Monday, February 24, 2014

Korban Plagiarisme

Beberapa hari ini media marak memberitakan kasus plagiarisme yang dilakukan seorang sosok yang cukup ternama di kalangan akademisi. Dialah Anggito Abimanyu, Dosen Fakultas Ekonomika dan bisnis UGM. Dari beberapa berita yang aku baca, Pak Anggito ini akhirnya mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya tersebut. Dan tak hanya itu saja, dia juga memutuskan mundur dari staf pengajar di FE UGM. Masalah ini sudah selesai tanpa ada konflik yang berkepanjangan. Namun yang jadi pertanyaanku sekarang, mengapa orang sekelas Anggito Abimanyu ini rela merendahkan dirinya untuk membuat sebuah artikel yang isinya copasan dari artikel orang lain? Seorang Anggito yang opininya sangat dinanti-nanti masyarakat umum, namun membuat artikel yang bukan hasil dari pikirannya. Dan parahnya lagi, diakui sebagai hasil tulisannya. Sungguh sangat disayangkan.

Mungkin yang membaca ini ada yang berkomentar "Ah, namanya juga manusia. Adakalanya dia khilaf". Yah mungkin dia khilaf. Tapi coba kita lihat dari sisi orang yang karyanya dicopas. Kalau aku sih jelas kesal donk. Dan kebetulan aku sendiri mengalami hal itu. Persis sehari sebelum kasus Anggito ini mencuat, aku baru saja menyadari bahwa ternyata ada beberapa blog yang dengan sengaja meng-copas puluhan artikel yang kutulis di blog. Bukan satu dua artikel, tapi puluhan! Huft! Sampai sekarang aku masih gagal paham kenapa si plagiator itu susah payah meng-copas isi blogku. Dan tentu saja mereka ini mencopas tanpa menyertakan sumber aslinya. Jelas-jelas artikel-artikel copasan itu mereka akui sebagai karya mereka. Satu kata yang bisa aku bilang: "TERLALU!"

Mereka ternyata sudah sejak lama mengcopasin artikel-artikelku. Dan ini kuketahui tanpa sengaja. Suatu sore tiba-tiba temanku mengabariku bahwa ada sebuah blog yang isi dan judulnya sama persis dengan artikel yang pernah aku tulis. Penasaran, akhirnya aku cek sendiri. Dan benar sodara-sodara, isinya sama. Hanya kata "anak-anak", dia ganti dengan kata "teman-teman". Sebelumnya aku nggak pernah menyangka kalau blog-ku ini ternyata laku juga jadi korban plagiarisme. Kok dia nggak malu ya ngaku-ngaku tulisan orang sebagai tulisannya? Sangat jelas kalau tulisannya hasil copasan. Dilihat dari tanggalnya saja udah kelihatan siapa yang duluan posting.

Setelah kejadian itu, aku jadi berpikir jangan-jangan masih ada lagi yang mengcopas artikelku. Akhirnya aku cek di copyscape, ternyata banyak sekali artikel di blogku yang dicopas di blog orang. Haduuuh.. Segitu kerenkah tulisanku hingga banyak yang nyontek? :P. Atau mungkin para plagiator ini begitu putus asanya cari ide hingga ngopasin tulisan orang? Entahlah. Sampai saat ini aku masih saja nggak ngerti sama kasus plagiarisme ini. Apa bangganya sih nyontek tulisan orang?

Tulisanku memang nggak sekeren tulisan Hotbonar Sinaga yang dicopas oleh Anggito Abimanyu, tapi rasanya nyesek juga melihat tulisanku dicontek plek begitu. Yah sudahlah, karena aku bukan siapa-siapa, buat apa aku meributkan hal ini. Toh pembaca juga tahu kok mana tulisan yang asli. Semoga saja para plagiator ini sadar nantinya. Sampai saat ini aku nggak mengambil langkah apapun untuk kasus ini, kecuali curhat di facebook, twitter, dan blog.. (katanya nggak papa, tapi curhat kemana-mana.. Hahaha).

Aku pun sengaja nggak mencantumkan nama-nama para plagiator ini. Aku nggak rela blog mereka jadi terkenal dan ratingnya naik gara-gara aku tulis disini.. Hehehe. Udah nyontek, eh malah jadi terkenal. Macam artis nggak laku yang bisanya cari sensasi aja #eh.

