Tuesday, December 30, 2014

Good Bye 2014

Tahun 2014 bukan tahun yang mudah bagiku. Banyak rencana dan harapan nggak terwujud. Kehilangan dan musibah pun tak luput menimpaku. Tapi semua itu nggak perlu disesali dan ditangisi. Justru dijadikan pelajaran dan pengalaman yang menjadikanku lebih kuat dan kebal menghadapi tantangan. Aku suka kata-kata ini, "What doesn't kill you makes you stonger". Bener banget kan? Semua yang kualami sepanjang tahun ini membuatku lebih kuat dan berani menjalani hidup di tahun-tahun berikutnya. InsyaAllah...


Aku selalu percaya pada janji Allah, bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dengan keyakinan ini pula aku berharap dan berdoa, semoga segala kesulitan yang kualami di tahun 2014, berbuah banyak kemudahan di tahun 2015. Amin.


Friday, December 26, 2014

Mpok Siti, Bus City Tour Jakarta yang Bikin Keki

Sepertinya aku memang nggak berjodoh dengan yang namanya Siti. Setelah bermasalah dengan pembantuku yang bernama Siti beberapa bulan yang lalu, kini aku kembali bermasalah dengan Siti. Kali ini dengan Mpok Siti, sebuah bus tingkat seksi, yang istilah kerennya Bus City Tour Jakarta. Pasti udah tahu donk ama bus yang satu ini. Beberapa media sering memberitakan keberadaan Mpok Siti yang akan membawa penumpang berkeliling Jakarta secara cuma-cuma alias gratis sepanjang tahun 2014. Dari awal tahun hingga akhir tahun ini, baru kali ini aku tergerak untuk mengajak keluargaku berjalan-jalan ama Mpok Siti. Kebetulan liburan sekolah anak-anak bertepatan dengan long weekend. Dan berhubung masih tanggal tua aku pengen ngajak jalan-jalan yang murah meriah aja, alias liburan nggak ke luar kota. Yang penting fun dan tetap irit. Hidup irit! Karena itulah aku pilih berkeliling Jakarta bersama Mpok Siti.

Seperti biasa sebelum traveling aku selalu mencari tahu dulu kondisi medannya. Walaupun cuma di dalam kota, tetap perlu persiapan donk, apalagi aku mengajak anak-anak. Jangan sampai mereka nggak nyaman selama perjalanan. Mulai dengan searching artikel sana sini, dan memfollow akun twitter @CityTourJakarta. Ini kulakukan agar aku bisa mendapatkan informasi resmi dari sumbernya langsung yang jelas lebih terpercaya. Dan mulailah aku memention akunnya Mpok Siti. Berikut ini beberapa twitku:


 Dijawab sama Mpok Siti:


Oke sip, aku udah jawaban bahwa tanggal 25 Desember 2014, Mpok Siti beroperasi seperti biasa, mulai jam 09.00 pagi. Yup! Siap berangkat dengan tenang karena udah dapat info yang jelas. Tanggal 25 Desember tepat jam 09.00, aku, suami dan anak-anak sudah sampai di halte Sarinah. Kami memilih menunggu di Sarinah, karena di sana ada tempat parkir mobilnya. Di halte Sarinah udah ada 4 orang yang lagi nunggu Mpok Siti juga. Jalanan sekitar Sarinah cukup lengang pagi itu. Dan aku berharap penumpang Mpok Siti juga nggak terlalu ramai. 


 Dengan sabar kami menunggu. Sudah 1 jam kami menunggu, Mpok Siti belum juga menampakkan batang hidungnya. Kucoba buka akun twiternya dengan harapan mendapatkan kabarnya di sana. Ah, nggak ada. Yang ada cuma mention dari orang yang lagi nunggu Mpok Siti juga di halte Monas. Dan dijawab sama Mpok Siti seolah bus itu akan datang segera. Aku sih berbaik sangka aja, mungkin Mpok Siti agak telat. Nggak kepikiran kalau Mpok Siti bakal ingkar janji. Kucoba menenangkan Ariq yang mulai gelisah dan bosan. Matahari yang makin tinggi dan menyengat, mulai membuat keringat kami bercucuran. Tapi kami tetap tegar, begitu juga calon penumpang yang lain.

Tiga puluh menit kemudian aku cek lagi aku twitternya. Ada berita dari Mpok Siti isinya begini:

 


Waduh! Kenapa baru sekarang ngasih tahunya? Padahal kemarin dan tadi pagi masih ngetwit kalau beroperasi mulai jam 09.00. Eh sekarang udah ditungguin dari jam 09.00, tahu-tahu berubah dadakan jadi mulai beroperasi jam 12.00 siang. Apa kabar kami ini yang udah mbuang-mbuang waktu nunggu berjam-jam? Ya sudah, mau gimana lagi. Daripada nunggu di situ kepanasan, kami memilih ke tempat lain dulu. Kecewa sih, tapi mungkin ada kondisi yang mendesak, jadinya Mpok Siti nggak datang sesuai janji. Maklum ajalah. 

Akhirnya kami menuju Toko Buku Gunung Agung untuk membunuh waktu. Dan bisa tebak, ujung-ujungnya pasti beli buku. Itu berarti harus keluar uang nggak sesuai rencana. Total habis sekitar Rp 100.000 buat beli buku. Duh nggak jadi irit nih. 

Jam 12.00 kami kembali lagi ke halte Sarinah. Wah yang ngantri tambah banyak. Kebanyakan rombongan keluarga yang membawa anak-anak, seperti kami. Bisa dibayangkan panas matahari yang menyengat tepat di tengah hari. Tapi demi bisa jalan-jalan ama Mpok Siti kami rela. Apalagi anak-anak udah nggak sabar pengen naik bus tingkatnya. Yah memang demi menyenangkan anak-anak dan menjawab rasa penasaran mereka kami ini rela berpanas-panasan antri. Nggak tega juga sebenarnya melihat keringat bercucuran membasahi tubuh anak-anak ini. Tapi semoga ini semua terbayar dengan keceriaan mereka nanti. 

Cukup lama kami menunggu, dan akhirnya Mpok Siti datang juga. Semua calon penumpang menyambut dengan semangat. Mengingat banyaknya orang yang pengen naik, aku bilang ke suamiku agar naik duluan biar bisa nyariin tempat duduk buatku dan anak-anak. Tapi yang terjadi di luar dugaanku. Begitu pintu bus terbuka, beberapa crew bus menghadang kami, dan salah satu dari mereka berkata bahwa bus nggak bisa mengangkut kami semua, jadi cuma beberapa orang aja. Kupikir itu karena kursi kosongnya tinggal sedikit. Tapi ternyata aku salah, nyatanya masih banyak kursi kosong di dalam bus, tapi kami udah distop nggak boleh masuk lagi. Jadi cuma 3 atau 4 orang saja yang berhasil naik. Salah satunya suamiku. Ya, suamiku berhasil masuk ke dalam bus sesuai dengan rencana, tapi aku dan anak-anak nggak boleh masuk seperti puluhan calon penumpang yang lain. Waduh! Mau ngasih tahu suamiku juga susah kalau begini, karena dia udah nunggu di atas. Mau nelpon juga pasti udah telat, keburu busnya jalan. Aku cuma berharap suamiku menyadari kalau istri dan anak-anaknya nggak berhasil naik. Aku hampir hilang harapan ketika pintu bus menutup. Pasrah suamiku dibawa Mpok Siti. Tapi beberapa detik setelah pintu menutup, tiba-tiba kulihat sosok suamiku muncul, dan saat itu bus udah mulai jalan. Kulambaikan tangan agar dia menyadari kami masih ada diluar. Alhamdulillah suamiku tahu dan segera meminta bus berhenti. Dan karena aku dan anak-anak tetap nggak dibolehin naik, akhirnya suamiku yang turun. 

Jangan ditanya perasaanku saat itu, udah pasti kecewa banget. Apalagi dengan penjelasan crew bus yang nggak masuk akal. Kursi masih banyak yang kosong kok kami nggak boleh naik. Biar nggak ngomel sia-sia akhirnya kuputuskan mengeluhkan pelayanan Mpok Siti via twitter. Itu omelanku

 
Anak-anakku kini benar-benar ribut. Mereka kecewa kok nggak jadi naik bus tingkat. Aku pun harus memutar otak untuk menenangkan anak-anak. Tentu aku putuskan untuk mengakhiri saja harapanku naik Mpok Siti. Di halte itu masih ada puluhan ibu-ibu dan anak-anak yang masih berharap bisa naik Mpok Siti, mendingan aku ngalah aja. Agar anak-anakku tenang, kami ajak mereka makan di KFC kesukaan mereka, sambil bicara pelan-pelan kalau hari ini kami nggak jadi naik bus tingkat. Yup, harus keluar uang Rp 150.000 untuk makan di KFC. Huh! Mana iritnya coba? 

Sehabis makan sekitar jam 13.30, calon penumpang di halte Sarinah masih banyak sekali. Sepertinya nggak berkurang sejak bus pertama tadi datang. Ya sudah, kami putuskan pulang, setelah di PHPin Mpok Siti. Tapi masalahnya, Ariq tetep aja merengek-rengek dan ngambek karena nggak jadi naik bus tingkat. Yah maklumlah, aku aja yang orang dewasa kesal, apalagi anak-anak. Pasti mereka kecewa. Ah, aku harus menebus rasa kecewa mereka. Makan di KFC nggak mempan, dikasih jajanan dan permen nggak mempan, dijanjiin es krim juga nggak mempan. Duuh, piye iki? Akhirnya aku ajak mereka nonton film di XXI, baru mereka tenang. Huhuuuu... Jadi boros begini. Padahal niat awalnya pengen irit dengan naik bus gratis, eh jadinya malah bikin dompet tipiiiis... Total ngabisin duit Rp 500 ribu lebih. Duh nasiiib.. 

Pagi tadi Mpok Siti ngirim message via twitter isinya begini:


Aku udah terima permintaan maaf Mpok Siti, dan aku maafin. Walaupun sebenarnya aku berharap ada kompensasi untuk menebus rasa kecewa kami. Yah minimal diajak keliling Jakarta tanpa ngantri dan nunggu kepanasan, trus bisa duduk di bagian tingkatnya paling depan.. Hehe.. *ngarep banget*.
Bagi yang mau naik Mpok Siti long weekend ini, silahkan dipikir-pikir lagi, soalnya hari ini masih ada yang kecewa sama pelayanannya Mpok Siti. Mungkin Mpok Siti belum siap menghadapi banyak penggemar.
Semoga besok-besok Mpok Siti nggak bikin masyarakat kecewa lagi.


