Monday, July 30, 2012

Senyum Membawa Luka

Senyum itu sedekah, senyum itu ibadah. Senyum adalah sedekah yang paling murah, dan ibadah yang paling mudah, tapi memberi dampak yang besar. Senyum tak hanya menyenangkan orang lain, tapi juga menenangkan diri sendiri. Dan bagiku senyuman tak pernah gagal memperbaiki suasana hati dan memberi semangat. Seperti lirik lagu "Pasti Bisa"nya Citra Solastika berikut ini.. ♫ Akuu.. ingin lepaskan seluruh bebanku.. Dan kujalani hidupku dengan senyumaaan..♫. 



Aku tak pernah kesulitan untuk tersenyum pada orang lain, apalagi pada diri sendiri (sambil ngaca..eh..). Tak terkecuali di kantor. Bertemu teman-teman dan memberikan senyum penuh kehangatan, terasa menyenangkan bukan? Apalagi kalau teman kita itu membalas senyuman kita dengan ketulusan yang sama, ditambah dengan sapaan, tentu makin menambah keakraban. 

Tapi ternyata tidak semua orang seperti itu. Aku beberapa kali menemui orang yang tidak mau membalas senyumku. Padahal kami tinggal di satu atap dan di satu lantai (tapi tidak satu rumah..halah). Intensitas bertemupun bisa dibilang lumayan sering. Walaupun kami memang belum pernah ngobrol. Tapi itu tentu bukan alasan untuk tidak membalas senyumku. Sampai sekarang aku masih tak tahu alasannya, kenapa ada orang yang tidak mau membalas senyuman orang lain. Kalau aku pribadi, baik orang dikenal maupun tak dikenal, tersenyum padaku, aku pasti akan membalas senyumnya. Tentu saja orangnya orang normal ya..bukan orang gila. Hehe..

Eh ngomong-ngomong tentang orang gila, aku sempat trauma membalas senyuman orang gila ini. Ceritanya begini.. Beberapa tahun yang lalu, saat aku masih muda belia, saat itu baru lulus SMA, aku pergi ke Jogja sebatang kara. Saat naik kobutri (bis kotanya Jogja), tiba-tiba ada seorang ibu dengan wajah full make up tersenyum dan menghampiriku. Refleks aku balas senyumnya, dan tak ada pikiran buruk sama sekali. Karena di mataku ibu itu tampak sangat normal. Namun tiba-tiba ibu itu bukannya ramah melihat senyumku, tapi malah marah-marah. Sumpah serapah tak jelas ditujukan padaku.  Salah satu kalimat yang berhasil aku tangkap adalah “Heh! Kowe ki sopo?! Wani-wanine numpak kobutriku!”. Kalau ditranslate dalam bahasa nasional artinya begini “Heh! Kamu ini siapa?! Berani-beraninnya naik kobutriku!”. Aku bingung sekali dan ngeri. Adakah yang salah dengan senyumku hingga membuat orang jadi kalap begini? Walaupun rasa hatiku tak karuan, aku tetap berusaha tenang dan berdoa dalam hati, semoga ibu ini tidak mencakar-cakar mukaku atau menamparku. Kalau sampai terjadi bisa-bisa muka mulusku ini jadi buruk rupa seumur hidup *lebay*.

Semua mata di dalam kobutri yang penuh itu memandangku. Ada pandangan iba, ada pandangan ngeri, tapi ada pula yang malah geli. Duuh malu sekaliii.. Untung bantuan segera datang. Sang kondektur buru-buru menghalau ibu itu dari hadapanku. Dia berkata “Dia gila mbak.. dah sering banget bikin rusuh”. Dan aku baru sadar, kalau aku baru saja dimaki-maki orang gila. Hadeeh..gara-gara membalas senyumannya. Oh..inikah yang disebut dengan senyum membawa luka.. -___-

Nah teman-teman.. Tetaplah tersenyum, tapi jangan tersenyum pada orang gila. Dan jangan senyum-senyum sendiri, karena bisa-bisa dikira gila. Keep smiling friends.. Makasih udah membaca postinganku yang kurang bermutu ini... ^^

Friday, July 27, 2012

Puding Sutera Leci ala Cova

Selamat pagi teman-teman... Mumpung masih pagi, aku mau ngomongin makanan nih. Loh pagi-pagi kok ngomongin makanan, buka puasanya kan masih lama. Justru karena buka puasanya masih lama, jadi masih banyak waktu untuk mempersiapkan menu untuk berbuka puasa.. hehe..

