Sunday, August 24, 2014

Ceker Bumbu Kecap Ala Cova

Adakah yang suka ceker sepertiku? Kalau aku bukan hanya suka, tapi sukaaaaaa bingits. Sebut saja aku Cova si ceker lover.. hihii.. Bukan hanya karena rasanya yang yummy, tapi karena manfaatnya yang banyak sekali. Ceker mengandung zat kolagen yang tinggi, itu sangat bermanfaat untuk pertumbuhan, dan mempertahankan elastisitas kulit. Jadi kalau makan ceker bisa jadi awet muda :D. Ceker juga mengandung zat kapur yang bisa mencegah osteoporosis, dan membantu pemulihan para penderita rematik. 

Nggak salah kan kalau aku sangat menggemari si ceker ini? Apalagi kalau cekernya dimasak menjadi sajian masakan yang maknyus. Dulu aku sering beli ceker di tukang mie ayam. Biasanya pesen mie ayam ceker dengan ekstra ceker. Jadi dapet cekernya buanyak.. hihii.. Tapi sayang, sekarang tukang mie ayam ceker langgananku udah hilang entah kemana. Sepertinya nggak kuat mbayar sewa tempatnya, jadi dia pindah. Ah sedih. 

Daripada galau nggak bisa makan ceker kesukaan, mending bikin sendiri aja. Kalau bikin sendiri jelas lebih maknyus, karena bisa disesuaikan dengan selera sendiri. Nah, kali ini aku mau sharing resep ceker ayam buatanku. Mudah dan lezat. Yuks yang mau nyoba silahkan..  Ceker ayam bumbu kecap ala Cova 



Bahan:

20 buah ceker ayam
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
1 sdt garam
1/2 sdt lada
3 sdm kecap manis
1 sdm gula jawa 
1 sdm air asam jawa
air secukupnya

Cara membuatnya:
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan lada.
2. Tumis hingga kecoklatan 
3. Masukkan ceker, tumis sebentar, kemudian beri air secukupnya
4. Masukkan air asam jawa, kecap manis, dan gula jawa.
5. Masak hingga ceker empuk dan bumbu meresap
6. Siap dihidangkan

Nah selesai. Mudah bukan? Selamat mencoba!



Tuesday, August 12, 2014

Tak Selalu Bahagia

Hari ini aku sempat kaget dengan kabar kematian aktor kawakan Robin Williams. Baru beberapa minggu ini aku mengikuti serial The Crazy Ones yang dibintanginya. Dan seperti film-film lain yang dibintanginya, film seri ini menghibur sekaligus menginspirasi. Begitulah sosok Robin Williams di mataku, tampak selalu ceria dan membawa kegembiraan bagi orang banyak. Tapi siapa sangka, orang yang membawa kebahagiaan itu justru tidak berhasil membahagiakan dirinya sendiri. Ada apa dengan Robin Williams? Sampai kini rasa penasaran masih menyelimuti benakku. Aktor ini dikabarkan mengakhiri hidupnya karena depresi. Separah itukah ketidakbahagiaannya hingga dia tak ingin lagi hidup di dunia ini? Sungguh menyedihkan. Menurutku orang sehebat dia tentu banyak yang mengagumi dan mencintai. Lihat saja penggemarnya yang tak terhitung jumlahnya menangisi kepergiannya. Lalu apa yang membuatnya tak bahagia?

Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman lama mengajakku chating. Obrolan kami ya seputar teman-teman kami, termasuk tentang beberapa teman yang sudah meninggal. Menurut dia, banyak orang yang meninggal di usia muda karena stres. Stres yang berlebihan bisa mengakibatkan ketahanan tubuh menurun, dan timbullah penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Hmm.. Cukup masuk akal. Aku setuju dengan pendapatnya. Sampai akhirnya dia mengomentariku "Kalau aku lihat kamu ini nggak pernah stres. Hepi 'n ceria terus, nggak pernah ada masalah. Bagus itu"
Ku jawab dengan senyum getir "Namanya orang hidup pasti punya masalah, cuma nggak perlu kan dilihatin ke orang-orang"

Alhamdulillah, selama ini orang melihatku sebagai sosok yang bahagia. Punya pekerjaan mapan dengan penghasilan lumayan, punya keluarga bahagia, dan serba bisa. Tapi mereka nggak pernah tahu apa yang aku alami. Mereka  nggak pernah tahu sekeras apa usahaku untuk tampak normal di mata orang-orang dengan segala masalah yang harus aku tanggung. Mereka nggak pernah tahu bagaimana aku berusaha memperbaiki hidupku jadi tampak bahagia, setelah semuanya hancur. Mereka nggak pernah tahu aku stres. Benar-benar stres. 

