Monday, April 28, 2014

Molen Cocopandan Teman Jalan-jalan

Setiap mau jalan-jalan pasti mikirin bekalnya apa. Bukan hanya bekal pakaian, obat-obatan, dan peralatan mandi, tapi juga bekal makanan. Apalagi kalau traveling bersama anak-anak, membawa cemilan itu wajib hukumnya. Kalau tidak, bisa-bisa bakalan bete sepanjang jalan, dan aku mesti menghadapi rengekan mereka yang tak berkesudahan. Selain itu, membawa bekal makanan sangat praktis untuk menghemat pengeluaran, karena biasanya di tempat wisata harga makanan suka semena-mena. Dan kalau kebetulan kita traveling ke tempat yang jauh dari peradaban dimana penjual makanan sangat langka, membawa bekal makanan adalah penyelamat di saat kelaparan. #berasa kek iklan apa gitu :D

Kalau jalan-jalannya cuma dekat, biasanya cemilan makanan ringan udah cukup. Tapi kalau menempuh perjalanan sampai berjam-jam, aku selalu membawa cemilan yang agak berat. Cemilan kok berat, gimana sih? Maksudnya cemilan yang cukup bikin anteng perut. Jadi kalaupun mesti telat makan utama, perut tetap aman karena ada yang ngganjel. Nah kali ini aku akan sharing salah satu makanan bekal kami saat traveling ke Tanjung Lesung minggu lalu, Cocopandan Molen.

Biasanya yang namanya molen itu isinya pisang, tapi molen bikinanku ini lain dari yang lain, karena isinya bukan pisang. Isinya adalah coconut alias parutan kelapa yang dimasak, ditambahkan dengan sedikit pasta pandan. Jadilah cocopandan molen.

Ada beberapa alasan kenapa aku memberi isian cocopandan. Pertama karena aku ingin memberi nuansa pantai pada cemilanku. Ceritanya biar senada gitu ama tujuan traveling kami. Pantai, identik dengan pohon kelapa. Dan pas banget kalau cemilannya juga beraroma kelapa. Apalagi kalau minumannya kelapa muda. Jadi serba kelapa deh.. hihihi

Kedua, alasan nostalgia. Beberapa tahun yang lalu, saat aku ke Bali, aku bertemu dengan seorang ibu yang baik hati. Beliau ini ibu dari temanku yang tinggal di Bali. Aku disuruh tinggal di rumahnya yang sederhana tapi penuh cinta. Setiap kami mau jalan-jalan, beliau selalu membawakan cemilan. Yaitu semacam molen yang isinya kelapa. Rasanya enak banget. Aku nggak tahu nama kuenya. Kusebut aja molen kelapa. Mirip dengan yang aku buat kali ini. Bedanya cuma bentuknya dan warna isiannya. Buatanku isiannya berwarna hijau karena kuberi tambahan pasta pandan, biar beraroma harum dan warnanya seger :D. Penasaran seperti apa wujud cemilanku? Ini dia penampakannya..


Ada yang penasaran juga gimana cara bikinnya? Baiklah, aku tulisin resepnya, siapa tahu ada yang mau coba. Nanti aku sharing di postingan berikutnya, karena sekarang aku mau makan siang dulu.. hehehe.. Met istirahat teman ^^




Thursday, April 24, 2014

Terdampar di Bodur Beach, Tanjung Lesung


Haii.. Apa kabar pembaca Runaway Diary?
Udah lama aku nggak nulis di sini. Sebenarnya banyak ide di otak ini yang ingin kukeluarkan, tapi susah merangkaikannya dalam tulisan. Mungkin karena terlalu banyak yang aku pikirkan, jadi otakku lelah. Okelah, sepertinya aku butuh refreshing. Bukan begitu?

Banyak cara untuk refreshing. Mendengarkan musik, nonton film, menyanyi, tidur, makan, dan melakukan hobi yang menyenangkan. Semua itu udah aku lakukan. Tapi sayangnya belum berhasil mendongkrak kadar fresh yang aku inginkan. Sepertinya kadar ruwetku udah terlalu tinggi, jadi butuh dosis besar untuk menyembuhkannya. Terpaksa aku pakai cara refreshing andalan yang selama ini belum pernah gagal, yaitu traveling.

