Friday, November 30, 2012

A L I B I


“Kenapa kamu kasih foto itu ke dia?!” suara Haris meninggi menandakan emosi yang tak tertahankan.  “Dia itu laki-laki lain! Nggak pantas kamu kasih foto kek gini ke dia!” aku terus dicecarnya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Mataku tertuju pada foto yang dia maksud.  Seorang wanita berwajah oriental dengan rambut lurus sebahu berwarna kemerahan, mengenakan lingerie seksi warna ungu yang memperlihatkan bentuk tubuh dan kulitnya yang mulus.  Posenya sangat menggoda layaknya model di sebuah majalah pria dewasa. Itu fotoku, hasil karya Haris, suamiku. Aku tak tahu darimana Haris tahu aku memberikan foto itu pada Adrian, teman kuliahku dulu.

Aku hanya bisa diam. Waktu terasa berhenti berputar.  Sayup-sayup terngiang di telingaku sebuah lagu yang seolah mengejekku.

♫ Kau tahu sesuatu
Yang ku ingin kau tak tahu
Kau tanya ini itu
Ku terdiam membisu ♫


“Ada apa kamu dengan Adrian? Begitu spesialkah dia sampai-sampai kamu rela memberi sesuatu yang sangat pribadi? Kalian ada hubungan apa?!” pertanyaan Haris makin menusukku. Aku sangat paham betapa cemburunya dia. Foto itu memang tidak sepantasnya kuperlihatkan pada laki-laki lain, apapun alasannya.
“Kami hanya berteman” jawabku singkat. Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirku. Tidak seperti biasanya, di mana aku selalu bisa bersilat lidah dengan segala alibi yang kucari-cari. “Nggak mungkin kalian cuma berteman! Foto itu terlalu pribadi untuk dishare pada teman biasa” nyata sekali Haris tak bisa menerima penjelasanku yang tak bisa disebut sebagai penjelasan itu.

♫ Kau terus memburuku
Dan tetap menuduhku
Kau terus pancing aku
Berusaha menjebakku ♫


“Dia hanya ingin tahu mas.. Hanya penasaran” kujawab dengan suaraku yang melemah. Lagi-lagi pembelaanku terasa sangat hambar.  Dan tentu saja tak meredakan emosinya.  Dengan nada suara yang makin tinggi dia mendesakku “Kalau hanya teman biasa, kenapa kamu  ngasih foto terbuka dengan pose seperti itu?! Kenapa bukan foto yang biasa aja?!”

♫ Terdesak tak bisa menjelaskan
Ku tak mau membagi rahasia
Ku tak bisa cerita yang kau minta
Seandainya ku bisa berkata ♫

♫ Alibi alibi alibi
Alibi ooo tolong aku
Alibi alibi alibi
Alibi ooo tolong aku ♫


Kupejamkan mataku, mencoba menenangkan kegalauan diri.  Dan terngiang lagu itu lagi. Lagu favoritku. Dan sungguh aku tak menyangka aku harus mengalami peristiwa seperti di lagu itu. Aku berpikir keras, berusaha mencari cara melepaskan diri dari belenggu interogasi ini. Oh, andai aku bisa menghilang saat ini juga.

Suamiku masih menunggu pengakuanku. Beberapa detik telah berlalu, dan tiba-tiba seakan tak kusadari, bibirku bersuara dengan nada sinis, dan mataku menatap tajam kearahnya seolah menantang “Mas suka kan lihat foto-foto cewek seksi? Suka juga kan motret cewek-cewek setengah telanjang dengan pose menantang? Jadi kenapa mesti marah kalau aku seperti cewek-cewek yang mas kagumi itu? Kenapa marah kalau istrimu ini dikagumi laki-laki lain?”

 …………………
Haris terdiam…
Aku diam..
Dan alibi…
Menertawakan kami…

*****



Cerita ini hanya fiksi belaka.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, kejadian  dan jalan cerita, itu memang kesengajaan :P
Cerita ini terinspirasi oleh sebuah lagu dari Andra n the backbone dengan judul yang sama.



Monday, November 26, 2012

Galau v.s Gaza


Pernahkah teman-teman merasa sedih, terluka, tersakiti, terdzolimi tanpa bisa membela diri? Atau putus asa karena apapun usaha untuk memperbaiki keadaan tak kunjung mendapatkan hasil. Bahkan kondisinya semakin buruk saja. Dan diri ini semakin terjebak dalam belenggu tekanan batin yang tak berkesudahan. Kemana aku harus mencari perlindungan bagi batinku ini? Luka yang dulu pernah tertoreh belum lagi sembuh, kini semakin parah dengan goresan luka baru yang lebih dalam.

