Wednesday, July 31, 2013

Berburu Batik di Kota Udang

Sebenarnya aku nggak terlalu suka belanja saat traveling. Tentu saja alasannya bukan karena nggak ingin, tapi buat memperkecil pengeluaran uang. Untuk membeli tiketnya saja harus melakukan penghematan, mana ada uang lebih buat belanja? Bukan itu saja loh. Aktivitas belanja sering menyita waktu. Apalagi model emak-emak rempong begini, yang mupeng banget lihat barang-barang unyu, bisa-bisa seharian tuh muter-muter tempat belanja. Sayang banget kan nggak bisa melihat-lihat obyek yang lain karena kelamaan belanja. Nah karena itulah aku lebih suka ke tempat wisata alam atau sejarah, lebih irit.. Hehehe

Tapi traveling ke Cirebon kali ini memang beda dari tipe travelingku biasanya. Dari awal, teman-temanku yang emak-emak ini memang mengajak berwisata belanja dan kuliner, bukan wisata alam, apalagi sejarah. Hingga saat aku mengusulkan untuk mampir sejenak di keraton kasepuhan cirebon, tak ada seorangpun yang merespon. Agak kecewa sebenarnya, udah jauh-jauh ke Cirebon, tapi nggak bisa mampir ke keraton karena nggak ada yang mau. Ya sudahlah, namanya juga traveling dengan banyak orang, ya harus mengikuti suara terbanyak.

Tak bisa mampir ke tempat yang kumau, bukan berarti aku tak menikmati perjalanan ini. Apalagi untuk wisata kuliner, Cirebon memang tak ada matinya. Aku cukup puas menikmati aneka kuliner di sana. Bagaimana dengan wisata belanjanya? Sudah cukup kesohor di seluruh nusantara, bahwa Cirebon merupakan salah satu daerah penghasil batik. Siapa yang tak kenal motif megamendung yang terkenal itu? Dengan warna cerah khas Cirebon yang unik, membuat kain batik ini disukai banyak kalangan. Juga masih banyak motif-motif lain yang tak kalah uniknya. Nah, karena itulah aku bersama geng emak-emak ini berburu batik kesana. Yaitu ke sebuah daerah yang bernama Trusmi.

Trusmi adalah sebuah nama desa. Dan di sepanjang jalan utama desa Trusmi ini, berderet showroom-showroom batik. Showroom batik tersebut tidak seperti toko-toko di mall atau pusat perbelanjaan, tapi kebanyakan seperti rumah tinggal. Dan konsep rumah tinggal tersebut yang justru membuat pengunjung merasa lebih nyaman dan betah berlama-lama di sana. Dan kami para pengunjung di perlakukan layaknya tamu, dengan suguhan air minum dan cemilan. Kitapun bebas leyeh-leyeh melepas lelah di karpet yang disediakan, sambil menikmati ruangan dingin berAC.


Ada beberapa showroom batik yang sempat kami singgahi, antara lain toko batik nofa, toko batik hafiyan, dan toko swalayan batik yang cukup besar, seperti mall. Yuk lihat suasana tokonya satu persatu. Yang pertama kami kunjungi adalah 'mall' batik Trusmi. Kalau teman-teman masuk kesini, dijamin langsung bingung. Abis batiknya buanyaaaaak bangeeeeets. Dari yang harga murah sampai mahal. Cukup lama kami ngubek-ubek tempat ini. Dan akhirnya aku berhasil membawa pulang 7 potong kain batik, untuk baju seragaman keluarga dan saudara-saudara di kampung pas lebaran nanti. Harganya lumayan murah, Rp 40.000 saja per potong. 

pilih-pilih kain

Lee Min Ho pakai batik :D
 Berikutnya adalah toko batik Nofa. Di sana aku berhasil membawa pulang satu blus batik, dan satu kemeja. Yang aku sukai dari batik di toko nofa ini adalah produknya nggak ada yang sama. Satu model, satu motif, satu baju. Jadi dijamin nggak pasaran, dan nggak ada yang nyamain. Harganya masih bisa ditawar pula. Berikutnya kami ke toko Hafiyan. Di sana aku mendapatkan kemeja untuk kado temanku yang pindah kantor. Harganya lumayan mahal, tapi kualitasnya memang bagus. Nggak masalah harganya mahal, kan mbayarnya patungan.. Hihihi.. Masih ada satu toko lagi kunjungi, tapi aku lupa namanya. 


kain batik Rp 100.000/ 3 potong
 Itulah beberapa toko yang sempat kami masuki. Sebenarnya masih banyak toko-toko lain yang ingin kami singgahi, tapi mana sempat? Lagipula uangku sudah habis, nggak ada lagi yang bisa dibelanjakan.. Hehehe. Bagaimana dengan teman-temanku? Jangan ditanya deh, belanjaan mereka luar biasa banyaknya. Sampai-sampai perlu beberapa kardus untuk mengemasnya. Emak-emak kalau diajak belanja emang jadinya kalap.. Hihihi..

