Monday, February 27, 2012

Runaway Project: Lovely Batik

Runaway Project, bukan Project Runway loh.. Tapi antara Runaway Project dan Project Runway ada kemiripannya. Kalau Project Runway adalah sebuah acara reality show di televisi Amerika yang membahas tentang fashion design, nah Runaway Project juga membahas tentang fashion design. Fashion design ala Cova, pemilik blog Runaway Diary. Jadi maaf ya teman-teman, karena postinganku kali ini agak berbau narsisme.. hehe.

Kalau dipostinganku sebelumnya aku membahas betapa tidak modisnya diriku di rumah, maka kali ini aku akan menunjukkan kepada dunia bahwa sebenarnya aku memiliki selera busana yang lumayan bagus (saat di luar rumah). Bahkan aku beberapa kali membuat design baju, dan menjahitnya sendiri. Tapi karena kesibukanku yang padat, kini aku tak sempat menjahit baju sendiri. Jadi kali ini aku hanya membuat designnya saja, dan untuk proses selanjutkan kuserahkan ke penjahit. Kebetulan aku masih menyimpan banyak kain yang belum dijahit. 


Ok, tanpa berlama-lama lagi. Inilah dia beberapa hasil Runaway Project. Dan tema kali ini adalah batik untuk busana kerja. Selamat menikmati.. ^_^


1.    Shade of Purple
Dari pandangan pertama aku langsung jatuh cinta pada warna dan motif kain batik ini. Warna ungunya sangat menggoda mata, ditambah lagi motifnya kecil-kecil, jauh dari kesan tua. Aku mendapatkan kain batik ini dari Lik Sam, omnya suamiku. Kebetulan beliau ini adalah pembuat batik, dan mempunyai workshop batik di rumahnya. Kadang-kadang aku juga memesan motif dan warna batik sesuai dengan seleraku, jadi tidak pasaran. Yang membuatku makin suka adalah kain batiknya adem, nyaman di badan, dan gampang halus saat disetrika. Kalau ada yang tertarik, nanti aku tanyakan ke Lik Sam harga pasarannya.. * sekalian promosi ah*.. hehe.
Karena motifnya sudah bagus, maka designnya kubuat simple saja agar keindahan motifnya lebih menonjol. Berhubung aku suka sekali Jejepangan maka kubuat designnya mirip dengan kimono Jepang. This is it!




2.    Green and Blue Collide
Kata orang ini adalah motif batik Cirebon. Kubeli di toko swalayan dekat rumahku. Aku suka motif dan warnanya yang begitu segar, perpaduan warna hijau dan biru. Fresh sekali dimata. Karena motifnya yang lumayan rame, maka aku tak memberikan ornament apa-apa di baju ini. Hanya model kemeja yang agak panjang tapi pas di badan, untuk kesan resmi dan dewasa.  Dan lengan ¾ yang dikerut ujungnya untuk memberi kesan feminin. 


 
3.    Purple in Harmony

Sebenarnya ini bukan kain batik, tapi kain katun biasa. Aku menemukannya saat aku mencari kain warna hitam di pasar Cipadu. Tiba-tiba mataku tertuju pada kain bermotif bunga kecil-kecil yang manis ini. Saat kutanya penjualnya, ternyata harganya murah, akhirnya kubeli juga.. hehe.. Dan inilah hasilnya, kemeja yang simple dengan aksen warna ungu polos di ujung kantong dan lengannya. Kemeja ini bisa dipakai untuk kerja dan untuk jalan-jalan.






Model: Cova
Fotografer: Andhie
Design by Cova
Accesories: Cova Collection

Thursday, February 23, 2012

Daster Lover

Halo temans..
Ada yang pernah nonton drama Jepang yang judulnya Hotaru No Hikari belum ya? Drama Jepang ini adalah salah satu favoritku. Mungkin karena karakter tokoh utamanya agak-agak mirip aku kali ya.. hehe. Amemiya Hotaru, si tokoh utama dalam drama ini, digambarkan sebagai wanita muda yang selalu tampil rapi dan modis ketika sedang bekerja atau di luar rumah, tetapi saat berada di rumah penampilannya sangat berbeda 180 derajat. Ketika di rumah dia sangat cuek dan berantakan. Kostum favoritnya adalah kaos oblong belel plus celana training kolor yang sudah bolong-bolong, dan rambutnya tidak disisir, hanya dikucir dengan karet gelang. 


