Tuesday, March 26, 2013

Berkawan dengan Monyet


Aku punya teman yang berasal dari Bali, sebut saja namanya Made. Namun teman-teman dekatnya tak ada yang memanggilkan dengan nama itu. Dia justru sering dipanggil dengan panggilan "Monyet!". Ya ampun, keterlaluan ya ngasih panggilan begitu. Padahal dia tak ada mirip-miripnya dengan monyet. Herannya si made ini tak pernah keberatan dengan sebutan itu. Aku penasaran dan bertanya padanya "Kenapa sih teman-teman dekatmu manggil kamu monyet?". Akhirnya dia menjelaskan, "Di Bali kan banyak monyetnya, nah meraka anggap aku ini salah satunya.. Hahaha".

Saat itu aku belum mengerti kalau Bali identik dengan tempatnya monyet, aku kan belum pernah ke sana. Nah, belakangan setelah beberapa kali ke Bali, barulah aku paham, ternyata di Bali itu banyak sekali monyet. Sepertinya ada banyak kerajaan monyet di sana. Sebut saja Desa Sangeh, sejak kecil aku sudah sering mendengarnya, karena setiap study tour sekolah selalu jadi salah satu tempat tujuannya. Ada lagi monkey forest di Ubud, yang sempat menjadi tempat syuting video klipnya Judika. Aku pernah melewati monkey forest ini, dan menyapa monyet-monyet jinak dan lucu di sana. Dan yang tak kalah terkenal adalah Uluwatu, dengan monyet-monyet yang bertubuh subur dan kekar. Perangainyapun lebih garang, tidak selucu monyet-monyet di Ubud. Bahkan aku pernah jadi korban kegarangan  monyet-monyet di Uluwatu itu.  Ceritanya ada di sini.

Sejak peristiwa memalukan di Uluwatu itu, aku jadi agak trauma dengan makhluk yang bernama monyet. Namun demi menyenangkan anak-anakku, yang menyukai hewan-hewan di alam lepas,  aku memberanikan diri mengunjungi kerajaan monyet lagi. Kali ini ada di Tabanan, tidak jauh dari Tanah Lot. Kalau kita berangkat dari Bedugul menuju Tanah Lot, pasti melewati tempat ini. Alas Kedaton namanya.


 Memang tak setenar tempat-tempat yang lain, namun pengalaman yang ditawarkan tak kalah unik. Kalau ada yang komentar "Ngapain jauh-jauh ke Bali cuma mau lihat monyet aja?", itu salah. Karena di Alas kedaton, kita tak hanya melihat monyet, tapi ada pula pura di sana. Namanya Pura Dalem Kahyangan Kedaton, yang memiliki empat buah pintu masuk. Pura ini berada di tengah-tengah hutan yang dihuni ratusan monyet.
bagian dalam pura


Cuma itu saja? Hmm..masih ada lagi. Di sini kita bisa menyaksikan kalong raksasa yang bergelantungan di ranting-ranting pohon. Uniknya, kalong-kalong jinak itu bisa kita ajak berfoto loh. Berpose dengan atribut bali, sambil 'menggendong' kalong berukuran jumbo, pasti memberi sensasi tersendiri. Tentu saja dengan pengawasan sang pawangnya, dan jangan lupa bayar ya.. Mau yang lebih menantang? Bisa coba foto bareng sama ular. Hiiii.. Kalau aku sih ogaaah..



Daripada dekat-dekat dengan ular, mendingan bercengkrama saja dengan monyet-monyetnya. Awalnya aku sempat was-was dan deg-degan. Tapi melihat perangai monyet-monyet yang begitu ramah, ketakutanku mulai mencair. Bahkan anak-anakku sangat rileks bermain dan memberikan kacang pada monyet-monyet itu. Mereka juga tak keberatan saat tangan dan kakinya ditarik-tarik para monyet lucu itu. 


Tertarik kesini? Kalau aku sih sebenarnya tidak terlalu suka monyet. Tapi anak-anakku sangat menyukai binatang. Jadi, aku sengaja mengajak mereka ke sini, agar mereka bisa mengenal monyet lebih dekat, di habitatnya langsung.

Nah bagi yang ingin mengelilingi alas kedaton ini, kalian bisa menggunakan jasa pemandu yang banyak menawarkan diri di depan pintu masuk. Walaupun hutan ini tidak luas, namun perlu juga pemandu untuk berjaga-jaga, siapa tahu monyetnya sedang sensitif dan galak. Jadi kalau ada apa-apa, pemandu ini bisa mengatasi. Dan cukup beri imbalan suka rela saja untuk jasa mereka ini.

