Monday, September 29, 2014

Tips Agar Naskah Dilirik Penerbit #SundaySharing9

Anakku Lita punya cita-cita pengen jadi guru sekaligus penulis. Sebuah cita-cita yang kurang populer untuk anak seusianya. Tapi aku selalu mendukungnya untuk meraih cita-citanya itu. Salah satunya dengan mengajaknya ke acara Sunday Sharing ke 9 yang sponsori oleh BLOGdetik hari minggu kemarin. Kebetulan tema acaranya sangat menarik, Tips Menulis Agar Naskah Dilirik Penerbit. Bersyukur aku udah temenan di FB ama mak Riksi  Fitriasari, sang ketua kelas Sunday Sharing kali ini, jadi aku bisa tahu info ini dari FBnya. Yup, sepertinya emang aku udah berjodoh ama acara ini. Karena biasanya kalau ada acara-acara begini ada aja halangannya.. Maklumlah kalau weekend pasti banyak acara.. hehe.. alesan. 

Nah untuk kali ini alhamdulillah aku bisa ikut. Dan ternyata acaranya keren loh sodara-sodara! Acaranya dikemas secara sersan, serius tapi santai. Santai bukan berarti cuma haha hihi, tapi santai yang penuh makna.. ciee.. Apalagi narasumbernya nggak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam dunia tulis menulis. Dialah mbak Nunik Utami, penulis dari 50 lebih judul buku, baik fiksi maupun non fiksi. Wow banget nggak sih? Mupeng banget pengen bisa kaya' dia. Dan aku bersyukur bisa dibagi ilmu oleh mbak Nunik ini. Semoga bisa ketularan juga jadi penulis produktif. Amin.

bersama Kakak guru Nunik Utami :)

Ternyata mbak Nunik bukan cuma asyik dalam hal menulis, tapi asyik juga loh jadi guru. Pembawaannya yang ramah dan ceria membuat materi yang disampaikan nggak terasa membosankan. Nggak melulu berisi teori-teori seperti acara-acara sejenis yang pernah aku ikuti, tapi yang disampaikan lebih ke pengalaman mbak Nunik sendiri, jadi lebih masuk akal untuk dicontek dan segera dilakukan. Simple tapi mengena. Apa aja sih tipsnya? Yuks mari kita intip.

suasana kelas
Lomba, lomba dan lomba

Tuh kan, ternyata ikut lomba itu penting banget loh. Sangat penting hingga dia berada diurutan pertama.. hehe. Ikuti lomba yang diadakan oleh penerbit. Walaupun kita nggak menang, tapi setidaknya penerbit sudah mencatat nama kita kalau tulisan kita bagus. Semakin sering ikut lomba, nama kita akan semakin banyak dicatat. Jadi ikut lomba itu, selain untuk melatih kemampuan menulis kita, juga berguna untuk mengenalkan karya kita ke penerbit. Nggak masalah kalau nggak menang. Karena nggak menang bukan berarti karya kita jelek loh. Mungkin temanya aja yang kurang cocok. Yuks semangat ikut lomba.

Jadi teman

Maksudnya berteman dengan orang-orang dari penerbit. Ini cara ampuh untuk lebih dekat dengan penerbit. Setidaknya kita bisa tahu lebih cepat apa naskah yang dibutuhkan oleh penerbit. Dan kalau kita jadi teman mereka, mereka juga akan tahu kalau ternyata kita bisa nulis juga. Tapi nggak perlu sampai nodong-nodong biar naskah kita diterbitin, bisa-bisa mereka malah ilfil. Nah caranya gimana biar bisa jadi teman mereka? Manfaatkan saja sosial media. Misalnya dimulai dengan komen di status-status mereka. Komentar yang ringan-ringan aja. Intinya mengenal lebih dekat gitu, dan jadi teman mereka.

It's time for jaim

Yup, jaim itu penting loh. Apalagi jaim di sosial media, itu penting banget untung membangun brand image. Jadi pasang status yang baik-baik, yang positif-positif. Bukan status marah-marah, apalagi ngomelin penerbit yang udah nolak naskah kita. Atau bikin status galau gara-gara kalah lomba, jangan sampai itu terjadi. Tampilkan diri kita sebaik-baiknya. Sebenarnya kalau tips ini bukan hanya buat penulis ya, buat semua orang juga perlu banget.