Monday, December 15, 2014

Antara Poligami, Selingkuh, dan Kesetiaan

Lama nggak muncul di sini, tiba-tiba aku ingin menulis lagi. Ini sebuah tulisan yang sedikit berat, berbeda dengan tulisan-tulisanku sebelumnya yang cenderung ringan. Gara-gara nggak sengaja membaca status FB seorang teman, aku jadi terusik ingin membahasnya. Statusnya tersebut intinya mengatakan bahwa dia tidak berpoligami karena dia setia dan cinta pada istrinya. Kalau aku membacanya dulu waktu aku masih umur 20-an, aku pasti setuju dan kagum dengan pendapat beliau. Tapi berhubung bacanya sekarang, saat umurku sudah 30-an, saat aku sudah menempuh kehidupan rumah tangga belasan tahun, dan sudah bergumul dengan kerasnya kehidupan, kini aku punya pendapat yang berbeda.

Apa itu berarti aku setuju jika suamiku berpoligami? Eits, jangan buru-buru menyimpulkan sebelum tahu isi hatiku lebih dalam. Jadi gini, aku sudah menjalani pernikahan sejak umurku 22 tahun, dengan seorang pria yang aku jatuh cinta padanya. Saking cintanya, rasanya nggak rela kalau dia melirik wanita lain (melirik dalam arti sebenarnya -red). Jadi sudah jelas waktu itu aku menentang keras yang namanya poligami, karena itu menunjukkan ketidaksetiaan seorang suami. Karena poligami cuma alasan para laki-laki yang nggak pernah puas dengan 1 wanita. Yah, itu pendapatku dulu. 

Seiring berjalannya waktu, aku sering nggosip mendapat curhatan dan cerita dari teman-temanku. Ada yang cerita di kantornya si A yang selingkuh sama si B. Ada pula yang cerita dirinya dirayu oleh si C yang sudah beristri. Ada pula si D yang terang-terangan bilang kalau dia mencari wanita lain, karena istrinya jauh. Haduuuh.. Pusing kalau dengar cerita seperti itu. Banyak sekali orang yang nggak setia sama pasangannya. Tapi herannya sampai sekarang rumah tangga orang-orang yang nggak setia ini semuanya tampak baik-baik saja, semua tampak normal, dan belum ada yang bercerai. Apa mereka sudah insaf? Sama sekali tidak. Tentu saja rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja karena mereka pandai berbohong dan menutupi sisi gelap mereka. Nah, terbukti kan, tidak berpoligami bukan berarti setia loh. Mereka tetap bermonogami, tapi tetap tidak setia juga. Jadi menurut pendapatku monogami atau poligami itu nggak ada hubungannya dengan kesetiaan. 

Selama ini poligami memang dianggap sebagai musuh para istri. Sering digambarkan seorang istri yang merana karena ditinggal kawin lagi oleh suaminya. Banyak cerita sinetron bahkan lagu-lagu dangdut yang mengggambarkan galaunya seorang istri yang dimadu. Dan semua itu sukses membuatku berpikir poligami itu sebuah ancaman besar. Tapi suatu ketika aku mendapat cerita lain yang bertolak belakang. Sebut saja namanya Ana. Dia temanku, anak dari seorang ayah yang berpoligami. Dan dengan bangga dia mengatakan kalau ibunya ada 3. Semua ibunya sangat dia cintai dan mencintai dirinya layaknya anak kandung. Hebatnya lagi ibu-ibunya tinggal di tempat yang sama, satu pekarangan dengan rumah yang berdekatan. Dan para ibu ini punya tugas masing-masing. Ibu pertama membantu ayahnya mencari nafkah, ibu kedua mengurusi rumah dan masak, sedang ibu ketiga bertugas mengurus anak-anak, dengan segala pernak perniknya. Aku sempat terpana mendengar cerita ini. Ternyata ada kisah sukses poligami. Apa kisah di atas sebuah contoh poligami yang benar? Aku nggak tahu. Yang jelas nggak selamanya poligami itu menyengsarakan istri. Tergantung pribadi .masing-masing dalam menjalaninya.

Pengalaman-pengalaman di atas membuatku tak lagi memusuhi yang namanya poligami. Toh, dalam Islam memang diperbolehkan, tentu semua itu ada maksudnya. Poligami dalam Islam bukan sekedar pelampiasan napsu semata. Karena poligami itu sebuah penikahan, yang menuntut tanggung jawab besar. Bukan seperti selingkuh yang hanya sebagai pemuasan hasrat seks semata tanpa tanggung jawab. Itulah mengapa laki-laki pelaku selingkuh itu nggak mau berpoligami. Karena laki-laki peselingkuh itu laki-laki pengecut, laki-laki yang nggak mau memikul tanggung jawab, tetapi mau mencari kenikmatan. Mereka itu bukan hanya pengecut, tapi juga pendusta. Berbuih-buih membohongi istri dengan kata-kata cinta, agar istrinya percaya bahwa dia setia dan nggak bakal selingkuh. Padahal besarnya cinta suami kepada istri bukan jaminan seorang suami nggak bakal selingkuh. Tapi rasa takut kepada Allahlah yang menjamin seorang suami tidak berbuat dosa.

Friday, November 28, 2014

Jamur Krispi ala Cova

Ada yang suka jamur krispi? Pasti banyak yang suka kan? Banyak yang jual cemilan ini. Dari kedai-kedai kecil sampai restoran besar. Dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, sampai mall-mall besar. Dari yang harga murah, sampai yang mahal. Awalnya aku suka beli jajanan ini, tapi lama-lama jadi penasaran pengen bikin sendiri. Lagi pula kalau bikin sendiri tentu harganya lebih murah. Dengan bahan baku jamur tiram seharga Rp 4.000 - Rp 5.000 untuk seperempat kilogram, kita bisa membuat 4 porsi besar jamur krispi. Sedangkan kalau beli, 1 porsinya harganya Rp 16.000 s.d Rp 20.000. Tuh kan, irit banget kalau bikin sendiri. Bikinnya juga gampang banget. Caranya aku dapat dari hasil pengamatan waktu nongkrongin kedai jamur krispi di mall. Terus aku praktekin di rumah. Dan hasilnya joosss! hahaa.. bakat juga aku jadi penjual jamur krispi :P. Nah ini caranya...



 Siapkan bahannya yaitu:
- jamur tiram 1/4 kg
- tepung terigu 1/4 kg
-1 sdm bumbu inti

Cara membuat bumbu inti:
- 100 gram garam
- 1 sdm merica halus
- 1 sdm gula pasir
- 2 sdm ketumbar halus
semua dicampur jadi satu, masukkan ke dalam toples, pakai seperlunya. Bumbu inti ini dipakai untuk membumbui tepung terigu. Selain untuk jamur krispi, bisa juga untuk membuat ayam goreng krispi.

Cara membuat jamur krispi:
1. Cuci bersih jamur tiram, kemudian peras sampai jamur tak berair, suwir-suwir.
2. Masukkan jamur ke dalam tepung terigu kering (tanpa air) yang sudah diberi bumbu inti.
3. Aduk-aduk dan remas-remas. Langsung goreng sampai krispi.
4. Siap disantap bersama saus dan mayonais.
Catatan penting:
jamur yang sudah ditepungin jangan didiamkan, karena akan berair, dan membuat hasil gorengannya nggak krispi. Jadi abis ditepungin jamurnya langsung digoreng yaa..
Selamat mencoba...!




Monday, November 10, 2014

Pejuang Sastra dari Pelosok Banten #KPCI2014

Di sela-sela keriuhan acara pembukaan Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI2014), aku menemukan sebuah kisah di sana...

"Kenalin bunda, ini Pak Podi. Beliau ini kepala sekolah dari sebuah sekolah hebat loh. Sekolahnya ada di puncak bukit, di daerah Lebak Banten" kata Bu Lia, kepala sekolah anakku.
Sesaat aku masih mencerna apa maksud "hebat" di sini. Dibenakku kata hebat berarti punya kemampuan lebih dari yang lain. Dengan kata lain berprestasi. Tapi penjelasan Pak Podi membuat penafsiranku berubah.

Laki-laki setengah baya yang bertubuh tegap, berpenampilan rapi, dan bersahaja itu menjelaskan, "Sekolah kami ada di puncak bukit. Untuk kesana harus jalan kaki, karena tak ada kendaraan yang bisa mencapainya. Itupun jalannya terjal, sempit, berbatu-batu, dan licin. Apalagi kalau musim hujan, bakal rawan longsor. Untuk ke sekolah saja anak-anak kami harus susah payah".

"Ouuu... " gumamku setengah tertegun. Terbayang di ingatanku sebuah foto yang sempat marak di sosial media beberapa waktu lalu. Di sana tergambar beberapa anak sekolah yang harus menyeberangi jembatan yang hampir roboh untuk mencapai sekolahnya. Mungkin kondisinya mirip seperti itu. Aku pikir hanya sekolah-sekolah di pelosok luar Jawa yang seperti ini. Tapi ternyata di Banten, yang jaraknya masih dekat dengan ibukota negara, Jakarta, masih ada sekolah terpencil seperti itu.

Pak Podi melanjutkan kisahnya "Hanya ada 2 guru negeri yang bertahan di sana, saya dan 1 guru lagi. Sayapun saat dipromosikan jadi kepala sekolah di sana, banyak yang memprediksi paling lama cuma 3 hari saya bisa bertahan". Pak Podi tersenyum saat mengingat masa-masa itu. "Tapi alhamdulillah sampai sekarang saya masih bertahan" lanjutnya.
Penasaran aku bertanya "Apa yang bikin bapak bertahan?"
"Yah setelah saya banyak ngobrol dengan guru dan murid-murid, saya merasa saya bisa bertahan di sini. Apalagi salah satu murid saya berhasil masuk ke KPCI ini. Dia itu anak kampung banget, dari daerah terpencil. Ke pasar saja nggak pernah, apalagi ke kota besar seperti ini. Pasti agak membingungkan bagi dia. Beda sama anak-anak kota yang sudah biasa ketemu banyak orang. Murid saya itu belum pernah kemana-mana" kata Pak Podi.
"Sama sekali belum pernah kemana-mana?" tanyaku.
"Iya, sama sekali. Soalnya tempatnya memang sangat terpencil. Untuk ke tempat ramai, seperti pasar, kalau naek ojek, itu ongkosnya Rp 50.000 sekali jalan. Bolak-balik habis Rp 100.000. Itupun masih ditambah jalan kaki. Uang segitu pasti berat banget bagi mereka"

Benar kata Bu Lia, sekolahnya memang hebat. Dan hebatnya lagi, walaupun di daerah terpencil yang sangat minim fasilitas, namun muridnya bisa berprestasi tingkat nasional.