Apapun kondisi batinku saat ini, aku mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Tetap tersenyum manis saat teman menyapa, dan tetap tertawa mendengar canda tawa mereka, seolah aku ini bahagia. Bagiku itu terapi bagi jiwaku. Mensugesti diri bahwa aku ini baik-baik saja. Meyakinkan diri bahwa aku ini kuat jiwa dan raga. Kucoba melakukan aktivitasku seperti biasanya. Bekerja, berbagi ide, dan cerita dengan teman-teman sekantor. Walaupun sesekali aku tak bisa fokus dengan obrolan mereka itu.  Rasa perih karena luka yang tak kasat mata ini, sempat beberapa kali membuyarkan konsentrasiku.

"Pray for Gaza" kulirik judul pamflet yang ditempel di papan pengumuman. Siang ini ada pengajian di masjid kantorku. Kulangkahkan kakiku menuju rumah Allah tersebut. Sesuatu yang jarang aku lakukan, karena aku lebih sering sholat di ruanganku. Tak ada yang kuharapkan dari pengajian itu. Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah. Dan aku bersyukur karena kakiku melangkah ke arah yang benar.

Topik pengajian kali ini membuatku benar-benar merasa malu. Rasanya tak pantas aku berkeluh kesah karena masalah sepele ini. Iya sepele, karena walaupun sakit hatiku parah, tapi aku masih bisa bekerja dengan tenang, bercanda dengan teman, dan menjalani kehidupan normalku yang lain. Jauh sekali dengan yang dialami penduduk Palestina saat ini. Mereka harus memperjuangkan hidup dan agama dibawah tekanan serangan bom tak berkesudahan. Walaupun rumah, masjid sekolah, semua hancur, tapi semangat mereka tak pernah hancur. Betapa banyak kehilangan yang mereka alami, harta benda, keluarga, anak-anak dan sanak saudara. Tapi mereka tak gentar sedikitpun. Tak bisa membayangkan kalau aku mengalami yang dialami warga Palestina saat ini.

Masih pantaskah aku berkeluh kesah? Dikaruniai hidup damai tentram, dan punya banyak hal yang tidak dipunyai semua orang. Punya saudara dan keluarga yang lengkap, serta anak-anak yang cerdas dan sehat. Tinggal di Indonesia yang indah dan kaya. Sungguh begitu melimpah nikmat yang Allah berikan padaku. Tapi aku putus asa hanya karena satu masalah saja.. Astaghfirullah..

Tuesday, November 20, 2012

Mati Gaya di Waterboom


"Di saat orang-orang bersuka ria dan berteriak kegirangan, aku hanya bisa menatap hampa tak tahu harus berbuat apa. Dan hanya bisa menyesali kebodohan sendiri"

*****

Long weekend, adalah saat yang tepat untuk berlibur bersama keluarga. Seperti yang kami lakukan weekend kemarin. Tidak perlu jauh-jauh. Berenang dan bermain air di Waterboom Lippo Cikarang sudah cukup mewah bagi kami. Pagi itupun kami bersiap-siap berangkat menuju tempat tersebut.  Kali ini aku memutuskan untuk tidak ikut nyemplung di air. Maksudku adalah agar aku bisa leluasa mengabadikan momen-momen seru kami dengan kamera. Ceritanya mau jadi fotografer. Jadi aku sengaja tak membawa baju renang dan baju ganti, biar lebih praktis.

Setelah ribet dengan segala persiapan, berangkatlah kami berenam ke Waterboom Lippo Cikarang. Beberapa saat di perjalanan, dimulailah kegalauanku. "Waduh.. Hpku mana ya?" tanyaku sambil merogoh semua kantong celanaku. "Kok nggak ada ya?" Makin galau karena barang yang kucari tak ketemu. "Ouu.. Mungkin aku masukin tas" pikirku menenangkan diri sambil ngubek-ubek isi tas. Duh.. Nggak ketemu juga. Berarti ketinggalan! Ciyus?!  Huwaaa.. Apalah arti hidup ini tanpanya *lebay*. Yaah.. aku tak bisa update status dong. Tak bisa pamer upload foto dong. Tak bisa bbm-an dong. Bisa mati gaya kalau begini ceritanya.
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Memang berat sih, karena hp ibarat teman setiaku yang selalu sukses mencairkan suasana.. Jiaah lebay lagi. Kini aku harus menyesuaikan diri sehari tanpa hp. Untungnya masih ada kamera, jadi aku bisa fokus dan menyibukkan diri menjadi fotografer sehari.