Hotaru di kantor dan Hotaru di rumah

Nah, aku juga seperti itu. Bedanya kalau aku bukan memakai celana kolor, tapi memakai daster belel dan kadang-kadang memakai sarung. Ya sarung! Bahkan dulu ada teman kantorku yang shock saat berkunjung ke rumahku. Kebetulan waktu itu aku sedang mengenakan sarung. Dan dia kaget “Hah! Lo pake sarung! Busyet dah! Njijiki banget!”. Ya ampun, segitu kagetnya dia sampai komentar seperti itu. Padahal menurutku tak ada yang salah dengan sarung, yang penting kan menutup aurat. Mungkin dia ga nyangka aku yang manis dan modis ini (maaf ya lagi narsis, semoga pembaca tak ada yang protes :D), ternyata kalau di rumah penampilannya parah banget.. hihi..


Lain lagi dengan daster. Teman-teman terutama para emak-emak, pasti sepakat dong kalau daster itu pakaian paling nyaman sedunia, dan ini merupakan kostum favoritku. Aku mempunyai daster yang sering sekali kupakai. Dari sejak awal nikah, hamil anak pertama, melahirkan anak pertama, hamil anak kedua, hingga melahirkan anak kedua, aku memakai daster yang sama. Bisa dibayangkan betapa belelnya daster itu, selama bertahun-tahun kupakai terus-terusan. Dan parahnya, aku masih saja menganggap daster itu layak pakai walaupun ada beberapa bagian yang sobek dan bolong. Bahkan aku merasa semakin belel sebuah daster, semakin nyaman pula dipakai. 


Tapi itu dulu. Sekarang tingkat ketergantunganku terhadap daster dan sarung sudah berkurang sejak aku mendengar obrolan salah satu teman kantorku. Dia bilang “Aku ga pernah pakai daster di rumah, soalnya suamiku ga suka. Dia lebih suka aku pakai kaos-kaos yang ngepas badan gitu. Katanya lebih enak dilihat daripada aku pakai daster”. Saat itu aku berpikir, ternyata laki-laki memang suka yang seperti itu ya. Tapi masuk akal juga sih, dibandingkan daster kedodoran yang sudah bolong-bolong, pastinya lebih enak dilihat kalau kita memakai pakaian yang pantas dan memperlihatkan keindahan tubuh. Walaupun suamiku tak pernah protes apapun penampilanku, tapi tak ada salahnya aku berpenampilan lebih layak di rumah. 


Seperti kata-kata Bunda Sitaresmi saat kajian keputrian di kantorku beberapa minggu yang lalu, bahwa suami dan anak-anak kita lebih berhak melihat kita tampil cantik daripada orang-orang di luar sana. Jadi kalau kita bisa berpenampilan rapi, modis dan cantik di luar, kenapa kita tidak bisa berpenampilan cantik di rumah. Suami berhak melihat istrinya cantik di rumah, anak-anak berhak melihat ibunya segar dan ceria. Cantik bukan berarti harus memakai make up tebal, atau memakai pakaian yang seksi, tapi yang penting enak dilihat dan kita sendiri nyaman. Dan memakai daster kedodoran yang bolong-bolong, rambut berantakan plus jepitan rambut yang mirip jepitan jemuran, ditambah tempelan koyo’ di kening dan bau minyak angin, aku rasa itu bukan penampilan yang cantik, walaupun kita nyaman.. hehe. 


