Friday, December 27, 2013

Penjajahan Abad 21

tetap gaya meski belum merdeka :P
Hari peringatan kemerdekaan negara kita telah lama lewat. Tapi tak ada salahnya kita bahas lagi tentang kemerdekaan. Kenapa? Karena aku merasa diriku ini belum merdeka. Emang sih secara de jure aku ini nggak mengalami masa penjajahan. Nggak perlu juga jadi relawan di medan perang. Namun sejatinya aku ini masih terjajah. Dan sepertinya aku nggak sendiri. Artinya, banyak juga yang masih terjajah, baik secara sadar maupun nggak sadar. Maksudnya dijajah nggak sadar itu apa? Maksudnya, banyak loh yang sebenarnya terjajah, tapi nggak merasa. Kenapa bisa nggak merasa? Karena bentuk penjajahan masa kini itu beda dengan penjajahan jaman dulu. Tapi efeknya sama-sama menyakitkan... #halah. Nah inilah beberapa bentuk penjajahan abad 21. Yuuuks..

1. Dijajah sosial media

Nah ini nih penjajahan yang nyata kita alami. Tapi kelihatannya banyak yang malah suka sama bentuk penjajahan ini. Bayangkan, setiap saat harus buka sosial media. Bahkan hidup terasa hampa tanpanya. Bangun tidur yang dilihat facebook. Pagi-pagi buru-buru cuma mau ngetwit. Sepertinya lagu "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi" udah nggak relevan lagi buat kehidupan orang masa kini. Yang ada lagunya jadi "bangun tidur kubuka facebook, tidak lupa mengecek twitter". Ah, liriknya jadi maksain gini yak.. Hihihi..

Bukan hanya itu ajah. Jaman sekarang ini, seolah ada kewajiban untuk selalu ngetwit atau bikin status di facebook. Habis itu ribet harus njawabin komen-komen yang masuk, atau ngeretweet balasan teman. Lah gimana lagi? Abis kalau nggak cepat direspon, takutnya dibilang sombong. Karena hal-hal itulah makanya bagi sebagian besar orang, disadari maupun tidak, kehidupan sosial media sudah menjadi hal yang utama, bahkan seolah menyingkirkan kehidupan nyata. Misalnya saja demi mau membalas komen temen-temen di facebook,  terpaksa harus nyuekin suami yang duduk disebelahnya #pengakuan :P

2. Dijajah cinta

Penjajahan oleh cinta ini sebenarnya penjajahan klasik sepanjang masa. Hayoo yang sedang jatuh cinta, pasti nggak nyadar nih udah dijajah. Siapa sih yang nggak takluk oleh cinta? Bahkan apapun rela dilakukan demi cinta. Misalnya nih, setiap ngapel harus rela nraktir pacarnya, walaupun nggak punya uang dan harus ngutang tetangga. Padahal nggak ada kan yang maksain harus nraktir? Nggak ada juga yang maksa harus ngutang tetangga? Nggak ada. Yang mengharuskan seseorang melakukan itu semua adalah cinta.

Ada juga nih seorang cewek yang sedang pdkt ama cowok idamannya. Demi mendapatkan hati si cowok, cewek itu mati-matian menjadi sosok idaman si cowok. Yang biasanya nggak suka dandan, tiba-tiba pake blush on. Yang tadinya chubby, tiba-tiba jadi nirusin pipi. Yang tadinya bergaya sporty, tiba-tiba harus maksain pakai high heels yang bikin kaki nyeri. Hal-hal yang menyiksa harus dilakukan demi mendapatkan cinta sang cowok idaman. Padahal siapa juga yang nyuruh begitu? Nggak ada. Semua dilakukan lagi-lagi karena cinta.

3. Dijajah pekerjaan

Sebenarnya setiap pekerjaan itu pasti ada konsekuensinya. Pengen dapat gaji besar, tentu effort yang dilakukan juga besar. Kalau pengen kerjaan yang biasa-biasa saja, tentu penghasilan yang didapat juga biasa saja. Namun ada kalanya masalah pekerjaan ini, benar-benar menekan jiwa. Aku pernah nih bertemu seseorang yang berbohong demi perusahaannya. Padahal gajinya kecil loh. Alasannya karena dia takut dipecat. Keknya nggak worth it banget harus menambah dosa dengan berbohong, padahal gaji yang didapat sangat kecil. Kenapa juga mesti mempertahankan pekerjaan yang tidak bisa mensejahterakan jiwa dan raga? Bukankah lebih baik kalau dipecat saja, kemudian mencari pekerjaan lain yang lebih baik? Tapi kenyataannya banyak orang yang rela tertekan dijajah pekerjaan.

4. Dijajah pembantu rumah tangga

Wah kalau ini sih asli curhatanku.. Hehehe. Gimana nggak dijajah coba? Setiap hari aku kerja dari pagi sampai malam. Waktuku di rumah cuma sebentar. Otomatis pembantukulah yang menguasai rumahku sepanjang waktu. Semua fasilitas di rumah bebas dia pakai, tanpa batasan pemakaian. Mau tidur, mau nonton tivi, mau dangdutan, mau makan banyak, semua boleh. Bahkan ac, telepon, internet, dan kendaraan dia bisa pakai. Kurang apa coba? Yang aku inginkan hanyalah dia mau kerja serius dan betah. Itu saja. Tapi yang kudapat malah sebaliknya. Justru pembantu makin banyak saja tuntutannya. Dari minta gaji dinaikin, terus minta liburan, terus nawar buat ngurangi beban kerjaan. Dan posisi tawar menawar, pada akhirnya selalu dimenangkan oleh pembantu. Habis mau gimana lagi? Daripada dia minta berhenti.

