Friday, September 28, 2012

Happy Wedding Anniversary

Happy 10th Wedding Anniversary!!
Iya, tepatnya besok tanggal 29 September 2012, kami merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 10. Wah udah lama juga ya. Nggak terasa udah selama itu aku menyandang status sebagai Mrs. Andi Sulistyo. Rasanya masih kaya’ dulu aja, jaman masih pacaran.. ciee.. Padahal anak udah 2.. hihi.. 


Sebenarnya aku ingin menulis yang bernuansa romantis dalam rangka hari jadi pernikahan kami ini, tapi nggak tahu kenapa, rasanya aku ini nggak bisa nulis yang berbau cinta-cintaan. Apalagi suasana tidak mendukung. Maklumlah aku menulis di kantor, dan saat ini ruanganku lagi berantakan dan berisik banget karena lagi diberesi. Sungguh suasananya nggak nyambung banget buat menulis bertema cinta. Ya sudah, daripada dipaksain malah jadinya lebay kaya’ anak-anak ABG alay jaman sekarang.  Ciyuuus? Miapah? #halah.. hehe.. Maka aku merayakannya dengan sentuhan yang beda. 


Kebetulan  beberapa hari yang lalu aku tiba-tiba ingat postingan Jeng Mayya on Morning Raindrops yang berjudul Free Digiscrapbook Design, yang launching pada bulan Mei yang lalu. Waktu itu aku sempat request digiscrapbook design tersebut, dan sudah aku posting di sini. Hasilnya bagus banget loh. Nah, kali ini aku kembali bikin repot Jeng Mayya yang baik hati ini, dengan request membuatkan digiscrapbook design untuk foto romantisku bersama suami.. uhuk! :D. Dan inilah hasilnya.. Manis sekali ya.. Dan kesan romantisnya sangat terasa.. ihiiirrr.. 



Ternyata ungkapan yang mengatakan “cinta tak harus diungkapkan dengan kata-kata” itu ada benarnya juga. Karena cinta bisa diungkapkan lewat digiscrapbook.. ^^

Makasih banyak ya Jeng Mayya… *kecup basah* :D.



 
 
Tulisan ini merupakan apresiasi terhadap program Desain Digiscrapbook Gratis oleh Mayya"

Monday, September 24, 2012

Menguak Legenda Rawa Pening


Baru Klinting, sebuah nama yang sangat familiar di telingaku. Nama yang terkait dengan legenda Rawa Pening itu, sudah aku dengar sejak aku masih kanak-kanak. Ibukulah yang mengenalkan kisah Baru Klinting padaku. Setiap malam sebelum tidur, ibuku tak lupa  menceritakan dongeng cerita rakyat dan kisah para nabi. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan kini kepada anak-anakku. Salah satu cerita yang masih sangat kuingat adalah tentang Legenda Rawa Pening ini. Dari cerita ibuku itulah kemudian timbul rasa penasaran padaku tentang danau ini. Dan setelah puluhan tahun berselang, barulah terwujud keinginanku melihat langsung Rawa Pening. 

Gerbang Bukit Cinta
Setelah perjalanan kami ke Gedong Songo, kami melanjutkannya ke Rawa Pening. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Gedong Songo, masih di wilayah Ambarawa juga. Danau luas yang terletak di pertemuan lembah gunung, cukup mudah ditemukan, walaupun kami baru sekali ini kesana.

Tak berapa lama sampailah kami di Rawa Pening. Di sekitar Rawa Pening ini, dibuka sebuah taman wisata yang biasa disebut dengan Bukit Cinta. Tak jelas maksudnya apa dinamakan demikian. Menurutku malah lebih tepat disebut taman Baru Klinting. Karena di sini terdapat patung ular naga raksasa yang melingkari taman, dan kita bisa masuk melalui mulut dan ekornya, semacam gua. Pembuatan patung ular naga ini bukan tanpa maksud. Jelas bahwa patung tersebut untuk mevisualisasikan legenda Rawa Pening. Ular naga itulah yang bernama Baru Klinting. Yang konon sampai sekarang masih menjaga Rawa Pening. 