Jadi sekarang koleksi daster belelku sudah banyak yang kupensiunkan. Dan kuganti dengan daster juga (tak bisa lepas dari daster), tapi dengan potongan lebih pas di badan dan model yang manis. Kadang-kadang aku memakai kaos ngepas badan dengan bawahan senada sebatas lutut.  Rambutpun ditata rapi, dan sesekali digerai.. aiih girly sekali.. hihi.. Dan saat aku bercermin.. hey.. I feel so sexy.. ^_^

Monday, February 20, 2012

Dear Friends

Hai.. dear diary ‘n my lovely friends.. Apa kabar?
Semoga hari ini semua cerah ceria, walaupun cuaca agak-agak mendung. Sebenarnya hari ini aku kurang begitu semangat menghadapi hari. Biasa.. ‘Monday Syndrom’.. hehe.. Tapi bagaimana lagi, aku harus bertanggung jawab pada negara yang telah menghidupiku dan memberiku nafkah. Dan juga demi anak-anakku yang membutuhkan nafkah dariku. Haduh.. kok malah jadi lebay gini. Intinya adalah aku berusaha membuat hari ini lebih semangat. Salah satunya dengan membuka blogku lagi, setelah berhari-hari tak kukunjungi. Mumpung jam kantor belum mulai, tak ada salahnya aku menyapa teman-teman sekalian. Sebenarnya tak ada hal istimewa yang bisa aku ceritakan hari ini. Walaupun sudah ada beberapa ide di kepalaku, tapi rasanya belum klik untuk menulis. Jadi hari ini aku mau sharing yang ringan-ringan saja.


Hari minggu kemarin tiba-tiba aku ingin beres-beres rumah. Eh.. bukan rumah deng.. cuma sudut ruangan yang berisi pernak-pernikku saja. Ternyata berantakan sekali meja riasku. Lipstik, cream, bedak, lotion, parfum, softlens, gelang, kalung, peniti, dan bros, semua tercampur baur tak jelas letaknya, hingga aku sendiri bingung harus mulai merapikan dari mana. Akhirnya ku mulai dengan mengumpulkan bros-bros yang berserakan. Aku sempat terkejut, ternyata koleksi brosku banyak sekali. Bahkan banyak pula bros yang belum ku pakai. Aku memang suka sekali membeli bros. Hampir setiap jalan-jalan ke mall, ITC, atau bahkan ke pasar, aku selalu mampir ke penjual bros. Pantas saja brosku bisa sebanyak itu.


Tapi dari semua koleksi brosku itu, aku paling suka bros yang terbuat dari manik-manik. Manik-manik yang dirangkai tersebut, tampak begitu indah di mataku. Dan tentunya sangat artistic. Lihat saja hasil jepretanku di bawah ini. Mereka sungguh fotogenik yah.. hihi.. 







Sudah lama aku ingin mempelajari seni merangkai manik-manik seperti ini. Tapi lagi-lagi masalah waktu yang susah, jadinya aku belum bisa menyempatkan diri mempelajarinya. Padahal merangkai manik-manik ini menurutku sangat menarik. Selain membuat hati senang, manik-manik inipun bisa menghasilkan uang. Siapa tahu setelah aku jago nanti, aku bisa memproduksi dalam jumlah banyak, dan menjualnya. Rasanya menyenangkan kalau bisa mendapatkan income dari sesuatu yang kita sukai. Lumayanlah sebagai kegiatan dan tambahan penghasilan setelah aku resign nanti. Walaupun mungkin hasilnya tak sebanyak penghasilanku saat jadi karyawan, tapi kepuasan hati tak bisa dibeli. 


Ah.. kok malah jadi ngayal gini. Tapi siapa tahu bisa jadi kenyataan yah.. hehe. Dan sekarang saatnya kembali ke alam nyata. Masih banyak pekerjaan yang harus kubereskan hari ini. Oke friends.. selamat bekerja.. selamat berkarya.. nikmati apapun peranmu hari ini.. dan jalani dengan sepenuh hati.. ;).

Tuesday, February 14, 2012

Kereta.. Oh.. Kereta..

Pagi ini aku harus jadi roker alias rombongan kereta. Sebenarnya aku malas naik kereta yang pasti sangat penuh sesak di jam berangkat kerja seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk menggunakan transportasi ini. Daripada bermacet-macet ria, lebih baik berdesak-desakan sebentar tapi bebas macet.