Tapi masalahnya, traveling nggak bisa ujug-ujug jalan tanpa ada perencanaan. Terutama berkaitan dengan waktu dan biaya. Waktu yang aku punya hanya saat weekend saja. Dan biaya, terus terang nggak ada anggaran untuk jalan-jalan jauh. Jadi mau nggak mau travelingnya hanya sekitaran Jakarta saja. Tapi bosan juga kalau hanya ke Ancol atau Ragunan. Ke Anyer? Udah sering banget. Dan pantainya makin lama makin butek aja. Ke pulau Seribu?  Mau banget. Tapi sayangnya trip kesana udah penuh.

Akhirnya aku  tanya mbah Gugel, kira-kira di mana aku bisa runaway dadakan yang irit waktu dan tentu saja irit budget.  Tadaa! Tanjung Lesung! Tanjung Lesung adalah objek wisata pantai yang terletak di daerah Pandeglang, Banten. Sekitar 3-4 jam dari Jakarta. Yah lumayanlah, masih bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Tapi sayangnya pantai Tanjung Lesung sebagian besar sudah dikuasai oleh hotel-hotel mewah. Jadi mesti nginep di hotel itu kalau mau bersantai di pantai. Dan tentu saja muaaahaaal cyiin.. Nggak jadi fresh deh kalau inget tarif hotelnya.

Eh tapi jangan kuatir. Ternyata masih ada pantai di Tanjung Lesung yang terbuka untuk umum. Jadi kita nggak perlu menginap di hotel yang mahal itu untuk menikmati suasana pantai berpasir putih. Nama pantainya Bodur Beach alias Pantai Bodur. Dari beberapa blog traveler sepertinya pantai Bodur ini cukup menjanjikan. Jadi nggak sabar aku ingin membuktikan sendiri. Yuk cap cus cyiin..!

Pukul 6 pagi kami berangkat. Untuk menuju Tanjung Lesung ada dua cara, bisa lewat Pandeglang, bisa pula lewat jalur Anyer. Kami memilih jalur Anyer. Sebenarnya jalur Pandeglang jarak tempuhnya lebih pendek dibanding lewat Anyer, tapi kondisi jalannya nggak bagus. Jadi sepertinya lebih nyaman kalau lewat Anyer.

Hanya 2 jam saja kami sudah sampai di Anyer. Dan mampir sebentar di sana untuk sarapan bubur ayam. Masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai Tanjung Lesung. Lumayan jauh ya? Tapi nggak papa, nikmati aja perjalanannya. Sepanjang jalan nggak akan bosen kok, karena pemandangannya bagus banget. Sawah-sawah yang menguning, dan perbukitan yang subur. Dan yang bikin anak-anakku excited adalah kerbau-kerbau pembajak sawah! Kerbaunya banyak sekali loh. Bahkan kami sempet berpapasan dengan puluhan kerbau yang menyeberang jalan. Wuih jarang-jarang kan menemui pemandangan seperti ini?


Semakin dekat dengan tempat tujuan, pemandangan pantai tersaji di sepanjang jalan. Pantai yang tenang disemarakkan oleh kapal-kapal nelayan. Dan deretan pohon kelapa semakin menambah kuat suasana pantainya. Semacam di Miami gitulah.. hihihi :P

Nah, sampai deh di kawasan wisata Tanjung Lesung. Ada tulisan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Masuk ke kawasan ini semacam masuk ke sebuah kompleks mewah. Gerbangnya dijaga oleh security yang akan memberi kita kartu tamu, dan menanyakan kemana tujuan kami. Persis kaya' satpam di perumahan bercluster gitu. Masuk ke dalam, kami melewati jalanan yang rapi dan rindang. Di beberapa belokan ada plank petunjuk jalannya. Jadi nggak perlu takut nyasar. Kalaupun nyasar, paling-paling masuk ke hotel mewah.. hehe

Gerbang Bodur Beach sudah di depan mata. Di sinilah kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000 untuk membayar tiket masuk. Mahal ya? Nggak tahu ini resmi apa nggak. Penjaganya sih hanya segerombolan pemuda, yang kemudian memberi kami secarik kertas tiket dari hasil print-an ala kadarnya. Tapi ini masih lebih murah dibanding tiket masuk pantai anyer dan carita, yang harganya Rp 40.000. Oke, mari kita masuk.



