Wednesday, May 29, 2013

Jejamuran, Bukan Jamur Biasa

Seperti yang telah aku janjikan sebelumnya, kali ini aku akan posting tentang kuliner (lagi). Tentu saja masih dalam rangka pulang kampung, jadi kulinernya masih seputar Magelang-Jogja. Kalau sebelumnya aku bercerita tentang tahu kupat Magelang yang hemat dan nikmat, kali ini aku akan cerita tentang kuliner yang sehat, nikmat dan bermanfaat. Apa itu?

Pernah dengar dong yang namanya jamur. Kalau makan jamur? Beberapa mungkin sudah sering mencoba. Tapi ada juga yang belum pernah loh. Wah rugi amat ya. Padahal jamur itu tak hanya lezat, namun juga banyak manfaat. Antara lain meningkatkan kekebalan tubuh dan metabolisme, mencegah kanker, baik untuk jantung, aman bagi penderita diabetes, dan menurunkan berat badan. Jadi bagi yang sedang diet, jangan sungkan-sungkan mengkonsumsi menu jamur ini.

Mungkin karena itulah, maka sebuah restoran di daerah Jogja memakai bahan baku jamur untuk  semua jenis hidangan makanannya. Bukan hanya menu utamanya, tapi juga menu pelengkap. Nama restoran ini adalah Jejamuran. Resto yang berlokasi di daerah Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta ini, cukup mudah dijangkau. Itu tentu karena petunjuk jalan yang sangat jelas. Ada beberapa papan nama Jejamuran di pasang di pinggir jalan sebagai penunjuk arah. Jadi orang yang belum pernah ke sinipun, tak akan mengalami kesulitan. Pokoknya kalau dari arah Jogja ke Magelang, terus saja sampai lampu merah perempatan Beran Lor, kemudian belok kanan, ikuti petunjuknya. Nah, sampai deh. Restonya ada di sebelah kiri. Seperti inilah penampakannya.


Hmmm.. Besar juga resto ini. Aku jadi khawatir, jangan-jangan makanan di sini harganya mahal. Resto ini bernuansa jawa yang didominasi oleh interior dari kayu. Masing-masing bagian ruangan mempunyai nama yang diambil dari nama jamur. Dengan penerangan lampu kekuningan menambah kesan homy pada resto ini. Untuk menghibur para pelanggan, disediakan pula live music. Wah jadi makin kuatir nih. Karena kalau di Jakarta dan sekitarnya, resto model begini, memasang harga yang cukup tinggi. *Pikiran emak-emak peritungan alias pelit* :P

 



Ya sudah, demi menjawab rasa penasaranku akan menu jejamuran yang katanya enak banget itu, kusingkirkan rasa kuatirku, dan duduk manis kami di sana. Kulirik sebuah daftar menu yang ada di meja, dan aku cukup lega, karena harganya nggak semahal dugaanku. Inilah daftar menu dan harganya. Cukup terjangkau bukan? Bahkan menu jamur krispi di sini harganya lebih murah dari yang dijual di kaki lima Bintaro Plaza.


Dengan rasa lapar yang amat sangat, kami mulai memilih beberapa macam menu. Untuk makanannya kami pilih tongseng jamur, jamur bakar, sate jamur, dan jamur krispi portabella. Untuk minumannya kami pilih es teh manis dan lemon tea saja.


Setelah rasa kuatirku akan harga hilang, kini timbul kekuatiran yang lain. Melihat daftar menu yang hanya jamur saja, anak-anakku jadi ngambek. "Ah, nggak enak banget! Masa' makanannya cuma jamur aja! Aku nggak mau ma! Aku maunya sate ayam, bukan sate jamur". Duh gimana kalau mereka nggak mau makan? Dengan susah payah aku meyakinkan mereka kalau jamur itu enak. Tapi tetap saja mereka nggak percaya, sampai akhirnya hidangan yang dinanti-nanti tersaji.