Itulah 4 bentuk penjajahan versi Cova. Kalau versi teman-teman seperti apa? Ayuk silahkan kalau mau menambahkan.. ^^

Tuesday, December 24, 2013

Pangandaran, Antara Galau dan Mistis

pagi di Pantai Timur Pangandaran

Gerimis mengiringi perjalanan malamku ke Pangandaran bersama 19 orang temanku. Malam yang sendu dan basah, seperti pelupuk mataku yang penuh dengan air mata. Pertengkaran dengan suamiku sore itu menjadi penyebabnya. Dan perihnya kini masih terasa. Mungkin aku salah, tidak seharusnya aku pergi di saat pertikaian kami sedang memanas seperti ini. Tapi di sisi lain aku berharap kepergianku ini mampu mendinginkan hati kami yang membara disengat emosi jiwa. Lagipula acara jalan-jalan ini sudah lama kurencanakan. Sayang kalau harus dibatalkan. Prinsipku, kegalauan tidak boleh membuyarkan acara jalan-jalan. Ah, prinsip dari mana itu? Aku menghela nafas panjang, dan menatap butiran air hujan yang menerpa kaca jendela bus yang kutumpangi.

"Cov, kamu nggak tidur?" tanya mbak Ambar, teman yang duduk disebelahku. Buru-buru aku seka air mataku. Aku tahu sebenarnya dia tahu kegalauanku, tapi aku tak mau terlihat lebay di depan teman-temanku.
"Besok pagi, begitu sampai di hotel kita langsung jalan ke Green Canyon. Jadi sekarang kita harus istirahat. Biar nggak kecapekan" kata mbak Ambar memberi saran. Aku turuti saran temanku itu. Dia sudah berkali-kali ke Pangandaran. Jadi sudah cukup hafal dengan medan yang akan kami tempuh. Memang benar, daripada galau, mending tidur aja. Dan bagiku tidur itu cara yang cukup ampuh untuk mengobati sakit hati. Wajah suami dan anak-anakku terbayang saat aku mencoba memejamkan mata. Dan perlahan-lahan kabur dan menghilang, seiring dengan laju bus dan suara rintik hujan. Gelap. Akupun tertidur..

***

"Braaaaaakkkk!!!!" suara kencang memekakkan telinga, dan hentakan keras membuat tubuhku terdorong kedepan. Aku yang tertidur pulas, tiba-tiba terbangun, dan butuh waktu beberapa saat untuk menyadari apa yang terjadi.
"Hah?! Kecelakaan??"
"Kita nabrak apa??"
"Ada apa ini?"
Suara teman-temanku panik dan bersahut-sahutan.
"Ada sesuatu nabrak bus kita" kata pak sopir memberi penjelasan.
"Kita nabrak apa pak?" tanya seorang temanku.
"Justru itu yang kami bingung. Dari tadi kami nggak melihat ada apa-apa di depan bus kita. Tapi tiba-tiba ada yang membentur kaca depan bus" kata pak kondektur yang duduk paling depan.

Aku ikut melongok melihat kaca depan yang terkena benturan. Retaknya parah, dan makin merembet. Kami khawatir, sedikit lagi kacanya bisa pecah. Kalau dilihat dari kerusakan dan suara kencang yang ditimbulkan, sesuatu yang membentur itu pasti keras dan besar. Rasanya tak mungkin jika itu manusia atau binatang. Harusnya, walaupun suasana gelap, sesuatu itu tetap terlihat karena tersorot lampu depan bus. Tapi nyatanya memang tak ada apa-apa di sana. Jadi bus kami ini menabrak sesuatu yang tidak terlihat oleh mata! Hiiiii. Tiba-tiba tubuhku merinding.

bus pasca benturan
Kami tidak berani berhenti saat itu juga untuk mengecek kondisi bus. Suasana sepi, gelap dan hujan, di jalan sempit yang diapit tebing, memang bukan tempat yang tepat untuk berhenti. Akhirnya kami menunggu matahari terbit, untuk mengecek kondisi bus pasca peristiwa ganjil itu. Dan penemuan kami, makin membuat bulu kuduk berdiri. Di titik pusat retakan kaca (berarti titik pusat benturan), ada beberapa helai rambut tertinggal di sana. Rambut siapa hayoo??

Ah, kenapa sih ada peristiwa mistis begini di saat aku galau? Apa ini karena suamiku nggak merestui perjalananku ini? Tiba-tiba aku menyadari semua kesalahanku. Sudah seharusnya aku minta maaf pada suamiku, aku nggak ingin terjadi apa-apa dalam keadaanku yang durhaka ini. Buru-buru aku menelpon suami dan anak-anakku di rumah. Senang rasanya mereka menyambutku dengan ceria. Suamikupun bertutur kata manis padaku, seolah aku ini tak pernah salah apa-apa. Ah, legaa.. Aku nggak jadi istri durhaka.. Hehehe.. Akupun bisa tersenyum lagi :).