Pukul 10 pagi, kami sampai di tempat tujuan. Begitu masuk ke lokasi permainan, aku langsung menyiapkan kameraku, siap-siap memotret obyek-objek yang menarik. Ku-on-kan kameraku. Begitu layar menyala, tiba-tiba muncul keanehan. Ada tulisan tertera di layar "out of memory". Loh kok bisa? Seingatku aku belum njepret apa-apa. Dan jepretanku sebelumnya juga sudah aku pindahkan ke laptop. Deg! Tiba-tiba aku lemas membayangkan kemungkinan terburuk. "Jangan-jangan aku lupa memasukkan memori cardnya". Kubuka tempat memori card di kameraku, dan ternyata kosong! Memori cardnya tak ada! Ah, pengen pingsan rasanya. Lemas lunglai semua persendianku. Bagaimana bisa dipakai kamera ini kalau tak ada memorinya.

Pandanganku tiba-tiba nanar, masa depan terasa suram. Tiba-tiba merasa diri tak berguna. Bayangkan, aku bisa apa tanpa hp, tanpa kamera, tanpa baju ganti, dan tanpa baju renang, di area permainan air sebesar ini. Masa' sih aku hanya duduk berjam-jam, menunggu anggota keluargaku bersenang-senang. Hanya duduk?! Oh, tidak! Rasanya sia-sia saja aku kesini tanpa bisa berbuat apa-apa. Belum kalau ingat harga tiket masuk yang cukup mahal, Rp 75.000/orang, tambah menyesal rasanya. Lagi-lagi aku pasrah, lihat saja berapa lama aku bisa bertahan di sini. Hanya duduk jelas bukan tipikalku. Aku bukan tipe orang yang bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Sebagai pelipur laraku, adikku meminjamkan hp jadulnya kepadaku. Yah, paling nggak bisa buat mengabadikan acara seru-seruan mereka. Walaupun hasilnya tentu tak sebagus jepretan kamera Nikon Coolpix-ku.

mereka yang bersenang-senang
Beberapa menit kemudian aku sibukkan diri mengabadikan keceriaan mereka lewat kamera hp. Namun itu tak berlangsung lama. Kebosanan mulai merasukiku. Apa serunya foto-foto dengan hp jadul begitu. Aku sama sekali tak puas dengan hasilnya. Keluargakupun sudah mulai melupakan kehadiranku, asyik dengan dunia mereka sendiri. Hari mulai siang, cuaca makin panas, dan aku mulai kegerahan. Melihat orang-orang dengan cerianya bermain air, rasanya aku iri sekali. Ingin rasanya ikut nyemplung. Membenamkan diri di air yang melimpah pasti rasanya segar sekali. Duuh.. Aku tergoda! Tapi masalahnya aku kan nggak bawa baju ganti. Oh iya, sepertinya kios souvenir yang dekat pintu masuk menjual baju renang. Tanpa buang-buang waktu lagi aku bergegas menuju kios itu. Dan benar, memang ada baju renang. “Mas, baju renang yang panjang berapa harganya?” tanyaku kepada si mas penjaga kios. “Yang panjang 450 ribu mbak..”. Hah?! Ciyus?!. Takjub aku melihat harga yang tertera. Mahal banget! Ini baju renang atau gaun pesta sih?! Langsung luntur keinginanku untuk membelinya. Dengan langkah gontai aku menjauhi kios itu.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada ide lain di kepalaku. Gimana kalau aku beli kaos saja. Pasti harganya tak semahal itu. Bergegas aku kembali ke kios itu. “Mas, kalau kaos berapaan ya?” tanyaku lagi. “80 ribu mbak”. Wah, mahal juga kaosnya. Kaos kaya’ gini di ITC biasanya cuma Rp 25 ribu saja. Tapi ya sudahlah, namanya juga kepepet.
“Ukuran buat saya ada nggak?”
“Kelihatannya nggak ada deh mbak.. Ini ukurannya gede semua. Yang S aja gede kok. Masih kegedean klo mbak yang pake”
Yaah, batal deh dapat baju ganti.

