapi lain kali aja karena anak-anak buru-buru pengen ke museum.

aku dan toko merah
Kami berjalan kaki menuju alun-alun kota tua. Sepanjang jalan dipenuhi pengunjung. Rata-rata mereka ini anak-anak muda bersama teman-temannya. Kalau aku perhatikan, lebih banyak yang datang ramai-ramai daripada yang berduaan. Nggak seru kali ya kalau mau berduaan di tempat seramai ini.. Hehehe. Bukan hanya pengunjung yang ramai, tapi para pedagang juga banyak. Dari pedagang makanan, minuman hingga aksesoris. Tentunya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, termasuk aku. Salah satu yang kusukai dari Kota Tua ini adalah pedagang makanannya. Dari analisaku sebagai pengamat kuliner jalanan, aku lihat jajanan yang ditawarkan di sini menganut tren juga loh. Beberapa tahun yang lalu, banyak pedagang cireng isi, karena waktu itu cireng lagi happening banget. Nah sekarang pedagang cireng udah nggak ada, digantikan pedagang cilok. Cilok emang jajanan yang lagi hit saat ini. Eh iya, cilok di sini lebih enak daripada cilok yang dijual di pasar malam dekat rumahku loh #infonggakpenting.

Oke, sekarang masuk Museum Sejarah Jakarta, atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah. Eh kok pintu depannya nggak kebuka? Apa hari minggu tutup juga seperti toko mesin jahit? Kami mengitari museum mencari kemungkinan ada jalan masuk lain selain yang di depan. Ada gerbang samping yang terbuka, dan ada orang-orang yang keluar dari sana. Ouu.. itu pintu keluar. Di depan pintu itu kami bertemu seorang guide. Kata dia jam masuk ke museum hanya sampai jam 3 saja. Wah telat donk kami. Tapi kami masih bisa masuk ke halamannya dan bangunan disekitarnya, walaupun nggak bisa masuk ke bangunan inti. Pak guide memandu kami berkeliling. Sebenarnya aneh juga sih, cuma ke kota tua aja pakai guide segala, macam turis dari Korea aja. Nggak papa deh, yang penting anak-anakku suka dan antusias menyimak penjelasan dari pak guide, terutama Lita. Dia langsung membandingkan info yang dia dapat dari pak guide dengan pelajaran yang dia dapat di sekolah. 

di depan patung Hermes
 Sstt.. Aku baru tahu kalau Pangeran Diponegoro pernah di penjara disini. Penjaranya sangat mengenaskan. Sempit sekali, hanya sekitar 6x3 meter, yang dihuni hingga 50 orang tawanan dari pribumi, dan 100 orang jika tawanannya  beretnis tionghoa. Kata Pak Guide, Belanda benci orang Cina, karena dianggap sebagai pesaing beratnya. Belanda juga nggak segan-segan menghukum gantung orang cina. Dan di jaman itu cukup sering orang dihukum gantung. Setiap ada yang mati dari hukum gantung, akan dibunyikan bel dari menara museum itu. Para pejabat Belanda menyaksikan hukuman gantung tersebut dari balkon museum, seperti layaknya menyaksikan sebuah opera. Iih serem.. 

Pahlawan lain yang juga dipenjara disana adalah Pangeran Untung Suropati. Tapi Untung Suropati berhasil melarikan diri dari penjara itu. Lita bertanya "Emangnya penjaranya nggak dijaga? Kok bisa keluar?"
"Untung Suropati itu orang sakti, jadi bisa lolos"
Gantian Ariq yang nanya "Ma, sakti itu apa sih?"
Haduh bakalan lama nih njelasinnya -___-. 

Penjara lain yang kami kunjungi adalah penjara wanita, berada di bawah tanah di bagian depan museum. Kisahnyapun tak kalah menyeramkan. Kami juga dijelaskan beberapa koleksi benda-benda di museum ini, di antaranya patung Hermes yang dianggap sebagai dewa perlindungan bagi para pedagang, dan meriam si Jagur dengan mitos-mitosnya.

Tour kami dengan pak guide berakhir di meriam si Jagur. Setelah itu kami menikmati suasana alun-alun Kota Tua yang ramai sekali. Banyak hal unik dan kreatif yang dilakukan para seniman jalanan. Ada yang jadi patung, ada yang main biola, ada yang mendemonstrasikan pencak silat, ada yang memainkan boneka, dan yang paling unik adalah kemampuan duduk tanpa kursi. Aku masih penasaran bagaimana caranya bisa duduk seperti itu tanpa jatuh. Kalaupun ada penyangganya, tetep aja sulit mengatur keseimbangan tubuh. Keren!