Mungkin seperti itulah yang dialami Robin Williams. Orang menilai sosoknya yang selalu ceria, dan harta berlimpah yang dia punya pasti membuatnya bahagia. Padahal tidak. Banyak hal yang tak bisa dilihat orang, yaitu masalah. Dan tentu beban kejiwaan yang harus ditanggung seorang Robin Williams sangat berat, hingga menyebabkan dia depresi dan bunuh diri. 

Tapi aku bukan Robin Williams. Seberat apapun masalah yang aku tanggung, aku punya Allah yang membuatku semakin kuat. Ingat selalu bahwa Allah nggak akan memberikan beban yang nggak bisa kita tanggung. Allah nggak pernah memberikan masalah yang nggak bisa kita selesaikan. Beban dan masalah adalah ujian agar kita semakin kuat. Allah yang memberikan, dan Allahlah yang akan memberi petunjuk bagaimana menyelesaikannya. Tentu saja dengan berusaha, bukan dengan menyerah, apalagi dengan bunuh diri. Dan ingat, menjadi bahagia bukan berarti hidup tanpa ada masalah, tapi bagaimana kita menyikapi masalah tersebut dengan baik. Don't give up!


from here



Thursday, August 07, 2014

Pake Jilbab Masa' Gitu

Kira-kira beberapa bulan yang lalu aku sempat kaget, ada seorang teman di facebook (dia cowok) mengelike sebuah fanpage yang menurutku janggal. Judulnya Jilbab Mesum kalau nggak salah. Semoga aja salah ya, biar nggak pada penasaran mbuka fanpage ini, seperti yang kulakukan waktu itu.. hehe.. Ya iyalah aku penasaran, karena kedua kata itu sangat tidak pantas untuk digabungkan menjadi sebuah judul. Kata jilbab yang menggambarkan pakaian terhormat para muslimah, dan kata mesum yang menggambarkan perilaku amoral yang rendah. Sangat nggak matching kan? Sepertinya ini semacam fanpage yang melecehkan muslimah. Begitu aku klik, aku tambah kaget lagi. Aku mendapati puluhan, mungkin ratusan, foto perempuan berjilbab yang semuanya cantik dan masih muda. Apa salahnya? Yang jadi masalah adalah pada pakaiannya, penutup tubuhnya, bukan pada penutup kepalanya. Bagian kepala terbungkus rapi dengan jilbab yang menambah cantik pemakainya, tapi bagian dada dan bagian tubuh lainnya sangat ketat, dan sangat menonjolkan bagian-bagian yang menonjol. Bisa dibayangkan bagaimana penampakannya kan? Yup! sangat seksi tapi vulgar, hingga aku malu sendiri, dan buru-buru ngaca. Aku bercermin untuk memastikan bahwa penampilanku tidak seperti perempuan-perempuan di fanpage itu. Syukurlah, walaupun selama ini aku masih suka memakai jilbab pendek, tapi pakaianku cukup longgar, jadi masih terlihat sopan (semoga...)

Nggak berapa lama dari kejadian di atas, aku mengalami lagi kejadian serupa. Kali ini bukan di dunia maya, tapi di dunia nyata, di rumahku sendiri! Sumpah, aku nggak pernah menyangka akan mendapati pemandangan aneh bin ajaib di rumahku sendiri. Sebut saja namanya Siti (nama sebenarnya). Dia pembantuku. Waktu itu dia pamitan mau pulang kampung. Apa anehnya? Ya tentu aneh kalau pakaiannya seperti itu. Celana legging super ketat, dirangkap dengan celana hotpant super pendek membungkus bagian bawah tubuhnya yang bohai. Sedang untuk menutup bagian atasnya, dia memakai blus longgar warna putih dari bahan sifon yang tipis, hingga warna *H hitamnya kelihatan. Belum lagi sendal wedge segede batu bata yang membuat penampilannya tambah nyentrik. Cukup aneh bukan? Aku bengong memandang penampilannya dari ujung kaki hingga bagian mukanya yang sangat menor seperti pemain lenong.. daaan.. dia pakai jilbab! *shock*. Model hijaber dari mana ini? Seheboh-hebohnya para hijaber berkreasi, inilah yg paling nggak masuk akal bagiku. Hadeeh.. Pake jilbab masa gitu.. Padahal jilbab itu kan bukan topi, atau sekedar penutup kepala aja. Apalah gunanya kepala ditutup tapi bagian bawahnya dibuka. Bukankah sama aja dibuka kalau bajunya tipis transparan atau sangat ketat seperti itu?