Kebetulan kemarin aku mendapat giliran menyiapkan konsumsi untuk ta’jilan di masjid kompleksku. Sebagai emak-emak yang banyak urusan dan acara, tentunya aku bakal kerepotan kalau harus menyiapkan menu yang ribet. Dan biasanya untuk keperluan ta’jilan ini aku ga pernah membuat sendiri. Aku pilih cara praktis dengan membeli atau memesan di tukang kue. Tapi kali ini aku bertekad membuat sendiri, karena selain untuk menghemat, juga agar kebersihannya lebih terjamin.


Nah, menu yang aku siapkan adalah pudding cantik ini, yang aku beri nama ‘Puding Sutera Leci ala Cova’.  Walaupun tampilannya cantik, tapi membuatnya tidak sulit. Walaupun tampilannya mewah tapi cara membuatnya mudah. Dan rasanya.. hmmm.. maknyus banget. Pas sekali buat berbuka puasa. Buat teman-teman yang ingin menjadikan pudding ini sebagai  teman berbuka nanti, dengan senang hati aku akan membagikan resepnya. Dijamin semua bisa. Simak ya..




 Bahan-bahannya:
1 bungkus agar-agar swallow globe warna orange.
1 kaleng susu kental manis putih
Air matang sebanyak 5 kaleng susu kental manis
Sirup rasa leci (aku pakai sirup marjan)
Buah-buahan yang dipotong kecil:
kelengkeng, strawberry dan mangga (bisa juga pakai buah yang lain)


Cara membuatnya:

-    Campur agar-agar, susu kental manis, dan air matang. Kemudian rebus sampai mendidih.
-    Setelah itu tuang ke dalam wadah pudding kecil-kecil. Bisa dibeli di toko plastic, biasanya dijual dengan harga Rp 10.000, isinya 50 buah sudah termasuk tutupnya. Untuk  1 resep ini, bisa untuk 30 buah.
-    Biarkan membeku. Setelah itu tuangi dengan sirup rasa leci kira-kira 1 sendok teh per wadah
-    Kemudian beri hiasan buah di atasnya. Atur biar tampilannya cantik.


Nah, sudah selesai! Sangat mudah kan.. Selamat mencoba ya.. Selamat berpuasa..

Monday, July 23, 2012

Barong Show di GWK

sambungan dari sini

Hari sudah mulai malam saat itu di GWK. Karena anak-anak tampaknya sudah capek, maka kami memutuskan untuk turun dari area patung Wisnu dan Garuda. Masih terdengar alunan musik bali, dan makin lama makin jelas seiring dengan langkah kami menuruni anak tangga. Ternyata malam itu ada pertunjukan tari barong di amphiteater GWK yang terletak di bagian depan, tepat di sebelah pintu masuk. Dan untuk melihat pertunjukan itu, kami tidak dipungut biaya lagi. Ternyata tiket masuk GWK seharga Rp 30.000 itu sudah termasuk dengan nonton pertunjukan barong. Mmm.. berarti tidak mahal juga ya, dibandingkan tiket nonton tari kecak di Tanah Lot seharga Rp 50.000 atau di Uluwatu seharga Rp 100.000.  Tak mau melewatkan pertunjukan itu, maka kami sempatkan menonton, walaupun hanya sebentar. Tak disangka, di dalam teater penontonnya sangat padat, hingga berjubel sampai batas panggung karena tidak kebagian tempat duduk, termasuk di antaranya aku dan anak-anak. Sedangkan suamiku memilih berdiri di pinggir pintu masuk.