Setelah pertemuanku dengan Pak Podi, aku penasaran dan browsing di internet. Ternyata memang masih banyak sekolah yang kurang layak di daerah Banten. Dari gedung sekolahnya, lokasinya, dan fasilitas yang lain. Banyak tergambar gedung sekolah hanya dari bambu, dan 1 guru harus merangkap beberapa kelas. Banyak juga foto-foto perjuangan murid-murid untuk mencapai sekolahnya, dari melewati jembatan yang hampir roboh, melewati jalan yang terjal dan berlumpur, hingga mereka harus melepaskan alas kaki. Duuh, kalau aku rasanya nggak akan sanggup kalau harus melepas anak-anakku menempuh medan yang sangat berat begini hanya untuk ke sekolah. Mending home schooling aja deh.

Sangat miris melihat kenyataan seperti itu. Banten, banyak sekolah mewah di sana, tapi banyak pula sekolah miskin yang terpencil. Tampak jelas pembangunan yang tidak merata, padahal masih di daerah yang sama. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Semoga semua pihak tidak menutup mata dan hati. Banyak anak-anak berpotensi di sana, anak-anak yang nantinya bisa mengubah nasib bangsa. Mereka berhak mendapat fasilitas pendidikan yang layak seperti anak-anak lain.

NB: Untuk Hidayat Nur Wahid, jangan pernah menyerah dengan mimpimu. Engkau anak Indonesia yang hebat dan berprestasi. Engkau seorang pejuang sastra Indonesia dari pelosok Banten. Teruslah berjuang dan berprestasi!

Monday, November 03, 2014

Menuju Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2014


Apa itu Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KCPI)? KCPI merupakan sebuah ajang bergengsi dan event terbesar tahunan bagi para penulis cilik di seluruh Indonesia. Konferensi tersebut diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang bekerja sama dengan Penerbit Mizan. Untuk tahun 2014 ini, konferensi akan diadakan di Hotel Rizen Premiere, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 4-7 November 2014. 

Keren ya konferensinya di hotel, di Bogor pula, wuih adem. Jadi pengen ikutan. Dan alhamdulillah tahun ini aku beneran ikutan loh. Lah kok bisa? Kamu kan bukan penulis cilik? Pasti pada nanya kek gitu kan? hehe.. Bisa donk. Aku bukan ikut acaranya, tapi ikut mengantar salah satu pesertanya. Dialah Lalita alias Lita, anak perempuanku yang berhasil lolos menjadi salah satu peserta KCPI 2014 untuk kategori cerpen. Dan mulai tanggal 4 November 2014 besok akan mengikuti konferensi sebagai wakil dari Provinsi Banten. Hebat ya anakku kaya' emaknya :D.

Sebenarnya waktu ikut seleksi KCPI ini, Lita nggak terlalu yakin bisa lolos. Karena waktu itu dia lagi sibuk nyiapin diri buat ujian mid semester, hingga sempat lupa ada seleksi KCPI. Begitu ingat, eh deadline pengiriman karya untuk seleksi udah di depan mata. 3 hari lagi karya yang diikutkan seleksi harus sampai ke pihak penyelenggara, dan harus dikirim via pos.  Padahal karya tersebut juga harus mendapat acc dari pihak sekolah dulu. Waduh dadakan banget kan? Aku sempat mikir Lita bakal mbatalin ikut seleksi, eh ternyata nggak. Dia langsung duduk di depan laptop, dan bikin sebuah cerpen. Beberapa saat kemudian cerpennya udah jadi. Eh tapi, ternyata ada masalah lagi. Cerpen yang dibuat halamannya kebanyakan.. hiyaaa... Berarti harus mangkas satu halaman biar sesuai ketentuan. Lita kembali memeras otak mencari bagian yang bisa dipangkas tanpa harus mengubah jalan cerita. Ada aja tantangannya. Tapi dia berhasil menaklukkan. Nggak hanya itu, karyanya lolos seleksi, dan dia berhasil jadi peserta KCPI 2014. Yeay! alhamdulillah... :). 

Kini saatnya bersiap untuk sebuah pengalaman baru bagi Lita, dan buatku juga. Rasanya seneng banget waktu tahu anakku lolos seleksi. Walaupun nantinya masih ada lomba lagi, tapi aku nggak mengharuskan Lita menang. Bisa lolos seleksi aja udah hebat. Bersaing dengan anak-anak hebat lain dari seluruh Indonesia pasti nggak mudah. Kalau bisa menang alhamdulillah, tapi kalau nggak menang setidaknya Lita punya pengalaman banyak lewat event ini. Sebuah event yang nggak semua anak bisa merasakan. Semoga ini bisa mendorong Lita untuk terus berkarya mengembangkan bakatnya. Semoga kelak karya-karyanya bisa memberi manfaat pada dunia. Amin :)

Sekarang saatnya packing barang-barang yang harus dibawa. Walaupun udah jadi peserta konferensi, tapi dia tetap anak-anak, dan tetap emaknya harus ikut nyiapin bawaannya. Yuk, sampai ketemu di KCPI 2014 ^^.


Monday, October 27, 2014

Blogger Juga Manusia

Hari ini tanggal 27 Oktober katanya ditetapkan sebagai Hari Blogger Nasional. Mungkin karena nggak gaul atau kurang update, sejak ngeblog dari September 2011, baru sekarang ini aku tahu ada Hari Blogger Nasional. Aku nggak akan pernah tahu ada hari blogger kalau aku nggak jadi anggota sebuah komunitas blogger. Dan mungkin orang-orang di luar sana yang bukan blogger juga nggak tahu kalau hari ini merupakan Hari Blogger Nasional. Terus maksudnya apa kok dari tadi nulis kebanyakan 'mungkin'nya? hehe.. Intinya aku mau ngasih tahu kalau hari ini Hari Blogger Nasional gitu. Dan sebagai blogger tentunya aku bangga, karena dengan ditetapkannya hari blogger, ini menandakan betapa kerennya menjadi blogger.. hahaa.. *ini sih memuji diri sendiri :P*.

Sesungguhnya aku nggak pernah bercita-cita menjadi blogger. Tapi saat aku memutuskan membuat sebuah blog, dan konsisten menulis di sana, otomatis aku menyandang predikat seorang blogger. Walaupun aku nggak pernah mendapatkan penghasilan yang wah dari nge-blog, tetaplah aku ini seorang blogger. Walaupun blog-ku nggak seramai blog-blog yang lain, tetep aku ini seorang blogger. Walaupun namaku nggak cukup dikenal di dunia perbloggeran, tapi teteeep aku ini seorang blogger. Walaupun aku jarang datang di acara-acara blogger, ya tetep aku ini seorang blogger.

Ya, aku ini blogger. Di mataku, seorang blogger adalah orang yang menulis di blognya, dan membagikan "sesuatu" lewat tulisannya, bisa berupa informasi, opini, hiburan, ataupun sekedar curhatan. Tujuan menjadi blogger-pun tiap orang berbeda-beda. Ada yang menyalurkan hobi, mengobati stres, membunuh waktu luang, ataupun untuk mencari penghasilan. Semua itu sah-sah aja. Nggak ada batasan untuk menjadi seorang blogger. Usia berapapun bisa menjadi blogger, dari anak-anak hingga manula. Laki-laki, wanita, bahkan waria, boleh jadi blogger. Dari pembantu rumah tangga, artis, hingga presiden boleh kok jadi blogger. Kalau pembantu rumah tangga udah banyak yang jadi blogger. Tapi kalau presiden sepertinya jarang ya? Jadi mbayangin gimana kalau Pak Jokowi jadi blogger, mau nggak ya kopdaran ama aku?  hahaa..*siapa loe?

Nah kalau aku sendiri, kenapa aku ngeblog? Aku ngeblog karena dorongan hati. Ciieee.. uhuk! Iya, karena hatiku yang tengah dilanda kegalauan waktu itu, membisikkan agar aku menulis. "Cova menulislah.. Saat orang nggak mau mendengarkan suaramu, mungkin masih banyak orang yang mau membaca tulisanmu" begitu katanya. Nggak jelas sebenarnya yang dimaksud orang disini siapa. Yang jelas aku butuh media untuk menyalurkan pikiran-pikiranku yang terkadang terlalu penuh mengisi otakku. Maka aku mengambil cara ini, menulis di blog. Walaupun saat itu aku merasa nggak punya kemampuan di bidang menulis, tapi aku tetap menulis. Dan herannya, sejak aku mulai menulis blog, saat itulah kemampuan menulisku datang tiba-tiba. Mendadak aku bisa menulis layaknya orang yang sudah biasa menulis.

Nggak hanya itu. Beberapa orang teman yang biasanya cuek, setelah tahu aku ngeblog, malah jadi penasaran dengan postinganku. Dan mereka inilah yang justru mendorongku untuk sering menulis, karena ternyata mereka menyukai tulisanku. Ahay.. :D. Selain mereka ini, yang membuatku makin semangat ngeblog adalah kehadiran teman-teman blogger yang tulus dalam pertemanan. Sekedar datang berkunjung, menyapa, dan membubuhkan sepatah dua patah komentar, itu bagiku sangat membahagiakan. Yah hanya hal-hal seperti itu sudah membuatku bahagia. Hal-hal yang jauh dari materi, tapi lebih bernilai dibanding materi.

Itulah awal tujuan aku ngeblog. Dan sampai sekarang tujuanku masih sama, sebagai panggilan hati. Walaupun ada kalanya aku ikut lomba ngeblog, dan sesekali pernah kecipratan hadiah kecil-kecilan, aku anggap sebagai seru-seruan aja, sekedar untuk memacu adrenalin. Kalau ada blogger yang giat mencari penghasilan dari ngeblog, menurutku itu bagus (kadang juga ngiri :P), asal tetap memakai cara-cara yang jujur dan elegan, dan tidak menyalahgunakan blog.
Yah, blogger juga manusia. Manusia tak ada yang sempurna, terkadang salah dan lupa. Karena itu marilah sama-sama saling mengingatkan. Sebagai blogger, sebenarnya kita punya andil besar di masyarakat, bukan hanya sekedar menghalau galau diri sendiri, ataupun untuk memperkaya diri, tapi lebih dari itu. Blogger bisa mengubah dunia. Dengan menyajikan konten-konten yang bermutu dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya. Bahkan opini-opini positif yang bisa menggerakkan hati, dan membuka mata dunia. Dan aku sedang belajar menjadi blogger yang seperti itu. Blogger yang menyajikan tulisan yang mencerdaskan pembacanya.

Selamat Hari Blogger Nasional. 
Keep writing 'n happy blogging.