***

Sesuai rencana, pagi itu kami langsung menuju Green Canyon. Tapi berhubung bus kami mengalami kerusakan yang cukup parah dan tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan, maka terpaksa kami naik angkot. Dua angkot kami sewa untuk kami berduapuluh. Di angkot, kami masih membahas peristiwa ganjil semalam. Bahkan abang sopir angkot ikut angkat bicara. Menurut abang sopir, kemungkinan bus kami semalam bertemu dengan bajing loncat. Tahu bajing loncat kan? Itu kawanan perampok. Biasanya mereka memasang perangkap yang membuat pemakai jalan menghentikan laju kendaraannya. Dan pada saat kendaraan berhenti, saat itulah mereka beraksi, menjarah harta benda yang ada. Seram sekali! Untung semalam bus kami tidak berhenti. Entah benar apa tidak, sampai sekarang peristiwa tersebut masih menjadi misteri.

Baru saja kami selesai membahas peristiwa aneh itu, tiba-tiba, kami mendengar suara wanita di dalam angkot yang kami tumpangi. Kami semua terpaku dan saling berpandangan. Jelas itu bukan suara salah satu di antara kami. Suara wanita bernada lembut mendayu namun menebarkan aura mistis. "Haiiii.. Halooo.. Haloooo....."
Kami seolah beku beberapa saat. Tak ada yang berani bersuara, sampai suara wanita tanpa wujud itu menghilang. Huhuuu.. Mungkinkah sesuatu yang tak berwujud itu mengikuti perjalanan kami? Imajinasi kami mengembara tanpa ada penjelasan yang masuk akal. Aku hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa saat kami nyemplung ke Green Canyon nanti.
sungai menuju Green Canyon
Akhirnya kami sampai di pintu gerbang Green Canyon. Setelah kami naik perahu menyusuri sungai yang berkelok-kelok dan desar arusnya, sampailah kami ke Green Canyon yang kesohor itu. Green Canyon ini semacam gua berstalaktit dan stalaknit unik, dengan air sungai yang mengalir di bawahnya, dan beberapa batu besar di dasarnya. Semburat sinar matahari yang menembus dindingnya semakin menambah keindahannya. Walaupun pada saat ini airnya tidak hijau, tapi pemandangannya tetap mengagumkan. Untuk mencapai bagian dalam Green Canyon, tidak bisa menggunakan perahu, karena terhalang batu besar. Satu-satunya cara adalah dengan nyemplung ke air sungai yang arusnya lumayan deras itu. Wuuih benar-benar uji nyali nih, maklumlah aku kan nggak bisa berenang. Gimana kalau aku terbawa arus nanti? Susah payah ku kumpulkan keberanianku, dan ku enyahkan ketakutanku.. Nekad aja ah.. "Kalau aku bisa menaklukkan arus sungai ini, aku pasti bisa menaklukkan dunia" pikirku menyemangati diri. Byuur!!

Dengan hanya bermodalkan pelampung dan seutas tali, aku menceburkan diriku ke sungai. Bbrrrr.. tak disangka airnya dingin sekali! Mampukah aku bertahan? Tubuhku harus berjuang melawan arus sungai, dan beberapa kali aku terpaksa ‘meminum’ airnya.. huek.. Lelah dan nafas tersengal-sengal. Aku baru bisa bernafas lega saat berada di permukaan yang airnya dangkal, atau saat menemukan batu besar, hingga aku bisa beristirahat di atasnya. Di atas batu itu aku bisa melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Rasa lelahku seketika hilang. Bersyukur aku bisa sampai di sini, walaupun dengan perjuangan yang tidak mudah. Sesuatu yang berharga memang harus diraih dengan perjuangan keras.. *sok bijak.. :D.

batas akhir perahu
tetap narsis walau muka berantakan

***

Alhamdulillah, walaupun banyak peristiwa janggal, tapi acara ke Green Canyon siang tadi berjalan lancar. Cukup lancar, walaupun aku sempat kelelahan melawan arus, dan 'meminum' air sungai saat nyemplung di Green Canyon.. hehehe.. Kini saatnya kembali ke hotel yang terletak di pantai timur pangandaran. Setelah itu menikmati makan malam bersama. Namun seolah tak mau lepas dari kami, peristiwa mistis kembali terjadi malam itu.

Sehabis makan malam bersama di sebuah rumah makan seafood, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Letaknya memang tidak jauh. Seorang temanku memimpin di depan sebagai penunjuk arah. Kami mengikutinya dengan setia. Sampai di sebuah gang, tiba-tiba dia membalikkan badan ke arah kami. Dengan muka pucat dia berkata "Kita cari jalan lain aja ya?". Walaupun bingung kami tetap mengikutinya. Dengan berbisik aku bertanya "Emangnya kenapa mas nggak jadi lewat jalan tadi?"
"Ada sosok putih-putih di sana" jawabnya dengan berbisik pula.
Sosok apa yang dia maksud? Mungkinkah itu hanya halusinasinya atau memang ada makhluk lain di sana? Hening...