*****

Dan inilah baju sarimbitan keluargaku, dengan bahan kain dari batik trusmi.. keren yaaa.. ^^
costume design by Cova

Tuesday, July 23, 2013

Rasa Legendaris Mie Koclok Mas Edi

Ngomongin kuliner di Cirebon memang tak ada matinya. Setelah tahu gejrot, nasi jamblang, dan empal gentong, aku berkesempatan menyantap kuliner menggugah selera ini. Kalau di Bandung ada mie kocok, nah di Cirebon ada mie koclok. Namanya memang mirip, tapi apakah rasanya mirip? Itulah yang membuatku penasaran. Seumur-umur aku baru dengar nama mie koclok (kalau mie kocok udah sering). Terdengar unik dan lucu di telingaku. Maka saat Mbak Yayah, temanku yang asli Cirebon, mengajak kami mampir di warung mie koclok Mas Edi, tentu saja aku langsung mengiyakan. 

Tiga puluh menit sebelum kereta kami berangkat menuju Jakarta, kami baru sampai di lokasi mie koclok yang dimaksud. Sungguh nekat memang, tapi demi menikmati sensasi rasa mie koclok Mas Edi yang konon paling terkenal di Cirebon itu, kami rela kejar-kejaran dengan waktu. Semoga kami nggak ketinggalan kereta gara-gara mie koclok ini. Dan itu artinya kami hanya punya waktu maksimal 10 menit saja untuk menikmati mie koclok ini. Itu sudah termasuk waktu penyajiannya. Okelah, siapa takut? Sebagai emak-emak pecinta kuliner, tantangan apapun sanggup kami lalui.. #jiaah lebay :P



Warung mie koclok Mas Edi yang kami datangi ini, ternyata hanya berupa gerobak mangkal di pinggir jalan. Di sebelahnya ditata bangku dan meja panjang sebagai tempat duduk penikmat kuliner ini. Di bagian luarnya ada semacam spanduk yang cukup mencolok bertuliskan "Mie Khasnya Orang Cirebon yang Lebih Okey Memang Asik dan Istimewa". Rupanya itu kepanjangan dari mie koclok Mas Edi. Hehee.. Kreatif juga. Tapi yang menarik perhatianku sebenarnya bukan tulisannya, melainkan fotonya Surya Saputra yang sebesar manusia. Langsung deh aku ajak foto bareng #halah :D.


 Dalam waktu singkat, pesanan kami sudah tersaji. Syukurlah, jadi kami bisa secepatnya menyantapnya. Wuih, penampilannya menggugah selera banget. Mie, potongan telur, tauge, dan suwiran ayam, disiram dengan kuah santan kental, serta ditaburi bawang goreng. Aaah.. Bikin ngiler. Dan saat disantap rasanya gurih dan nikmat. Untuk memperkaya rasa bisa ditambahkan sambal, kecap, dan emping sesuai selera. Hmm.. Maknyus banget! Wajarlah kalau mie koclok Mas Edi ini dinobatkan sebagai salah 1 dari 10 makanan Legenda Kuliner Nusantara, dalam acara Festival Jajanan Bango 2013. Rasanya memang legendaris. Sayangnya kami harus buru-buru menyantapnya, karena waktu kami sedikit. Coba saja keretanya mau nunggu. Jadi kami bisa lebih menikmati setiap suapnya...