Pertunjukannya lumayan seru, walaupun aku tak tahu persis ceritanya karena tak menonton dari awal. Ada beberapa penari kecak, disambung dengan penampilan semacam sepasang ondel-ondel. Tapi ini ondel-ondel bali ya, jangan dibayangkan mirip dengan ondel-ondel betawi. Besarnya sih hampir sama, tapi kostumnya beda *ya iyalah.. Lo pikir ini di PRJ.. Eh.. :D. Belakangan aku baru tahu kalau sepasang ondel-ondel ini namanya barong Landung. Setelah itu ada penampilan firedance, yang menyemburkan api dari mulutnya. Bukan benar-benar menyemburkan api sih, tapi pemainnya 'meminum' minyak tanah, kemudian menyemburkannya ke arah obor yang dipegangnya, dan membuat apinya tersembur dahsyat. Iya, dahsyat, sampai-sampai aku shock karena ikut kena sembur minyak tanah. Duuh.. Kapok deh.. Beginilah nasib, kalau nontonnya terlalu dekat dengan panggung, bagaikan nonton film 4D deh. Dan sukses membuat sekujur tubuhku beraroma minyak tanah, plus aroma keringat. Perpaduan dua senyawa itu pasti tak kalah dahsyat dengan pertunjukan tadi.

Setelah acara sembur-semburan dan lempar-lemparan api, barulah muncul tokoh utama pertunjukan ini, yaitu barong. Kalau barong dari cina disebut barong sai, kalau barong dari bali ini, aku sebut bli barong. Dan menurutku antara bli barong dan barong sai ini ada kemiripan, yaitu sama-sama sok ganteng dan narsis. Serius loh. Lihat saja gerak-geriknya, caranya berjalan, caranya mengedip-ngedipkan mata, caranya bergoyang, seolah berkata "Hey, lihat aku donk..". Dasar barong genit! Hehe..




Sedang enak-enaknya bli barong berlenggak-lenggok, tiba-tiba datang leak yang menggambarkan sifat jahat. Tapi herannya, kenapa kostum leaknya putih-putih ya? Bukannya biasanya yang jahat itu pakainya hitam-hitam? Eh nggak juga sih, aku jadi ingat film Lord of The Ring, dimana penyihir jahatnya memakai kostum putih-putih. Ya seperti leak inilah. Mungkin ini menggambarkan bahwa kadang kejahatan itu tidak hadir dalam kemasan yang menakutkan, terkadang dia bisa hadir dalam balutan keindahan. Seperti leak putih ini, yang sangat indah di mataku.



Sang leak datang mengganggu ketenangan, dan para penari kecak berusaha melawan, tapi gagal.. Dan gagal lagi. Berkali-kali sang leak ditusuk, tapi bukannya mati, malah justru semakin kuat. Beberapa penari mulai berguguran. Dan aku mulai bosan, masa sih membunuh 1 leak aja sesusah itu. Padahal satu banding puluhan. Ah, kelihatannya bakal lama nih, kalau menunggu leak dikalahkan. Atau jangan-jangan malah leaknya memang tak bisa dikalahkan. Daripada kecewa dengan akhir ceritanya, mending kami akhiri saja trip ke GWK kali ini, karena hari sudah malam. Bagaimana akhir ceritanya biarlah itu jadi misteri saja. Sebuah cerita akan selalu jadi cerita, dan ceritanya takkan pernah berakhir karena akan selalu disambung dengan cerita-cerita yang lain. Seperti perjalanan kami ini, akan disambung dengan cerita perjalanan yang lain. Jadi simak terus ya... ^^

