Friday, November 28, 2014

Jamur Krispi ala Cova

Ada yang suka jamur krispi? Pasti banyak yang suka kan? Banyak yang jual cemilan ini. Dari kedai-kedai kecil sampai restoran besar. Dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, sampai mall-mall besar. Dari yang harga murah, sampai yang mahal. Awalnya aku suka beli jajanan ini, tapi lama-lama jadi penasaran pengen bikin sendiri. Lagi pula kalau bikin sendiri tentu harganya lebih murah. Dengan bahan baku jamur tiram seharga Rp 4.000 - Rp 5.000 untuk seperempat kilogram, kita bisa membuat 4 porsi besar jamur krispi. Sedangkan kalau beli, 1 porsinya harganya Rp 16.000 s.d Rp 20.000. Tuh kan, irit banget kalau bikin sendiri. Bikinnya juga gampang banget. Caranya aku dapat dari hasil pengamatan waktu nongkrongin kedai jamur krispi di mall. Terus aku praktekin di rumah. Dan hasilnya joosss! hahaa.. bakat juga aku jadi penjual jamur krispi :P. Nah ini caranya...



 Siapkan bahannya yaitu:
- jamur tiram 1/4 kg
- tepung terigu 1/4 kg
-1 sdm bumbu inti

Cara membuat bumbu inti:
- 100 gram garam
- 1 sdm merica halus
- 1 sdm gula pasir
- 2 sdm ketumbar halus
semua dicampur jadi satu, masukkan ke dalam toples, pakai seperlunya. Bumbu inti ini dipakai untuk membumbui tepung terigu. Selain untuk jamur krispi, bisa juga untuk membuat ayam goreng krispi.

Cara membuat jamur krispi:
1. Cuci bersih jamur tiram, kemudian peras sampai jamur tak berair, suwir-suwir.
2. Masukkan jamur ke dalam tepung terigu kering (tanpa air) yang sudah diberi bumbu inti.
3. Aduk-aduk dan remas-remas. Langsung goreng sampai krispi.
4. Siap disantap bersama saus dan mayonais.
Catatan penting:
jamur yang sudah ditepungin jangan didiamkan, karena akan berair, dan membuat hasil gorengannya nggak krispi. Jadi abis ditepungin jamurnya langsung digoreng yaa..
Selamat mencoba...!




Monday, November 10, 2014

Pejuang Sastra dari Pelosok Banten #KPCI2014

Di sela-sela keriuhan acara pembukaan Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI2014), aku menemukan sebuah kisah di sana...

"Kenalin bunda, ini Pak Podi. Beliau ini kepala sekolah dari sebuah sekolah hebat loh. Sekolahnya ada di puncak bukit, di daerah Lebak Banten" kata Bu Lia, kepala sekolah anakku.
Sesaat aku masih mencerna apa maksud "hebat" di sini. Dibenakku kata hebat berarti punya kemampuan lebih dari yang lain. Dengan kata lain berprestasi. Tapi penjelasan Pak Podi membuat penafsiranku berubah.

Laki-laki setengah baya yang bertubuh tegap, berpenampilan rapi, dan bersahaja itu menjelaskan, "Sekolah kami ada di puncak bukit. Untuk kesana harus jalan kaki, karena tak ada kendaraan yang bisa mencapainya. Itupun jalannya terjal, sempit, berbatu-batu, dan licin. Apalagi kalau musim hujan, bakal rawan longsor. Untuk ke sekolah saja anak-anak kami harus susah payah".

"Ouuu... " gumamku setengah tertegun. Terbayang di ingatanku sebuah foto yang sempat marak di sosial media beberapa waktu lalu. Di sana tergambar beberapa anak sekolah yang harus menyeberangi jembatan yang hampir roboh untuk mencapai sekolahnya. Mungkin kondisinya mirip seperti itu. Aku pikir hanya sekolah-sekolah di pelosok luar Jawa yang seperti ini. Tapi ternyata di Banten, yang jaraknya masih dekat dengan ibukota negara, Jakarta, masih ada sekolah terpencil seperti itu.

Pak Podi melanjutkan kisahnya "Hanya ada 2 guru negeri yang bertahan di sana, saya dan 1 guru lagi. Sayapun saat dipromosikan jadi kepala sekolah di sana, banyak yang memprediksi paling lama cuma 3 hari saya bisa bertahan". Pak Podi tersenyum saat mengingat masa-masa itu. "Tapi alhamdulillah sampai sekarang saya masih bertahan" lanjutnya.
Penasaran aku bertanya "Apa yang bikin bapak bertahan?"
"Yah setelah saya banyak ngobrol dengan guru dan murid-murid, saya merasa saya bisa bertahan di sini. Apalagi salah satu murid saya berhasil masuk ke KPCI ini. Dia itu anak kampung banget, dari daerah terpencil. Ke pasar saja nggak pernah, apalagi ke kota besar seperti ini. Pasti agak membingungkan bagi dia. Beda sama anak-anak kota yang sudah biasa ketemu banyak orang. Murid saya itu belum pernah kemana-mana" kata Pak Podi.
"Sama sekali belum pernah kemana-mana?" tanyaku.
"Iya, sama sekali. Soalnya tempatnya memang sangat terpencil. Untuk ke tempat ramai, seperti pasar, kalau naek ojek, itu ongkosnya Rp 50.000 sekali jalan. Bolak-balik habis Rp 100.000. Itupun masih ditambah jalan kaki. Uang segitu pasti berat banget bagi mereka"

Benar kata Bu Lia, sekolahnya memang hebat. Dan hebatnya lagi, walaupun di daerah terpencil yang sangat minim fasilitas, namun muridnya bisa berprestasi tingkat nasional.