Wednesday, October 22, 2014

Mengelola Fan Page Facebook

Ada yang punya fanpage facebook? Pasti banyak ya.. Ada yang menggunakannya untuk jualan online, ada juga sebagai fanpage blog, atau untuk sekedar sharing informasi. Aku juga punya loh. Tentu bukan hanya karena mau ngikutin tren aja, tapi karena aku merasa fanpage itu berguna banget. Semula berawal dari kesenanganku membuat rajutan. Foto hasil rajutanku itu biasanya aku share di facebook pribadiku secara random, nggak pakai album-albuman. Karena saking randomnya dan aku cukup malas buat bikin album khusus rajutanku, jadinya bercampur ama postingan-postingan nggak jelasku di facebook. Tadinya aku nggak merasa itu merepotkan. Tapi beberapa teman sering menanyakan hasil rajutanku yang lain, "Lihat donk foto rajutanmu yang lain". Mereka yang bertanya ini adalah calon pembeli rajutanku, jadi mereka perlu memilih mana yang mau dipesan. Nah aku mulai kerepotan. Lah album fotoku di FB aja campur aduk gitu, kasian yang mau lihat, karena terpaksa harus ngelihat foto-foto narsisku juga.. hehe.. Dari situlah terbersit pikiran untuk membuat sebuah fanpage, agar foto-foto karyaku lebih terkoordinasi dengan baik, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang mau melihat-lihat karyaku.

Dengan acara coba-coba akhirnya aku membuat fanpage. Caranya nggak susah kok, cukup ikuti petunjuk si facebook. Di sana akan dijelaskan step-stepnya, mirip seperti membuat akun baru di facebook. Yang udah punya akun facebook, pasti bisa bikin. Jadi bagi yang gaptek nggak usah kuatir, kalian pasti bisa. Singkat kata, tepat pada tanggal 11 Desember 2012, fanpageku berdiri dengan nama "Cova Amigurumi". Cova berasal dari namaku, sedangkan amigurumi karena pada awalnya aku hanya membuat boneka rajut saja. Amigurumi artinya boneka rajut. Namun seiring berjalannya waktu, muncul beberapa permintaan agar aku membuat produk rajutan yang lain, bukan hanya amigurumi. Karena karya rajutanku kini bukan hanya amigurumi, maka aku mengubah nama fanpage-ku menjadi "Rajutan Cova".



Fanpagenya udah jadi, lalu apa? Tentu saja langkah selanjutnya adalah mengisi informasi tentang fanpage kita. Bisa dengan menjelaskan produknya atau menjelaskan ini fanpage tentang apa, dan menulis kontak person yang bisa dihubungi. Buat simple aja, nggak usah terlalu panjang lebar, yang penting informatif. Setelah puas dengan informasi dasar, sekarang saatnya membuat postingan. Jangan sampai kita menginvite orang untuk nge-like fanpage kita, tapi belum ada apa-apa yang bisa dilihat. Tentu orang itu bakal bingung, "Ini fanpage apaan sih? Kok nggak ada isinya?". Nah, beberapa status mulai aku tulis, dan foto-foto yang pernah tampil di fb-ku, aku tampilkan kembali di fanpage. 

Kalau fanpage udah ada postingannya, kini saatnya menarik penggemar. Namanya aja fanpage, tentu saja harus ada penggemar. Dan penggemar itu nggak otomatis datang, kalau kita nggak memperkenalkan diri. Caranya memperkenalkan diri bagaimana? Bisa dengan share fanpage kita di facebook, atau social media lainnya. Buat status pemberitahuan berdirinya fanpage kita, dan ajak teman-teman menjadi liker. Lumayanlah, pasti ada satu dua penggemar baru datang. 

Kalau mau nambah penggemar lagi, kita harus aktif meng-invite teman. Yang bisa kita invite adalah orang yang sudah jadi teman kita di facebook. Kalau punya teman facebook banyak, ini akan menguntungkan, karena bisa menginvite banyak orang. Semakin banyak yang diinvite, tentu saja semakin banyak yang nge-like. Tapi nggak semua orang yang kita invite mau jadi fans loh.  Mungkin saja dia berpikir fanpage kita nggak cocok untuk dia. It's okay, woles aja, karena itu hak masing-masing orang. Dengan cara ini fanpage-ku mendapat 150-an penggemar dari 600an teman yang ku-invite. Sedikit ya? Tapi aku nggak mempermasalahkan itu, karena maksud fanpage-ku ini untuk memudahkanku mengkoordinir karya-karyaku, jadi bukan untuk tujuan komersil banget.

Facebook sendiri menyediakan fasilitas untuk promote fanpage, tapi tentu saja berbayar. Dan itu cukup mahal. Ada juga aplikasi di luar sana yang menyediakan jasa menambah liker, tentu berbayar juga. Kalau punya anggaran lebih, bisa mencoba fasilitas-fasilitas ini. Tapi aku nggak memakai cara-cara itu. Sayang ama uangnya.. hehe.. Aku lebih memilih cara-cara alami dan gratis. Alhamdulillah, walaupun sekarang aku udah jarang meng-invite orang, dan nggak pakai cara berbayar, tapi penggemar fanpage-ku terus bertambah, dan sekarang udah mencapai 400 fans. 

Itulah pengalamanku mengelola fanpage FB. Mungkin ada di antara teman-teman yang punya fanpage dan fansnya cukup banyak, boleh tahu donk tipsnya. Yang penasaran ama fanpage-ku, silahkan berkunjung ke www.facebook.com/RajutanCova ya.. Yang mau nge-like juga boleh banget.. makasih sebelumnya..  ^^

Thursday, October 16, 2014

Kecanduan Pornografi

Akhir-akhir ini aku lagi malas beredar di sosial media, terutama facebook. Eh blog juga. Soalnya udah puluhan kali blogku ini diserbu komen spam yang isinya pornografi. Terus kemarin waktu aku buka hp ngeliat Fb, tiba-tiba nongol gambar porno di depan mukaku. Duh, eneg banget deh, bikin hilang selera. Udah berkali-kali ini terjadi. Biasanya karena ada teman Fb-ku yang ngelike sebuah fanpage porno, terus si fb mengabarkan ini di timeline-ku, dan otomatis PP-nya si fanpage porno tampil di sana. Huft! 

Sebenarnya ini bukan salah fb-nya, tapi salah si pemakainya tentu saja. Bukan aku loh, tapi teman-teman fb yang ngelike fanpage porno itu. Ada beberapa dari mereka yang mengaku itu karena akun fb-nya dihack orang. Memang ada sih yang seperti ini. Tapi aku yakin dan percaya sebagian besar dari mereka memang secara sadar menge-like fanpage mesum ini.

Kenapa banyak sekali penggemar pornografi? Bahkan pengunjung blogku ini juga. Yang aku maksud bukan pembaca setia blogku, atau teman-teman blogger yang jalan-jalan kesini loh, tapi para pengunjung nyasar yang mengetikkan kata kunci tertentu. Misalnya sebuah postingan yang paling populer di blogku ini yang judulnya "Siti Pembantu Seksi". Artikelku itu laris dikunjungi pengunjung mesum yang nyasar. Biasanya kata kunci yang diketikkan "pembantu seksi", kemudian mesin pencari mengarahkan ke artikelku itu. Orang-orang ini tentu berharap menemukan sebuah cerita syur atau gambar seksi, eh tak tahunya malah dapat cerita omelan ala emak-emak yang sama sekali nggak ada mesum-mesumnya.. Hehe

Kembali ke pertanyaan diatas. Kenapa banyak sekali penggemar porno? Seorang psikolog menjelaskan padaku bahwa pornografi itu menimbulkan kecanduan. Ketika seseorang mengkonsumsi pornografi, maka otaknya akan menghasilkan hormon-hormon yang menimbulkan perasaan senang, nyaman, dan penasaran. Masalahnya adalah, hormon-hormon ini nggak akan berhenti sampai di sini, karena si pornografi ini akan membuat otak agar memproduksi hormon ini secara terus-menerus dan berlebihan. Makanya otak akan mendorong orang tersebut untuk mengkonsumsi pornografi lagi. Jika ini nggak terpenuhi, maka akan timbul rasa nggak tenang, gelisah, dan galau, tak ubahnya seperti abg yang kangen berat sama pacarnya. Yup! Pornografi memang bikin kangen. 

Dan yang namanya kecanduan itu pasti bahaya. Dari sebuah artikel yang pernah aku baca menyebutkan bahwa kecanduan pornografi itu lebih parah dari kecanduan narkoba. Kalau kecanduan narkoba itu tampak secara fisik, dan kerusakan otak yang ditimbulkan ada 3 bagian. Sedangkan kecanduan pornografi itu nggak tampak secara fisik, tapi kerusakan otak yang ditimbulkan lebih parah, ada 5 bagian. Tuh kan,, yang porno-porno itu merusak otak. Kalau masih nggak percaya, coba baca artikel berikut ini. Di sana dibahas secara detail bahaya mengkonsumsi pornografi. http://khalidabdullah.com/bahaya-pornografi-sesungguhnya-secara-detail-yang-sangat-amat-perlu-anda-tahu

Nah, udah tahu kan bahayanya? Makanya kalau yang belum pernah mengkonsumsi pornografi, jangan coba-coba. Tapi bagi yang udah pernah, atau bahkan udah kecanduan, insaflah dari sekarang. Gimana cara insafnya? Yaelah kok masih nanya. Ya caranya dengan putus hubungan ama pornografi, dan menjauhi pemicunya. Move on lah ke kegiatan yang positif, yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Yakin deh, pasti ada rasa kepuasan dan kesenangan dari kegiatan positif yang jauh lebih besar dibanding kesenangan karena konsumsi hal-hal mesum. Apalagi kalau kegiatan positif itu bisa menghasilkan, lebih seru kan? Kalau pornografi buang-buang uang, nah kegiatan positif justru menghasilkan uang. Siapa yang nggak pengen?  

Tapi nyari kegiatan positifnya harus yang steril dari pornografi. Contohnya yang hobi moto, carilah objek foto pemandangan, gedung-gedung, masakan, binatang, atau jadi fotografer produk di penerbit atau toko online. Jangan nyari obyek cewek-cewek seksi, apalagi bugil. Sebesar apapun rupiah yang bisa dihasilkan dari moto cewek-cewek seksi, tetap haram hukumnya. Apalagi kalau pake mbayar. No way! Misalnya lagi, kalau yang mau olahraga, jangan ke tempat ngegym campur yang isinya kebanyakan cewek maupun cowok yang pamer bodi. Atau kalau mau olahraga lari, jangan lari bareng ama cewek-cewek bercelana super pendek. Repot? Kalau mau insaf, ya harus mau repot. Tingkat keberhasilan lepas dari kecanduan itu berbanding lurus dengan niat. Kalau benar-benar niat, cara apapun pasti diusahakan. Kalau nggak niat, pasti cari-cari alasan dan pembenaran. 