Setelah tandas semua makanan, kini saatnya membayar. Mie koclok ini per porsinya dihargai Rp 10.000. Menurutku sih harga segitu agak kemahalan, soalnya porsinya cuma sedikit. Mungkin karena rasanya juara dan sudah terkenal, maka pemiliknya berani mematok harga agak  tinggi. Nggak papalah.. Yang penting rasanya enak. Dan kuliner ini sangat recomended untuk dinikmati.
Bagaimana teman-teman? Berminat mencoba kuliner ini? Silahkan teman-teman menuju ke Jl. Lawanggada, Cirebon. Tempatnya cukup mencolok kok, jadi mudah sekali dicari. Siapa tahu ada yang berniat buka puasa dengan kuliner ini. Hmmm... Jadi pengen :D
Happy traveling ^^

Wednesday, July 17, 2013

Bijak Dalam Curhat

Menjadi seorang ibu dan istri memang tidak mudah. Apalagi jika selain menjadi ibu rumah tangga, kita juga berkarir di luar rumah. Kita dituntut harus benar-benar mampu memanage. Bukan hanya memanage waktu dan tenaga, tapi juga memanage perasaan. Walaupun kita berusaha selalu tegar menjalani dengan sepenuh hati, namun ada kalanya kelelahan fisik dan mental menggerogoti ketegaran diri. Stres terkadang menghinggapi. Yah, wajarlah, karena kita hanya wanita biasa.

Stres dan galau memang wajar terjadi, tapi tentu saja tak bisa dibiarkan berlarut- larut. Beruntung jika kita masih punya orang tua dan saudara di dekat kita, sehingga mereka bisa membantu urusan rumah tangga sementara kita memulihkan diri. Namun bagaimana denganku yang tak punya keluarga dekat? Orang tua dan saudara jauh ada di kampung. Untuk berkeluh kesahpun susah, apalagi untuk sekedar menitipkan anak. Sangat tidak mungkin kulakukan.

Satu-satunya caraku untuk meringankan beban adalah dengan berbagi rasa alias curhat. Memang curhat tidak memecahkan persoalan, tapi setidaknya bisa meringankan beban. Namun dalam berbagi rasa, tentu tidak ke sembarang orang. Hanya kepada sahabat terpercaya saja, agar aib tak tersebar kemana-mana.

Ya, aku sering berbagi uneg-uneg kepada sahabat yang kupercaya. Apa hasilnya melegakan dan menjadikan hati merasa lebih baik? Ternyata tidak selalu demikian. Bahkan kadang malah membuat hati semakin nelangsa. Lah kok bisa? Ya bisalah. Karena sahabat yang terpercaya sekalipun, belum tentu dia mengerti perasaan dan kondisi kita. Nah, makanya sebelum curhat, kenali dulu tipe sahabat kita ini.

1. Tipe Pamer
Kasus 1
Aku : "Aku sedih nih, akhir-akhir ini anakku susah makan. Gimana ya?"
A.    : "Ih kalau anakku sih nggak pernah susah makan. Soalnya yang masak ibuku. Masakan ibuku kan enak-enak dan banyak variasinya"
Aku : "-____-"
Jadi makin sedih. "Ah, andai saja ibuku ada disini.." ratapku dalam hati.
Kasus 2
Aku: "Sebel banget nih. Suamiku nggak bisa nganter"
A.   : "iih gimana sih suamimu itu. Masa' nggak mau berkorban buat istri. Kaya' suamiku dong, dia selalu siap nganterin kemana-mana, dia kan sayang banget ma aku"
Aku malah makin nelangsa, seolah jadi istri yang nggak disayang suami.

2. Tipe Meremehkan
Aku : "Gw capek banget nih. Duuh stres deh, nggak ada pembantu"
B.    : "Ah lo lebay banget sih, gitu aja stres.. Daripada stres mending kita traveling aja yuk!"
Orang lagi bingung nggak punya pembantu, eh malah diajak kabur. Lah bagaimana nasib anak-anakku?

3. Tipe Menghakimi
Aku : "Suami gw cemburu nih. Padahal gw nggak ada apa-apa ma dia"
C.    : "Makanya lo jangan ganjen ke cowok lain. Salah lo tuh yang suka deket-deket ama cowok"
Duh, tuduhan serius tuh, padahal dia nggak sekantor denganku, bagaimana dia bisa menuduhku begitu?