Wuiih.. nggak disangka ternyata penampilan si jamur dalam hidangan-hidangan ini, sangat menggiurkan. Lihat saja sate jamur ini. Bikin cleguk kan? Bahkan anakku, Ariq, yang tadinya underestimate, jadi penasaran ingin mencoba. Dan setelah mencoba dia langsung mengklaim "Pokoknya sate jamurnya buat aku semua! Enak banget ma!". Jiaaah.. Tadi katanya nggak mau makan. Dasar bocah.


Menu berikutnya jamur krispi portabella. Namanya kaya’ nama tokoh telenovela ya? Hehe.. Penampilannya sih nggak jauh beda dengan jamur krispi yang di Bintaro Plaza. Tapi begitu aku menggigitnya.. Wuiih beda banget! Jamur krispinya benar-benar krispi, tidak seperti yang di Bintaro Plaza yang agak lembek, kenyal dan beraroma langu. Pokoknya yang di sini enak banget. Lebih murah lagi.


Berikutnya jamur bakar. Dan harus aku bilang rasanya juara. Rasa pedas manisnya pas banget. Bikin ketagihan. Ini menu favorit anak perempuanku, Lita. Kemudian menu pilihan kami yang terakhir adalah tongseng jamur. Rasanya pas, tapi tidak sepekat tongseng kambing. Rasa bumbunya juga lebih ringan. Duuh nulis tentang makanan bikin lapar..


Itulah beberapa menu yang kami coba. Semuanya enak. Jadi penasaran dengan menu-menu yang lain. Apalagi ada menu baru jamur lada hitam favoritku. Pokoknya resto ini rekomended banget deh. Nanti kalau pulang kampung lagi aku pasti mampir kesini lagi. Kapan lagi coba menyantap makanan sehat, berkhasiat, lezat, tapi juga hemat.


Sebelum pulang aku sempatkan narsis dulu di depan pembibitan jamur, sementara suamiku membereskan urusan finansial, alias bayar tagihan.. Hehehe..

Happy traveling ^^

***

Eh iya, resto ini juga menyediakan semacam suttle car, untuk mengantar dan menjemput pengunjung dari area parkir ke area resto, dan sebaliknya. Keren yach, macam di bandara ajah.. :D.

Thursday, May 23, 2013

Candi Prambanan Dalam Teriknya Siang

Pulang kampung ke Magelang, rasanya tak lengkap kalau nggak mampir ke Jogja. Jogja memang selalu ngangenin buat dikunjungi. Apapun ada disana. Mau wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata belanja, bahkan wisata pendidikan. Tapi berhubung aku nggak punya banyak waktu, maka kami mampir ke tempat yang praktis saja, yang pasti tak pernah dilewatkan oleh para pelancong kalau ke Jogja. Yaitu Candi Prambanan!
Kalau ke Candi Borobudur sudah sering, tapi ke Candi Prambanan aku belum pernah loh *malu*. Kebangetan ya tinggal di dekat Jogja tapi belum pernah ke Prambanan. Nah, biar nggak dikira traveler kuper, maka aku mampir kesana :D.

***

Tak terlalu lama jarak dari Magelang ke Prambanan. Hanya sekitar 1 jam-an saja. Sekitar pukul 11 kami sampai di Prambanan. Dan.. Wooow.. Panas bangeeet.. Gilaa.. Bisa-bisa kulitku belang-belang nih. Untungnya di sana banyak penjaja payung, maksudnya menyewakan payung. Jadi lumayanlah bisa mengurangi sengatan matahari. Satu payung disewakan dengan harga Rp 5.000, boleh dipakai sepuasnya. Warnanya juga cerah-cerah loh, cantik buat jadi teman berpose. Lihat nih poseku bersama si payung merah. Cantik kan..?