Happy traveling ^^

Monday, March 18, 2013

Awas Facebook

gambar dari sini
Ada yang bilang facebook itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Aku sempat mengakui kebenaran ungkapan itu. Namun dari hari ke hari aku justru menemui beberapa fenomena lain di facebook. Fenomena yang makin lama makin merebak. Facebook bukan hanya menjauhkan yang dekat, tapi justru membuat seseorang memperlakukan yang dekat seolah jauh. Apa sih maksudnya? Coba perhatikan contoh di bawah ini.

Beberapa saat yang lalu aku membaca sebuah status dari temanku di facebook. Jelas status itu ditujukan untuk istrinya. Tak berapa lama sang istri menjawab. Dan dibalas lagi oleh sang suami. Praktis terjadilah obrolan di sana. Bukannya aku iri loh, tapi rasanya jengah aja membaca obrolan suami istri di tempat umum seperti ini. Tempat yang semua orang bisa melihat, semua orang bisa membaca. Semua orang bisa merasakan apa yang ada disana. Sesuatu yang pribadi tapi menjadi konsumsi publik. Itu aneh bagiku.

Keanehan yang kedua, pasangan suami istri ini tinggal serumah, dan pastinya tidur satu kamar, tetapi kenapa ngobrolnya lewat facebook, itu kan namanya memperlakukan yang dekat (suami/istri) seolah-olah jauh. Bukankah mereka bisa ngobrol langsung tanpa perlu perantara facebook? Okelah mungkin ada yang beralasan, kan suami/istrinya lagi jauh. Tapi walaupun begitu, bisa dong ngobrolnya lewat yang lebih private seperti message, sms, atau media chating yang lain.

Itu pendapat pribadiku saja sih. Mungkin ada banyak orang yang tidak risih membuka urusan pribadinya di tempat umum (facebook). Kalau kalian termasuk tipe yang seperti ini, aku cuma bisa menyarankan agar lebih bijak mengumbar status. Jangan sampai justru menjerumuskan diri sendiri. Misalnya saat kesal dengan pasangan, kemudian membuat status yang menyatakan itu. Otomatis yang membaca status itu jadi tahu kalau rumah tangga kita sedang bermasalah. Beruntung jika teman-teman kita itu teman yang konstruktif. Mereka akan memberikan saran, atau paling tidak berempati kepada kita. Tapi jangan lupa, ada kalanya kita menemui teman yang destruktif. Bukannya mendinginkan suasana, tapi malah membuat suasana makin panas.

Bahkan yang lebih parah lagi ada yang coba-coba memancing di air keruh, dan berlagak bak serigala berbulu domba. Awalnya sok perhatian dengan mengirim message menanyakan keadaan kita. Kita yang sedang galau dan butuh tempat bersandar, jadi terpikat dengan caranya memberi kehangatan dan tempat berbagi. Makin kita merasa nyaman makin berani dia melancarkan serangan. Dan jangan kaget kalau dia berani melemparkan rayuan, bahkan ajakan kencan. Berhati-hatilah teman. Karena ketika kita sedang bermasalah dengan pasangan, itulah saat yang paling rawan masuknya orang ketiga. Jadi lebih baik menjaga aib rumah tangga kita, dengan menjaga lidah dan tidak mengumbarnya di sosial media.

Monday, March 11, 2013

Museum Taman Prasasti in Memoriam

"Waah.. Bagus banget fotonya.." Aku takjub saat melihat sebuah foto berukuran 16R, yang menampilkan seorang wanita cantik bergaya misterius sedang berjalan di semacam pemakaman, dengan background pohon besar yang daunnya berguguran. Mengingatkanku pada setting film Hollywood bernuansa horor. Semula aku berpikir ini pasti di luar negeri. Tapi di mana ya?
"Itu di Taman Prasasti" sahut Mas Gathoe, sang pemilik foto.
"Taman Prasasti? di Indonesia?”
"Iyalah di Indonesia, di Jakarta, Tanah Abang" jawab Mas Gathoe dengan ekspresi santai, sambil merapikan karya masterpiecenya dengan hati-hati.

Sejak saat itu, aku jadi penasaran dengan yang namanya Taman Prasasti. Apalagi tempatnya tak jauh, hanya di Tanah Abang saja, masa’ sih sampai nggak tahu ada tempat sekeren itu. Dan dari beberapa info yang aku dapat, ternyata Taman Prasasti memang tempat favorit para fotografer. Sering juga dijadikan tempat untuk foto prewedding. Mmm.. Pasti tempat benar-benar istimewa. Setelah memendam rasa penasaran bertahun-tahun lamanya, akhirnya aku memenuhi hasratku ke sana bersama suami tercinta. Apalagi kalau bukan untuk berfoto ria. Nggak mau kalah dong sama model dan fotografer ternama :D.