4. Tipe Memahami
Aku : "Sedih sih.. Suamiku lupa ulang tahunku"
D.    : "Suamimu kan manusia biasa, wajarlah kalau dia lupa"
Aku : "Ini kan hari istimewa, harusnya dia udah nyiapin donk"
D.    : "Coba kamu ingat, mungkin suamimu akhir-akhir ini sibuk banget. Laki-laki kan memang seperti itu, dia hanya bisa fokus di satu hal. Beda sama kita yang biasa mikirin banyak hal. Kalau dia lagi sibuk sama kerjaan, ya dia fokus ke situ, trus jadi lupa ama urusan lain. Suamiku juga sering begitu, dan bukan berarti dia nggak sayang"
Makcess rasanya hati ini mendengarnya. Setidaknya hatiku jadi lebih tenang.

Tipe memahami ini paling susah ditemui. Biasanya dia bisa memahami kondisi kita, karena dia pernah atau sedang mengalami hal yang sama. Sedang 3 tipe lainnya, biasanya karena dia tak pernah mengalami kondisi yang aku alami. Atau pernah mengalami, tapi sudah lupa.
Nah, dari pengalamanku dengan beberapa tipe sahabatku itu, kini aku jadi makin selektif dan bijak dalam berbagi rasa. Jangan sampai curhat malah membuat hati makin tersayat-sayat. Alih-alih ingin meraih simpati, eh jadinya malah makin sakit hati.

Salam hangat,
COVA

Thursday, July 11, 2013

Mencicipi Empal Gentong H. Apud

Selamat pagi para pembaca Runaway Diary sekalian. Kangen nih, udah lama nggak nulis tentang makanan. Walaupun sekarang ini lagi puasa, tapi nggak papa donk kalau aku sharing tentang makanan. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk menu buka puasa nanti. Kali ini aku masih membahas tentang menu kuliner di daerah Cirebon. Cirebon memang kaya akan aneka kuliner. Dan ini merupakan salah satu daya tarik kota ini. Bahkan beberapa kulinernya sudah terkenal dan tersebar di seluruh penjuru nusantara. Seperti empal gentong dan tahu gejrot. Akupun sudah beberapa kali menikmati makanan ini. Namun menikmati kuliner khas suatu daerah, di daerah asalnya langsung, tentu menghadirkan sensasi dan kenikmatan tersendiri. Makanya ketika aku mengunjungi Cirebon beberapa waktu yang lalu, aku tak melewatkan mengunjungi sebuah warung empal gentong, yang berjudul "Empal Gentong Empal Asem H. Apud".


Empal H. Apud ini, konon katanya merupakan salah satu penyaji empal gentong terbaik di kota ini. Wuuih mantap ya, rasanya pasti juara. Jadi makin penasaran ingin mencoba. Jika teman-teman ingin mencoba juga, bisa mampir langsung di lokasinya yaitu di kawasan Battembat, tak jauh dari pusat kota Cirebon. Lokasi persisnya silahkan cari sendiri ya *dasar nggak informatif banget sih :P.

Sudah lewat jam makan siang saat kami menuju kesana (maklumlah, sebelumnya kelamaan di tempat belanja, jadi lupa waktu makan). Untunglah tempatnya tidak jauh, jadi kami nggak kelamaan kelaparan. Di sekitar kawasan Battembat ini, memang ada beberapa warung empal gentong, tapi yang paling ramai ya empal H. Apud ini. Tempatnya cukup luas dan nyaman, bisa memuat banyak pengunjung. Di bagian depannya terdapat angkringan empal gentong dan etalase bertuliskan "Sate Kambing Muda". Rupanya tempat ini menjual sate juga. Hmm..makin tergiur nih.


Setelah memilih tempat duduk, kami segera memilih menu makanannya. Seperti ini menunya. Kami memesan empal gentong daging sapi, empal asem daging sapi, sate kambing muda, es teh manis, dan es jeruk. Komplit sekali ya? Masih nambah kerupuk dan es krim pula. Waduh, emak-emak kok makannya banyak amat. Nggak tahu deh berapa banyak rupiah untuk menebusnya. Yang penting dipuasin makan dulu.. Hehehe.


Tanpa menunggu lama, menu pesanan kami sudah tersaji. Nah, ini jadi point plus tempat ini. Pelayanannya cepat, walaupun pengunjungnya banyak. Saat menu empal gentong datang, aku melihat ada perbedaan dengan empal gentong yang biasa aku makan di Jakarta. Di sini, kita bisa memilih pakai lontong atau nasi. Dan sambelnya, ternyata bukan sambel yang diulek, tapi berupa bubuk cabai. Satu lagi perbedaan yang paling aku suka, daging empalnya banyak sekali. Sangat berbeda dengan yang biasa di jual di Jakarta, yang dagingnya paling cuma 4 potong kecil saja. Bagaimana dengan rasanya? Aku akui, rasa empal gentong H. Apud ini memang pas dilidah. Walaupun bersantan, tapi tidak eneg saat dimakan. Mungkin karena santannya dipadukan dengan bumbu-bumbu dengan takaran yang pas. 