Dan seperti dugaanku, kereta Commuterline menuju Kota kali ini super duper penuh. Bahkan lebih parah dari dugaanku. Mau masuk keretapun harus berjuang habis-habisan, bersaing dengan para penumpang laki-laki. Loh bukannya ada gerbong khusus wanita? Kenapa mesti berdesak-desakan dengan penumpang laki-laki? Pertanyaan bagus. Itu karena aku bersama suamiku, dan daripada terpisah, terus bingung cari-carian, makanya mending aku yang mengalah, karena tak mungkin membawa suamiku di gerbong wanita. Bisa-bisa dilempar keluar oleh para penumpang wanita.. hehe :P.

Tapi penuhnya kereta kali ini sungguh-sungguh keterlaluan. Kereta yang berAC tersebut, sama sekali tak dingin, bahkan panas dan pengap. Sepertinya karena kepenuhan penumpang, hingga suhu dingin AC kalah oleh suhu tubuh para penumpang yang berdesak-desakan. Aku bahkan tak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Sekedar untuk menengokkan kepalapun susah. Aku merasa seperti dimampatkan di dalam wadah kedap udara yang sarat muatan. Apalagi di sekelilingku sebagian besar penumpangnya laki-laki. Duuh.. rasanya tak nyaman sama sekali terjebak di antara lautan laki-laki seperti ini.


Kucoba setenang mungkin dan tak menghiraukan tubuhku yang tergencet-gencet. Sesekali kuamati para penumpang disekitarku. Ternyata di kondisi seperti ini, yang untuk bernafas saja susah *bukan lebay*, mereka tetap asyik melakukan banyak kegiatan. Ada yang membaca koran, ada yang chating dan smsan, ada yang asyik bertelpon ria, dan ada pula yang ngerumpi seru dengan temannya. Bahkan tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat sepasang nenek dan kakek yang asyik bermesraan. Eeiits.. ini bukan bermesraan seperti muda mudi sedang pacaran loh. Yang ku maksud bermesraan adalah sang kakek memeluk sang nenek, sepertinya dia berusaha melindungi nenek tersebut dari kondisi kereta yang tidak bersahabat. Dan sesekali mereka saling berpandangan dengan mesra. Mereka ini berdiri loh, sama sepertiku yang tak mendapat tempat duduk. Aah.. di kereta yang penuh sesak beginipun, aku masih bisa melihat pemandangan penuh cinta :).


Melihat pemandangan di sekitarku, aku jadi berhenti mengeluh. Kucoba menikmati perjalanan ini seperti mereka. Aku bersyukur, karena aku tak harus mengalami desak-desakan seperti ini setiap hari. Tidak seperti suamiku yang harus mengalami kondisi seperti ini rutin dua kali sehari, setiap pagi dan sore. Lokasi kantornya yang jauh dan macet, mengharuskannya menggunakan kereta sebagai satu-satunya transportasi yang paling cepat dan efektif. Dan selama ini, suamiku juga berusaha enjoy, walaupun nyawanya sempat hampir melayang gara-gara sang kereta ini. 

Kira-kira 3 bulan yang lalu, kejadian naas menimpa suamiku. Salah satu kakinya terjepit pintu kereta Commuterline yang menutup otomatis, sedangkan  tubuh dan kaki yang satunya masih berada di luar kereta. Belum sempat membebaskan diri, sang kereta sudah terlanjur melaju kencang. Otomatis tubuhnya tersentak jatuh, dan terseret kereta. Beberapa orang di stasiun berusaha mengejar dan menarik tubuh suamiku, dan penumpang yang ada di dalam kereta berusaha membuka paksa pintu kereta. Alhamdulillah.. setelah sempat terseret beberapa meter, akhirnya pintu kereta berhasil dibuka, dan kaki suamiku berhasil lepas dari jepitan pintu. Walaupun mengalami luka-luka, tapi kami tetap bersyukur, karena suamiku selamat dari maut. Aku masih saja merinding membayangkan kejadian itu. Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi terhadap siapapun, terutama pengguna kereta. 