Monday, July 16, 2012

Kala Senja di GWK

Puluhan menit telah berlalu, dan mobil yang kami tumpangi masih saja tak bergeming. Sore itu, kemacetan di daerah Kuta dan sekitarnya memang lumayan parah. Padahal jarak yang akan kami tempuh menuju kawasan pantai Nusa Dua masih jauh. Tiba-tiba suamiku berkata "Ma, ke Nusa Duanya besok aja ya? Macet banget gini, pasti sampai sana udah gelap. Percuma juga kan, nggak lihat apa-apa". Sebenarnya aku agak kecewa dengan keputusan suamiku itu. Sudah lama aku merindukan suasana sore di pantai Nusa Dua yang teduh dan tenang. Birunya laut dan putihnya pasir sangat menentramkan. Inilah salah satu alasanku kembali ke Bali, ingin mengunjungi Pantai Nusa Dua lagi. Tapi mau tak mau aku harus berpikir rasional, dan membenarkan kata-kata suamiku. "Ya udah, ke Nusa Duanya ditunda aja. Kita sekarang ke GWK aja yang lebih dekat" sahutku.

Jarak tempuh ke GWK memang lebih dekat, namun kemacetan membuat perjalanan kami menjadi lebih lama. Menjelang senja barulah kami sampai ke tempat tujuan. Sampai di pintu gerbang, kami membayar tiket masuk yang ternyata lebih mahal dari biasanya. Mungkin karena musim liburan, atau memang karena sudah naik harganya. Harga tiket yang biasanya Rp 25.000/orang, menjadi Rp 30.000/orang."Harga yang lumayan mahal untuk hanya melihat patung" pikirku. Aku berharap semoga anak-anakku senang, jadi bayar agak mahalpun tak terlalu rugi. *dasar pikiran emak-emak pelit :P.



GWK di kala senja
Sampailah kami di halaman parkiran yang penuh sesak oleh mobil dan manusia. Beberapa bis-bis rombongan darmawisata sekolah tampak menghalangi beberapa jalur parkiran. Dan bisa diduga, pasti ini rombongan bis dari Jawa. Benar saja, ratusan anak-anak SMP dan SMA saling berbicara dalam bahasa jawa, sangat familiar bagiku, serasa ada di Jogja.. Hehe..

Kami segera bergegas menaiki anak tangga, menuju lokasi patung GWK berada, yaitu di Plaza Wisnu, tempat patung wisnu setengah badan tanpa lengan berada, dan Plaza Garuda, tempat patung kepala garuda berada. Lokasi patung-patung itu memang tersebar, karena sebenarnya patung GWK tersebut belum jadi, disebabkan kekurangan dana.  Jadi antar bagiannya masih terpisah-pisah, dan ada beberapa bagian yang belum sempat dibuat. Rencananya bagian-bagian tersebut akan digabungkan menjadi patung Garuda Wisnu Kencana raksasa, yaitu sebuah patung garuda yang dikendarai oleh Dewa Wisnu. Aku membayangkan jika proyek ini berhasil, pasti patung itu sangat megah tak kalah dengan patung Liberty di New York. Sayangnya proyek ini terhenti, dan kita harus puas dengan hanya menikmati potongan-potongannya saja, dan tak lupa berpose narsis di depannya, sebagai bukti bahwa "Hey, aku lagi di Bali loh.." :D.

Eh, tapi tunggu dulu, jangan dikira berfoto narsis di depan GWK itu mudah, kalau pengunjungnya ramai sekali begini. Baru mau bergaya, memamerkan senyum termanis sepanjang masa.. "Yak.. Tahaaan..", tiba-tiba "Permisi.. Maaf.. Excuse me..", orang-orang lalu lalang dengan seenaknya membuyarkan konsentrasi berpose..haduuuh.. Maksud hati ingin mendapatkan foto dengan background GWK, tapi yang didapat malah foto diri yang lagi manyun terjebak di lautan manusia.