Tuesday, February 18, 2014

Berburu Benang Rajut di Pasar Asemka

Habis wisata alam, terus wisata religi, sekarang saatnya kita berwisata belanja. Ngomong-ngomong soal wisata belanja, Jakarta memang nggak ada matinya. Pusat perbelanjaan merebak dimana-mana. Dari yang pasar ecek-ecek dan becek, hingga mall mewah bertaraf internasional. Berapapun uang yang akan kita habiskan, Jakartalah tempatnya. Jakarta adalah surga bagi pecinta belanja. Baik yang beneran shopping atau yang hanya window shopping. Kalau aku sih tergantung tempatnya. Kalau di pasar ITC biasanya beneran shopping. Tapi kalau di mall-mall mewah biasanya cuma window shopping aja. Soalnya harga barang-barang di sana menurutku nggak masuk akal.. Hehe.

Nah, dari cerita di atas udah bisa menebak donk kemana aku akan mengajak teman-teman belanja. Pasti tahulah, wong kelihatan dari judulnya #halah :P. Yup, Pasar Asemka. Pasar ini sudah sangat terkenal di mana-mana. Bahkan bukan hanya warga Jakarta saja, tapi banyak juga yang dari luar Jakarta datang kesini. Biasanya mereka membeli barang dalam partai besar, secara grosiran. Tentu saja membeli barang dalam jumlah besar sangat menguntungkan, karena harganya jauh lebih murah dibandingkan ketika membeli barang secara eceran. Jadi maklumlah kalau yang belanja kesini, kebanyakan para pedagang yang kulakan barang untuk dijual lagi. Tapi bukan hanya pedagang saja, para emak-emak juga banyak yang belanja kesini. Namanya juga emak-emak, kebanyakan memang hobinya belanja :D

Dan Pasar Asemka ini magnet yang sangat kuat bagi emak-emak sepertiku. Di samping harganya yang murah, barang-barang yang dijual disana sangat menggoda iman. Seperti mainan, alat tulis, aksesoris, cinderamata, pernak pernik craft, tas, dompet, hingga alat olah raga. Pokoknya kalau kesana mata ini langsung berbinar-binar. Semua pengen dibeli. Makanya demi menjaga keuanganku tetap stabil, kunjunganku kali harus terencana dan jelas apa yang akan dibeli. Biar mata ini nggak jelalatan lirak lirik yang lain. Dan aku bertekad menjaga iman dan fokus pada benang rajut saja. Yup, tujuanku ke Asemka kali ini untuk mencari benang rajut saja.


Biasanya aku membeli benang rajut secara online. Tapi berhubung jenis benang rajut yang aku inginkan jarang dijual di toko online, maka aku coba cari di Asemka. Dan tentunya aku berharap mendapatkan harga yang lebih murah. Dari hasil nanya-nanya mbah gugel, aku menemukan toko benang rajut yang rekomended. Buat para rajuter, toko yang satu ini pasti sudah sangat melegenda. Namanya toko Sunflower. Aku sebagai rajuter, penasaran juga donk, seperti apa sih sensasinya berada di toko yang isinya benang semua itu.

Oh iya, bagi yang belum tahu di mana letak Pasar Asemka, aku jelaskan sedikit posisinya. Pasar Asemka itu ada di daerah Kota Tua. Berdekatan dengan stasiun Kota dan Museum Bank Mandiri. Kalau sudah sampai di kedua tempat ini, nggak usah takut kesasar, karena dari sini tinggal jalan kaki saja mengikuti plang petunjuk jalan. Untuk mencapai daerah ini bisa dengan kendaraan pribadi, kereta, atau bus transjakarta. Kali ini aku memilih menggunakan kereta, karena lebih praktis, cuma sekali jalan saja. Dan partner in crime dalam petualanganku kali ini adalah suamiku. Aku mengajaknya bukan tanpa alasan loh. Sebenarnya banyak teman-teman cewekku yang ngarep mau nganterin aku ke Asemka. Tapi aku tolak. Soalnya kalau belanja sama mereka, bakalan lebih boros, karena pasti yang dilihat macem-macem. Ujung-ujungnya yang tadinya nggak pengen beli, jadi ikutan beli. Huhuuu.. Makanya aku pilih suamiku aja. Selain lebih aman, lebih irit, juga lebih hemat tenaga. Karena dia bisa bantu mbawain belanjaan.. Hihihi.