Eh aku kok malah promosiin payungnya sih. Mana dong candinya? Nah itu dia. Megah sekali kan candi Prambanan ini? Menurut cerita legenda dikisahkan bahwa candi Prambanan dibuat oleh seorang pangeran bernama Bandung Bondowoso yang dibantu oleh para jin pengikutnya, sebagai syarat untuk meminang putri Loro Jonggrang. Tentu saja itu itu hanya cerita rakyat saja. Kenyataannya, candi Prambanan ini merupakan candi hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi oleh raja-raja dinasti Sanjaya. Jadi yang membangun bukan pasukan jin loh.. Hehe :P.


Candi Prambanan ini memang mengagumkan. Aku masih saja terpesona, bagaimana batu-batu bisa dibangun menjadi candi yang sarat dengan nilai seni. Detil reliefnya, konstruksi bangunan, dan arsitekturnya. Semua tak hanya indah, tapi punya nilai sejarah dan makna yang dalam. Padahal itu dibangun di jaman yang belum secanggih sekarang ini. Luar biasa bukan? Jadi sungguh keterlaluan kalau ada tangan-tangan jahil yang tega merusaknya.

Melihat bangunan yang sangat menawan itu, tentu tak puas kalau hanya dari jauh saja. Namun teriknya matahari, mengendurkan semangatku untuk menjelajah lebih jauh. Dan terpaksa aku hanya berfoto-foto di pinggir candi saja, dan mengagumi bangunan indah itu dari jauh. Sementara turis-turis lokal banyak yang kepanasan, justru turis-turis bule asyik menjemur diri di pelataran candi.


Panasnya hari itu memang sungguh mengganggu. Sampai-sampai anak-anakku tidak betah berlama-lama di area candi. Ya sudahlah. Kuputuskan mengakhiri acaraku mengeksplore candi. Sebenarnya sayang juga sih, sudah membayar tiket masuknya mahal (Rp 30.000/orang), tapi berada di sana cuma sebentar. Yah mau bagaimana lagi, daripada anak-anak rewel.

Namun, keputusanku keluar dari area candi ternyata nggak rugi-rugi amat kok. Di sekeliling area candi, banyak obyek lain yang menarik, terutama buat anak-anak. Seperti kereta mini, area taman bermain, dan penangkaran rusa. Dan buat emak-emaknya jangan kuatir. Ada area belanja oleh-oleh juga loh. Aneka kerajinan dan pernak-pernik dijual dengan harga murah meriah di sana. Seperti yang aku beli saat itu. Kalung yang keren banget, harganya cuma Rp 10.000 saja! Kemudian ikat pinggang bernuansa etnik, yang biasanya di Jakarta dijual dengan harga Rp 50.000, di sana hanya dijual dengan harga Rp 20.000 saja! Duuh bisa kulakan nih. Lumayan buat dijual lagi.. Hihihi..



Eh masih ada lagi yang bikin takjub. Bayangkan, bros dari kerang yang unyu-unyu, dijual dengan harga Rp 1.000 saja per buah. Bikinnya njlimet, tapi cuma dihargai segitu. Kalau aku sih ogah.. Hehe..
Masih ada lagi yang aku beli. Yaitu alat musik gamelan buat anakku Ariq, seharga Rp 30.000, dan jenang krasikan ukuran jumbo seharga Rp 15.000.




Niatnya mau melihat candi, eh malah jadinya belanja-belanja. Ah, dasar emak-emak. Daripada kebanyakan yang pengen dibeli, lebih baik diakhiri saja trip ke Prambanan kali ini. Dan siap-siap untuk wisata kuliner.

Happy traveling ^^

Wednesday, May 15, 2013

Tahu Kupat Pelopor, Hemat dan Nikmat


Apa kabar temans? Lama sekali kita tak bersua di sini. Maklum ya, akhir-akhir ini memang banyak masalah yang aku pikirkan, dan banyak hal yang harus aku lakukan. Salah satunya traveling ke kampung halaman. Nah postingan kali ini adalah edisi khusus oleh-oleh dari kampungku, Magelang.