Wuih.. panjang banget ternyata tulisanku nyinyirin tentang pornografi. Oke deh ini penutupnya. Semua masalah akan teratasi kalau kita mendekatkan diri kepada Allah, termasuk yang lagi terjerat pornografi. Perbanyak ibadah, sholat, ngaji, puasa, belajar agama, baca-baca buku agama, dan bergaul dengan orang-orang yang alim. InsyaAllah Allah akan memberi jalan. Ingat ya.. Allah nggak akan mengubah keadaan suatu kaum, kalau kaum itu nggak berusaha mengubah dirinya.

Tuesday, October 07, 2014

Ketika Jenuh Menulis

Habis nulis naskah 1 buku, nggambar pola, bikin produk, plus bikin setting buat pemotretan produk, ternyata sangat melelahkan. Satu bulan full aku kerjain itu semua. Saking lelahnya, sampai sekarang rasanya nggak pengen ngapa-ngapain. Pengennya sih nggak ngapa-ngapain sampai bukuku terbit.. Hahaa.. Dasar lebay! Baru nulis 1 naskah buku aja udah gempor gini. Padahal cita-citanya pengen jadi penulis buku yang produktif. Gimana bisa non? :P

Sungguh, aku salut banget sama penulis-penulis yang bukunya udah puluhan. Pertama, kok bisa ya idenya nggak abis-abis. Kalau kata mbak Nunik yang udah nulis 50 lebih judul buku, dia nggak pernah kehabisan ide, justru kadang bingung saking banyaknya ide bermunculan di otaknya. Iya sih, aku juga begitu. Yang membedakan adalah aku sering nggak pede dengan ideku itu. Sering berpikiran, apa iya sih ideku ini oke? Apa layak ide begini dituangkan jadi naskah buku. Jangan-jangan ideku udah ketinggalan jaman, dan segala macam pertimbangan yang akhirnya aku nggak mulai menulis. Terus pada akhirnya nyesel berat karena kemudian ngeliat ada buku yang idenya sama ama ideku dulu. #Plak! Wake up girl! Ide itu bukan buat dipikirin aja, tapi diwujudkan. Kalau kamu nggak mewujudkan idemu itu, maka orang lain yang akan mewujudkannya. Yup, beberapa kali itu terbukti. Nah kalau kalian termasuk orang sepertiku yang sering nggak pede dengan ide sendiri, aku sarankan insaplah dari sekarang. Cepat-cepatlah idenya dieksekusi, sebelum menyesal.

Kedua, para penulis produktif itu hebat banget managemen waktunya. Menulis itu butuh konsentrasi yang tinggi. Butuh benar-benar fokus. Sedangkan kesibukan sehari-harinya tentu bukan hanya menulis saja. Ada yang sebagai ibu rumah tangga, ada yang pedagang, ada juga yang jadi pegawai. Terus kapan nulisnya? Apa harus begadang tiap hari? Wah kalau itu aku nggak mungkin bisa. Soalnya kalau malamnya harus begadang, paginya bakal kecapekan. Malah jadi kacau semuanya. Etapi, ternyata ada triknya loh. Masih kata mbak Nunik nih. Jadi gini, sebelum mulai menulis, pikirkan dulu apa yang mau ditulis. Memikirkannya bisa sambil masak, sambil nyuci, sambil makan, sambil nunggu angkot, pas lagi macet, atau pas diperjalanan. Nah, begitu ketemu laptop atau komputer, tinggal ditulis. Cara ini sangat menghemat waktu, karena kita sudah tahu apa yang mau ditulis. Silahkan dipraktekkan, tapi jangan keterusan ngelamun ya. Ntar masakannya gosong.. Hihii.

Ketiga, penulis produktif itu kok bisa ya nulis terus, seakan-akan energinya nggak ada matinya. Eh siapa bilang mereka nggak ada capeknya? Mereka juga capek kok. Kadang jenuh juga. Mungkin seperti yang kurasakan saat ini. Walaupun aku hanyalah penulis wanna be.. Hehe.. Setelah nulis naskah 1 buku full, rasanya seperti kehabisan tenaga. Nah kalau kalian mengalami seperti yang aku alami ini, berarti ini saatnya untuk refreshing sejenak. Yak, inilah inti dari tulisanku yang panjang lebar di atas. Intinya aku pengen refreshing. Tapi masalahnya sekarang masih hari kerja, nggak mungkin kan aku kabur dari kantor buat refreshing? Padahal sebenarnya aku pengen ke Tamrin City, atau Mayestik, atau ke Asemka, buat cuci mata, sambil belanja-belanja mumpung tanggal muda #halah. Siapa tahu hasil belanjaan bisa dijual lagi.. Hahaa..teteeup ujung-ujungnya mau dagang :P. Yah sudahlah, karena belum memungkinkan buat refreshing keluar, sepertinya aku harus puas dengan ngopi-ngopi aja di ruangan. Slurup..ah..

Monday, September 29, 2014

Tips Agar Naskah Dilirik Penerbit #SundaySharing9

Anakku Lita punya cita-cita pengen jadi guru sekaligus penulis. Sebuah cita-cita yang kurang populer untuk anak seusianya. Tapi aku selalu mendukungnya untuk meraih cita-citanya itu. Salah satunya dengan mengajaknya ke acara Sunday Sharing ke 9 yang sponsori oleh BLOGdetik hari minggu kemarin. Kebetulan tema acaranya sangat menarik, Tips Menulis Agar Naskah Dilirik Penerbit. Bersyukur aku udah temenan di FB ama mak Riksi  Fitriasari, sang ketua kelas Sunday Sharing kali ini, jadi aku bisa tahu info ini dari FBnya. Yup, sepertinya emang aku udah berjodoh ama acara ini. Karena biasanya kalau ada acara-acara begini ada aja halangannya.. Maklumlah kalau weekend pasti banyak acara.. hehe.. alesan. 

Nah untuk kali ini alhamdulillah aku bisa ikut. Dan ternyata acaranya keren loh sodara-sodara! Acaranya dikemas secara sersan, serius tapi santai. Santai bukan berarti cuma haha hihi, tapi santai yang penuh makna.. ciee.. Apalagi narasumbernya nggak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam dunia tulis menulis. Dialah mbak Nunik Utami, penulis dari 50 lebih judul buku, baik fiksi maupun non fiksi. Wow banget nggak sih? Mupeng banget pengen bisa kaya' dia. Dan aku bersyukur bisa dibagi ilmu oleh mbak Nunik ini. Semoga bisa ketularan juga jadi penulis produktif. Amin.

bersama Kakak guru Nunik Utami :)

Ternyata mbak Nunik bukan cuma asyik dalam hal menulis, tapi asyik juga loh jadi guru. Pembawaannya yang ramah dan ceria membuat materi yang disampaikan nggak terasa membosankan. Nggak melulu berisi teori-teori seperti acara-acara sejenis yang pernah aku ikuti, tapi yang disampaikan lebih ke pengalaman mbak Nunik sendiri, jadi lebih masuk akal untuk dicontek dan segera dilakukan. Simple tapi mengena. Apa aja sih tipsnya? Yuks mari kita intip.

suasana kelas
Lomba, lomba dan lomba

Tuh kan, ternyata ikut lomba itu penting banget loh. Sangat penting hingga dia berada diurutan pertama.. hehe. Ikuti lomba yang diadakan oleh penerbit. Walaupun kita nggak menang, tapi setidaknya penerbit sudah mencatat nama kita kalau tulisan kita bagus. Semakin sering ikut lomba, nama kita akan semakin banyak dicatat. Jadi ikut lomba itu, selain untuk melatih kemampuan menulis kita, juga berguna untuk mengenalkan karya kita ke penerbit. Nggak masalah kalau nggak menang. Karena nggak menang bukan berarti karya kita jelek loh. Mungkin temanya aja yang kurang cocok. Yuks semangat ikut lomba.

Jadi teman

Maksudnya berteman dengan orang-orang dari penerbit. Ini cara ampuh untuk lebih dekat dengan penerbit. Setidaknya kita bisa tahu lebih cepat apa naskah yang dibutuhkan oleh penerbit. Dan kalau kita jadi teman mereka, mereka juga akan tahu kalau ternyata kita bisa nulis juga. Tapi nggak perlu sampai nodong-nodong biar naskah kita diterbitin, bisa-bisa mereka malah ilfil. Nah caranya gimana biar bisa jadi teman mereka? Manfaatkan saja sosial media. Misalnya dimulai dengan komen di status-status mereka. Komentar yang ringan-ringan aja. Intinya mengenal lebih dekat gitu, dan jadi teman mereka.

It's time for jaim

Yup, jaim itu penting loh. Apalagi jaim di sosial media, itu penting banget untung membangun brand image. Jadi pasang status yang baik-baik, yang positif-positif. Bukan status marah-marah, apalagi ngomelin penerbit yang udah nolak naskah kita. Atau bikin status galau gara-gara kalah lomba, jangan sampai itu terjadi. Tampilkan diri kita sebaik-baiknya. Sebenarnya kalau tips ini bukan hanya buat penulis ya, buat semua orang juga perlu banget.

Wajib kepo

Nah kalau yang ini aku banget.. hihii.. Sering banget aku nongkrongin toko buku bukan untuk beli buku, tapi untuk mencatat alamat penerbit, terus mempelajari naskah-naskah yang udah diterbitin ama penerbit itu, seperti apa konsep, tema, dan gaya tulisannya. Kalau belum puas, bisa kita kepoin websitenya. Biasanya di sana ada cara pengiriman naskah. Pokoknya mari kita kepo sekepo-keponya, biar kita tahu celah mana yang bisa kita tembus..#halah bahasanya :D

Ayo serbuuu!

Naskah udah selesai, saatnya kirim ke penerbit. Cari penerbit yang paling cocok sama naskah kita. Kirim satu naskah ke satu penerbit saja. Kalau ternyata ditolak, baru pindah ke penerbit lain. Kenapa? Karena kalau kita ngirim satu naskah ke banyak penerbit, nanti kalau lebih dari 1 penerbit mau menerbitkan naskah kita, kita bakal bingung sendiri. Nggak semua penerbit mau naskah yang udah masuk ditarik lagi. Nah loh, repot kan?

Awas, diserbu balik!

Maksudnya apa? Maksudnya diserbu balik oleh penerbit. Ada kalanya penerbit yang mencari naskah kita, bukan kita yang nyodorin naskah. Tentu itu terjadi kalau kita dan karya kita udah dikenal oleh penerbit. Oleh karena itu simpan semua draft tulisan sebaik-baiknya, dan nabung naskah sebanyak-banyaknya, siapa tahu ada penerbit yang nyari.

bersama ketua dan wakil ketua kelas: kak riski dan kak tri sapta #biar serasa masih sma :))

Itulah 6 tips dari mbak Nunik. Silahkan dicontek ya, dan rasakan hasilnya. Kalau aku sendiri sebelumnya udah melakukan beberapa tips di atas, tapi belum semuanya. Alhamdulillah ada hasilnya, ada penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Semoga nanti kalau aku praktekkan semua ilmu di atas, makin banyak lagi penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Amin.