Museum Taman Prasasti
Sebenarnya Taman Prasati itu apa sih? Nama lengkapnya adalah Museum Taman Prasasti. Jadi jelas bahwa tempat ini adalah sebuah museum. Tapi jangan salah. Karena tempat ini bukan sebuah museum biasa. Museum terbuka ini memiliki koleksi prasasti, nisan dan makam, yang terbuat dari batu alam, marmer dan perunggu. Zaman dahulu kala, sebelum dibuka menjadi museum, Taman Prasasti ini adalah sebuah pemakaman Belanda dengan nama Kebon Jahe Kober. Jadi merinding nih, sepertinya seram ya. Tapi makin penasaran seperti apa sih rasanya jalan-jalan ke pemakaman.

Hari sudah menjelang siang saat kami tiba di stasiun Gondang Dia. Dari sana, kami menggunakan jasa bajai untuk mencapai lokasi museum yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat. Setelah sempat berputar-putar, akhirnya sampai di sebuah bangunan yang tak terlalu mencolok, tak seperti museum lainnya yang biasanya megah. Hingga kami ragu, betul nggak sih ini tempatnya? Tempat ini sepi sekali. Suasananya lebih mirip pemakaman daripada museum. Lah ini kan emang pemakaman.

aneka nisan dan makam
Memasuki bagian dalam, kami disambut oleh pilar-pilar berukuran besar, semacam prasasti. Ada tulisan indah terukir disana, kebanyakan berbahasa Belanda. Mungkin itu sebuah puisi atau sebuah quote, atau mungkin sebuah peringatan. Aku tak tahu artinya. Di sekitarnya terdapat ratusan nisan dan makam tokoh-tokoh penting di zaman Belanda dulu, baik dari orang Belanda, Inggris maupun Indonesia. Bahkan makamnya Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an ada di sini.

aneka patung
Adapula patung-patung manusia dan malaikat bersayap, persis dengan patung-patung di negeri Eropa sana. Patung-patung itu tampak sangat hidup, dengan berbagai macam ekspresi. Kebanyakan sih berekspresi kesedihan dan kehilangan. Dari detilnya yang sangat halus, jelas sekali patung-patung itu dibuat oleh pematung dan pemahat ahli di zamannya. Masuk Taman Prasasti ini bagaikan memasuki sebuah galeri seni para seniman. Ternyata tempat ini tak hanya menarik untuk foto-foto saja, tapi juga menyimpan karya seni tingkat tinggi dan bukti-bukti sejarah negeri ini.


Setelah lelah berkeliling dan berfoto-foto, kami leyeh-leyeh sejenak di bangku taman di bawah  pohon besar nan rindang. “Pasti pohon besar ini yang ada di foto waktu itu” gumamku. Pohon besar dengan daun yang berguguran, di sebuah pemakaman, ternyata sangat nyaman.. haha.. Seram? Ah, biasa aja. Kecuali kalau datang ke sini sendirian, atau datang pas malam hari. Itu baru horror.. hiiii.

***


Itu foto-foto dan ceritaku saat kesana pada tahun 2011 lalu. Udah lama banget ya. Kabarnya sekarang Museum Taman Prasasti sudah tak seperti dulu lagi. Pohon-pohon besar nan rindang itu sudah banyak yang ditebang. Beberapa bagian sudah banyak dirombak. Sayang sekali ya. Suasananya pasti tak seteduh dulu lagi. Entah apa alasannya penebangan itu dilakukan, padahal pohon-pohon itu sangat penting untuk penghijauan, dan meredam panasnya Jakarta. Ada yang bilang suasana Taman Prasasti sekarang lebih bersih dan terang benderang. Tapi kalau aku, lebih suka suasana yang teduh dan remang-remang.

Namun bagaimanapun juga tempat ini tetap layak untuk dikunjungi, terutama bagi yang penasaran seperti apa Taman Prasasti sekarang. So, aku tunggu ceritamu kawan.

Happy travelling ^^
jangan bersedih

Sunday, March 03, 2013

Blogiveaway - Runaway Diary


Sepertinya akhir-akhir ini aku rajin banget ikut giveaway ya. Mumpung banyak yang bagi-bagi rejeki, siapa tahu beruntung ikut kecipratan.. hehe.. Dan postinganku hari ini masih seputar giveaway. Kali ini giveaway berasal dari ToMkuU alias TK. Berhubung persyaratannya tidak terlalu sulit, dan hadiahnya lumayan buanget, rasanya sangat sayang untuk dilewatkan. Bagi teman-teman yang mau ikutan juga, kalian hanya perlu mendaftarkan postingan kalian tentang 'review sesuatu'. Misalnya review kuliner, tempat-tempat wisata, produk-produk kecantikan, kesehatan, teknologi, buku, hewan, dan lain sebagainya. Nah kebetulan aku sering posting tentang tempat-tempat wisata, ada juga tentang kuliner dan suatu produk. Bolehlah diikutsertakan. Dan inilah link postinganku.
Banyak juga ya postingan yang aku daftarkan. Semoga semua masuk kategori yang dimaksud. Dan semakin banyak yang diikutsertakan berarti peluang untuk bisa menang semakin besar. Aminnn.. ^^