Aku, suamiku, dan  para penumpang kereta yang lain tentunya berharap kondisi kereta bisa jadi lebih baik dari yang sekarang. Karena walaupun kami selalu bersyukur apapun kondisinya, tapi kami sebagai rakyat berhak mendapatkan hidup dan fasilitas yang lebih baik dari ini. Semoga bapak-bapak dan ibu-ibu yang berwenang, menyadari hal ini. Selamatkan kereta dan para penumpangnya!

Friday, February 10, 2012

Duo Eksotis di Gunung Kidul

Pantai Ngobaran

Setelah puas bermain-main dan makan siang di Pantai Ngrenehan, jangan lupa mampir ke pantai di sebelahnya, yaitu Pantai Ngobaran. Pantai yang satu ini memang sayang untuk dilewatkan. Di sana kita akan disuguhi nuansa yang sama sekali berbeda dengan Pantai Ngrenehan. Yang lebih menarik lagi, di Pantai Ngobaran ini kita tidak hanya menikmati wisata alam saja, tapi juga wisata budaya. 

Sampai di Pantai Ngobaran, kami disambut oleh pemandangan yang sangat memukau. Pantai ini di kelilingi tebing-tebing yang curam, dengan deburan ombak yang bergulung-gulung menghantam dindingnya. Di atas tebing ini berdiri bangunan peribadatan semacam pura, dilengkapi dengan patung-patung dewa yang melambangkan sifat-sifat mulia. Tepat di bibir tebing tersebut berdiri  dengan anggun sebuah patung garuda mirip dengan patung Garuda Wisnu Kencana  yang ada di Bali. Tentu saja ukurannya tidak sebesar patung GWK, hanya sebesar orang dewasa saja. Dan patung ini jadi favorit para pengunjung untuk diajak foto-foto :D.



Tak hanya itu saja, masih ada tempat peribadatan lain yang berdiri, yaitu tempat peribadatan untuk pemeluk kepercayaan Kejawan dan Kejawen.  Apa bedanya Kejawan dengan Kejawen? Tentu saja aku tak tahu.. *halah* hehe.. Nah kalau yang satu ini aku tahu. Agak turun ke bawah tebing, ada sebuah masjid yang menghadap ke arah laut. Loh berarti itu menghadap selatan dong. Padahal pada umumnya masjid berdiri menghadap kiblat. Sungguh aneh memang. Tapi di dalamnya aku melihat ada tanda arah kiblat. Berarti sholatnya tetap menghadap kiblat, walaupun masjidnya menghadap selatan.. Hehe.. 


 
Unik sekali ya? Satu tempat tapi mempunyai beberapa tempat peribadatan. Terbukti bahwa penduduk sekitar pantai ini sangat menjunjung tinggi toleransi, walaupun memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. 


Turun dari tebing menuju ke arah pantai, pemandangannya tak kalah menarik. Di sana kami temui pantai yang landai dengan permukaan batu karang yang ditumbuhi algae. Perpaduan antara air laut yang biru, batu karang yang hitam, algae yang hijau, dan pasir putih, memberikan pesona tersendiri bagi pantai ini. 


Pantai Nguyahan

 
Beberapa meter dari  Pantai Ngobaran terdapat satu pantai lagi yang tak kalah indahnya, Pantai Nguyahan. Namanya memang kurang familiar dibanding kedua pantai lainnya. Tapi pemandangan yang disuguhkan tak kalah elok. Pantai landai yang membentang dengan hamparan pasir putih dan batu karang di permukaannya. Kamipun bisa berjalan-jalan di atas permukaan karang tersebut hingga ke tengah, sambil menikmati deburan ombak. Sangat eksotis!