GWK yang penuh manusia
Menyerah.. Aku menyerah karena usahaku mendapatkan foto terbaik harus menemui kekecewaan berkali-kali, sampai akhirnya senja datang. Dan orang-orang satu per satu mulai meninggalkan area tersebut, seiring dengan tenggelamnya matahari. Tapi justru karena itulah kami masih bertahan. Di saat pengunjung sudah mulai sepi, tentu kami lebih leluasa menikmati. Ternyata suasana sunset di GWK sungguh indah. Matahari yang tenggelam di balik tebing-tebing yang berada di seberang patung garuda, memberi warna semburat orange kekuningan di langitnya. Sayup-sayup terdengar alunan musik bali, menambah suasana magis senja itu. Dan mengingatkanku bahwa "Aku benar-benar ada di Bali". 



fullmoon yang cantik
Hari mulai malam, dan matahari telah digantikan oleh rembulan yang bersinar terang. Aku baru ingat "Oh, iya.. Malam ini kan fullmoon, pantas aja bulannya sangat indah". Buru-buru suamiku mencari posisi untuk mengabadikan bulan purnama yang cantik itu. Akupun menghampiri suamiku yang sedang asyik memotret. Melihatku datang, dia menurunkan kameranya dan melingkarkan lengannya di pinggangku. Kami berdua menatap rembulan yang indah itu. Aku berbisik "Menikmati bulan purnama di pulau dewata.. Romantis ya pa..". Dan suamiku tersenyum penuh arti. Hening.. Serasa dunia milik berdua. Tiba-tiba.. "Mamaaa! Buruan pulaaang.. aku capek niih!" teriakan Ariq membuyarkan semuanya. -___-



bersambung ke...


Friday, July 13, 2012

Tentang Uang

Ini tentang uang…

Aku ingat belasan tahun yang lalu ketika aku masih remaja muda belia. Dulu aku termasuk anak gadis yang malas, terutama untuk urusan kerjaan rumah, seperti masak, beres-beres rumah, nyapu, ngepel, dan sebangsanya. Kadang ibuku sampai kesal dengan kemalasanku itu, karena aku sangat jarang membantunya. Kalaupun aku mau membantu, pasti hasilnya tidak memuaskan.  Hingga sering kali ibuku berkata "Oalah nduk, bisamu tuh apa toh? Besok kalau kamu berumah tangga sendiri trus piye?". Tapi dengan entengnya aku jawab "Ibuk nggak usah kuatir. Besok kalau aku udah berumah tangga, aku nggak bakal ngerjain kerjaan kek gini bu. Aku bakal punya banyak duit. Bisa bayar pembantu. Nggak usah repot-repot ngerjain sendiri". Ibuku hanya mengamini kata-kataku itu.

Dan alhamdulillah, belasan tahun kemudian kata-kataku dulu itu terwujud. Setidaknya aku memang punya cukup uang untuk membayar pembantu. Tapi masalahnya tidak semudah itu. Nyatanya walaupun aku punya cukup uang, bukan berarti aku mudah mendapatkan pembantu. Semua tak sesederhana bayangan masa mudaku dulu. Mencari pembantu yang pas di hati, tak hanya cukup dengan uang. Hingga sekarang aku belum mendapatkan orang yang tepat. Dan mau tak mau aku harus mengerjakan sendiri semua pekerjaan yang dulu sering aku hindari. Ternyata uang tidak selalu bisa menyelesaikan segala urusan.

 ****

Masih tentang uang…

Kebanyakan perempuan pasti suka belanja. Aku juga begitu. Walaupun tak punya uang, aku tetap menyukai jalan-jalan di tempat perbelanjaan untuk sekedar survey harga atau melihat-lihat saja. Istilah kerennya 'window shopping'. Biasanya pasti ada saja barang yang menarik hati. Tapi berhubung aku belum punya uang, aku terpaksa menunda mempersunting barang idamanku itu. Bersabar hingga saatnya aku punya uang.