Setelah beberapa kejadian itu, ternyata masih banyak loh para pemakai jilbab model begini. Seperti yang baru-baru ini (kembali) marak di sosial media tentang jilboobs. Walah apalagi itu? Jilboobs berasal dari kata jilbab dan boobs (payudara). Kabarnya jilboobs ini ada blognya, yang isinya foto-foto perempuan berjilbab tapi menonjolkan boobs-nya karena bajunya sangat ketat. Yah nggak beda ama jilbab mesum gitulah. Peminatnya tentu saja para laki-laki mesum juga. Dan foto-fotonya banyak yang foto candid loh. Maksudnya, perempuan-perempuan ini difoto secara diam-diam. Karena pakaiannya yang menggoda inilah yang membuatnya menjadi korban para pemburu jilboobs. Ada juga foto-foto yang dicuri pemburu jilboobs dari foto-foto yang beredar di sosial media. Ngeri ya? Nggak rela kan kalau diri kita jadi korban pemburu jilboobs dan dilecehkan para lelaki mesum? Yuk ah, kita sama-sama membenahi diri dengan memakai pakaian yang terhormat. Sudah semestinya kita mengembalikan fungsi pakaian sebagai pelindung, termasuk melindungi kita dari perbuatan maksiat, dan nggak memancing-mancing orang untuk berbuat maksiat. << mengingatkan diri sendiri.

NB: untuk postingan kali ini sengaja nggak menampilkan foto, karena takut jadi korban pemburu jilboobs #halah :P






Tuesday, August 05, 2014

My Sewing Books

Selamat siang pembaca Runaway Diary sekalian. Sebelumnya aku mau ngucapin mohon maaf lahir batin ya. Maafkan keterlambatan pengucapan ini, dikarenakan berhari-hari nggak sempet buka blog, sibuk liburan.. hehe. Dan kini saatnya kembali ke dunia normalku, di mana aku bisa menorehkan sepenggal cerita dalam rangkaian kata di blogku tercinta.. #eaaa..

Kali ini postinganku bercerita tentang hobiku, jahit menjahit. Sebenarnya ini terinspirasi dari obrolan emak-emak di grup FB Kumpulan Emak-emak Blogger, yang membahas tentang mesin jahit dan ketertarikan beberapa emak dalam bidang ini. Ada pertanyaan menarik dari mak Jihan Davincka, apakah menjahit itu butuh bakat atau seperti menulis yang makin dilatih makin terlatih. Kalau pendapatku, aku sepakat dengan pernyataan yang kedua. Menjahit itu semakin dilatih akan semakin ahli. Yang penting ada kemauan, nggak mudah bosen, dan nggak mudah menyerah. Ada bakat tapi nggak ada kemauan, sama juga bohong kan? Nggak bakal menghasilkan apa-apa. Tapi kalau ada kemauan keras, belajar secara otodidakpun bisa berhasil loh, tanpa harus ngambil les atau kursus menjahit. 

Contohnya aku sendiri, yang memutuskan belajar menjahit secara otodidak. Kenapa otodidak? Karena aku nggak punya waktu untuk ikut kursus. Kegiatanku sehari-hari udah cukup menyita waktu *sok sibuk*, jadi aku nggak mungkin lagi meluangkan waktu dan tenaga untuk kursus menjahit di luar rumah. Kedua tentu saja karena alasan biaya. Kursus menjahit itu biayanya cukup mahal bagiku. Daripada buat bayar kursus, mending duitnya buat beli kain atau peralatan jahit. Terus belajarnya dari mana kalau nggak kursus? Belajarnya dari internet, lewat website atau blog, dan belajar dari buku-buku menjahit. Nah di bawah ini aku sharing buku jahit menjahit yang aku punya. Siapa tahu ada yang tertarik belajar menjahit juga, atau pengen cari buku menjahit yang rekomended. Yuk kita lihat..


Buku Panduan Membuat Pola Busana


Buat yang sama sekali belum mengenal dunia jahit menjahit, dijamin langsung puyeng melihat penampakan buku ini. Apalagi bagian dalamnya, nggak ada menariknya sama sekali. Hanya kertas putih dengan cetakan tulisan dan garis pola busana yang cetakannya mirip banget ama fotokopian. Yup! Buku ini nggak ada menariknya sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi, mau nggak mau aku harus mempelajari buku ini, karena nggak ada lagi buku menjahit yang aku temukan saat itu. Memang cukup mengherankan, di Indonesia penjahit banyak, tapi buku tentang menjahit jumlahnya sangat sedikit. Itupun pelit banget ilmunya. 