***

Ah, Pangandaran.. Sebuah tempat indah yang menyimpan sejuta misteri. Tempat ini membuatku mengatasi kegalauanku. Tempat ini yang menumbuhkan keberanianku. Dan tempat ini pula yang membuatku percaya ada hal-hal yang kadang sulit dijelaskan dengan akal namun nyata adanya.. Aku menyebut tempat ini Pangandaran Sang Pelipur Lara..

Happy traveling ^^

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam "My Itchy Feet...Perjalananku yang tak terlupakan"


Sunday, December 22, 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Ibuku cantik. Nggak percaya? Lihat aja anaknya. Kalau anaknya cantik, pasti ibunya juga cantik. Teteeeup narsis :P. Sayangnya beliau ini nggak suka difoto. Katanya "Ibuk ini udah tua, udah jelek, nggak bagus difoto. Dulu waktu ibu masih muda, masih cantik, malah nggak ada yang moto". Dengan melengoskan wajahnya, dan mengangkat tangannya menutupi kamera. Gayanya mirip sekali dengan selebriti yang dikejar paparazi. Makanya foto-foto ibuku kebanyakan foto candid. Dan foto ini satu-satunya foto ibuku yang agak memandang kamera.

ibuku bersama 2 bidadarinya ^^
Itulah ibuku. Nggak narsis seperti anaknya. Tapi sebenarnya ibuku berperan besar dalam jiwa kenarsisanku. Sejak aku kecil beliau sering bilang kalau aku ini cantik, pintar, dan berbakat. Jadi, nggak ada alasan untuk malu-malu. Ya iyalah, semua ibu pasti bilang anak perempuannya cantik dan pintar. Aku juga bilang persis seperti itu ke anak perempuanku.. Hehehe. Tapi kata-kata yang sederhana itu cukup mampu menaikkan percaya diriku. Apalagi dengan banyak hal positif yang berhasil kuraih, aku semakin yakin, ibuku benar, bahwa aku memang punya kelebihan. Tentu kelebihan yang aku punyai tak ada artinya tanpa ikhtiar dan doa. Terlebih lagi doa orang tua. 

Ibuku selalu mendorong anak-anaknya mempunyai cita-cita setinggi langit. Tapi untuk dirinya sendiri, beliau tak punya ambisi muluk-muluk. Yang beliau inginkan hanya melihat anak cucunya hidup bahagia dan jadi orang berguna. Ibuku juga nggak pernah minta dibelikan ini itu. Nggak pernah pula minta diajak jalan-jalan plesir. Yang ibuku inginkan hanyalah berkumpul dengan anak dan cucu. Dan menghabisnya waktu bersama. Walaupun hanya sekedar jalan-jalan di taman dekat rumah saja.

ibuku bersama anak dan cucu yang narsis :D
Yah, keinginan ibuku hanya sesederhana itu. Tapi itupun belum bisa aku wujudkan. Boro-boro membuat ibuku senang, yang ada malah merepotkan. Sampai kini aku masih saja sering mengeluh, dan minta bantuan. Dari masalah anak-anak sampai masalah pembantu, dari urusan dapur sampai urusan baju. Tapi ibuku tak pernah merisaukan semua kerepotan itu. Bahkan ibuku berkata "Kalau kamu ada masalah, cerita saja sama ibu. Jangan kamu pendam sendiri. Ibu pasti bisa bantu". 

Memang sih, tidak semua masalah aku ceritakan ke ibuku. Ada beberapa masalah yang sengaja aku sembunyikan. Itu semata-mata karena aku tak ingin merepotkan dan membebani orang tuaku lagi, dengan masalah yang menurutku bisa aku tangani sendiri. Tapi feeling seorang ibu selalu kuat. Dia bisa melihat dan merasakan yang anak-anaknya rasakan, walaupun tak terucapkan. Itulah cinta. Merasa senang kalau orang yang dicintai bahagia. Merasa sedih jika orang yang dicintai terluka. Dan cinta seorang ibu pada anaknya, adalah cinta sejati tanpa akhir, dan tanpa pamrih. Walaupun terkadang anaknya melupakannya, namun doa ibu selalu ada untuknya. Seperti sebuah status yang ditulis temanku di FB:
"Jika matahari tenggelam dan redup cahayanya, cinta dan kasih sayang ibu pada anaknya tidak akan pernah hilang hingga akhir hayatnya"

Semoga Allah masih memberi kesempatan padaku untuk membahagiakan ibu dan melihat senyum cerianya :)
Selamat hari ibu.. untuk ibuku.. untukku.. dan untuk semua ibu di dunia ^^

Tuesday, December 17, 2013

Menghening di Pantai Mengening

 

"Saya belum pernah dengar namanya" kata Bli Made, driver sewaan kami.
"Tapi gampanglah, nanti saya tanya penduduk sekitar. Yang penting udah tahu arahnya" sambungnya.
Suamiku membuka kembali buku saku fotografinya. Dia baca beberapa kalimat di dalamnya "Letaknya di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Lokasinya berdekatan dengan Pura Tanah Lot, Bali".
Sepertinya Pantai Mengening ini memang belum dikenal oleh para wisatawan. Wajarlah Bli Made belum tahu, karena belum pernah ada orang yang minta diantar kesana.