Kali ini aku akan cerita sedikit tentang kuliner dari kampungku. Namanya kupat tahu atau tahu kupat. Setiap pulang kampung kami selalu menyempatkan diri menikmati kuliner ini. Tak terkecuali weekend kemarin. Banyak penjual kupat tahu yang enak di kampungku. Dari penjaja keliling, warung kecil ala kadarnya, sampai di restoran mewah. Dan salah satu warung yang sering kami datangi adalah warung tahu kupat Pelopor. Warung ini berada di jalan raya Blabak,  Kalau dari arah Magelang menuju Jogja, pasti melewati warung tahu kupat ini.

Seperti warung pada umumnya, warung tahu kupat Pelopor ini tidak besar. Namun walaupun kecil, warung ini cukup populer loh. Pelanggannya bukan hanya dari Magelang saja, tapi dari daerah lain pula. Bahkan jika libur lebaran tiba, warung ini penuh sesak. Dan antrianpun sangat panjang. Sayangnya tempat parkirnya sangat sempit. Paling hanya muat 2 mobil, dan beberapa motor saja. 

bagian depan
 
Penampilan luar warung ini juga tidak mencolok. Hampir sama dengan warung-warung di sekitarnya. Makanya, kami sering keblabasan, jika tidak benar-benar pasang mata. Beginilah penampilan luarnya. Background biru, dengan tulisan Pelopor warna kuning. Bagian dalam warung ini juga didominasi warna biru, sederhana dan rapi. Eh walaupun sederhana, tapi warung ini cukup gaul juga loh. Terbukti dengan tersedianya hot spot di sini. 


bagian dalam
  
Selain menu tahu kupat, warung ini menjual cemilan pelengkap tahu kupat, seperti kerupuk, rambak dan gorengan. Soal rasanya tentu saja maknyuuss banget.. hehe
Sebenarnya seperti apa sih makanan tahu kupat itu? Bagi yang belum tahu, aku jelasin sedikit ya. Tahu kupat adalah makanan yang terdiri dari tahu dipotong dadu, kupat, kol dan kecambah, ditambah bumbu berupa ulekan kacang, bawang, dan cabai. Kemudian disiram kuah manis pedas yang segar. Dan seperti ini penampakannya. Hmmm..*cleguk.

This is it.. Tahu kupat!

Bagaimana dengan harganya? Dijamin murah meriah. Waktu kami kesana weekend kemarin, kami menghabiskan Rp 47.000, untuk 5 porsi tahu kupat, 5 buah gorengan, 2 kerupuk, 2 es jeruk dan 1 es teh. Murah dan mengenyangkan. Pas buat kantong backpacker.. Hehe..

Nah, bagi teman-teman yang jalan-jalan ke Magelang, bisa coba kuliner hemat namun nikmat ini.

Happy traveling ^^

Sunday, May 05, 2013

Suamiku dan Kameranya

Suamiku punya hobi fotografi. Impiannya mempunyai kamera DSLR profesional sudah ada sejak lama, sejak awal pernikahan kami. Tetapi karena perekonomian tidak mendukung, aku memintanya menunda keinginannya membeli kamera. Namun sepertinya hasratnya semakin besar. Dan ketika dia terus-terusan "merengek-rengek", akhirnya aku merelakan motor matik Kymco-ku untuk dia jual, dan hasilnya buat beli kamera, walaupun masih nombok juga. Perasaanku waktu itu tentu saja sedih harus kehilangan motor. Namun aku rela. Demi suami, apa sih yang nggak aku lakukan?