Aku juga mencicipi empal asem, dan sate kambing muda. Untuk empal asemnya, rasanya gurih dan segar. Cocok sekali untuk yang nggak suka menu bersantan. Tapi menurutku, masih lebih enak empal gentongnya. Nah kalau sate kambingnya, aku suka sekali. Rasanya sama saja sih dengan sate kambing di daerah lain, tapi di sini memang daging kambingnya benar-benar muda. Jadi teksturnya empuk dan nggak alot. Maknyus pokoknya.


Soal rasa dan tempat, empal H. Apud ini memang recomended. Tapi bagaimana dengan harganya? Lagi-lagi aku merasa was-was, jangan-jangan harganya mahal. Apalagi di daftar menunya tidak tercantum harganya. Sebagai bendahara, wajarlah kalau aku deg-degan. Takut kalau harus nombokin.. Hihihi.
"Jadi totalnya berapa mbak?" tanyaku pada mbak kasir.
"Rp 300.000" kata mbak kasir dengan ramah.
Ah, lega. Harganya masih terjangkau untuk 5 porsi empal gentong, 3 porsi empal asem, 2 porsi sate kambing muda, 6 porsi lontong, 4 es kelapa muda, 2 es jeruk, 2 bungkus kerupuk (berisi 10 kerupuk/bungkus), sama 6 buah es krim, terus cemilan apa lagi ya? lupa. Pokoknya harganya nggak semahal di Jakarta. Apalagi empal di sini, isinya berlimpah banget. Kalau mau irit, bisa seporsi buat berdua tuh.. hihii..

 Selamat berbuka puasa... 'n happy traveling ^^


Thursday, July 04, 2013

Penggerak Ekonomi Rakyat

"Cov, lo sadar nggak sih kalau skill yang lo miliki itu bisa jadi penggerak ekonomi rakyat?"
Aku terbengong-bengong mendengar penuturan serius seorang teman padaku. Penggerak ekonomi rakyat? Kedengarannya keren, tapi juga cukup serius. Mana bisa seorang Cova yang ekonominya sendiri pas-pasan, bisa menjadi seorang penggerak ekonomi rakyat. Emangnya aku ini siapa? Menteri keuangan?

"Ah, lebay lo!" jawabku sambil nyengir.
"Gue serius Cov! Lo punya banyak skill. Lo bisa njahit, bisa ndesign baju, bisa merajut, bisa bikin aksesoris lucu-lucu begini. Ini punya nilai jual Cov" jelasnya dengan penuh semangat, sambil membolak-balik bros-bros buatanku.

"Ini kan cuma buat seneng-seneng doank. Gue nggak sempet ngurusin serius. Kerjaan di kantor aja banyak banget" sahutku.

"Nah, itulah fungsinya penggerak ekonomi rakyat. Lo harus cari orang, lo didik mereka, lo rekrut mereka untuk menghasilkan barang-barang yang bernilai jual. Bayangkan Cov, kalo lo bisa memberdayakan ibu-ibu kampung yang selama ini nggak punya penghasilan apa-apa, menjadi punya penghasilan. Bukankah itu meningkatkan ekonomi mereka?"

"Tapi ngurusin kek gitu kan perlu persiapan serius. Menjalankan sebuah bisnis itu nggak main-main. Apalagi memperkerjakan banyak orang. Perlu managemen yang oke"

"Gue yakin lo bisa Cov. Dengan skill lo yang banyak, sayang banget kalo lo mesti ada di kantor ini. Mending lo lepasin aja kerjaan di sini, terus ngerjain sesuatu yang emang lo senangi. Biarkan kerjaan kantoran untuk kami-kami aja, para laki-laki."

Yah, itulah opini temanku, yang intinya menyarankanku resign dari kerjaan kantoran, dan menjadi penggerak ekonomi rakyat. Aku sudah beberapa kali mendengar opini yang sama. Tapi tentu saja aku sampai sekarang belum berani memutuskan untuk resign. Karena banyak sekali yang harus dipertimbangkan. Untuk menggerakkan ekonomi sendiri saja susah, apalagi menggerakkan ekonomi rakyat. Perlu langkah-langkah yang sangat berani, dan siap dengan segala resikonya.