Aku kembali ke tempat nongkrongku semula dengan perasaan galau. Makin siang, makin panas, dan makin besar hasratku untuk menyeburkan diri ke kolam. Bagaimana ya caranya? Tiba-tiba muncul ide liarku. “Kalau aku beli baju renang yang pendek pasti lebih murah. Nggak papa lah agak terbuka, kan nggak ada yang kenal ini, nggak ada yang merhatiin juga” pikirku. Dan untuk ketiga kalinya aku mendatangi kios souvenir tadi. 
“Mas, kalau baju renang yang pendek harganya berapa?” tanyaku. “Ouu.. yang kek gini ya?” tanya si mas penjaga kios sambil memperlihatkan baju renang two piece yang sangat pendek sekali. Aku mengangguk saja, walaupun yang kumaksud bukan yang itu, tapi yang agak tertutup. “Ini harganya 300 ribu” sambungnya. Jiaaaah.. kok mahal banget! Cuma sebangsa kancut ama kutang aja kok harganya mahal banget. Berarti model yang lain lebih mahal lagi dong. Kalau kaya’ gini mending aku bengong aja nongkrong sendirian. Tapi untung juga harganya mahal, jadi diriku terselamatkan dari acara mengumbar aurat. Terkadang Allah menyelamatkan kita dengan cara yang tidak kita kira.

Daripada aku galau dan punya ide yang aneh-aneh lagi, mendingan aku cari cemilan saja di pusat jajan. Makanan tak pernah gagal menenangkan hati.. hehe.. Dan kuputuskan menghabiskan sisa waktu nongkrongku yang masih lama dengan ngemil kentang goreng. Mungkin aku memang harus berdiam diri sejenak. Diam, tanpa berbuat apa-apa.. hanya duduk santai saja..

****
Sampai di rumah, langsung kubuka hpku yang tadi ketinggalan. Ada sebuah bbm dari teman SMAku “Cova, kamu lagi di Waterboom kan? aku lihat kamu loh”. Aku terpana lihat bbm itu. Ternyata dugaanku bahwa tak ada yang mengenaliku di tempat itu salah besar. Untung aku tak jadi pakai baju renang pendek. Kalau sampai dilihat dia, bisa-bisa reputasiku sebagai aktivis rohis jaman SMA bisa hancur.. haha..

Monday, November 12, 2012

Siti Pembantu Seksi

"Bu, ini teman kakak saya yang mau kerja di sini, namanya Siti" kata pembantu tetanggaku malam itu, saat mengantar pembantu baru untukku. Kemudian seorang gadis berkulit cerah yang disebut namanya itu mengulurkan tangan padaku, sambil tersenyum ramah. Ah, ini pembantu baruku. Dari pandangan pertama, penampilan Siti memang berbeda dari pembantu kebanyakan. Rambut hitam lurusnya berpotongan pendek dengan poni menyamping ala personil girlband masa kini. Blouse ketat lengan pendek yang dikenakannya sangat modis dengan pernak-pernik ala artis korea. Dipadukan dengan celana pendek di atas lutut, yang makin memperjelas bentuk tubuhnya. Ditambah dengan tata rias di wajahnya yang membuat penampilannya makin mencolok. Dalam hati aku menggumam "Dia ini mau jadi pembantu atau mau ikut audisi girlband? ". Bagi kebanyakan majikan perempuan pasti merasa terancam oleh kehadiran makhluk seperti ini di runahnya. Makhluk dengan label "pembantu seksi". Tapi tidak denganku. Aku tak terlalu memperdulikan itu. Karena aku merasa diriku lebih seksi. Justru aku berpikir, anak ini punya style dan keberanian untuk tampil beda. Cuma memang keseksiannya agak mengganggu, dan itu bisa diarahkan. Don’t judge the book by its cover lah, masa’ gara-gara penampilan aku menolak dia? begitulah pikiranku saat itu.

Malam itu aku manfaatkan untuk sesi perkenalan dan menggali latar belakangnya. Darinya aku tahu bahwa Siti ini mantan TKI. Beberapa bulan yang lalu sempat kerja di Singapura selama 2 tahun. Awalnya aku agak ragu juga, jangan-jangan dia minta gaji tinggi. Tapi setelah aku tanya ternyata dia dengan senang hati mau menerima standar gaji di kampung ini, yang tentunya sangat jauh di bawah standar Singapura. Diapun cerita, kalau dia kembali ke Indonesia karena tak mau jauh dari ayahnya yang kesehatannya sudah menurun. Selain di Singapura, ternyata dia pernah kerja di Hongkong pula. Wah banyak juga pengalamannya. Aku aja seumur hidup belum pernah ke luar negeri *ngiri*. Pantas saja gayanya beda dari pembantu lainnya. Tapi dari obrolan kami itu, aku cukup lega karena aku tak melihat ada kesan genit padanya. Dan aku percaya dengan penilaianku itu. Singkat kata, malam itu aku resmi menerimanya menjadi pembantu rumah tangga di rumahku.