Manfaat besar juga dirasakan oleh anakku, Lita. Setelah disemangati oleh mbak Nunik, dia jadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan naskah-naskahnya. Pulang dari acara ini, aku dihujani oleh luapan ide-idenya. Semoga cita-citanya menjadi kenyataan. Amin :)


pas futu sendirian malah burem begini.. -___- #gagalNarsis


Tuesday, September 16, 2014

Misteri Dompet Stroberi

"Kak.. Gimana perkembangannya? Udah ketemu belum dompetnya?"
Pertanyaan itu tiap hari aku lontarkan ke Lita, anak perempuanku, sejak dia menyanggupi akan memecahkan kasusku. Dengan bergaya ala Sherlock Holmes, dia percaya diri sekali bakal menemukan dompetku yang hilang. Tentu saja ini nggak cuma-cuma. Demi kembalinya si dompet stroberi, aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000 untuk menyewa jasa detektif wanna be ini. Uang yang cukup besar bukan untuk sebuah dompet? Padahal harga dompetnya nggak sampai segitu. Uang seratus ribu bisa buat beli dompet yang baru. Tapi aku nggak bakal beli dompet baru, karena dompet itu hasil rajutanku sendiri. Paling-paling aku bikin dompet baru lagi. Tapi masalahnya bukan di situ, bukan pada harga dompet, atau siapa yang membuat dompetnya. Terus apa donk? Tentu saja karena isinya, uang. 

  

Kehilangan uang Rp 10.000 aja rasanya nyesek, apalagi kalau kehilangan uang yang jumlahnya beratus-ratus kali lipat dari jumlah itu. Bisa dibayangkan donk berapa ratus kali nyeseknya. Kenapa aku menyimpan uang segitu banyak di dompet? Kenapa nggak ditabung di bank aja? Jadi ceritanya gini. Aku punya kegiatan tambahan merajut, dan menerima pesanan rajutan dari teman-teman. Uang hasil jualan rajutan itu aku masukin di dompet stroberi itu. Maksudnya agar nggak tercampur sama uang buat kebutuhan sehari-hari. Karena jumlahnya belum begitu banyak, menurutku lebih praktis kalau aku simpan di dompet mungil itu saja. Tak disangka makin hari makin banyak yang memesan rajutanku, dan tiap hari uang di dompetku semakin banyak. Yang tadinya hanya puluhan ribu, kini setelah 2 tahun sudah mencapai jumlah jutaan. Nah, karena jumlahnya sudah lumayan banyak, maka aku berniat memasukkan ke bank biar aman.

Tapi belum sempat aku membawa uang itu ke bank, dompet stroberiku malah hilang entah kemana. Segala penjuru rumah aku sisir dan telusuri, tapi aku tak menemukan satupun petunjuk keberadaan dompet itu. Kucoba merefresh otak dan mereka ulang kejadian-kejadian yang lalu terkait dengan dompet itu, tapi tetap saja nggak menemukan pencerahan. Yang aku ingat dengan jelas, aku selalu menyimpan dompet itu di lemari khusus pernak pernikku, dan tak pernah sedetikpun aku membawa dompetku keluar rumah. Jadi seharusnya dompet stroberi beserta isinya masih ada di dalam rumah, kecuali ada yang sengaja mengambilnya. Kalau itu terjadi, berarti rumahku baru saja kemasukan maling.

Sedih sesedih-sedihnya.. Uang yang aku kumpulkan dari hasil merajut benang helai demi helai, hari demi hari, tahun demi tahun, tak tahu kini di mana rimbanya. Padahal uang itu rencananya mau buat beli kambing sama mesin obras, terus sisanya buat simpanan. Yah, manusia hanya bisa berencana, dan yang terjadi kadang sangat jauh dari harapan. 

 Kini sudah seminggu lebih dompet stroberiku hilang, dan Lita, detektif sewaanku, nggak memberikan hasil kerja yang memuaskan. 
"Gimana sih kak? Masa' nggak berhasil nemuin dompet mama? Udah seminggu nih.." keluhku.
Melihat raut mukaku yang sedih, Lita menatapku dengan penuh rasa simpati, dan berkata "Barang-barang yang kita sayangi itu kalau hilang maka dia akan membawa pergi kesialan kita. Jadi ikhlasin aja ma... "
Ah, anakku.. Dia benar, kesialanku hilang berganti dengan keberuntungan. Aku beruntung karena memiliki anak yang bijaksana seperti Lita :).

Thursday, September 11, 2014

Yeay! Blogku Ulang Tahun

Lagi-lagi kabar gembira datang dari blog Runaway Diary. Wah senang ya bisa sering mengabarkan berita gembira.. hihii. Yup, sesuai judul postingan ini, hari ini blogku berulang tahun yang ke-3. Terharuu.. Nggak terasa blogku ini sudah bertahan selama 3 tahun. Harusnya udah bukan blogger newbie lagi donk ya? Seharusnya jangka waktu 3 tahun itu udah cukup membuatku berpengalaman di dunia perbloggeran. Tapi kenyataannya tidak demikian. Aku masih jadi "anak baru" yang minim pengalaman. Aku nggak ada apa-apanya dibanding blogger lain, yang sudah meraih banyak pencapaian walaupun umur blognya lebih muda dari umur blogku. Yah, blog layaknya manusia, bahwa banyaknya umur nggak menentukan tingkat kedewasaan.. hehe.

Blogku memang belum dewasa kok, tapi lagi lucu-lucunya :D, Dan aku bersyukur memiliki blog ini yang bisa bertahan sampai dengan tahun yang ke-3. Semoga bisa terus bertahan selamanya :). Sebagai ungkapan rasa syukur, sebenarnya aku pengen bikin giveaway seperti tahun lalu. Tapi karena bulan ini bertepatan dengan kesibukanku dalam proyek buku solo perdanaku, maka mohon maaf GA-nya ditunda dulu. Penundaan ini aku rencanakan sampai dengan bukuku terbit. Jadi rencananya, GA ulang tahun blogku nanti sekaligus menjadi GA syukuran atas terbitnya bukuku. Semoga semua bisa berjalan sesuai rencana ya..

Aku ucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman semua, baik para blogger maupun para silent reader blogku ini. Berkat kalian semua blog ini tetap ada. Sekian dulu pengumuman ulang tahun blogku ini, karena aku mau ngelanjutin nulis naskah dulu.. See you... ^^




Monday, September 08, 2014

Alhamdulillah, Bukuku Akan Diterbitkan

Nggak terasa udah memasuki hari ke-8 di bulan September, tapi blogku masih belum ada postingan baru. Etapi ini bukan karena aku males loh.. bukaaaan.. Tapi karena hari-hariku di bulan ini lebih sibuk dari biasanya. Yang biasanya kerja kantoran, ngurus anak, ngurus rumah, ngurus orderan dan jualan, kini ada tambahan kegiatan lain, yaitu nulis naskah untuk buku. Yup, serius.. aku nulis buku loh. Buku karya solo perdanaku ini akan diterbitkan oleh sebuah penerbit mayor. Iyaaaa... penerbit mayor sodara-sodaraaa... ! Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya?

 Semua berawal dari sebuah email dari penerbit yang menjawab proposal dan contoh naskah yang aku kirimkan. Isinya menyatakan bahwa pihak penerbit menyukai contoh naskahku, dan akan menerbitkan bukuku. Dari pengiriman proposal dan contoh naskah, sampai dengan jawaban dari penerbit, hanya memerlukan waktu beberapa hari saja, nggak nunggu sampai berbulan-bulan untuk mendapatkan jawaban. How lucky I am.. Bisa dibilang aku ini lebih beruntung dari JK. Rowling yang naskahnya berkali-kali ditolak oleh penerbit. Sedangkan aku, ini merupakan naskah perdanaku, dan langsung disetujui untuk diterbitkan. Alhamdulillah.. impian menjadi penulis makin mendekati kenyataan.

Pasti pada penasaran kan aku nulis buku apa? *kepedean* :P. Sebenarnya dulu aku pernah pengen nulis novel. Tapi rupanya menulis cerpen aja aku ngos-ngosan, apalagi nulis novel. Udah gitu hasilnya garing. Bukannya aku nggak pernah mencoba loh. Tapi beberapa kali naskah cerpenku layu sebelum berkembang, alias nggak lolos uji kelayakan.. hahaa..
Setelah itu aku bermimpi pengen jadi travel writer. Kata teman-temanku, aku lumayan bagus menulis tentang traveling alias jalan-jalan, dan memang aku menyukai menulis tentang ini. Yang jadi masalah adalah jam terbang jalan-jalanku masih minim banget. Keder deh kalo harus menyaingi traveler-traveler kondang seperti Trinity atau Claudia Kaunang. Wuiih.. jauuuuuuh banget. Lah nulis cerita jalan-jalan di blog aja sering kehabisan bahan karena sekarang jarang jalan-jalan, gimana mau nulis buku.

Karena kondisi-kondisi di atas, makanya aku menunda keinginanku menulis kedua tema itu. Bukan berarti aku mengurungkan niatku menulis buku loh. Impian itu masih selalu ada. Dan suatu ketika aku ingat sebuah kata-kata bijak, "kalau nggak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang beda". Oke sip, karena aku nggak ahli di bidang fiksi dan traveling, maka aku mengambil tema yang beda, yang aku kuasai dengan baik. Kebetulan aku cukup ahli merajut, khususnya membuat amigurumi alias boneka rajut. Penggemar dan pelanggan Cova Amigurumi cukup banyak dan selalu puas dengan produk buatanku. Banyak juga yang menanyakan pola dan cara pembuatannya. Dari situlah terpikir olehku untuk membuat tutorial ilmu merajut, khususnya merajut amigurumi, dan menyajikan pola-pola yang mudah diikuti. Kemudian terpikir lagi olehku, kenapa nggak dibuat bukunya aja. Tentu akan lebih bermanfaat bagi banyak orang kalau dibukukan. Nah, terjawab bukan aku nulis buku tentang apa. Jadi mohon doanya ya teman-teman, agar proyek ini bisa selesai tepat waktu, tayang tepat waktu, laris manis banyak yang beli, dan bermanfaat bagi banyak orang. Makasih :)

Sunday, August 24, 2014

Ceker Bumbu Kecap Ala Cova

Adakah yang suka ceker sepertiku? Kalau aku bukan hanya suka, tapi sukaaaaaa bingits. Sebut saja aku Cova si ceker lover.. hihii.. Bukan hanya karena rasanya yang yummy, tapi karena manfaatnya yang banyak sekali. Ceker mengandung zat kolagen yang tinggi, itu sangat bermanfaat untuk pertumbuhan, dan mempertahankan elastisitas kulit. Jadi kalau makan ceker bisa jadi awet muda :D. Ceker juga mengandung zat kapur yang bisa mencegah osteoporosis, dan membantu pemulihan para penderita rematik. 