Dan inilah pantainya. Seperti yang ditulis di beberapa blog traveler, pasirnya putih, lautnya biru, dan langitnya cerah dengan awan yang dramatis. Lukisan alam yang indah. Dan yang bikin takjub, pantai Bodur ini sepiiiii... Hanya ada satu dua keluarga yang berkunjung. Padahal pas long weekend loh. Beda banget sama pantai Anyer dan Carita yang dipenuhi pengunjung. Berada di Bodur Beach ini, serasa ada di pantai pribadi. Namun walaupun sepi, masih ada beberapa penjual makanan dan cenderamata di area parkiran, jadi nggak usah kuatir kelaparan. 

Sayangnya, pantai ini kurang terawat. Ada banyak ranting-ranting pohon yang berserakan di tepi pantai, sehingga memberi kesan kotor. Andai ranting-ranting itu dibersihkan, pasti jauh lebih keren. Mungkin karena ini pantai umum, jadi dibiarin begitu aja. Beda dengan pantai yang dikelola oleh hotel, yang pastinya lebih bersih dan terawat. Tapi kehadiran ranting-ranting itu malah memberi kesan seolah kami terdampar di pantai sepi tak berpenghuni. Jadi inget film Cast Away-nya Tom Hank. Tinggal nulis HELP gede di pasirnya..hihihi


Pantai ini cukup asyik untuk bermain. Pantainya landai, dan ombaknya ramah. Mau berenang, berjemur, berguling-guling, berfoto-foto narsis, bisa banget. Apalagi di sini sepi, nggak ada yang mengganggu. Katanya sunset di pantai ini juga keren loh. Tapi kami nggak sampai sore di sini. Setelah anak-anak puas bermain dan mencari kerang, kami meninggalkan Bodur Beach.

Sampai jumpa di edisi jalan-jalan berikutnya..
Happy traveling ^^

Friday, April 11, 2014

Pantai Pandawa, Pesona Di Balik Tebing



Hari ini matahari bersinar cerah, saat yang tepat untuk santai sejenak jalan-jalan ke pantai. Kali ini aku akan mengajak teman-teman menikmati Pantai Pandawa. Ada yang tahu di manakah pantai itu? Yup, di mana lagi kalau bukan di Bali. Tepatnya ada di Bali Selatan. Jadi nggak jauh dari Pantai Padang-padang, dan Pantai Suluban. Nah, kalau sudah pernah ke pantai padang-padang, pasti akan mudah menemukan pantai ini. Pantai ini termasuk pantai "baru", karena baru beberapa tahun yang lalu mulai dikembangkan. Seperti pantai-pantai di Bali lainnya, soal keindahannya nggak perlu diragukan lagi. Namun, setiap pantai selalu menawarkan keunikan masing-masing yang membuat setiap pengunjungnya terkesan, termasuk Pantai Pandawa ini. Itulah kenapa aku selalu menyukai pantai.

tebing yang dipangkas terlihat dari area parkir
Terus apa keunikan pantai ini? Keunikan Pantai Pandawa akan kita rasakan sejak dari 1,5 km menuju lokasi pantai, yaitu jalan yang kita lalui diapit oleh tebing-tebing kapur yang tinggi. Semakin mendekati pantai kita akan melalui sebuah jalan yang berada ditengah-tengah tebing. Jadi tebing yang megah dan tinggi itu dibelah, dan tengah-tengahnya dibuat jalan. Wow! keren deh.. Konon katanya dahulu sebelum dikembangkan, tebing-tebing tinggi itu ditumbuhi semak belukar, dan akses menuju ke pantai sangat susah karena berada di balik perbukitan tebing itu. Makanya Pantai Pandawa ini sering disebut sebagai Secret Beach, karena posisinya yang tersembunyi. Nah, beruntung sekarang kita bisa menikmati keindahannya dengan akses yang mudah. Hmm.. dunia pariwisata Bali memang jeli melihat peluang ya?

Ah iya, ada lagi ciri khas yang mencolok dari pantai ini, yaitu adanya patung pandawa lima berukuran raksasa yang di tempatkan di dinding tebing. Makanya pantai ini kini disebut Pantai Pandawa. Tadinya aku pikir patungnya nggak segede itu, tapi setelah melihat langsung rupanya patungnya guuedee banget! Lihat nih fotoku dengan salah satu patung, aku nyaris tak terlihat ya?


patung raksasa
Bagaimana dengan pantainya? Seperti aku bilang diawal tadi, pantai ini memiliki keindahan yang tak diragukan lagi. Pantainya landai dan berpasir putih, berpadu sangat menawan dengan birunya laut. Di beberapa bagian bisa kita lihat permukaan berkarang yang ditumbuhi ganggang. Perpaduan warnanya jadi tambah apik. Seger banget di mata. Dan airnya bening dan bersih. Bikin pengen nyemplung :D.