Beberapa hari kemudian, uangpun di tangan. Dan bergegas aku menuju tempat di mana barang incaranku dijual. Tak sabar ingin segera membawanya pulang. Tapi apa daya, saat aku sampai di sana, barang idamanku sudah tidak ada. Padahal aku sudah punya uang cukup untuk membelinya. Terbukti bahwa uang tidak selalu bisa mewujudkan segala keinginan. Apalah artinya uang, kalau aku tak bisa mendapatkan barang yang aku inginkan.

****

Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Kalau ada yang berpendapat sebaliknya, tolong pikir sekali lagi.

Monday, July 09, 2012

Kembali ke Bali

“Gemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk lembut angin di bukit Kintamani
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manis”

Sepenggal lirik lagu Nyanyian Rindu yang dilantunkan dengan merdu oleh Ebiet G Ade, mengiringi kerinduanku akan Bali. Sebuah pulau indah yang menyimpan banyak cerita dan kenangan. Mungkin bagi sebagian orang Bali hanyalah sebuah tempat berlibur saja, tapi bagiku lebih dari itu. Bali adalah penyembuh lukaku, dan telah membantu menemukan diriku kembali. Ada cerita di setiap perjalanan, dan Bali menggoreskan cerita yang dalam. Aku menyukai setiap sudutnya, keindahan alamnya, dari pantai hingga pegunungan yang menentramkan, juga keramahan dan kehangatan penghuninya. Para pria bali yang memakai udeng tampak mempesona di mataku. Juga para wanitanya yang tampak anggun dan seksi, dengan rambut panjangnya, dan mengenakan kebaya pas di badan, yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bahkan preman yang berbody rambo tapi berhati rinto, dan para turis asing, semuanya ramah padaku. Itulah sepenggal rasaku tentang Bali. Sebuah kebahagiaan yang ingin kubagikan kepada orang-orang tercintaku.


Dan demi mewujudkan keinginanku itu, akhirnya tanggal 3 Juli kemarin, dengan berbekal tiket pesawat promo yang kusiapkan 7 bulan yang lalu, aku bersama  suami dan anak-anakku mengunjungi Bali. Anak-anak sangat antusias dengan perjalanan ini, karena ini pertama kalinya mereka naik pesawat. Jadi ingat waktu pertama kali aku naik pesawat, ada rasa excited, deg-degan, bingung, plus norak.. hehe. Tapi bedanya, anak-anak bisa dengan polos dan tanpa malu-malu mengekspresikan diri, sedangkan aku tentu saja malu kalau ketahuan katroknya.. haha. 





Siang itu pesawat dipenuhi anak-anak, jadi seperti darmawisata anak-anak TK. Maklumlah ini liburan sekolah. Suasana di dalam pesawatpun jadi berisik dan heboh. Kadang-kadang pramugarinya  kewalahan juga. Ah, namanya juga anak-anak.. :D. Yang seru adalah pada saat pesawat lepas landas, anak-anak berseru “woooow..” merasakan sensasi pesawat yang mulai terbang, dan tertegun melihat pemandangan dari ketinggian.  Mmm.. memang sungguh indah.. :)


Sekitar 1,5 jam perjalanan udara, akhirnya sampai juga di Bandara Ngurah Rai. Tak sabar aku ingin menghirup udara Bali, udara liburan, udara yang menenangkan. Tapi begitu kakiku menginjakkan bandara itu, tiba-tiba bayangan indahku buyar. Suasana yang kulihat sama sekali berbeda dengan bayanganku. Bandara Ngurah Rai yang biasanya sederhana dan bersahaja, kini hampir tak tampak wujudnya karena begitu penuh manusia. Ratusan manusia dari berbagai bangsa tumplek blek di sana. Sangat semrawut. Ditambah lagi, sedang ada pembangunan di area bandara itu, semakin menambah ketidaknyamanan. Tapi aku memaklumi karena sekarang memang sedang musim liburan sekolah, dan Bali merupakan tujuan wisata nomer 1 di Indonesia, wajarlah kalau banyak yang berbondong-bondong  ke Bali. 