Mendung menemani perjalanan kami ke Pantai Mengening. Kami agak was-was dengan kemungkinan akan turun hujan. Tapi mau nggak mau kami harus jalan. Sayang kan, jika waktu yang cuma sebentar hanya dilewatkan di kamar hotel saja? Jadilah kami mengambil resiko itu. Kami sadar cuaca mendung tidak mendukung untuk menikmati pantai. Tapi enjoy ajalah. Yang penting kan perjalanannya. Seperti kata quote "Traveling is about the journey, not the destination". Terlebih lagi kalau journey-nya bersama orang tercinta..hehehe.

Seperti petunjuk di buku fotografi milik suamiku, kami menuju ke arah Pura Tanah Lot. Dari sana Bli Made mulai bertanya ke penduduk sekitar tentang jalan menuju Pantai Mengening. Sayang, seorang ibu-ibu penjaga warung yang ditanya, mengaku belum pernah mendengar nama pantai itu, karena dia seorang pendatang. Yah, terpaksa mencari target lain. Seorang laki-laki setengah baya yang sedang berdiri di depan rumahnya menjadi sasaran kami berikutnya. Sepertinya dia penduduk asli. Bli Made bertanya pada laki-laki itu dalam bahasa bali. Tapi lagi-lagi kami gagal mendapat pencerahan. Wah, bagaimana ini? Masa' orang asli sini nggak tahu? Ya sudahlah, yang penting jalan terus, sambil mencari petunjuk.

Tak berapa lama, kami berpapasan dengan dua orang remaja putri berpakaian sekolah. Kubilang pada Bli Made "Tanyain aja bli.. Biasanya anak muda lebih gaul dan lebih tahu".
Dan benar dugaanku. Dengan raut muka agak malu-malu, kedua remaja itu menunjukkan dengan detil arah menuju Pantai Mengening. Tuh kan? Anak muda memang lebih banyak tahu loh.. Hehehe.

Jalan yang kami lalui, mengingatkanku pada jalan menuju Pura Tanah Lot. Tentu saja, karena kedua obyek ini berdekatan. Di kanan kirinya terhampar persawahan sehabis dipanen. Ada beberapa hotel dan resort mewah sedang dalam tahap pembangunan. Ini tandanya kami sudah mendekati obyek. Dari sini aku menduga obyeknya pasti keren. Kalau nggak, nggak mungkin investor membangun hotel mewah di sini.


Tak berapa lama akhirnya kami sampai. Dan inilah pantainya. Kami disambut oleh hamparan pantai berpasir kehitaman dengan batu-batu karang yang besar. Deburan ombak yang menghantam bebatuan menambah kuat pesonanya. Cuaca mendung tidak mampu menutupi keindahan Pantai Mengening ini. "Kalau cuaca cerah pasti lebih bagus lagi" batinku. Sekilas pantai ini mengingatkanku pada Tanah Lot. Karena berdekatan dan berada di garis pantai yang sama, kedua pantai ini mempunyai tipikal yang sama. Bedanya, pantai ini sepiiiiii sekali. Tidak seperti Tanah Lot yang kini bagaikan lautan manusia. Gimana nggak sepi kalau hanya kami saja yang menjadi pengunjungnya siang itu. Keren ya, berasa punya pantai pribadi.. Hihihi. Baru kali ini kami menemukan pantai indah di Bali tanpa pengunjung. Tapi jangan harap pantai ini akan selalu sepi. Menurut prediksiku, mulai tahun 2014 nanti, Pantai Mengening ini bakal ramai pengunjung. Apalagi setelah kuposting di blogku ini.. Hehehe

pura
 Di pantai ini juga terdapat sebuah pura yang dibangun mengarah ke laut dan dikelilingi batu-batu karang. Keberadaan pura ini seolah membagi pantai ini menjadi dua sisi. Sisi sebelah kiri yang berbatu, dan sisi sebelah kanan lebih berpasir. Batu karang, pasir kehitaman, dan deburan ombak, berpadu apik dengan keanggunan pura itu. Jauh dari hiruk pikuk keramaian, membawaku semakin terhanyut dalam keheningan. Hanya suara ombak, suara angin, dan detak jantungku yang terdengar. Ada rasa excited saat melihat dan mendengar deburan ombaknya. Ada rasa ngeri, tapi ingin mendekati. Dan aku pun berjalan makin ketengah, kearah lautan, dengan berpijak pada batu-batu karang.

sisi kiri

sisi kanan

Aku keluyuran sendiri, sementara suamiku asyik mengabadikan deburan ombak dengan kameranya. Saking asyiknya, dia jadi lupa sama istrinya yang manis ini.. hiks! Terus yang motoin aku siapa donk kalau suamiku lebih tertarik moto ombak ? #malah galau. Ya sudahlah, daripada galau nggak ada yang motoin. Lebih baik aku foto-foto sendiri. Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, narsis harus tetap jalan terus. Soalnya kalau nggak ada foto diriku di sana, nanti disangkanya hoax.. Hehehe. Tapi baru beberapa jepretan, gerimis datang.. Yah bubar jalan deh. Sampai jumpa Pantai mengening. Kutinggalkan dirimu dalam keheningan..