Cova Amigurumi
Namun, walaupun belum memutuskan resign, aku sudah merintis usaha kecil-kecilan. Beberapa produk yang aku hasilkan mulai kukomersilkan. Seperti boneka rajut, yang aku beri label Cova Amigurumi, dan aneka bros dan aksesoris, yang kuberi nama Cova Collection. Hasilnya cukup lumayan, walaupun pengerjaannya di sela-sela waktu sibukku. Semua aku kerjakan sendiri. Dari design produknya, pembelian bahan baku, pengerjaannya, pemasaran produknya, hingga menjadi model produknya. Hanya di bidang transportasi dan fotografi, yang dibantu oleh suamiku.

Cova Collection
Dan setelah cukup sukses menjual secara offline, kini aku memberanikan diri membuat semacam toko online sederhana. Bukan toko online beneran yang keren itu sih. Tapi hanya berupa blog, yang kuisi dengan barang-barang produksiku. Dan sekarang blog yang kuberi judul Cova Collection, masih dalam tahap pembangunan. Produk-produknya belum semua aku upload di sana. Bertahap saja, biar nggak ribet. Namanya juga proyek sampingan. Tapi walaupun begitu, aku tetap berharap hasilnya maksimal.. Hehe.. Eh, buat yang mau ngintip boleh kok di cova-collection.blogspot.com. Tapi maaf ya, masih berantakan.

Jadi, bisakah aku jadi penggerak ekonomi rakyat? #hening #krik..krik..
Cova Collection

Monday, July 01, 2013

Curhat Awal Juli

Tak terasa pertengahan tahun 2013 telah terlewati dan sudah mau lebaran lagi. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang begini adanya. Mungkin kecepatan bumi berputar, dari hari ke hari makin bertambah. Ah apa iya? Atau mungkin karena kesibukan kita yang padat sangat menyita waktu, hingga rasanya waktu begitu cepat berlalu.

Apapun itu, semua telah diatur oleh Allah. Mau waktu berjalan cepat atau lambat, kalau Allah sudah menentukan waktu kita di dunia ini harus terhenti, tak akan ada yang bisa menghindar. Dan tak ada satupun makhluk di dunia ini yang tahu kapan ajalnya datang. Bisa cepat, bisa lambat. Bisa saat tua, bisa pula saat masih muda belia. Ada yang melalui pertanda, ada pula yang tiba-tiba. Sungguh sebuah rahasia ilahi.

Saat mendengar beberapa berita duka kematian, beberapa kali pula diri ini merasa diingatkan, bahwa hidup kita di dunia ini cuma sebentar. Dan kita hanya menunggu giliran, kapan sang maut datang. Siapkah? Bagaimana bisa merasa siap, jika bekal untuk masa mendatang sangat kurang, sementara masih  banyak hal yang belum mampu aku wujudkan.

Ini bukan tentang materi, apalagi prestasi. Ini hanya soal impian dan keinginan sederhana. Keinginan yang ingin aku wujudkan sebelum waktu di duniaku hilang. Aku hanya ingin hidup normal dan tenang, dikelilingi keluarga, orang tua, dan sanak saudara. Sebuah keinginan sederhana yang saat ini sungguh mahal harganya. Betapa tidak? Untuk diriku yang hidup merantau jauh dari kampung halaman, kebersamaan dengan orang tua merupakan kesempatan yang sangat langka. Paling-paling hanya saat lebaran saja. Anak-anakku sangat jarang bertemu kakek nenek dan saudara- saudaranya. Aku juga mulai prihatin dengan orang tuaku yang sampai sekarang tidak punya kesempatan untuk lebih dekat dengan cucu-cucu mereka, karena kebersamaan yang sangat kurang.

Untuk itulah, kini aku berikhtiar, agar instansi tempatku bekerja berkenan memindahkan aku ke kampung halaman, Magelang. Semoga dikabulkan. Lagi pula rasanya aku sudah ketuaan hidup di ibukota. Sudah saatnya kembali membangun desa, dan melakukan hal-hal yang lebih berguna. Semoga semua bisa terwujud sebelum ajal menjemput.