Itulah beberapa pantai di Gunung Kidul yang sempat kami kunjungi. Dan masih banyak pantai-pantai eksotis lainnya di daerah ini. Pantai-pantai itu memang belum banyak dikenal orang, sehingga fasilitasnya juga belum cukup memadai dan belum tertata rapi. Semoga kedepannya obyek-obyek wisata ini bisa lebih diperhatikan, dan makin dilirik oleh para wisatawan.

Tuesday, February 07, 2012

Pantai Ngrenehan, The Other Side of Yogyakarta

“Semakin alami sebuah tempat semakin menarik pula untuk dikunjungi” itulah yang ada dalam pikiranku. Seperti saat aku memutuskan mengunjungi pantai yang indah ini.

Yogyakarta memang kaya akan tempat wisata, baik itu wisata budaya, wisata kuliner, wisata belanja dan wisata alam. Bicara tentang wisata alam di Yogyakarta, pasti semua kenal Pantai Parangtritis, Pantai Baron, Pantai Kukub dan Pantai Krakal. Pantai-pantai tersebut memang menjadi magnet kuat bagi wisatawan baik domestik maupun manca negara. Tak heran jika pantai-pantai tersebut selalu ramai dikunjungi orang.  Tapi kali ini aku tidak tertarik mengunjungi pantai-pantai tersebut. Aku justru tertantang untuk mengunjungi sebuah pantai yang kurang dikenal orang, bahkan beberapa temanku yang tinggal di Yogyakartapun tak mengetahui keberadaan pantai ini. Pantai Ngrenehan -  One of The Hidden Paradise in South of Yogyakarta. 






Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap-siap. Dari hasil googling, aku mendapat info bahwa pantai ini terletak di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, jaraknya sekitar 80 km dari kota Yogyakarta. Mmm.. cukup jauh juga ya. Sepertinya perlu beberapa jam untuk sampai di sana. Berbekal GPS dan peta Yogyakarta *takut nyasar*, dimulailah petualangan kami hari itu. Tepat pukul 7 pagi, kami berlima, aku, suami, adikku, dan dua orang anakku, berangkat dari rumah orang tuaku di Magelang. Sebenarnya ada rasa was-was saat mengawali perjalanan ini, mengingat tempat ini belum dikenal banyak orang, kemungkinan fasilitasnya belum bagus. Apalagi aku membawa anak-anak, aku khawatir mereka tidak nyaman di sana.


Tapi kekhawatiranku ternyata tidak terbukti, anak-anakku justru sangat menikmati perjalanan ini. Ini tidak mengherankan, karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang cukup seru. Bukit-bukit berbatu, dengan tebing-tebing dan pohon-pohon jati yang tumbuh di sekitarnya. Jalan berkelok-kelok dan beberapa tikungan tajam,  cukup memacu adrenalin. Apalagi jalan di daerah Gunung Kidul ini tergolong sempit, jadi mesti ekstra hati-hati. Bagi yang belum jago nyetir jangan coba-coba bawa mobil kesini ya.. hehe.. 


Ada lagi pemandangan lain yang tak kalah unik di kawasan Gunung kidul ini, yaitu penjual belalang goreng di pinggir jalan. Mereka menjajakannya dengan cara menggantung rentengan belalang-belalang itu di sepedanya. Bagi yang penasaran pengen tahu rasanya seperti apa, boleh kok dicoba. Kalau aku sih belum punya nyali untuk mencoba kuliner yang satu ini, lihat wujudnya aja rasanya geli..  -__-


Setelah beberapa kali menanyakan arah kepada penduduk sekitar, akhirnya kami sampai di sebuah gerbang yang menandakan kami telah memasuki kawasan pantai. Sebenarnya gerbang ini hanya berupa gardu kecil dengan portal ala kadarnya, yang ditunggui seorang bapak-bapak tua. Dan dengan muka lempeng tanpa ekspresi, dia berkata kepada kami “Tujuh ribu”. Aku sempat terpana. Ternyata Rp 7000 itu harga tiket masuk untuk kami berlima, ditambah 1 buah mobil. Wah murah sekali ya, dengan harga segitu kami sudah bisa menikmati 3 buah pantai sekaligus, Pantai Ngrenehan, Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan. Coba bandingkan dengan masuk kawasan Pantai Ancol Jakarta, yang tiket masuknya per orang Rp 15.000, belum lagi tambahan untuk kendaraan.