Hasil jepretan suami
 Happy Traveling

Wednesday, December 11, 2013

Emak-emak Sadar Listrik

Punya suami memang enak. Ada yang nganter jemput kemana-mana. Ada yang nraktir kalau makan di luar. Ada yang ngangkatin galon akua. Ada yang mbenerin genteng dan kran yang bocor. Eh, itu suami atau tukang? Hehehe. Intinya, suami itu membantu dalam banyak hal. Terutama hal-hal yang tidak bisa aku lakukan sendiri dikarenakan keterbatasanku sebagai wanita. Misalnya acara angkat mengangkat galon tadi.

Eh, tapi bisa dibilang aku ini istri yang manja. Banyak hal yang sebenarnya bisa aku lakukan sendiri, tapi aku nggak mau melakukan karena males repot. Mending suamiku aja yang nanganin.. Hehee. Misalnya, mentang-mentang ada yang nganter jemput kemana-mana, sampai saat ini  aku belum punya keinginan belajar mengendarai motor atau mobil. "Ah, ada suami kok yang setia nganterin" pikirku. Atau ketika alat-alat elektronik nggak berfungsi, paling-paling aku nunggu suamiku yang ngutak atik. Abis aku nggak ngerti tentang elektronik dan alat listrik. Takut kesetrum.. Hehehe

listrik alami
Tapi sekarang kemanjaanku mulai berkurang loh. Itu terjadi sejak suamiku meninggalkanku. Eh meninggalkannya nggak lama sih, cuma 2 hari saja. Saat itu dia pergi untuk hunting foto sekaligus mengikuti perlombaan fotografi. Nah saat dia nggak ada di rumah itu, ada aja urusan yang harus aku handle. Dan aku sama sekali nggak ngerti. Tiba-tiba pembantuku komplain tentang colokan yang nggak berfungsi. Habis itu komplain tentang setrikaan yang nggak panas. Ada lagi tentang kabel rol yang putus. Waduh! Hal-hal yang berbau listrik seperti ini, bikin aku pusing. Mau nunggu suamiku datang, pasti kelamaan. Ya sudah, mau nggak mau aku harus berusaha ngutak atik sendiri. Dan membeli pernak pernik listrik sendiri.

Nggak punya pengetahuan tentang alat listrik, ternyata cukup merepotkan. Terutama saat mau membeli peralatan listrik yang diperlukan. Kadang tahu barangnya, tapi nggak tahu namanya. Nggak tahu juga berapa harga pasarannya. Wah kalau begini bisa-bisa kena tipu kalau belanja alat listrik sendiri. Sayang kan kalau dapat harga kemahalan. Belum lagi harus ke toko listriknya, duh ribet! Nggak ada yang nganterin.

Tapi untungnya sekarang sudah ada toko online distributor alat listrik. Nggak usah kuatir nggak tahu nama barangnya, karena di sana ada gambarnya. Nggak usah kuatir pula dengan harganya, karena harganya tercantum jelas di sana dan dijamin nggak kemahalan. Kalau nggak percaya, you bisa dicek di toko sebelah.. *pedagang glodok mode on* hehehe.. Dan enaknya, semua bisa diakses sambil duduk manis, nggak perlu keluar rumah.  Pas banget kan untuk emak-emak sepertiku yang awam soal listrik. Daripada celingak celinguk di toko listrik, mending searching aja barangnya secara online. Mau nanya-nanya juga bisa kok. Kan ada costumer servisenya. Jadi nggak perlu malu kalau nggak tahu.

Nah, nggak ada alasan untuk takut listrik kan? Apalagi takut kesetrum.. Hihihi

Monday, December 09, 2013

Award dari Bali

Semoga teman-teman pembaca Runaway Diary tidak bosan dengan beberapa postinganku yang akhir-akhir ini beraroma bali. Dan jangan harap ini akan berakhir. Karena aku masih menyiapkan banyak cerita tentangnya. Termasuk yang satu ini.

Saat aku lagi asyik nongkrong di Pantai Kuta, tiba-tiba dapat message dari bali.. Dari cowok pula.. Ihiiiiir.. jadi tersipu-sipu nih. Begini bunyinya, "Dapat pesan gambar dari saya. Silahkan dilihat pesannya ya mbak.. Hehe"
Wah kok pas banget ya.. Tahu aja aku suka banget sama Bali. Jadi deg-degan bin penasaran. Apa ya pesannya? Tanpa buang waktu lagi aku segera meluncur ke kediaman si pengirim pesan. Seorang cowok tampan rupawan yang berdomisili di denpasar, sudah menyiapkan sebuah kejutan untukku. Dialah Bli Kstiawan, admin blog Nakusan Bali Technology.

Tadaaaa...! Sebuah award keren mentereng diberikan untukku! Wah, bangga dan tersanjung rasanya menjadi salah satu blogger penerima award dari Bli Kstiawan. Dalam rangka memperingati ulang tahun blognya yang pertama, bli kstiawan membagikan award kepada sahabat-sahabat blogger yang selama ini setia berkunjung dan mensupport blognya secara langsung maupun tidak langsung. Kata Bli Kstiawan, award ini sebagai ungkapan terima kasih dan untuk mempererat tali silaturahmi.