Nggak salah kan kalau aku sangat menggemari si ceker ini? Apalagi kalau cekernya dimasak menjadi sajian masakan yang maknyus. Dulu aku sering beli ceker di tukang mie ayam. Biasanya pesen mie ayam ceker dengan ekstra ceker. Jadi dapet cekernya buanyak.. hihii.. Tapi sayang, sekarang tukang mie ayam ceker langgananku udah hilang entah kemana. Sepertinya nggak kuat mbayar sewa tempatnya, jadi dia pindah. Ah sedih. 

Daripada galau nggak bisa makan ceker kesukaan, mending bikin sendiri aja. Kalau bikin sendiri jelas lebih maknyus, karena bisa disesuaikan dengan selera sendiri. Nah, kali ini aku mau sharing resep ceker ayam buatanku. Mudah dan lezat. Yuks yang mau nyoba silahkan..  Ceker ayam bumbu kecap ala Cova 



Bahan:

20 buah ceker ayam
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
1 sdt garam
1/2 sdt lada
3 sdm kecap manis
1 sdm gula jawa 
1 sdm air asam jawa
air secukupnya

Cara membuatnya:
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan lada.
2. Tumis hingga kecoklatan 
3. Masukkan ceker, tumis sebentar, kemudian beri air secukupnya
4. Masukkan air asam jawa, kecap manis, dan gula jawa.
5. Masak hingga ceker empuk dan bumbu meresap
6. Siap dihidangkan

Nah selesai. Mudah bukan? Selamat mencoba!



Tuesday, August 12, 2014

Tak Selalu Bahagia

Hari ini aku sempat kaget dengan kabar kematian aktor kawakan Robin Williams. Baru beberapa minggu ini aku mengikuti serial The Crazy Ones yang dibintanginya. Dan seperti film-film lain yang dibintanginya, film seri ini menghibur sekaligus menginspirasi. Begitulah sosok Robin Williams di mataku, tampak selalu ceria dan membawa kegembiraan bagi orang banyak. Tapi siapa sangka, orang yang membawa kebahagiaan itu justru tidak berhasil membahagiakan dirinya sendiri. Ada apa dengan Robin Williams? Sampai kini rasa penasaran masih menyelimuti benakku. Aktor ini dikabarkan mengakhiri hidupnya karena depresi. Separah itukah ketidakbahagiaannya hingga dia tak ingin lagi hidup di dunia ini? Sungguh menyedihkan. Menurutku orang sehebat dia tentu banyak yang mengagumi dan mencintai. Lihat saja penggemarnya yang tak terhitung jumlahnya menangisi kepergiannya. Lalu apa yang membuatnya tak bahagia?

Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman lama mengajakku chating. Obrolan kami ya seputar teman-teman kami, termasuk tentang beberapa teman yang sudah meninggal. Menurut dia, banyak orang yang meninggal di usia muda karena stres. Stres yang berlebihan bisa mengakibatkan ketahanan tubuh menurun, dan timbullah penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Hmm.. Cukup masuk akal. Aku setuju dengan pendapatnya. Sampai akhirnya dia mengomentariku "Kalau aku lihat kamu ini nggak pernah stres. Hepi 'n ceria terus, nggak pernah ada masalah. Bagus itu"
Ku jawab dengan senyum getir "Namanya orang hidup pasti punya masalah, cuma nggak perlu kan dilihatin ke orang-orang"

Alhamdulillah, selama ini orang melihatku sebagai sosok yang bahagia. Punya pekerjaan mapan dengan penghasilan lumayan, punya keluarga bahagia, dan serba bisa. Tapi mereka nggak pernah tahu apa yang aku alami. Mereka  nggak pernah tahu sekeras apa usahaku untuk tampak normal di mata orang-orang dengan segala masalah yang harus aku tanggung. Mereka nggak pernah tahu bagaimana aku berusaha memperbaiki hidupku jadi tampak bahagia, setelah semuanya hancur. Mereka nggak pernah tahu aku stres. Benar-benar stres. 

Mungkin seperti itulah yang dialami Robin Williams. Orang menilai sosoknya yang selalu ceria, dan harta berlimpah yang dia punya pasti membuatnya bahagia. Padahal tidak. Banyak hal yang tak bisa dilihat orang, yaitu masalah. Dan tentu beban kejiwaan yang harus ditanggung seorang Robin Williams sangat berat, hingga menyebabkan dia depresi dan bunuh diri. 

Tapi aku bukan Robin Williams. Seberat apapun masalah yang aku tanggung, aku punya Allah yang membuatku semakin kuat. Ingat selalu bahwa Allah nggak akan memberikan beban yang nggak bisa kita tanggung. Allah nggak pernah memberikan masalah yang nggak bisa kita selesaikan. Beban dan masalah adalah ujian agar kita semakin kuat. Allah yang memberikan, dan Allahlah yang akan memberi petunjuk bagaimana menyelesaikannya. Tentu saja dengan berusaha, bukan dengan menyerah, apalagi dengan bunuh diri. Dan ingat, menjadi bahagia bukan berarti hidup tanpa ada masalah, tapi bagaimana kita menyikapi masalah tersebut dengan baik. Don't give up!


from here



Thursday, August 07, 2014

Pake Jilbab Masa' Gitu

Kira-kira beberapa bulan yang lalu aku sempat kaget, ada seorang teman di facebook (dia cowok) mengelike sebuah fanpage yang menurutku janggal. Judulnya Jilbab Mesum kalau nggak salah. Semoga aja salah ya, biar nggak pada penasaran mbuka fanpage ini, seperti yang kulakukan waktu itu.. hehe.. Ya iyalah aku penasaran, karena kedua kata itu sangat tidak pantas untuk digabungkan menjadi sebuah judul. Kata jilbab yang menggambarkan pakaian terhormat para muslimah, dan kata mesum yang menggambarkan perilaku amoral yang rendah. Sangat nggak matching kan? Sepertinya ini semacam fanpage yang melecehkan muslimah. Begitu aku klik, aku tambah kaget lagi. Aku mendapati puluhan, mungkin ratusan, foto perempuan berjilbab yang semuanya cantik dan masih muda. Apa salahnya? Yang jadi masalah adalah pada pakaiannya, penutup tubuhnya, bukan pada penutup kepalanya. Bagian kepala terbungkus rapi dengan jilbab yang menambah cantik pemakainya, tapi bagian dada dan bagian tubuh lainnya sangat ketat, dan sangat menonjolkan bagian-bagian yang menonjol. Bisa dibayangkan bagaimana penampakannya kan? Yup! sangat seksi tapi vulgar, hingga aku malu sendiri, dan buru-buru ngaca. Aku bercermin untuk memastikan bahwa penampilanku tidak seperti perempuan-perempuan di fanpage itu. Syukurlah, walaupun selama ini aku masih suka memakai jilbab pendek, tapi pakaianku cukup longgar, jadi masih terlihat sopan (semoga...)

Nggak berapa lama dari kejadian di atas, aku mengalami lagi kejadian serupa. Kali ini bukan di dunia maya, tapi di dunia nyata, di rumahku sendiri! Sumpah, aku nggak pernah menyangka akan mendapati pemandangan aneh bin ajaib di rumahku sendiri. Sebut saja namanya Siti (nama sebenarnya). Dia pembantuku. Waktu itu dia pamitan mau pulang kampung. Apa anehnya? Ya tentu aneh kalau pakaiannya seperti itu. Celana legging super ketat, dirangkap dengan celana hotpant super pendek membungkus bagian bawah tubuhnya yang bohai. Sedang untuk menutup bagian atasnya, dia memakai blus longgar warna putih dari bahan sifon yang tipis, hingga warna *H hitamnya kelihatan. Belum lagi sendal wedge segede batu bata yang membuat penampilannya tambah nyentrik. Cukup aneh bukan? Aku bengong memandang penampilannya dari ujung kaki hingga bagian mukanya yang sangat menor seperti pemain lenong.. daaan.. dia pakai jilbab! *shock*. Model hijaber dari mana ini? Seheboh-hebohnya para hijaber berkreasi, inilah yg paling nggak masuk akal bagiku. Hadeeh.. Pake jilbab masa gitu.. Padahal jilbab itu kan bukan topi, atau sekedar penutup kepala aja. Apalah gunanya kepala ditutup tapi bagian bawahnya dibuka. Bukankah sama aja dibuka kalau bajunya tipis transparan atau sangat ketat seperti itu?

Setelah beberapa kejadian itu, ternyata masih banyak loh para pemakai jilbab model begini. Seperti yang baru-baru ini (kembali) marak di sosial media tentang jilboobs. Walah apalagi itu? Jilboobs berasal dari kata jilbab dan boobs (payudara). Kabarnya jilboobs ini ada blognya, yang isinya foto-foto perempuan berjilbab tapi menonjolkan boobs-nya karena bajunya sangat ketat. Yah nggak beda ama jilbab mesum gitulah. Peminatnya tentu saja para laki-laki mesum juga. Dan foto-fotonya banyak yang foto candid loh. Maksudnya, perempuan-perempuan ini difoto secara diam-diam. Karena pakaiannya yang menggoda inilah yang membuatnya menjadi korban para pemburu jilboobs. Ada juga foto-foto yang dicuri pemburu jilboobs dari foto-foto yang beredar di sosial media. Ngeri ya? Nggak rela kan kalau diri kita jadi korban pemburu jilboobs dan dilecehkan para lelaki mesum? Yuk ah, kita sama-sama membenahi diri dengan memakai pakaian yang terhormat. Sudah semestinya kita mengembalikan fungsi pakaian sebagai pelindung, termasuk melindungi kita dari perbuatan maksiat, dan nggak memancing-mancing orang untuk berbuat maksiat. << mengingatkan diri sendiri.

NB: untuk postingan kali ini sengaja nggak menampilkan foto, karena takut jadi korban pemburu jilboobs #halah :P






Tuesday, August 05, 2014

My Sewing Books

Selamat siang pembaca Runaway Diary sekalian. Sebelumnya aku mau ngucapin mohon maaf lahir batin ya. Maafkan keterlambatan pengucapan ini, dikarenakan berhari-hari nggak sempet buka blog, sibuk liburan.. hehe. Dan kini saatnya kembali ke dunia normalku, di mana aku bisa menorehkan sepenggal cerita dalam rangkaian kata di blogku tercinta.. #eaaa..