Tepat pukul 10.00 pagi kami menjejakkan kaki di Pantai Ngrenehan, dan langsung disambut oleh pemandangan yang benar-benar membuai mata. Laut biru dan pasir putih, berpadu dengan cerahnya langit, ditambah dengan suasana yang tenang dan alami. Pantai kecil ini diapit oleh bukit-bukit batu karang, dengan tanaman semak-semak yang tumbuh di sekitarnya.  Ada beberapa perahu nelayan di tepi pantai yang makin menghidupkan suasana. Dan yang membuat tambah sempurna adalah pantai ini sepi pengunjung, ini membuat kami merasa seperti berada di pantai pribadi :D. 




Pagi itu matahari belum terlalu menyengat, dan kami puaskan diri untuk bermain-main di sini. Anak-anak pun sangat ceria. Mereka memang sangat menyukai pantai. Berfoto-foto dengan berbagai gaya adalah wajib untuk dilakukan. Dan kami pun tak perlu malu-malu, karena di sini tidak banyak orang yang melihat aksi konyol kami.. hehe..  




Sekitar jam 12 siang barulah beberapa orang pengunjung datang, dan suasana pantai ini menjadi agak ramai. Kami memutuskan untuk istirahat saja dan makan siang di sini. Pantai Ngrenehan memang pusatnya para nelayan, dan mereka menjual hasil tangkapan laut kepada para pengunjung. Berbagai jenis ikan, kerang, kepiting, rajungan dan cumi, semua tersedia di sini. Harganyapun cukup terjangkau. Kami  memesan ikan tongkol  seharga Rp 25.000 sekilonya, itu sudah termasuk ongkos masaknya. Kita bisa memilih jenis masakan sesuai selera kita, bisa digoreng, dibakar, asem manis, saos tiram atau saos padang.  Dan siang itu kami makan di pondok pinggir pantai dengan menu ikan segar yang dimasak langsung, dan minumnya air kelapa muda langsung dari pohonnya. Wah nikmat sekali bukan? What a wonderful life.. ^_^


Aku sungguh ingin ke pantai ini lagi, menikmati indahnya alam yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, sekedar untuk melepaskan kejenuhan. Dan menyerap energi positifnya untuk menyegarkan jiwa dan raga yang lelah ini. Oh andai aku bisa kesana saat ini juga...

*****






*Baca postinganku selanjutnya tentang Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan hanya di Runaway Diary  ^_^

Thursday, February 02, 2012

Kisah Sayur Asem yang Terbuang

Di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran ibukota, tinggallah sepasang pengantin baru yang berbahagia. Layaknya pengantin baru lainnya, hari-haripun terasa indah dijalani berdua. Seperti pagi itu, setelah menyelesaikan tugasnya mencuci, sang istri bergegas pergi ke tukang sayur. Hari itu dia akan menjalankan misinya yang sudah dia rancang beberapa hari sebelumnya. Dia akan memasak untuk suami tercintanya. Bagi kebanyakan wanita mungkin memasak bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi bagi sang istri, itu pekerjaan yang sama sekali tidak mudah, karena dari kecil hingga dewasa, dia tak pernah memegang pekerjaan dapur. Dan hari itu demi memberi kejutan penuh cinta kepada suaminya, dia rela bersusah payah.

“Hari ini aku mo masak sayur asem aja ah.. tambah tempe goreng ma sambel pasti seger” kata sang istri dalam hati sambil melirik suaminya yang sedang sibuk mengutak-utik motor barunya. Segera dia sibuk mencari resepnya di beberapa tumpukan majalah Sedap Sekejap. Cukup banyak majalah dan buku-buku resep masakan yang dia punya, tapi belum pernah dia praktekkan satupun sampai hari itu. Menyiapkan peralatan masakpun tak kalah hebohnya. Ternyata memasak benar-benar membuatnya kerepotan. Tapi dia tetap semangat dengan misinya. 