Dari stasiun Kota, kami berjalan kaki ke arah Asemka, dan langsung menuju Toko Sunflower. Tokonya gampang dicari kok. Ada di jalan petokangan no. 48. Nggak perlu masuk-masuk gedung. Begitu sampai di sana, wuiih memang benar loh, isinya benang semua. Langsung bingung deh. Panik mau pilih yang mana.. Hihihi. Semua macam benang rajut ada di sana. Yang lokal maupun import. Alat rajut dan buku-buku rajut juga ada. Maunya sih dibeli semua tuh benangnya. Tapi aku harus fokus karena dananya terbatas. Aku susah payah menahan hasrat belanja ini. Dan aku cukup berhasil, dengan "hanya" membeli 32 gulung benang rajut polyester, 1 hakpen rose, dan 1 hakpen tunisian. Eh iya, benangnya dijualnya per bungkus (isi 4 gulung), harganya Rp 40.000. Jadi 1 gulung benang harganya Rp 10.000. Kantongku langsung tipis. Itupun belum puas #halah.


Daripada lama-lama imanku rontok, mendingan buru-buru keluar dari toko itu. Kami lewat depan pertokoan yang ada di bawah flyover. Banyak toko yang menjual aksesoris, goodie bag, dan pernak pernik craft. Dan bisa ditebak, aku tertarik untuk membeli juga. Kali ini aku mendapatkan peniti piring yang biasa kupakai buat bikin bros. Lumayan loh. Satu bungkus, isinya 100 buah, harganya Rp 16.000. Murah kan? Setelah itu aku pindah ke toko lain. Mataku berbinar saat melihat rentengan mutiara-mutiara sintetis. Kebetulan aku udah lama kehabisan stok mutiara. Biasanya aku pakai buat bikin bros, kalung dan aksesoris lain. Aku senang sekali karena harganya cuma Rp 2.500 saja per renteng. Padahal biasanya di toko lain dijual dengan harga paling murah Rp 5.000 per renteng. Itupun warnanya nggak lengkap.


Dari situ iseng-iseng lihat penjual kacamata, penjual sepatu, dan toko mainan.  Untung nggak beli apa-apa di sana. Soalnya suamiku bilang "Udah ya, lain kali aja". Oke, sip! Harus nurut. Karena udah lapar banget. Kami mencari warung makan. Sebenarnya banyak banget penjual makanan. Tapi kami mencari yang tempatnya agak teduh. Eh belum nemu tempat makan, malah ketemu toko payung. Beli lagi deh. Haduuh.. Bangkrut mak.. Hahaa.. Oke.. Oke.. Kali ini benar-benar udahan belanjanya. Tinggal menyantap makan siang saja. Mie goreng di emperan toko, seharga Rp 10.000 per porsi. Yuuks mariii...
Sssttt.. Waktu perjalanan pulang aku masih saja tergoda sama penjual kue ape. Padahal udah kenyang perutku ini. Tapi dibeli juga.. Hehe


Yah itulah edisi wisata yang menguras uang dan tenaga. Tapi nggak bikin kapok. Malah makin penasaran, karena belum puas ngubek-ngubeknya. Kapan ya ke Asemka lagi? ^^

Tuesday, February 11, 2014

Masjid Kubah Emas, Megah Tapi Nggak Ramah

Hai.. Haii.. Pembaca Runaway Diary sekalian.. Jumpa lagi dengan Cova, si admin imut. Semoga temen-temen masih ingat padaku walaupun akhir-akhir ini aku jarang update blog. Apalah aku ini yang ngaku-ngaku jadi blogger tapi udah 2 minggu blognya nggak ada update-an. Ah jadi malu.. Hehehe. Tapi nggak update blog bukan berarti aku ini bermalas-malasan loh. Karena di luar kegiatanku di dunia maya, aku ini bisa dibilang lagi sibuk. Kali ini sibuknya beneran sibuk beraktivitas. Bukan sibuk menata hati alias galau loh #eh.