Wajib kepo

Nah kalau yang ini aku banget.. hihii.. Sering banget aku nongkrongin toko buku bukan untuk beli buku, tapi untuk mencatat alamat penerbit, terus mempelajari naskah-naskah yang udah diterbitin ama penerbit itu, seperti apa konsep, tema, dan gaya tulisannya. Kalau belum puas, bisa kita kepoin websitenya. Biasanya di sana ada cara pengiriman naskah. Pokoknya mari kita kepo sekepo-keponya, biar kita tahu celah mana yang bisa kita tembus..#halah bahasanya :D

Ayo serbuuu!

Naskah udah selesai, saatnya kirim ke penerbit. Cari penerbit yang paling cocok sama naskah kita. Kirim satu naskah ke satu penerbit saja. Kalau ternyata ditolak, baru pindah ke penerbit lain. Kenapa? Karena kalau kita ngirim satu naskah ke banyak penerbit, nanti kalau lebih dari 1 penerbit mau menerbitkan naskah kita, kita bakal bingung sendiri. Nggak semua penerbit mau naskah yang udah masuk ditarik lagi. Nah loh, repot kan?

Awas, diserbu balik!

Maksudnya apa? Maksudnya diserbu balik oleh penerbit. Ada kalanya penerbit yang mencari naskah kita, bukan kita yang nyodorin naskah. Tentu itu terjadi kalau kita dan karya kita udah dikenal oleh penerbit. Oleh karena itu simpan semua draft tulisan sebaik-baiknya, dan nabung naskah sebanyak-banyaknya, siapa tahu ada penerbit yang nyari.

bersama ketua dan wakil ketua kelas: kak riski dan kak tri sapta #biar serasa masih sma :))

Itulah 6 tips dari mbak Nunik. Silahkan dicontek ya, dan rasakan hasilnya. Kalau aku sendiri sebelumnya udah melakukan beberapa tips di atas, tapi belum semuanya. Alhamdulillah ada hasilnya, ada penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Semoga nanti kalau aku praktekkan semua ilmu di atas, makin banyak lagi penerbit yang mau menerbitkan naskahku. Amin.

Manfaat besar juga dirasakan oleh anakku, Lita. Setelah disemangati oleh mbak Nunik, dia jadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan naskah-naskahnya. Pulang dari acara ini, aku dihujani oleh luapan ide-idenya. Semoga cita-citanya menjadi kenyataan. Amin :)


pas futu sendirian malah burem begini.. -___- #gagalNarsis


Tuesday, September 16, 2014

Misteri Dompet Stroberi

"Kak.. Gimana perkembangannya? Udah ketemu belum dompetnya?"
Pertanyaan itu tiap hari aku lontarkan ke Lita, anak perempuanku, sejak dia menyanggupi akan memecahkan kasusku. Dengan bergaya ala Sherlock Holmes, dia percaya diri sekali bakal menemukan dompetku yang hilang. Tentu saja ini nggak cuma-cuma. Demi kembalinya si dompet stroberi, aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000 untuk menyewa jasa detektif wanna be ini. Uang yang cukup besar bukan untuk sebuah dompet? Padahal harga dompetnya nggak sampai segitu. Uang seratus ribu bisa buat beli dompet yang baru. Tapi aku nggak bakal beli dompet baru, karena dompet itu hasil rajutanku sendiri. Paling-paling aku bikin dompet baru lagi. Tapi masalahnya bukan di situ, bukan pada harga dompet, atau siapa yang membuat dompetnya. Terus apa donk? Tentu saja karena isinya, uang. 