Kerelaanku mengijinkan suami membeli kamera mahal itu bukan tanpa alasan dan tanpa pertimbangan. Bukan pula sekedar memberi fasilitas kepada suami untuk bersenang-senang. Aku menaruh harapan besar di sana. Aku sangat tahu, suamiku punya talent yang besar di bidang fotografi. Karena itu aku berharap, dengan kamera itu suamiku bisa mengembangkan bakatnya dan terus berkarya lebih baik lagi, serta bermanfaat bagi orang banyak.

Tak cukup sampai di situ dukunganku. Setiap mampir ke toko buku, aku beberapa kali menyarankannya membeli buku fotografi, untuk menambah pengetahuannya. Aku juga merelakannya bahkan menyuruhnya hunting foto di berbagai tempat yang indah, walaupun aku dan anak-anak harus tinggal di rumah. Aku juga selalu meluangkan waktuku mantengin internet demi mencari event-event lomba fotografi yang bisa dia ikuti. Aku bahkan secara otodidak belajar bagaimana cara berpose yang benar, agar aku bisa jadi sarana belajarnya, jadi modelnya. Dan ketika kameranya hilang dicuri orang, akupun mengijinkannya membeli kamera lagi, walaupun dengan kreditan bank yang setiap bulannya harus kami cicil pembayarannya.

Dengan segala effortku itu, dan banyaknya foto-foto indah yang dia hasilkan, menurutku tak ada yang bisa meragukan dukunganku kepada suamiku. Bahkan malaikat juga tahu, aku selalu mendukungnya.
Dan ketika ada seseorang yang tanpa dasar menuduhku bahwa aku tidak mendukung hobi fotografi suamiku, tentu saja aku tidak terima. Dari sisi mana aku tidak mendukungnya? Kalau yang dimaksud adalah aku tidak mendukungnya memotret model-model seksi berpakaian sangat minim, itu benar. Aku memang tidak mengijinkannya. Dan aku yakin semua wanita dan istri yang normal, tidak akan pernah rela jika suaminya memandang, melototin dan ngincer cewek-cewek seksi yang berbusana nyaris telanjang. Apalagi ditambah dengan komentar kekaguman.

Aku mengijinkannya memotret model, asal modelnya berpakaian normal. Bukan fotomodel dengan pakaian cuma sejengkal, dan berpose binal. Laranganku itu bukan karena alasan kecemburuan semata. Aku sangat tahu suamiku punya hasrat besar pada keindahan wanita, seperti halnya laki-laki pada umumnya. Dan sangat mungkin napsunya akan terbawa.

Sebagai bahan acuan dan dasar bahwa aku tak sembarangan dengan pernyataanku di atas, aku sempat "mewawancarai" dua orang temanku laki-laki yang punya hobi fotografi. Berikut wawancaranya.

Wawancara dengan laki-laki 1
Dan, kamu pernah nggak moto-moto model seksi yang bajunya terbuka?
Nggak
Kenapa? Apa kamu nggak pengen?
Ya pengenlah, namanya juga laki-laki, pasti suka cewek-cewek seksi. Tapi aku emang mau jaga diri aja. Daripada moto yang enggak-enggak kaya' gitu, mending aku moto pemandangan. Kalaupun pengen moto model, ya yang normal-normal aja. Lagian nggak harus fotomodel kan, bisa moto istri, anak, saudara atau teman-teman.

Wawancara dengan laki-laki 2
Kamu sering ya moto model seksi?
Jelas donk, semua cowok suka kan ama cewek seksi. Apalagi model.
Trus model seksinya yang kaya’ gimana?
Ada yang difoto rame-rame, jadi kami yang mau moto patungan bayarnya. Ada yang pakaiannya seksi, ada juga yang telanjang.
(Aku nggak terlalu kaget mendengar itu, karena aku pernah melihat sendiri file foto-foto hasil jepretan temanku yang isinya foto cewek-cewek telanjang)
Trus yang kaya' gimana lagi?
Ada juga model yang bisa disewa private. Dan bisa "dipake".
Kamu pernah "make"?
Pernah donk.
Jleb! Separah itu..