Semua berawal dari kedatangan bapak, ibu, dan adik-adikku seminggu yang lalu. Tentu ini momen istimewa, karena sangat jarang keluargaku di kampung mengunjungiku di rimba ibukota ini. Makanya waktu yang hanya seminggu bersama mereka ini aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk menjamu mereka. Salah satu di antaranya mengabulkan keinginan bapakku yang sudah sejak lama ingin mengunjungi Masjid Kubah Emas. Itu loh masjid yang kubah-kubahnya dilapisi emas 24 karat setebal 2 - 3 mm, yang berlokasi di Jalan Meruyung, kelurahan Limo, kecamatan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat. Masjid yang dibangun oleh pengusaha sukses dari Banten yang bernama Dian Djuriah Al Rasjid ini bernama asli Masjid Dian Al Mahri. Hmm.. Bisa dibayangkan donk betapa kayanya ibu Dian ini. Tuh emas kalau dikiloin bisa jadi berapa kilo ya? Habisnya berapa duit tuh buat membangun masjid semegah itu? Subhanallah...

Masjid Kubah Emas
Nah, hari minggu yang lalu kami berdelapan berangkat menuju Masjid Kubah Emas. Biasanya sebelum mengunjungi tempat yang baru, aku gugling dulu di internet untuk mencari beberapa info tentang tempat  tersebut. Dalam traveling langkah ini sangat penting, agar kita punya gambaran bagaimana medan dan situasi yang akan dihadapi. Namun, berhubung aku mempunyai teman kantor yang rumahnya dekat dengan lokasi masjid tersebut, kali ini aku nggak tanya-tanya lagi sama mbah gugel. Aku berpegang pada penjelasan dari temanku itu saja. Menurutnya, kalau mau kesana dari rumahku bisa lewat Cinere atau Depok. Dua-duanya jalurnya macet. Biar nggak kena macet lebih baik kesananya pagi-pagi saja, sebelum jam 9 pagi. Oke sip!

Hari minggu dini hari aku sudah membangunkan seluruh anggota keluargaku. Dan tepat pukul 7 pagi kami siap berangkat. Rupanya benar informasi dari temanku itu. Pagi ini jalan menuju Masjid Kubah Emas memang lancar dan nggak ada kemacetan yang berarti. Hanya 1 jam saja waktu yang kami tempuh. Tepat pukul 8 pagi, kami sampai di Masjid Kubah Emas. Wuuih senang donk, membayangkan menikmati suasana masjid di pagi hari, kemudian sholat dhuha di sana. Kalau berada di masjid semegah itu mungkin ibadahku jadi lebih khusuk. Hehe..

Gerbang depan masjid
Eh, tapi apa yang terjadi? Kenapa gerbangnya tertutup rapat begini? Pagar besinya terpasang gembok. Kami celingak celinguk dengan penuh tanda tanya, memendam keingintahuan yang besar, dan tak sabar ingin menjangkau masjid yang dari balik gerbang ini tampak sangat indah. Akhirnya suamiku berinisiatif bertanya pada seorang penjaga warung. Informasi yang didapat, katanya masjidnya memang masih tutup, alias belum dibuka untuk umum. Baru jam10 pagi nanti akan dibuka, dan ditutup lagi pada jam 8 malam. Aku baru tahu ada masjidnya yang jam kunjungnya ditentukan, semacam jam besuk di rumah sakit aja. Kalau masjid di belakang rumah sih bukanya 24 jam sepanjang hari selama-lamanya. Jadi buat para traveler yang suka nggembel alias suka nyari masjid buat nginep biar irit, jangan harap bisa nginep di masjid Kubah Emas ini, karena setelah pukul 8 malam kalian pasti udah diusir. Boro-boro mau nginep :P.


Ah bagaimana ini? Kami harus nunggu 2 jam lagi. Mau pulang nggak mungkin, karena waktunya pasti habis di jalan. Apalagi saat itu sedang mendung dan hujan, nggak memungkinkan untuk berada di luar. Akhirnya kami nongkrong di pinggir jalan dan muter-muter di supermarket Giant terdekat. Setelah 2 jam terlewati kami kembali ke masjid kubah emas. Masjid sudah dibuka. Menuju parkiran, kendaraan kami dicekat seorang penjaga, yang kemudian mengeluarkan semacam karcis bertuliskan infak untuk musolla sebesar Rp 3000. Setelah kami bayar, kami memasuki area masjid. Sebelum masuk, kami dicegat lagi oleh seorang petugas berbaju hitam-hitam yang wajahnya nggak ramah. Kali ini kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000. Rp 10.000 untuk kami berdelapan mungkin nggak mahal, tapi aku merasa aneh aja, soalnya baru kali ini mau masuk masjid mesti bayar. Kalau di masjid-masjid lain adanya kotak infak, dimana orang suka rela mengisinya, bukan bertarif seperti ini. Tapi aku memaklumi kalau di masjid kubah emas ini ada semacam pungutan, karena masjid yang luas dan megah ini pasti butuh biaya perawatan.