  

Kehilangan uang Rp 10.000 aja rasanya nyesek, apalagi kalau kehilangan uang yang jumlahnya beratus-ratus kali lipat dari jumlah itu. Bisa dibayangkan donk berapa ratus kali nyeseknya. Kenapa aku menyimpan uang segitu banyak di dompet? Kenapa nggak ditabung di bank aja? Jadi ceritanya gini. Aku punya kegiatan tambahan merajut, dan menerima pesanan rajutan dari teman-teman. Uang hasil jualan rajutan itu aku masukin di dompet stroberi itu. Maksudnya agar nggak tercampur sama uang buat kebutuhan sehari-hari. Karena jumlahnya belum begitu banyak, menurutku lebih praktis kalau aku simpan di dompet mungil itu saja. Tak disangka makin hari makin banyak yang memesan rajutanku, dan tiap hari uang di dompetku semakin banyak. Yang tadinya hanya puluhan ribu, kini setelah 2 tahun sudah mencapai jumlah jutaan. Nah, karena jumlahnya sudah lumayan banyak, maka aku berniat memasukkan ke bank biar aman.

Tapi belum sempat aku membawa uang itu ke bank, dompet stroberiku malah hilang entah kemana. Segala penjuru rumah aku sisir dan telusuri, tapi aku tak menemukan satupun petunjuk keberadaan dompet itu. Kucoba merefresh otak dan mereka ulang kejadian-kejadian yang lalu terkait dengan dompet itu, tapi tetap saja nggak menemukan pencerahan. Yang aku ingat dengan jelas, aku selalu menyimpan dompet itu di lemari khusus pernak pernikku, dan tak pernah sedetikpun aku membawa dompetku keluar rumah. Jadi seharusnya dompet stroberi beserta isinya masih ada di dalam rumah, kecuali ada yang sengaja mengambilnya. Kalau itu terjadi, berarti rumahku baru saja kemasukan maling.

Sedih sesedih-sedihnya.. Uang yang aku kumpulkan dari hasil merajut benang helai demi helai, hari demi hari, tahun demi tahun, tak tahu kini di mana rimbanya. Padahal uang itu rencananya mau buat beli kambing sama mesin obras, terus sisanya buat simpanan. Yah, manusia hanya bisa berencana, dan yang terjadi kadang sangat jauh dari harapan. 

 Kini sudah seminggu lebih dompet stroberiku hilang, dan Lita, detektif sewaanku, nggak memberikan hasil kerja yang memuaskan. 
"Gimana sih kak? Masa' nggak berhasil nemuin dompet mama? Udah seminggu nih.." keluhku.
Melihat raut mukaku yang sedih, Lita menatapku dengan penuh rasa simpati, dan berkata "Barang-barang yang kita sayangi itu kalau hilang maka dia akan membawa pergi kesialan kita. Jadi ikhlasin aja ma... "
Ah, anakku.. Dia benar, kesialanku hilang berganti dengan keberuntungan. Aku beruntung karena memiliki anak yang bijaksana seperti Lita :).

Thursday, September 11, 2014

Yeay! Blogku Ulang Tahun

Lagi-lagi kabar gembira datang dari blog Runaway Diary. Wah senang ya bisa sering mengabarkan berita gembira.. hihii. Yup, sesuai judul postingan ini, hari ini blogku berulang tahun yang ke-3. Terharuu.. Nggak terasa blogku ini sudah bertahan selama 3 tahun. Harusnya udah bukan blogger newbie lagi donk ya? Seharusnya jangka waktu 3 tahun itu udah cukup membuatku berpengalaman di dunia perbloggeran. Tapi kenyataannya tidak demikian. Aku masih jadi "anak baru" yang minim pengalaman. Aku nggak ada apa-apanya dibanding blogger lain, yang sudah meraih banyak pencapaian walaupun umur blognya lebih muda dari umur blogku. Yah, blog layaknya manusia, bahwa banyaknya umur nggak menentukan tingkat kedewasaan.. hehe.

Blogku memang belum dewasa kok, tapi lagi lucu-lucunya :D, Dan aku bersyukur memiliki blog ini yang bisa bertahan sampai dengan tahun yang ke-3. Semoga bisa terus bertahan selamanya :). Sebagai ungkapan rasa syukur, sebenarnya aku pengen bikin giveaway seperti tahun lalu. Tapi karena bulan ini bertepatan dengan kesibukanku dalam proyek buku solo perdanaku, maka mohon maaf GA-nya ditunda dulu. Penundaan ini aku rencanakan sampai dengan bukuku terbit. Jadi rencananya, GA ulang tahun blogku nanti sekaligus menjadi GA syukuran atas terbitnya bukuku. Semoga semua bisa berjalan sesuai rencana ya..