Kali ini postinganku bercerita tentang hobiku, jahit menjahit. Sebenarnya ini terinspirasi dari obrolan emak-emak di grup FB Kumpulan Emak-emak Blogger, yang membahas tentang mesin jahit dan ketertarikan beberapa emak dalam bidang ini. Ada pertanyaan menarik dari mak Jihan Davincka, apakah menjahit itu butuh bakat atau seperti menulis yang makin dilatih makin terlatih. Kalau pendapatku, aku sepakat dengan pernyataan yang kedua. Menjahit itu semakin dilatih akan semakin ahli. Yang penting ada kemauan, nggak mudah bosen, dan nggak mudah menyerah. Ada bakat tapi nggak ada kemauan, sama juga bohong kan? Nggak bakal menghasilkan apa-apa. Tapi kalau ada kemauan keras, belajar secara otodidakpun bisa berhasil loh, tanpa harus ngambil les atau kursus menjahit. 

Contohnya aku sendiri, yang memutuskan belajar menjahit secara otodidak. Kenapa otodidak? Karena aku nggak punya waktu untuk ikut kursus. Kegiatanku sehari-hari udah cukup menyita waktu *sok sibuk*, jadi aku nggak mungkin lagi meluangkan waktu dan tenaga untuk kursus menjahit di luar rumah. Kedua tentu saja karena alasan biaya. Kursus menjahit itu biayanya cukup mahal bagiku. Daripada buat bayar kursus, mending duitnya buat beli kain atau peralatan jahit. Terus belajarnya dari mana kalau nggak kursus? Belajarnya dari internet, lewat website atau blog, dan belajar dari buku-buku menjahit. Nah di bawah ini aku sharing buku jahit menjahit yang aku punya. Siapa tahu ada yang tertarik belajar menjahit juga, atau pengen cari buku menjahit yang rekomended. Yuk kita lihat..


Buku Panduan Membuat Pola Busana


Buat yang sama sekali belum mengenal dunia jahit menjahit, dijamin langsung puyeng melihat penampakan buku ini. Apalagi bagian dalamnya, nggak ada menariknya sama sekali. Hanya kertas putih dengan cetakan tulisan dan garis pola busana yang cetakannya mirip banget ama fotokopian. Yup! Buku ini nggak ada menariknya sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi, mau nggak mau aku harus mempelajari buku ini, karena nggak ada lagi buku menjahit yang aku temukan saat itu. Memang cukup mengherankan, di Indonesia penjahit banyak, tapi buku tentang menjahit jumlahnya sangat sedikit. Itupun pelit banget ilmunya. 

Oke, kembali ke buku orange ini. Dengan susah payah aku mempelajari bagaimana membuat pola busana dengan teori dan hitungan yang lumayan njlimet untuk otak tuaku ini. Benar kata orang, no pain no gain. Akhirnya aku berhasil membuat pola, dan menjahitnya jadi beberapa blouse dan baju anak-anak. Hasilnya memuaskan, potongan pas di badan, karena emang ukurannya dihitung secara detil. Tapi buku ini cuma mengajarkan membuat pola saja, sedangkan step-step dan cara menjahit tidak dibahas di buku ini.

Beautiful Blouse - Tatiana Vidi



Aku sebut buku ini buku menjahit kontemporer. Lupakan acara ngitung ukuran yang njlimet. Buku ini sudah menghitungkannya untuk anda. #Halah kaya' iklan aja :D. Yang diperlukan cuma ukuran dada, pinggang, dan pinggul. Dari ukuran itu, kita tentukan masuk size apa, bisa XS, S, M, L, atau XL. Ada tabelnya untuk masing-masing ukuran. Selanjutnya tinggal membuat polanya sesuai ukuran yang tersedia. Praktis, nggak pakai puyeng ngitung sendiri. Kelebihan buku ini adalah pada step by stepnya. Jadi bagi pemula, buku ini sangat mudah dipahami. Kekurangannya, model bajunya itu-itu aja, paling-paling variasinya ada di panjang lengan atau blusnya aja. Satu lagi, polanya kurang pas untuk yang berbadan kurang ideal. Jadi bagi yang badannya kurang ideal, perlu ada modifikasi, seperti memperbesar atau memperkecil bagian tertentu, biar lebih pas.

Baju Kasual untuk Remaja


Males ngitung pola, males nggambar pola, tapi pengen bikin baju sendiri? Buku ini jawabannya. Bahkan orang yang belum pernah pegang mesin jahitpun bisa bikin baju dengan buku ini.. hihii. Tinggal ambil pola besar sisipannya buku ini, jiplak, potong kainnya, terus jahit. Model bajunya sangat-sangat sederhana. Jadi nggak perlu ahli untuk bisa menjahitnya. Kebanyakan modelnya tanpa lengan atau berlengan sangat pendek, jadi lebih cocok untuk baju santai.

Home Couture by Machiko Kayaki


Ini buku favoritku, sekaligus buku menjahit termahal yang aku punya. Benar kata orang jawa, ono rego ono rupo, alias kualitasnya sesuai dengan harga yang dibayar. Maklum aja, buku ini buku impor dari negeri sakura sana, dan dibuat oleh perancang busana ternama di negerinya. Model busananya sangat elegan, simple, klasik, tapi kelihatan mahal. Pokoknya bangga banget bisa membuat baju dari buku ini. Hasilnya terlihat seperti buatan penjahit profesional dari sebuah butik mahal.. hihii. Walaupun tulisannya dalam huruf jepang, tapi buku ini mudah dipahami. Yang aku suka dari buku ini, ada pola besarnya yang sangat presisi. Jelas petunjuknya titik-titik mana yang harus digabungkan. Jadi hasilnya lebih rapi. Bahkan untuk menjahit lengan yang biasanya sulit, dengan pola dari buku ini jadi lebih mudah. Buku ini menggunakan ukuran ideal standar Jepang, yaitu ukuran 9, 11 dan 13. Maaf untuk yang big size nggak tersedia polanya :D.

Majalah Dressmaking jadul dari dalam dan luar negeri


Buku-buku ini aku dapat dari hasil berburu buku bekas. Satu buku isinya ratusan model busana. Banyak banget ya? Walaupun tanpa pola berukuran besar, tapi buku ini mencantumkan cara membuat pola dasar dan pecah polanya untuk masing-masing model busana. Modelnya macam-macam. Dari yang pemula sampai yang ahli bisa memakai buku ini. Tinggal disesuaikan aja memilih model busana yang tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan kita. Dengan ratusan model busana, kita nggak akan kehabisan ide untuk bereksperimen.

Sampai sekarang aku masih sering berburu buku-buku menjahit, karena aku masih perlu banyak referensi untuk belajar. Sayangnya buku menjahit buatan dalam negeri masih sangat kurang. Kalau mau beli keluaran luar negeri mahal bingits.. Hiks. Mungkin nanti aku bikin buku menjahit sendiri aja, dengan rancanganku sendiri, kedengarannya keren ya? hehe

Friday, July 25, 2014

Mukena Putih

"Jenenge rukuh ki yo kudu putih" kata ibuku waktu itu.
Yang artinya, namanya mukena tuh ya harus putih.

"Ah, ibuk ini kuno. Sekarang kan lagi happening mukena warna-warni. Kan bagus tuh, jadi lebih manis 'n ceria. Lagian nggak ada ketentuannya kan kalau mukena itu harus putih" pikirku saat itu. Iya, mukena berwarna memang membuat tampilan kita beda, dan mungkin tampak lebih bagus dibanding mukena putih biasa. Dan mungkin pula dengan mukena yang lebih bagus, jadi lebih semangat sholatnya. Benarkah? Itu sih tergantung niatnya.. hehehe.

Intinya, beberapa tahun yang lalu aku memang suka mukena berwarna dan banyak variasi. Tapi sekarang nggak lagi. Sekarang, aku lebih memilih mukena putih. Kenapa? Mungkin faktor U alias faktor umur.. hahaha.. #ketauan tua. Ah entahlah.. aku kok merasa mukena-mukena sekarang ini terlalu mengikuti fashion layaknya tren hijaber masa kini. Makin lama makin parah kombinasi warnanya. Ada warna-warni ngejreng, tabrak sana, tabrak sini. Belum lagi motif kainnya, dari yang bunga-bunga, kotak-kotak, hingga motif tokoh kartun. Kebayang nggak sih ada mukena motifnya putri salju atau minion? Jadi mirip sprei di kamar anakku donk. Yup, saking kreatipnya sang pembuat, apapun dilakukan untuk menarik minat konsumen, tanpa memikirkan kaidah syar'i-nya. Alasannya "Inikan mukena buat anak-anak, jadi dibikin seru dengan motif kartun kesukaan mereka, biar anak-anak semangat sholatnya". Ya sudahlah kalau berpendapat demikian. Kalau aku sih tetep nggak sreg..hehe..  Anggap saja ini masalah selera yang berbeda.

Sejak anak perempuanku masih balita, aku memang nggak pernah memberikannya mukena bermotif manusia atau hewan, apalagi tokoh kartun. Walaupun saat itu aku suka mukena berwarna, tapi aku memilih warna-warna soft, yang hampir mirip putih. Dan untuk yang bermotif, aku pilih motif yang bukan makhluk bernyawa. Begitu juga mukena untuk anak perempuanku. Alhamdulillah, anakku tetap semangat sholatnya kok, walaupun tanpa ditemani tokoh kartun favoritnya. Lah tokoh favoritnya waktu itu Teletubies sih. Masa' iya aku ngasih anakku mukena bergambar Teletubies? Betapa noraknya kan kalau itu terjadi? hihihi.

Nah, masalahnya sekarang saat aku pengen kembali ke mukena putih, justru makin jarang produsen mukena putih. Yang banyak dijual sekarang ya mukena yang warna warni, dari atasannya hingga bawahannya. Sebenarnya aku bukan sama sekali nggak suka ama mukena bercorak atau warna warni kok. Aku masih oke dengan mukena bercorak, tapi untuk bawahannya atau variasinya aja, sebagai pemanis, sedangkan buat atasannya aku memaksa harus putih. Seperti kata ibuku "mukena itu putih".

Okelah, daripada aku ribet nyari kesana kemari, kenapa nggak bikin sendiri aja? Kebetulan masih punya kain katun putih. Tapi kain putihnya cuma cukup buat bikin atasannya aja, jadi bawahannya aku buat pakai kain sarung tenun. Dari dua lembar kain itu menghasilkan sebuah mukena lengkap dengan tasnya. Seperti apa penampakan mukena buatanku. Inilah diaa.. 

Manis bukan? Keknya boleh juga nih kalau diperbanyak terus dijual.. hihihi.. Yuk pakai mukena putih, biar kompakan pas sholat Ied nanti :D