ramai pengunjung
Hujan rintik-rintik masih mengguyur bumi saat itu. Sementara dari tempat parkiran ke masjidnya masih harus jalan kaki lumayan jauh. Tapi pesona masjid kubah emas yang indah dan megah membuat kami mengabaikan semua itu. Kami berjalan kaki dengan penuh semangat. Eh iya, pengunjungnya saat itu ramai banget loh. Banyak sekali rombongan dengan bus-bus besar. Sebelum masuk masjidnya, kami sempatkan untuk foto-foto bersama dulu. Bagi yang nggak bawa kamera, jangan kuatir, karena banyak tukang foto keliling yang menawarkan jasanya. Semacam tukang foto yang ada di monas gitu. Jadi kalian tetap bisa narsis walaupun nggak bawa kamera.

miniatur Ka'bah



tempat wudhu
Hujan makin deras, mau nggak mau kami harus buru-buru masuk masjid. Pintu masuknya dipisahkan antara pengunjung pria dan wanita. Eh iya, pengunjung harus menitipkan alas kaki, tas, dan payungnya ke tempat penitipan yang berada di ruangan bawah. Tapi kami cuma menitipkan alas kaki saja, karena tas dan payung masih kami gunakan. Setelah mengambil wudhu, kami menuju ke bagian dalam masjid. Di depan pintu masjid ada dua orang penjaga wanita yang bergamis dan berkerudung besar, tapi mukanya lebih galak dari sekuriti bank. Tanpa basa basi dia berkata padaku dengan muka judes "Payungnya nggak boleh di bawa ke dalam, bikin basah!"
Okelah, tapi ngomongnya nggak usah nyolot gitu donk bu.. :P. Dan payungnya tetap aku bawa ke dalam tapi aku masukkan ke dalam tas. Yang penting kan nggak bikin basah lantai masjid.

Sip! Siap masuk masjid. Eiits.. Lagi-lagi si gamis hitam itu mencegat kami lagi. "Masuk masjid ini harus pakai kerudung. Jadi dia nggak boleh masuk!" katanya dengan muka tetap judes menunjuk ke arah Lita anak perempuanku. Waduh, kali ini aku nggak terima begitu saja. Nggak mungkin kan aku ninggalin anakku di luar. Lagian walaupun badannya bongsor, tapi dia kan masih anak-anak. Aku sebenarnya paham dan mengerti maksudnya, bahwa masuk ke area masjid harus menutup aurat. Yang jadi masalah adalah cara menyampaikannya kurang santun menurutku. Kata-kata dan mimik wajah penjaga itu lebih galak dari penjaga penjara. Bukan hanya aku saja yang sakit hati, tapi Lita juga. Walaupun akhirnya diijinkan masuk setelah mengenakan mukena, tapi Lita sudah terlanjur terluka. Anakku memang sensitif, dan kata-kata penjaga itu membuatnya nggak nyaman. Alhasil baru beberapa menit di dalam masjid, dia sudah mengajak keluar. Huft.. Padahal masuknya susah. Udah gitu di luar masih hujan deras.

Ya sudahlah, daripada Lita uring-uringan, kuputuskan untuk keluar dari masjid. Tapi sebelum keluar, aku sempatkan memotret beberapa bagian ornamen masjid. Dari tiangnya, lantainya, dindingnya, bagian bawah kubahnya, hingga karpetnya, semuanya mewah, indah, dan megah. Ssstt.. Aku motretnya sembunyi-sembunyi loh, soalnya di sini ada larangan "Dilarang Memotret". Beruntung aku memakai mukena, jadi kameraku nggak terlihat oleh penjaga bergamis hitam itu.. Hihihi

bagian dalam masjid

detil bagian bawah kubah utama
Keluar masjid kami harus hujan-hujanan menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh. Hawa dingin dan air hujan, apalagi sambil lari-larian, membuat perut kami merasa lapar. Untungnya ada penjual pop mie di area parkiran. Lumayan buat mengganjal perut. Dengan harga Rp 8000/ porsi untuk pop mie kuah panas, kami mengusir dinginnya udara, dan dinginnya bayang-bayang muka sang penjaga.. #eh :P


Happy traveling ^^