Aku ucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman semua, baik para blogger maupun para silent reader blogku ini. Berkat kalian semua blog ini tetap ada. Sekian dulu pengumuman ulang tahun blogku ini, karena aku mau ngelanjutin nulis naskah dulu.. See you... ^^




Monday, September 08, 2014

Alhamdulillah, Bukuku Akan Diterbitkan

Nggak terasa udah memasuki hari ke-8 di bulan September, tapi blogku masih belum ada postingan baru. Etapi ini bukan karena aku males loh.. bukaaaan.. Tapi karena hari-hariku di bulan ini lebih sibuk dari biasanya. Yang biasanya kerja kantoran, ngurus anak, ngurus rumah, ngurus orderan dan jualan, kini ada tambahan kegiatan lain, yaitu nulis naskah untuk buku. Yup, serius.. aku nulis buku loh. Buku karya solo perdanaku ini akan diterbitkan oleh sebuah penerbit mayor. Iyaaaa... penerbit mayor sodara-sodaraaa... ! Hah? Kok bisa? Gimana ceritanya?

 Semua berawal dari sebuah email dari penerbit yang menjawab proposal dan contoh naskah yang aku kirimkan. Isinya menyatakan bahwa pihak penerbit menyukai contoh naskahku, dan akan menerbitkan bukuku. Dari pengiriman proposal dan contoh naskah, sampai dengan jawaban dari penerbit, hanya memerlukan waktu beberapa hari saja, nggak nunggu sampai berbulan-bulan untuk mendapatkan jawaban. How lucky I am.. Bisa dibilang aku ini lebih beruntung dari JK. Rowling yang naskahnya berkali-kali ditolak oleh penerbit. Sedangkan aku, ini merupakan naskah perdanaku, dan langsung disetujui untuk diterbitkan. Alhamdulillah.. impian menjadi penulis makin mendekati kenyataan.

Pasti pada penasaran kan aku nulis buku apa? *kepedean* :P. Sebenarnya dulu aku pernah pengen nulis novel. Tapi rupanya menulis cerpen aja aku ngos-ngosan, apalagi nulis novel. Udah gitu hasilnya garing. Bukannya aku nggak pernah mencoba loh. Tapi beberapa kali naskah cerpenku layu sebelum berkembang, alias nggak lolos uji kelayakan.. hahaa..
Setelah itu aku bermimpi pengen jadi travel writer. Kata teman-temanku, aku lumayan bagus menulis tentang traveling alias jalan-jalan, dan memang aku menyukai menulis tentang ini. Yang jadi masalah adalah jam terbang jalan-jalanku masih minim banget. Keder deh kalo harus menyaingi traveler-traveler kondang seperti Trinity atau Claudia Kaunang. Wuiih.. jauuuuuuh banget. Lah nulis cerita jalan-jalan di blog aja sering kehabisan bahan karena sekarang jarang jalan-jalan, gimana mau nulis buku.

Karena kondisi-kondisi di atas, makanya aku menunda keinginanku menulis kedua tema itu. Bukan berarti aku mengurungkan niatku menulis buku loh. Impian itu masih selalu ada. Dan suatu ketika aku ingat sebuah kata-kata bijak, "kalau nggak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang beda". Oke sip, karena aku nggak ahli di bidang fiksi dan traveling, maka aku mengambil tema yang beda, yang aku kuasai dengan baik. Kebetulan aku cukup ahli merajut, khususnya membuat amigurumi alias boneka rajut. Penggemar dan pelanggan Cova Amigurumi cukup banyak dan selalu puas dengan produk buatanku. Banyak juga yang menanyakan pola dan cara pembuatannya. Dari situlah terpikir olehku untuk membuat tutorial ilmu merajut, khususnya merajut amigurumi, dan menyajikan pola-pola yang mudah diikuti. Kemudian terpikir lagi olehku, kenapa nggak dibuat bukunya aja. Tentu akan lebih bermanfaat bagi banyak orang kalau dibukukan. Nah, terjawab bukan aku nulis buku tentang apa. Jadi mohon doanya ya teman-teman, agar proyek ini bisa selesai tepat waktu, tayang tepat waktu, laris manis banyak yang beli, dan bermanfaat bagi banyak orang. Makasih :)