Setelah menunggu mobil sewaan beberapa menit, akhirnya kami keluar meninggalkan bandara yang semrawut itu. Aku berharap bisa segera mendarat di hotel yang kami pesan di kawasan pantai Kuta, dan segera bermain-main di sana. Tapi aku harus kembali kecewa, karena perjalanan dari bandara ke Kuta yang biasanya ditempuh hanya 15 menit  saja, hari itu harus kami tempuh dengan waktu lebih dari 1 jam. Penyebabnya tidak lain adalah kemacetan! Shock! Jauh-jauh dari Jakarta ke Bali, eh masih saja menemui macet. Kelihatannya semua warga Jakarta pindah ke Bali nih.. hadeeh.. 


Itulah hari pertama kami di Bali yang lumayan melelahkan. Hari berikutnya tak kalah melelahkan. Berbagai objek wisata sangat-sangat penuh pengunjung. Boro-boro mau melihat pemandangan yang indah, mau berjalanpun harus berdesak-desakan dengan orang banyak. Boro-boro mau bermain-main, sekedar foto-foto bernarsis riapun susah, karena setiap spot sudah dipenuhi orang :(.


Oh.. Bali.. ternyata penggemarmu banyak sekali. Berasa seperti patah hati nih. Ada rasa kecewa di hatiku, karena aku tak berhasil menunjukkan keindahan Bali yang sesungguhnya pada orang-orang yang aku cintai. Tapi dalam setiap perjalanan pasti ada pembelajaran. Dan aku yakin suami dan anak-anakku banyak belajar dari perjalanan ini. Seperti Lita, walaupun tidak puas melihat pemandangan yang indah, tapi dia puas mengamati orang-orang dari berbagai ras, dan dia tampak menikmati itu. Juga Ariq, walaupun tak puas bermain air dan pasir, tapi dia senang bisa bermain-main dengan monyet dan kelelawar di Alas Kedaton. Begitu pula suamiku, walaupun tak berhasil mengabadikan Bali dalam foto yang menawan, tapi sepertinya dia tampak senang saat belanja kaos khas Bali. 


Bali.. aku akan tetap kembali.. entah kapan.. Dan aku berharap saat itu kau menyambutku dengan suasana yang lebih baik..

Monday, July 02, 2012

Fakta dan Tips Seputar PRJ

bukan SPG
Wahai teman-teman sekalian, khususnya yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pasti teman-teman sudah tahu tentang PRJ, Pekan Raya Jakarta. Event yang diselenggarakan setahun sekali ini, memang sangat ditunggu-tunggu oleh jutaan warga Jakarta dan sekitarnya. Berbagai acara digelar di PRJ, seperti pentas musik, pagelaran seni, aneka lomba, aneka kuliner, dan aneka stan-stan segala macam produk. Tentunya produk-produk yang dijual di sini banyak menawarkan diskon-diskon menarik dan harga yang lebih murah. Hal inilah yang banyak menarik minat warga. Sehingga walaupun harus berdesak-desakan dan berpanas-panasan, mereka rela demi memburu barang-barang incarannya. Dan di sini tidak hanya kaum hawa yang gila belanja, tapi kaum adam yang tidak biasa belanjapun mendadak menjadi hobi belanja. Tentu saja, karena produk-produk yang mayoritas konsumennya kaum pria, seperti otomotif, elektronik dan aneka gadget, menawarkan harga yang lebih murah. Selain itu hadirnya para SPG yang menawan, dan berbodi seksi, dengan pakaian minimnya yang memperlihatkan kulit yang mulus, makin memanjakan mata para pria. Sedangkan untuk produk yang mayoritas konsumennya ibu-ibu, jangan harap bakal dilayani SPB (sales promotion boy) yang ganteng, macho dan berbodi seksi. Huh..dasar curang ya. Ini namanya diskriminasi..hehe.. :P.
abang kerak telor
Melihat begitu meriah dan hebohnya event ini, rasanya kebangetan kalau masih ada warga Jakarta yang belum pernah mengunjungi PRJ. Aku sendiri walaupun sudah 15 tahun tinggal di sekitar Jakarta, tapi baru tahun ini aku mengunjungi PRJ.  Ternyata aku termasuk yang kebangetan ya..hihihi. Nah, bagi teman-teman yang belum pernah ke PRJ, aku akan berbagi cerita tentang fakta dan tips-tips seputar PRJ. Simak ya..