Padahal, tanpa award-pun aku tetap setia kok berkunjung ke rumah blognya. Apalagi kalau dikasih award seistiwewa ini, pasti tambah sering mampirnya.. Hehehe. Walaupun blognya isinya gado-gado, tapi tetap asyik dibaca. Karena gado-gadonya bukan sembarang gado-gado. Gado-gadonya tetap sarat informasi. Aku juga suka dengan bahasa tulisannya yang to the point, tidak bertele-tele, dan mudah dicerna. Yang penasaran dengan blognya, monggo silahkan mampir aja :)

Tahu nggak? Aku benar-benar sukaaaa sama tampilan awardnya. Indonesia banget dan sangat kental rasa aroma Balinya. Terima kasih buat Bli Kstiawan yang berkenan membagikan award ini padaku. Semoga persahabatan kita selalu terjalin dan semakin erat. Bukan hanya di dunia maya, tapi dunia nyata juga (aku masih nunggu undangan ke Bali.. Hihihi :P). Doaku untuk Bli Kstiawan dan blog Nakusan Bali Technology, semoga selalu eksis di dunia perbloggeran, tetap menyajikan informasi yang bermanfaat. Dan tentunya semakin banyak teman dan sahabat. 

Selamat Ulang Tahun blog Nakusan Bali technology..
Happy blogging buat Bli Kstiawan dan teman-teman semua ^^

Wednesday, December 04, 2013

Orang Ketiga

"Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran orang ketiga tidak selamanya merusak. Terkadang malah bisa membantu. Di perjalanan ini, aku menemukan keduanya"

###

Bandara Ngurah Rai terasa sendu menyambut kedatangan kami. Perjalanan ini sudah aku impikan sejak sebelas tahun yang lalu. Kala itu dia berjanji akan membawaku bulan madu ke pulau Bali. Sungguh indah.. Namun sayang, belasan tahun berselang, rencana itu tak jua menjadi kenyataan. Aku terus bersabar, dan tetap menjaga impian, hingga akhirnya hari yang kunantikan datang. Yup, anggap saja ini bulan madu kedua kami. Jangan dibayangkan perjalanan ini akan romantis seperti pasangan pengantin baru yang masih menggebu-gebu. Kami hanyalah sepasang suami istri yang tak muda lagi. Tapi mempunyai semangat yang selalu berapi-api.. #Halah

Untuk honeymoon wannabe ini, suamiku sudah menyiapkan fasilitas yang tidak biasa. Hotel kelas menengah atas, dan menyewa mobil beserta sopirnya, agar kami bisa berkelana dengan leluasa. Aku yang biasa traveling ala gembel, merasa yang dia berikan terlalu istiwewa, dan membuatku canggung. Kenapa canggung? Entahlah.. Sejujurnya aku menganggap kehadiran sopir itu malah menjadi orang ketiga yang membatasi gerak kami. Andai boleh meminta, aku lebih suka naik motor berdua saja. Itu terasa lebih intim dan romantis bukan? Ketika di sepanjang jalan aku bisa memeluk erat pinggangnya.. #eeaaa.

Tapi bagaimanapun juga perjalanan ini harus dinikmati. Lagi pula suamiku sudah berusaha memberikan yang terbaik. Dan maksudnya menghadirkan orang ketiga alias sopir, demi kebaikan kami. Tentunya biar nggak capek dan nggak nyasar.

Hari 1: Namanya Nyoman atau Komang?

Dan di sinilah kini kami berada. Dalam perjalanan menuju ubud dan kintamani, dengan mobil sewaan dari e-kuta yang dikendarai oleh orang ketiga, eh sopir. Namanya Nyoman atau Komang, entahlah, aku tak begitu jelas menangkap kata-katanya. Anggap saja namanya Nyoman. Bukan hanya kata-katanya saja yang nggak jelas, tapi bahasa tubuhnya juga. Aku mulai curiga ketika di sepanjang perjalanan dia tak henti-hentinya mengambil air minum. "Apa dia diabetes? Kok minum terus..?" tanyaku dalam hati. Aku tambah curiga ketika makin lama nyetirnya makin membuat kami pusing dan mual. Apa karena kondisi jalannya? Ah, tidak. Jalannya baik-baik saja kok.

Kecurigaanku akhirnya terjawab ketika kami hampir sampai di obyek yang pertama, Goa Gajah. "Maaf, saya mau cuci muka dulu. Ngantuk banget.." kata Nyoman. Waduh, pantas saja nyetirnya bikin pusing. Rupanya dia ngantuk. Ah, nggak profesional banget sih. Untuk apa kami membayar mahal kalau hanya membahayakan diri gara-gara sopir yang ngantuk.

Walaupun was-was, aku tetap berbaik sangka. "Semoga sehabis cuci muka, ngantuknya hilang" batinku. Tapi rasa was-was justru makin bertambah. Entah karena masih ngantuk atau karena lagi galau, si Nyoman ini ketika ditanya makin nggak nyambung dan nggak komunikatif sama sekali. Dan yang membuat senep, dia ini selalu merekomendasikan tempat makan yang mahal. Ah, benar-benar nggak aman jalan sama sopir ini, baik jiwa raga maupun biaya.