Di sepanjang pantai banyak sekali dijumpai kano-kano yang berjejer. Tentu saja kanonya disewakan, bukan dipinjamkan. Sayangnya aku nggak nanyain berapa harga sewanya. Klo aku sih cuma pinjam sebentar buat narsis.. hihi. Selain kano, bangku berpayung juga banyak berjejer. Pas banget buat yang pengen berjemur tapi takut item. Kalau turis bule biasanya jarang yang nyewa payung. Mereka lebih suka terpapar matahari langsung, soalnya biar kulitnya jadi eksotis, alias gosong.. hehe


Waktu aku kesana, pengunjungnya cukup ramai. Menurut penerawanganku pantai ini makin hari akan makin ramai. Semoga saja kebersihan dan ketertibannya juga tetap terjaga. Tapi jujur saja, kalau menurutku, pengunjung yang banyak justru akan mengurangi keindahan sebuah pantai. Iya kan? Bagaimana bisa menikmati keindahannya kalau setiap mata ini memandang yang terlihat hanya kerumunan orang-orang, seperti nasib Pantai Padang-padang dan Pantai Dreamland sekarang.

punya lala
Yuk ah kita ke pantai sebelum pantai jadi ramai.. :D
Happy traveling ^^



Tuesday, April 08, 2014

Cap Jae Alias Cap Cay Ala Magelang

Yeaah... akhirnya aku nongol lagi di rumah blogku ini, di sela-sela urusan dapur, urusan anak, dan urusan rajutan.. hehe.. Sepertinya makin lama jiwa emak-emakku makin kuat saja setelah 2 minggu full time di rumah. Buktinya aku makin seneng masak. Apalagi kalau hasilnya enak. Nah inilah yang bikin aku agak surprise. Dulunya aku nggak suka masuk dapur, tapi ajaibnya sekarang malah bisa bikin masakan yang maknyus. Yah setidaknya maknyus menurut versiku dan versi anak-anakku tentunya.

Kali ini aku ingin mengenalkan salah satu kuliner dari kampungku, Magelang. Namanya Cap Jae atau Cap cay kampung. Bagi yang tinggal di Magelang, Jogja dan sekitarnya, pasti sudah mengenal masakan ini. Tapi untuk daerah lain sepertinya jarang ada yang tahu. Bahkan selama 14 tahun aku hidup di Jakarta dan sekitarnya, aku belum pernah nemuin menu masakan ini di sini. Nah daripada ngiler ngidam masakan kampung, makanya aku bikin sendiri aja..

Untuk diketahui, cap jae kampungku ini nggak sama dengan cap cay yang biasa kita temui di Jakarta. Biasanya cap cay isinya hanya sayuran saja. Kalau cap jae kampungku ini isi yang dominan adalah irisan tepung terigu goreng. Adonan tepung terigunya mirip bakwan (tapi kosongan, tanpa sayuran) yang diiris memanjang. Dimasak dengan bumbu-bumbu, dan diberi pelengkap sayuran, bakso, atau sosis. Seperti ini penampakannya. Kelihatan maknyus kan? :D


Tertarik pengen bikin juga? Baiklah, akan aku bagi-bagikan resepnya. Di sini resepnya sesuai seleraku. Kalau kurang cocok, bisa dimodifikasi sendiri. Siapkan dulu bahan-bahan dasarnya:

Adonan tepung
200 gram tepung terigu
1 butir telur
1 siung bawang putih
sedikit garam
air secukupnya untuk mencampur adonan

Bumbu-bumbu
2 siung bawang putih
2 butir kemiri
5 butir merica
1 sdt garam
gula jawa secukupnya
kecap manis secukupnya

Pelengkap
sosis, wortel, kol/kubis, daun bawang, daun seledri (semua dipotong-potong)

Cara membuatnya:
1. Campur semua adonan tepung, kemudian goreng, seperti menggoreng bakwan. Setelah itu potong-potong memanjang. Sisihkan.
2. Haluskan bawang putih, kemiri, dan merica. Tumis hingga matang dan harum.
3. Masukkan sayuran, tumis hingga layu. Beri sedikit air.
4. Tambahkan garam, gula, dan kecap manis.
5. Masukkan potongan tepung terigu goreng, dan sosis
6. Aduk-aduk sampai bumbu meresap
7. Beri potongan daun bawang dan seledri
8. Sajikan selagi hangat
Selamat mencoba ^^

Kalau malas bikin sendiri, bisa kok beli di Magelang. Biasanya warung-warung bakmi di Magelang atau Jogja pasti menjual menu ini. Siapa tahu ada yang mau traveling kesana, bisa sekalian wisata kuliner.. hehe..