bareng ama musuhnya Naruto :D
- Susah mencari tempat parkir. Membludaknya pengunjung, membuat tempat parkir di area PRJ menjadi penuh sesak. Hingga untuk masuk ke area parkir saja, bisa memakan waktu berjam-jam. Untuk itu sebaiknya teman-teman datang pada saat masih sepi yaitu di pagi hari, agar lebih leluasa mencari parkiran. Jika hal ini tidak memungkinkan, siap-siap saja tak bisa parkir di dalam. Satu-satunya cara adalah parkir di luar area PRJ. Namun kita perlu hati-hati, karena menurut temanku, parkir di luar itu rawan pemalakan. Untuk mengatasinya, sebaiknya sebelum parkir di luar, kita tanyakan dulu kepada 'petugas'nya berapa tarif parkirnya. Biasanya 'petugas' akan memberitahukan tarifnya, dan memberikan semacam kuitansi sebagai tanda parkir. Ini untuk menghindari penarikan tarif parkir di luar batas kewajaran.

- Panas yang menyengat di PRJ. Dimana-mana yang namanya Jakarta pasti panas. Seperti juga di PRJ. Untuk menghindari kulit menjadi gosong, alangkah baiknya jika membawa payung. Jadi sedia payung sebelum panas.. Hehe..

- Bawalah uang cash yang cukup. Karena tidak semua stan di PRJ mempunyai mesin gesek untuk transaksi pembayaran. Jangan sampai kejadian seperti yang aku alami. Setelah perjuanganku untuk mendapatkan barang diskonan, bersaing dengan para pengunjung lain, aku harus rela membatalkan pembelian, karena ternyata aku kehabisan cash. Padahal stan itu tak menyediakan mesin gesek. Mau ambil uang, letak ATMnya jauh dari stan itu.. Huhuu.. Gagal deh dapat barang bagus :(.

- Mau pipis susah. Sebenarnya jumlah toilet di area PRJ banyak sekali, jadi kita dapat dengan mudah menemukannya. Yang jadi masalah adalah yang ngantrinya puanjaaaang sekali. Jadi siap-siap saja menghabiskan waktu hanya untuk ngantri di toilet. Hanya ada 2 pilihan mengatasinya, menahan diri berdiri mengantri sambil menahan diri dari mencium aroma yang tidak sedap, atau menahan pipis sambil tetap keliling-keliling. Dua-duanya ga enak ya...hehe. Kalau aku sih pilih yang kedua. Untunglah masih bisa ditahan :D.

- Sharing itu menguntungkan. ada beberapa produk yang dijual murah, jika membeli dalam jumlah banyak. Padahal kita tidak membutuhkan sebanyak itu. Untuk mengatasinya kita bisa sharing dengan sesama pengunjung. Ya sok-sok kenal aja, sambil menawarkan untuk membeli barang yang sama. Seperti saat aku membeli lipstik. Harganya Rp 60.000 untuk 4 buah lipstik Mustika Ratu, bagiku itu kebanyakan. Akhirnya aku sharing dengan seorang pengunjung, jadi dibagi 2, masing-masing 2 buah, dengan harga tetap murah.

- Capek keliling-keliling, kita bisa istirahat sejenak. Cari tempat yang adem, misalnya di emperan hall-hall yang berAC. Jadi sediakan alas untuk lesehan, bisa bawa tiker kecil atau pakai alas koran. Lumayanlah bisa leyeh-leyeh sejenak :D.

Met liburan ke PRJ!! ^_^