Setelah pertemuanku dengan Pak Podi, aku penasaran dan browsing di internet. Ternyata memang masih banyak sekolah yang kurang layak di daerah Banten. Dari gedung sekolahnya, lokasinya, dan fasilitas yang lain. Banyak tergambar gedung sekolah hanya dari bambu, dan 1 guru harus merangkap beberapa kelas. Banyak juga foto-foto perjuangan murid-murid untuk mencapai sekolahnya, dari melewati jembatan yang hampir roboh, melewati jalan yang terjal dan berlumpur, hingga mereka harus melepaskan alas kaki. Duuh, kalau aku rasanya nggak akan sanggup kalau harus melepas anak-anakku menempuh medan yang sangat berat begini hanya untuk ke sekolah. Mending home schooling aja deh.

Sangat miris melihat kenyataan seperti itu. Banten, banyak sekolah mewah di sana, tapi banyak pula sekolah miskin yang terpencil. Tampak jelas pembangunan yang tidak merata, padahal masih di daerah yang sama. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Semoga semua pihak tidak menutup mata dan hati. Banyak anak-anak berpotensi di sana, anak-anak yang nantinya bisa mengubah nasib bangsa. Mereka berhak mendapat fasilitas pendidikan yang layak seperti anak-anak lain.

NB: Untuk Hidayat Nur Wahid, jangan pernah menyerah dengan mimpimu. Engkau anak Indonesia yang hebat dan berprestasi. Engkau seorang pejuang sastra Indonesia dari pelosok Banten. Teruslah berjuang dan berprestasi!

Monday, November 03, 2014

Menuju Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2014


Apa itu Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KCPI)? KCPI merupakan sebuah ajang bergengsi dan event terbesar tahunan bagi para penulis cilik di seluruh Indonesia. Konferensi tersebut diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang bekerja sama dengan Penerbit Mizan. Untuk tahun 2014 ini, konferensi akan diadakan di Hotel Rizen Premiere, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 4-7 November 2014. 

Keren ya konferensinya di hotel, di Bogor pula, wuih adem. Jadi pengen ikutan. Dan alhamdulillah tahun ini aku beneran ikutan loh. Lah kok bisa? Kamu kan bukan penulis cilik? Pasti pada nanya kek gitu kan? hehe.. Bisa donk. Aku bukan ikut acaranya, tapi ikut mengantar salah satu pesertanya. Dialah Lalita alias Lita, anak perempuanku yang berhasil lolos menjadi salah satu peserta KCPI 2014 untuk kategori cerpen. Dan mulai tanggal 4 November 2014 besok akan mengikuti konferensi sebagai wakil dari Provinsi Banten. Hebat ya anakku kaya' emaknya :D.

Sebenarnya waktu ikut seleksi KCPI ini, Lita nggak terlalu yakin bisa lolos. Karena waktu itu dia lagi sibuk nyiapin diri buat ujian mid semester, hingga sempat lupa ada seleksi KCPI. Begitu ingat, eh deadline pengiriman karya untuk seleksi udah di depan mata. 3 hari lagi karya yang diikutkan seleksi harus sampai ke pihak penyelenggara, dan harus dikirim via pos.  Padahal karya tersebut juga harus mendapat acc dari pihak sekolah dulu. Waduh dadakan banget kan? Aku sempat mikir Lita bakal mbatalin ikut seleksi, eh ternyata nggak. Dia langsung duduk di depan laptop, dan bikin sebuah cerpen. Beberapa saat kemudian cerpennya udah jadi. Eh tapi, ternyata ada masalah lagi. Cerpen yang dibuat halamannya kebanyakan.. hiyaaa... Berarti harus mangkas satu halaman biar sesuai ketentuan. Lita kembali memeras otak mencari bagian yang bisa dipangkas tanpa harus mengubah jalan cerita. Ada aja tantangannya. Tapi dia berhasil menaklukkan. Nggak hanya itu, karyanya lolos seleksi, dan dia berhasil jadi peserta KCPI 2014. Yeay! alhamdulillah... :). 

Kini saatnya bersiap untuk sebuah pengalaman baru bagi Lita, dan buatku juga. Rasanya seneng banget waktu tahu anakku lolos seleksi. Walaupun nantinya masih ada lomba lagi, tapi aku nggak mengharuskan Lita menang. Bisa lolos seleksi aja udah hebat. Bersaing dengan anak-anak hebat lain dari seluruh Indonesia pasti nggak mudah. Kalau bisa menang alhamdulillah, tapi kalau nggak menang setidaknya Lita punya pengalaman banyak lewat event ini. Sebuah event yang nggak semua anak bisa merasakan. Semoga ini bisa mendorong Lita untuk terus berkarya mengembangkan bakatnya. Semoga kelak karya-karyanya bisa memberi manfaat pada dunia. Amin :)

Sekarang saatnya packing barang-barang yang harus dibawa. Walaupun udah jadi peserta konferensi, tapi dia tetap anak-anak, dan tetap emaknya harus ikut nyiapin bawaannya. Yuk, sampai ketemu di KCPI 2014 ^^.