Hari 2: Pak Ketut yang nyentrik a.k.a genit

mobil pak ketut di pantai Pandawa
 
Karena tidak aman dan nyaman dengan sopir sebelumnya, kami meminta pihak e-kuta untuk mengganti sopir, dan mereka menyanggupi. Namun rupanya kami dibohongi oleh pihak e-kuta. Sampai dengan saat yang ditentukan, mobil sewaan kami tak kunjung datang. Kami mencoba menelpon semua nomor e-kuta, baik nomor kantor maupun hape, namun tak ada satupun yang mengangkat. Di-SMS juga nggak ada balasan. Akhirnya kami tunggu sampai 1 jam lebih. Dan ternyata benar-benar nggak datang.

Wah kenapa begini? Jelas kami kecewa sekali. Waktu kami di pulau ini cuma sebentar. Tapi malah terbuang sia-sia gara-gara di PHP-in sama e-kuta. Harusnya kalau nggak bisa, bilang terus terang, jangan terus kabur tanpa ada kejelasan. Setahuku rental e-kuta itu cukup besar dan bukan rental abal-abal. Tapi kejadian ini membuatku berpikiran sebaliknya.

Ya sudah, bagaimanapun kecewanya kami, "Life must go on" bukan? Akhirnya dengan bantuan pihak hotel, kami mendapatkan mobil sewaan beserta sopirnya. Harganya lumayan mahal sih. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kepepet.

"Nama saya Ketut" kata laki-laki nyentrik ini sambil mengulurkan kartu nama ke kami. Topi koboi, kacamata remang-remang dan kemeja batik warna ungu yang tidak dikancingkan, ditambah beberapa aksesoris, melengkapi penampilan sopir baru kami. Umurnya sudah tidak muda, namun gayanya modis maksimal. Pembawaannya cukup ramah dan lumayan komunikatif. Tapi aku menangkap ada binar genit di matanya. Dan itu terbukti saat dia mendekatiku di tepi pantai Pandawa. Tentu saja saat suamiku tidak ada di dekatku.

"Pantainya indah ya? Seperti di Paris.. " katanya sambil tersenyum. Kemeja ungunya berkibar-kibar tertiup angin.
"Hah? Paris? Paris mana pak?" tanyaku dengan muka bingung.
Jelas aku bingung. Mana ada pantai seindah ini di Paris? Setahuku Paris yang ada pantainya, ya cuma Paris yang di Jogjakarta, alias Parangtritis.
"Paris yang di Perancis donk.. Kamu udah pernah kesana belum?" dia melirikku genit.
Wah, sepertinya dia akan membawaku mengkhayalkan Paris, kota yang romantis itu. Daripada kebablasan mending aku bergegas kembali ke mobil. Dia mengikutiku. Kemudian membukakan pintu mobil untukku, seolah aku ini seorang puteri. Hmm.. Nice try :P

Hari 3: Bertemu bli Made "yaw"

Hari ketiga terpaksa kami ganti sopir lagi. Bukan karena kegenitan Pak Ketut loh. Tapi karena tarifnya terlalu mahal buat kami. Setelah searching sana sini akhirnya dapat juga rental mobil yang harganya masuk akal. Kalau nggak salah namanya rental mobil Kharisma. Pihak Kharisma memberikan kontak sopir yang akan mengantar kami.

"Yang mau nyopirin kita namanya Made" kata suamiku dengan nada tidak biasa. Aku hanya tersenyum saja.
"Kok mbales SMSnya begini ya?" tanya suamiku dengan nada yang makin tidak biasa.
"Begini gimana?"
"Baca deh. Masa' pakai kata 'YAW'? Bukannya dijawab 'baik' atau 'oke'. Jangan-jangan orangnya agak-agak 'gimana' gitu.." suamiku risau.
"Udahlah jangan berprasangka. Kali aja dia typo. Maksudnya 'ya', eh ketulis 'yaw'" aku mencoba netral, walaupun aku juga berpikiran kata-kata di-sms itu ga sopan, untuk orang yang baru kenal.

Alhamdulillah, bli Made "yaw" datang tepat waktu. Dan jauh berbeda dari bayanganku. Ternyata orangnya nggak 'gimana gitu'. Malahan cukup ramah, sopan, dan berpenampilan rapi. Sepertinya dia rajin merawat diri. Ah, lega deh.

Bli Made cukup menguasai jalan. Setiap tempat yang kami minta, dia siap mengantar sampai tujuan. Bahkan walaupun dia belum pernah ke tempat itu. Seperti ketika kami minta diantar ke Pantai Mengening. Dia sebenarnya belum tahu lokasinya, tapi dia nggak malu-malu mencari tahu dengan bertanya ke penduduk sekitar.

Selain itu, aku juga mengagumi pengetahuannya tentang kuliner halal di Bali ini. Tempat makan yang dia rekomendasikan, bukan hanya halal, tapi juga enak, enak sekali, dan murah. Pokoknya tenang, aman dan nyaman jalan dengannya. Helpful bangetlah. Suatu saat nanti kalau ke Bali lagi, aku mau diantar Bli Made "yaw" ajah.. Hehehe..

 ###

Itulah ceritaku tentang orang ketiga, semoga bisa diambil hikmahnya. Dan terima kasih sudah membaca.

Happy traveling ^^