Dari taman tersebut, kita bisa menikmati pemandangan Rawa Pening. Danau yang luas dan tenang ini diapit gugusan gunung dan perbukitan. Ada nuansa mistis yang kurasakan saat menatap hamparan danau itu. Tiba-tiba khalayanku berkembang terlalu jauh, aku sempat berpikir "Jangan-jangan si Baru Klinting memang masih ada di danau ini". Ah, malah jadi merinding. Daripada ngayal yang nggak-nggak, mending mengabadikan pemandangan yang indah ini.


Rawa Pening memang fotogenik, tak heran jika banyak fotografer yang tertarik mengabadikannya. Genangan air yang membentang luas, berpadu apik dengan gerombolan tanaman eceng gondok, dan membuat suasananya tidak monoton. Ditambah dengan kehadiran perahu-perahu berwarna-warni, memberikan aksen tersendiri, yang memberikan efek ceria dan colorful hingga mampu melembutkan kesan mistis dari danau ini.

Yang lebih menarik lagi, ternyata perahu-perahu itu bisa disewakan. Tarifnyapun cukup murah, Rp 35.000 saja perperahu. Jadi semakin banyak penumpang tentu semakin murah tarif per orangnya. Tapi ingat, maksimal satu perahu hanya mampu memuat 10 orang. Nah, bagi yang ingin mengeksplore lokasi ini lebih dalam, bisa menyewa perahu ini. Seru loh. Dengan naik perahu kita bisa menikmati pemandangan Rawa Pening dari berbagai sisi.






pemandangan dari perahu
Puas mengelilingi danau, dan foto-foto, kini saatnya beli oleh-oleh buat ibuku. Kami menuju ruko-ruko yang bersebelahan dengan Bukit Cinta, yang menjual oleh-oleh khas Rawa Pening. Di antaranya menyediakan ikan kecil-kecil yang digoreng krispi, mirip dengan yang dijual di Pangandaran. Katanya sih ikannya diambil langsung dari Rawa Pening. Hmmm.. Rasanya yummy loh. Cocok buat cemilan atau buat lauk.

Di sini juga dijual buku tentang Legenda Rawa Pening. Bagi yang mau tahu ceritanya silahkan beli bukunya. Atau baca aja di sini.



narsis di perahu ^^

Tuesday, September 18, 2012

Candi Gedong Songo.. Back to The Past


Tujuh belas tahun yang lalu aku pernah menggigil di tempat ini, dalam sebuah tenda yang basah dan dingin karena hujan deras yang mengguyur, bersama ke sepuluh temanku satu regu. Di tempat ini pula aku pernah berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya menyusuri jalan raya yang sangat sepi di malam hari, demi mencari klinik pengobatan, karena temanku sakit dan butuh pertolongan segera. Dan di tempat ini aku merasakan perpaduan keindahan alam dan peninggalan sejarah yang menghadirkan suasana magis. Ditambah dengan medan yang sulit dan hawa dingin yang sangat menusuk. Sungguh sebuah penyiksaan yang indah.

Kini, aku kembali ke tempat ini. Demi sebuah kenangan. Demi sebuah cerita yang aku ungkap ke anak-anakku. Dan aku ingin mereka menyaksikan langsung tempat yang menakjubkan ini. Gedong Songo.. I'm back to the past.

Berlima kami berangkat menuju Candi Gedong Songo yang terletak kaki gunung Ungaran, daerah Bandungan, Ambarawa. Aku, suami, 2 anakku, Lita dan Ariq, dan adikku Febri. Ternyata perjalanan kesana tidak sesulit yang kubayangkan. Padahal seingatku, 17 tahun yang lalu, jalanan yang kami lalui sungguh menguras tenaga mobil yang kami tumpangi, jalan berliku-liku dan menanjak parah. Hingga saat itu kami was-was kalau-kalau mobilnya mogok di jalan. Mungkin karena mobil yang kami pakai sekarang kualitasnya lebih bagus, sehingga lebih bertenaga. Atau karena kondisi jalannya sudah dibuat lebih nyaman untuk dilalui. Entahlah. Yang jelas, di sepanjang jalan kami masih bisa menyaksikan keindahan alam yang membuat decak kagum.