Tuesday, April 01, 2014

Aku Rapopo



Akhirnya air mataku jatuh juga pagi ini. Saat hanya sepi dan lagu-lagu paling galau dari musisi dalam negeri menemani. Kenapa aku menangis? Apa karena dikhianati? Apa karena sakit lambungku yang kampuh lagi? Atau karena pembantu pergi ? Atau mungkin karenanya keluarnya SK mutasi?

Terus terang sejak berita aku kena mutasi malam itu, aku mendadak lumpuh secara jiwa dan raga. Rasanya tak ada daya melakukan apa-apa. Bahkan untuk berpikir dan bicara pun aku tak bisa. Sedih..? Pastilah.. Tapi yang kurasakan lebih dari sedih. Ada rasa marah dan nggak rela, bahkan merasa dipermainkan. Bukan nggak rela aku dipindahkan ke unit kerja lain, tapi karena mutasi ini nggak sesuai inginku.

Sudah sejak setahun lalu aku mengajukan surat permohonan ke kantor pusat untuk dipindahkan ke Magelang. Ada alasan yang menurutku sangat kuat untuk pindah ke kampung halaman. Bagiku ini keputusan yang terbaik. Dan secara lisan pihak kantor pusat menjanjikan permohonanku akan dikabulkan setahun lagi, karena nggak bisa memindahkan hanya 1 orang saja, jadi harus dibarengin sama mutasi pegawai lain. Dengan penuh harap dan percaya aku menunggu masa setahun itu tiba. Bulan ini persis setahun dari surat permohonan kuajukan.  Tapi rupanya janji tinggal janji. SK mutasi keluar, dan benar ada namaku di sana. Sayangnya bukan mutasi ke Magelang, tapi ke tempat lain. Jleb! Pedih rasanya. Berasa di-PHP-in abis. Apakah ini karma karena aku pernah PHP-in cowok? #eh.

SK mutasi itu telah meruntuhkan semua rencanaku. Sayangnya aku hanya punya rencana A, nggak punya rencana B, apalagi C. Sekarang rencana A udah gagal, dan nggak ada rencana cadangan. Itu berarti aku harus mulai dari awal lagi. Semua dihitung dari nol lagi. "Ya Allah paringono sabar lan kekiyatan" itulah yang kuucapkan setiap saat, agar aku bisa kuat.

Belum hilang rasa galauku, aku harus menahan tetap cool saat teman-teman dekatku di kantor menyatakan kesedihannya berpisah dariku. Bukan karena aku nggak sedih pisah dari mereka, justru karena aku ini sangat amat sedih. Tapi aku adalah aku yang sok tabah dan tegar menghadapi semua. Entah kenapa rasanya pantang memperlihatkan airmata ke teman-temanku. Aku takut airmata hanya akan memperkeruh suasana. Aku masih saja tersenyum dan berkata #akurapopo. Tapi jadinya ya seperti ini, air mata ini jatuh di saat kusendiri, dan tak ada pelukan yang bisa meredakan sedihku ini. Hiks.. #akurapopo.

Tak diduga, ada pesan dari beberapa orang di kantor baruku yang menyatakan suka citanya menyambutku bergabung di kantor mereka. Bak setetes air di saat dahaga, aku melihat setitik harapan di sana. Selama ini aku sudah berdoa, sudah berusaha, tapi Allah-lah yang mengatur segalanya. Allah yang menentukan apa yang terbaik bagiku. Tugasku hanya berdoa dan berusaha. Urusan hasil, pasrahkan saja pada-Nya. Dan sungguh kekanak-kanakan aku ini kalau membuang energiku untuk kecewa dan marah atas sesuatu di luar kendaliku. Kenapa nggak melihat dari brightside-nya? Pasti Allah telah menyiapkan rencana yang lebih indah untukku. Semoga di kantor baruku nanti aku bertemu teman-teman yang happy funky lovely. Dan semoga kepindahanku ini hanyalah jumping stone, alias batu loncatan, untukku meraih impian kembali ke kampung halaman.

Siapapun yang membaca tulisanku ini, aku mohon doanya...