Beberapa hari berselang, tak ada kekacauan yang kurasakan. Sepertinya Siti lumayan bisa diandalkan. Tak sia-sia dia jadi TKI bertahun-tahun. Aku tak perlu mengerahkan banyak energi untuk memandorinya. Dari segi pekerjaan sepertinya tak ada masalah. Tapi dari segi cara berpakaian tetap tak jauh beda dengan pakaian yang dia pakai saat pertama kali datang. Hingga suatu saat datang komplain yang datang justru dari tetanggaku, si bu RT. Sepertinya beliau ini merasa galau, resah, gelisah, oleh kehadiran Siti, pembantu seksi. Dari sumber yang kurang bisa dipercaya, katanya si ibu RT bilang "Dia itu kan cuma pembantu, kok penampilannya genit begitu. Bilangin dong kalau pakai baju jangan kaya' gitu". Waduh kok komplainnya bernada amarah gini. Sebagai majikannya tentu aku merasa tak enak. Aku harus cari cara agar bisa menasehatinya dengan cara yang halus, dan tidak menyakiti hatinya.

Sebelumnya, sebagai second opinion, aku konfirmasi dulu ke suamiku, sebagai makhluk cowok di rumah ini, tentang pembantuku ini. Karena sepertinya suamiku tak pernah komplain tentang penampilan Siti. "Pa, menurut papa sebagai cowok, gimana penampilan Siti?" tanyaku. "Ya sebenarnya aku merasa risih juga sih. Make pakaiannya pendek-pendek, ketat-ketat gitu…" Jawaban suamiku membuatku agak sewot. "Risih tapi kok nggak pernah bilang.. Risih tapi kok diem-diem aja.. Risih ato menikmati?!". Ah, dasar laki-laki. Dan makin kuat hasratku untuk mengambil tindakan medis.

Dari pengamatanku aku ambil kesimpulan, bahwa Siti memang tidak mempunyai baju yang 'normal'. Kopernya yang gede itu diisi dengan selusin baju 'seksi'. Kalau hanya menasehati agar tidak memakai baju-baju itu lagi, tentunya percuma saja, karena hanya baju-baju seperti itu yang dia punya. Satu-satunya cara adalah dengan mengganti baju-bajunya dengan yang lebih layak. Dan mau tak mau aku harus membelikannya baju layak pakai. Duh, kapan lagi aku harus nyari, hari kerjaku jadwalnya sangat padat. Apalagi ini tanggal tua, jadi tambah mikir-mikir lagi. Tiba-tiba aku ingat, sepertinya aku masih punya beberapa baju baru yang belum sempat kupakai. Malam itupun aku mengobrak-abrik lemari pakaianku. Dan lumayan membuahkan hasil. Aku menemukan 4 kaos dan 2 celana baru, yang semuanya masih belum kunodai alias belum dipakai sejak aku beli. Lita yang dari tadi mengamati aksiku berkata "Mama yakin mau ngasih baju-baju itu ke Mbak Siti? Kan bajunya bagus-bagus ma.. Mama nggak sayang? Ntar mama nyesel loh". "Nggak lah.. Mama kan masih bisa beli lagi" balasku dengan senyuman. Padahal dalam hati aku bilang "Ya mau gimana lagi? Tak ada pilihan lain. Daripada kestabilan rumah tangga terancam" haha..:P.

Dan malam itu juga, segera aku berikan baju-baju baruku itu ke Siti. Dan dia menerima dengan senang hati. Alhamdulillah, sejak saat itu dia mulai memakai baju-baju yang aku berikan, dan tidak lagi berseksi-seksi ria. Lega, akhirnya misiku berhasil. Dan aku jadi sadar, pendapat dan penilaianku tidak selalu sama dengan orang lain. Yang menurutku baik-baik saja, belum tentu baik bagi orang lain. Bisa jadi malah meresahkan. Itulah pentingnya kepekaan terhadap sekitar, terutama terhadap suami sendiri. Agar suami tetap terjaga hati dan pandangannya.