Selain kondisi jalan yang lebih baik, aku juga merasakan perbedaan yang lain. Yaitu hawa di tempat ini yang tidak lagi sedingin dulu. Dulu, baik pagi, siang, maupun malam, aku sering tersiksa oleh hawa dingin yang sangat menusuk. Bahkan aku sampai tak berani mandi. Tapi kini tidak lagi kurasakan itu. Hingga jaket yang sudah aku siapkan untuk menahan hawa dingin, kini hanya jadi modal gaya-gayaan saja. Mungkinkah ini dampak dari global warming?

Memasuki kawasan Candi Gedong Songo, perbedaan makin jelas terasa. Tempat ini kini makin ramai. Banyak penjual makanan dan cenderamata. Setahuku dulu di sini hanya ada penjual sate kelinci saja. Kini berbagai pilihan kuliner ada disini. Bagus juga sih. Jadi bagi yang nggak bisa makan sate kelinci, bisa pesan menu makanan yang lain. 


sate kelinci
 Kusebarkan pandanganku ke seluruh penjuru mengamati tempat ini dengan seksama. Memang banyak sekali yang berubah. Sepertinya lahan perkemahan pun sudah tidak ada. 17 tahun yang lalu, disini hanya ada lahan perkemahan dan tak ada yang namanya wisatawan. Tampaknya dulu Gedong Songo memang belum dibuka untuk tempat wisata.

Sekedar  informasi, Gedong Songo adalah kompleks candi yang terdiri dari 9 buah bangunan candi dengan posisi yang tersebar di tempat dan ketinggian yang berbeda. Konon katanya candi-candi ini dibangun pada zaman Wangsa Sailendra. Belasan tahun yang lalu, untuk mencapai ke tempat candi-candi itu berada, harus dilalui dengan hiking alias jalan kaki. Tentu saja dengan medan yang sangat sulit. Harus melalui jalan setapak yang menanjak dan berliku, yang berbatasan dengan tebing yang curam. Hingga kalau tidak hati-hati melangkah, bisa terjun bebas ke dasar tebing. Masih jelas diingatanku, kala itu aku berjalan dengan was-was, karena pandanganku terhalang oleh kabut yang tebal. Akupun mencium bau belerang yang cukup menusuk, yang berasal dari sumber mata air panas alami. Sumber air panas tersebut saat ini telah dikelola dan dikomersialkan. Katanya banyak khasiatnya, di antaranya bisa menyembuhkan penyakit kulit.



uap belerang di sumber air panas
jalan menuju puncak

Kini, bagi yang ingin mencapai tempat ke sembilan candi itu berada, tak perlu bersusah payah seperti yang kualami dulu. Cukup dengan mengendarai kuda saja. Dengan membayar jasanya sebesar Rp 50.000, sudah full sampai dengan puncak tertinggi. Apalagi rutenya kini sudah lebih mudah dilalui, dan keamanannya lebih terjamin. Jadi jangan kuatir. Ikuti saja saran sang pawang kuda bagaimana cara mengendalikan kudanya. Dijamin nggak rugi deh. Karena kita akan disuguhi pemandangan yang tak terkira indahnya. Bahkan aku sendiri sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Lihat saja foto-fotonya, dan bayangkan keindahannya :).






Wednesday, September 12, 2012

Satu Tahun Runaway Diary


“Ledakkan idemu agar kepalamu nggak meledak” – Gol A Gong

Alhamdulillah.. Tak terasa sudah setahun blogku "Runaway Diary" beredar di dunia maya, ikut meramaikan kancah perbloggeran dunia. Selama setahun ini telah terposting sebanyak 72 tulisan, dengan jumlah pageviews mencapai 34.804, dan jumlah follower sebanyak 158. Tentu ini suatu prestasi besar bagiku yang sebelumnya tak punya pengetahuan sama sekali tentang dunia blog, dan tak punya hasrat untuk menulis. Dulu aku merasa diriku ini tak punya bakat dalam bidang menulis. Terbukti dengan nilai mata pelajaran menulis semasa sekolahku dulu yang pas-pasan. Aku lebih senang membaca tulisan orang lain, ketimbang menulis sendiri. Dan aku berpikir, menulis bukanlah bidangku.