Sore itu kami nongkrong di sana, menikmati keramaian, sambil makan cilok dan es pisang ijo. Dan tentu saja foto-foto. Mau nyewa sepeda, tapi kok rasanya males mau naikinnya. Lagian tempatnya ramai banget, takutnya malah nabrak-nabrak orang.. halah :P.



Happy traveling ^^

Friday, May 09, 2014

Selepas Senja di Pantai Ancol

 

Pantai Ancol, tempat gaul paling happening di Jakarta. Walaupun banyak mall-mall dan tempat nongkrong dibangun, namun pantai ini tak pernah sepi pengunjung, dan masih menjadi tempat favorit warga ibukota. Di tengah hiruk pikuk keramaian dan bangunan-bangunan tinggi, Pantai Ancol hadir dengan nuansa alamnya. Memang pantainya tidak seindah pantai-pantai di Bali sana, namun cukuplah untuk sekedar nongkrong dan menghirup aroma laut. 

Kami cukup sering ke pantai ini. Biasanya kami datang di pagi hari. Alasannya biar nggak terlalu panas, dan udaranya masih segar. Tapi kali ini kami penasaran ingin mencoba suasana Pantai Ancol saat senja menjelang. Konon katanya, sunset di pantai ini cukup menawan. Apalagi kalau dinikmati bersama pasangan, tentunya lebih romantis.. Ahaaay..

Sore hari kami berangkat. Sayangnya saat masih di perjalanan, cuaca yang semula cerah berubah menjadi mendung. Firasatku mengatakan akan turun hujan. Alamat gagal menikmati sunset. Dan benar, begitu sampai di Pantai Ancol, bukannya sunset yang terlihat, tapi kami malah disambut hujan deras. Ya sudahlah, pasrah aja. Dinikmati aja berduaan di mobil saat hujan turun, mungkin rasanya sama-sama romantis.. halah.

Syukurlah hujan deras hanya sebentar. Tapi matahari terbenampun hanya sebentar, karena kini malam sudah menjelang. Dan tak ada momen sunset indah yang kami nikmati. Kecewa? Ah nggak kok. Karena suasana malam di Pantai Ancol ini nggak kalah serunya. Semakin malam semakin ramai pengunjungnya. Dan menurutku Pantai Ancol ini lebih menarik di malam hari, tampak germerlap dengan kerlap kerlip lampunya. 

Like a sunset dying with the rising of the moon... Gone too soon
(Gone too soon - Michael Jackson)


Salam dari Si Narsis Jembatan Ancol

Happy traveling ^^


Friday, May 02, 2014

Resep Cocopandan Molen ala Cova

Seperti janjiku di postingan sebelumnya, aku akan sharing resep molen cocopandan hasil gubahanku. Bikinnya gampang kok. Molen yang ini kulitnya nggak pakai model yang berlapis-lapis seperti molen Kartika Sari, tapi rasanya sama maknyusnya. Dan untuk isi, yang biasanya isinya pisang, kali ini aku ganti dengan isian kelapa parut beraroma pandan. Yuk kita bikin bareng!

Bahan kulit:
500 gram tepung terigu
150 gram mentega
3 sendok makan gula pasir
2 sendok makan susu bubuk
125 ml air panas
kuning telur

Bahan isi:
250 gram kelapa parut
200 gram gula merah
100 ml air
1/2 sendok teh garam
50 gram gula pasir
sedikit pasta pandan


Cara membuatnya:
1. Buat isi: masak semua bahan isi hingga matang
2. Buat kulit: campurkan tepung terigu dan mentega. Aduk hingga berbutir-butir
3. Aduk gula, susu, dan air mendidih. Kemudian tuang ke dalam bahan tepung, dan uleni
4. Tipiskan adonan setebal 2 mm, dan potong kira-kira berukuran 6x6 cm
5. Ambil sedikit bahan isi, taruh diatas kulit. Kemudian bungkus sesuai selera
6. Susun di loyang brownies yang sudah diolesi mentega.
7. Olesi permukaannya dengan kuning telur
8. Oven sampai matang, kira-kira selama 30 menit, dengan suhu 160 derajat celcius

Tadaa..! Molen cocopandannya udah jadi. Siap diajak jalan-jalan. Bisa juga buat oleh-oleh loh. Untuk isinya, kalau nggak suka kelapa, bisa diganti dengan yang lain. Aku pernah bikin dengan isian tape dan keju. Rasanyaaa.. hhmmm.. yummy. Jadi berkreasilah sesuka hati. Dan selamat menikmati ^^.