Dari hasil "wawancara" itu, aku menyimpulkan memang tak bisa dipungkiri, bahwa laki-laki menyukai hal-hal seperti itu. Tinggal bagaimana membentengi diri saja. Laki-laki 1 memilih menjauhi, karena dia tak yakin dirinya bisa menahan diri. Sedangkan laki-laki 2 justru malah mengumbar hasratnya, dan jelas itu jalan sesat.

Aku tentu saja tak ingin suamiku terjerumus seperti laki-laki 2. Makanya aku berusaha menjauhkan suami sejauh mungkin dari hal-hal yang mengundang napsu birahi ke wanita lain. Dalam Al Qur'an surat An Nur ayat 30, Allah sudah memberi peringatan
 "Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: Hendaknya mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat"
Allah sudah mewanti-wanti, pandangan dan kemaluan harus dijaga, kalau tidak, bisa rusak rumah tangga dan rusak dunia. Aku sebagai istri selalu berusaha mengingatkan suami agar tidak mendekat-dekati dosa dan zina.

Jadi dari sisi mana aku tidak mendukungnya?


Friday, May 03, 2013

Just Stay Strong


dari sini

Allah tak kan memberikan kita sesuatu yang tak mampu kita tanggung. Seperti ketika memberi masalah dan cobaan kepada kita, itu karena Allah yakin kita kuat dan mampu mengatasi. Jika Allah saja yakin, kenapa kita tidak? Merasa tidak mampu dan putus asa, itu sama saja kita tidak percaya pada Allah.

Laksana sebuah sekolah, jika kita akan naik kelas, selalu ada ujian yang harus kita lalui. Begitu juga di kehidupan kita ini. Allah memberikan cobaan karena ingin mengangkat derajat kita. Ketika kita tidak putus asa, mau menerima cobaan dengan terus berikhtiar dan berdo'a, percayalah Allah akan memberikan yang terbaik. Dan di saat yang sama kita sudah naik kelas.

Namun terkadang beratnya cobaan yang harus kita tanggung membuat kita menyalahkan Allah. "Ya Allah, mengapa Engkau berikan cobaan seberat ini?”
“Apa salah hamba ya Allah? Hamba selalu berusaha menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu. Tapi mengapa Engkau hukum hamba seperti ini?"
Tapi tahukah teman bahwa Allah memberikan cobaan kepada kita, justru karena menyayangi kita. Allah tak ingin kita berpaling dariNya. Karena cobaan dapat kita lalui dengan baik ketika kita selalu mengingat dan mendekatkan diri padaNya. Bukankah dengan mengingatNya, segala masalah menjadi lebih mudah?

Terkadang pula kita iri pada orang lain. "Ya Allah, kenapa Engkau berikan masalah padaku? Bukan kepada orang-orang yang banyak berbuat dosa. Mengapa tidak Engkau hukum mereka saja?"
Hei, bukankah seharusnya kita bersyukur? Karena dengan cobaan, Allah mengingatkan kita dan menjauhkan kita dari perbuatan dosa. Dan justru orang-orang yang banyak berbuat dosa dan tak diberi peringatan, adalah orang-orang yang merugi dan celaka. Mereka tidak diberi kesempatan untuk insaf dan taubat. Dosa mereka akan bertambah banyak. Dan mereka akan menanggungnya nanti di hari pembalasan.

Jadi teman-teman yang sedang diberi cobaan dan masalah, jangan putus asa, seberat apapun itu. Tetap kendalikan diri, dan jangan terbawa emosi. Karena emosi hanya akan menguras energi kita, dan membuat tidak fokus pada pemecahan masalahnya. Tetap berusaha dan bersabar. Yakinlah Allah selalu menyertai kita, dan tak akan tinggal diam.

*pelukku untuk kalian semua yang sedang diberi cobaan, semoga kita sama-sama dikuatkan*
Keep smiling.. keep shining, friends :).