Hingga suatu ketika aku dihadapkan pada suatu situasi dimana sahabat, teman, dan orang-orang terdekatku  menjauhiku. Aku kehilangan tempat berbagi ide, pengalaman, dan cerita. Semakin hari semakin menumpuk file-file di otakku, tapi aku tak tahu kepada siapa aku harus berbagi. Saat itu aku merasa tak ada seorangpun yang mau mendengarkanku. Akhirnya jalan yang kutempuh adalah dengan menuliskannya. Tujuanku menulis pada awalnya bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk menyalurkan isi otakku. Seperti kata-kata om Gol A Gong "Ledakkan idemu, agar kepalamu nggak meledak". Kira-kira seperti itulah yang kurasakan. Maka kuledakkan ide-ideku dalam sebuah tulisan.

Tulisan awalku adalah tentang perjalanan yang bagiku cukup fenomenal ke Bali. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Kutuliskan dengan sederhana, kuanggap aku sedang bercerita pada seorang sahabat. Dan berharap dia bisa ikut merasakan apa yang kurasakan. Lalu setelah aku tulis, apa yang aku lakukan dengan tulisanku ini? Hanya disimpan? Ah tidak, aku tetap membutuhkan seseorang untuk membacanya. Maka kuputuskan untuk mengirimnya via email kepada teman dekatku yang tinggal di luar kota yang memang sangat penasaran dengan Bali. Tak berapa lama, aku mendapatkan balasan. Dia bilang "Wah aku suka tulisanmu. Tulisanmu bagus loh. Semua mengalir, seolah aku dibawa langsung kesana. Aku tunggu ceritamu lagi yaa..". Ada rasa aneh saat membaca pujiannya. Aku yang tidak berbakat menulis ini ternyata bisa menyenangkan orang lain melalui sebuah tulisan. Itulah proses awal aku mulai menyadari bahwa meledakkan ide dalam sebuah tulisan, bukan hanya merefresh otak dan melegakan pikiran, tapi juga bisa bermanfaat dan menyenangkan orang lain. Dari situlah aku mulai berpikir untuk membuat sebuah blog, agar tulisanku selanjutnya bisa lebih terorganisir. Dan melalui blog, ledakan ideku tidak  hanya ‘didengar’ oleh lingkungan tertentu saja, tapi bisa mencakup segala penjuru dan segala kalangan. Karena dunia internet dan dunia blogger tak terbatas.

Melalui blog pula aku bisa mendapatkan teman-teman baru, baik di dunia maya maupun nyata. Dengan nge-blog aku bukan hanya belajar menulis, tapi juga seni yang lain. Seperti mendesign tampilannya agar lebih nyaman dikunjungi. Juga bagaimana berinteraksi dengan para pengunjung, agar mereka merasa diterima saat berkunjung di rumah mayaku ini. Blogku ini terbuka untuk siapa saja, dan siap menerima segala komentar, pujian, kritikan bahkan cacian. Aku terima semuanya sebagai sebuah pembelajaran.

Aku sangat berterima kasih kepada teman-teman blogger semua yang membantu proses belajarku ini. Banyak ilmu, ide, dan masukan yang penting bagi perkembangan blog-ku ini. Juga kepada para ‘admirers’, ‘silent readers ‘‘n haters’.. terima kasih telah membuat Runaway Diary ini ada. Dan karena kalian pula Runaway Diary tetap ada sampai sekarang, dan tetap konsisten menelurkan postingan.
Itulah sekilas tentang lahirnya Runaway Diary, blog kebanggaanku ini. Semoga kedepannya aku bisa menghadirkan postingan-postingan yang lebih bermutu, bermanfaat dan menghibur para pembaca sekalian. Happy Blogging ^^

Note: Maaf ya.. sudah berhari-hari blog ini sepi. Maklumlah pemiliknya lagi banyak tugas negara.. hehe.. Jadi berhari-hari pula nggak buka komputer ‘n nggak sempet posting..