Oke, kembali ke buku orange ini. Dengan susah payah aku mempelajari bagaimana membuat pola busana dengan teori dan hitungan yang lumayan njlimet untuk otak tuaku ini. Benar kata orang, no pain no gain. Akhirnya aku berhasil membuat pola, dan menjahitnya jadi beberapa blouse dan baju anak-anak. Hasilnya memuaskan, potongan pas di badan, karena emang ukurannya dihitung secara detil. Tapi buku ini cuma mengajarkan membuat pola saja, sedangkan step-step dan cara menjahit tidak dibahas di buku ini.

Beautiful Blouse - Tatiana Vidi



Aku sebut buku ini buku menjahit kontemporer. Lupakan acara ngitung ukuran yang njlimet. Buku ini sudah menghitungkannya untuk anda. #Halah kaya' iklan aja :D. Yang diperlukan cuma ukuran dada, pinggang, dan pinggul. Dari ukuran itu, kita tentukan masuk size apa, bisa XS, S, M, L, atau XL. Ada tabelnya untuk masing-masing ukuran. Selanjutnya tinggal membuat polanya sesuai ukuran yang tersedia. Praktis, nggak pakai puyeng ngitung sendiri. Kelebihan buku ini adalah pada step by stepnya. Jadi bagi pemula, buku ini sangat mudah dipahami. Kekurangannya, model bajunya itu-itu aja, paling-paling variasinya ada di panjang lengan atau blusnya aja. Satu lagi, polanya kurang pas untuk yang berbadan kurang ideal. Jadi bagi yang badannya kurang ideal, perlu ada modifikasi, seperti memperbesar atau memperkecil bagian tertentu, biar lebih pas.

Baju Kasual untuk Remaja


Males ngitung pola, males nggambar pola, tapi pengen bikin baju sendiri? Buku ini jawabannya. Bahkan orang yang belum pernah pegang mesin jahitpun bisa bikin baju dengan buku ini.. hihii. Tinggal ambil pola besar sisipannya buku ini, jiplak, potong kainnya, terus jahit. Model bajunya sangat-sangat sederhana. Jadi nggak perlu ahli untuk bisa menjahitnya. Kebanyakan modelnya tanpa lengan atau berlengan sangat pendek, jadi lebih cocok untuk baju santai.

Home Couture by Machiko Kayaki


Ini buku favoritku, sekaligus buku menjahit termahal yang aku punya. Benar kata orang jawa, ono rego ono rupo, alias kualitasnya sesuai dengan harga yang dibayar. Maklum aja, buku ini buku impor dari negeri sakura sana, dan dibuat oleh perancang busana ternama di negerinya. Model busananya sangat elegan, simple, klasik, tapi kelihatan mahal. Pokoknya bangga banget bisa membuat baju dari buku ini. Hasilnya terlihat seperti buatan penjahit profesional dari sebuah butik mahal.. hihii. Walaupun tulisannya dalam huruf jepang, tapi buku ini mudah dipahami. Yang aku suka dari buku ini, ada pola besarnya yang sangat presisi. Jelas petunjuknya titik-titik mana yang harus digabungkan. Jadi hasilnya lebih rapi. Bahkan untuk menjahit lengan yang biasanya sulit, dengan pola dari buku ini jadi lebih mudah. Buku ini menggunakan ukuran ideal standar Jepang, yaitu ukuran 9, 11 dan 13. Maaf untuk yang big size nggak tersedia polanya :D.

Majalah Dressmaking jadul dari dalam dan luar negeri


Buku-buku ini aku dapat dari hasil berburu buku bekas. Satu buku isinya ratusan model busana. Banyak banget ya? Walaupun tanpa pola berukuran besar, tapi buku ini mencantumkan cara membuat pola dasar dan pecah polanya untuk masing-masing model busana. Modelnya macam-macam. Dari yang pemula sampai yang ahli bisa memakai buku ini. Tinggal disesuaikan aja memilih model busana yang tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan kita. Dengan ratusan model busana, kita nggak akan kehabisan ide untuk bereksperimen.

Sampai sekarang aku masih sering berburu buku-buku menjahit, karena aku masih perlu banyak referensi untuk belajar. Sayangnya buku menjahit buatan dalam negeri masih sangat kurang. Kalau mau beli keluaran luar negeri mahal bingits.. Hiks. Mungkin nanti aku bikin buku menjahit sendiri aja, dengan rancanganku sendiri, kedengarannya keren ya? hehe