Setelah sukses membuat dapur berantakan, akhirnya sang istri berhasil juga menyelesaikan misinya. “Ah akhirnya jadi juga masakan pertamaku.. mmm.. enak juga. Saatnya dihidangkan nih.. Pasti suamiku seneng” pikir sang istri dengan riang. Dia lihat suaminya sedang asyik di depan tivi menyaksikan perlombaan Moto-gp. Dengan tenang dan penuh percaya diri dia siapkan hasil masakannya di depan suaminya. “Ayo mas makan dulu” ajaknya dengan lembut sambil meletakkan satu per satu hasil masakannya. 


“Apa itu?” tanya sang suami sambil melirik sekilas kearah sayur asem buatan sang istri. “Sayur asem mas” jawab sang istri. “Ouuu..” hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, sambil matanya tetap tertuju kearah tivi, seolah dia tidak tertarik sama sekali dengan masakan istrinya. Melihat respon yang tidak menyenangkan dari suaminya, perlahan-lahan rasa percaya diri sang istri pudar. “Ga mo nyobain?” tanya sang istri. Dan suaminya cuma menggeleng. Jleb! Hatinya seperti tertusuk belati, sakit sekali. Tega sekali suaminya tidak menghargai jerih payahnya. Berhari-hari dia rencanakan semua ini, dan dari pagi buta dia sudah menyiapkan semuanya, tapi suaminya tak mau menyentuh masakannya sama sekali. Separah itukah hasil masakannya hingga suaminya tak sanggup untuk mencoba sesuap saja. Hancur berantakan hatinya, seberantakan dapurnya hari itu. Dia sangat kecewa.


Sambil menahan air mata yang menggantung di pelupuk mata, dia ambil sayur asem dari depan suaminya. Dengan penuh emosi dia buang sayur asem itu ke wastafel. Bukan itu saja, sayur asem yang masih ada di pancipun dia buang semua. Ya, hari itu sayur asem yang dibuat dengan penuh cinta harus terbuang dengan sia-sia. Melihat tindakan sang istri yang aneh, suaminya bertanya “Kenapa sayurnya dibuang?”. “Ga ada yang mau makan sayur ini” sahut sang istri dengan emosi. Dan sang suami tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa bingung melihat kelakuan sang istri. Dia tak menyadari bahwa istrinya sangat kecewa dan sakit hati.


“Tega sekali dia, setidaknya dia kan bisa mencoba dulu masakanku. Tapi ini ga dicoba sama sekali. Dia ga menghargai jerih payahku. Aku kan susah payah demi dia. Gombal banget kata-kata cintanya, nyatanya dia tak bisa mengerti perasaanku.. “ sang istri meratapi nasibnya sambil terisak. Tentu saja tidak di depan suaminya. Dia terlalu gengsi untuk memperlihatkan perasaan yang sebenarnya. 


*********

Setelah beberapa bulan berlalu, barulah terungkap bahwa sang suami ternyata alergi alias sangat tidak suka sayur asem. Hanya melihat penampakannya saja sudah bisa membuatnya hilang selera makan, apalagi mencoba, bisa-bisa malah jadi mual. Itulah alasannya kenapa dia tak mau mencoba sayur asem buatan istrinya.




Makanya bu.., mbak.., jeng.., dan semua para istri.. kalau ingin membuat kejutan untuk suami, lebih baik cari tahu dulu kegemarannya apa, dan yang tidak disukai apa, jadi tidak harus kecewa dengan penolakan seperti kasus di atas. Juga untuk para suami.., pak.., mas.., adek.., seharusnya kalian menghargai jerih payah istri dan mengerti perasaannya. Jangan terlalu egois. Apa sih susahnya berkorban sedikit saja, toh hasilnya buat para suami juga. Sang istri jadi makin sayang, dan pelayanan jadi makin memuaskan ;).


Cinta itu butuh komunikasi, keterbukaan, kemampuan untuk memahami dan mengerti.