Tuesday, December 30, 2014

Good Bye 2014

Tahun 2014 bukan tahun yang mudah bagiku. Banyak rencana dan harapan nggak terwujud. Kehilangan dan musibah pun tak luput menimpaku. Tapi semua itu nggak perlu disesali dan ditangisi. Justru dijadikan pelajaran dan pengalaman yang menjadikanku lebih kuat dan kebal menghadapi tantangan. Aku suka kata-kata ini, "What doesn't kill you makes you stonger". Bener banget kan? Semua yang kualami sepanjang tahun ini membuatku lebih kuat dan berani menjalani hidup di tahun-tahun berikutnya. InsyaAllah...


Aku selalu percaya pada janji Allah, bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dengan keyakinan ini pula aku berharap dan berdoa, semoga segala kesulitan yang kualami di tahun 2014, berbuah banyak kemudahan di tahun 2015. Amin.


Friday, December 26, 2014

Mpok Siti, Bus City Tour Jakarta yang Bikin Keki

Sepertinya aku memang nggak berjodoh dengan yang namanya Siti. Setelah bermasalah dengan pembantuku yang bernama Siti beberapa bulan yang lalu, kini aku kembali bermasalah dengan Siti. Kali ini dengan Mpok Siti, sebuah bus tingkat seksi, yang istilah kerennya Bus City Tour Jakarta. Pasti udah tahu donk ama bus yang satu ini. Beberapa media sering memberitakan keberadaan Mpok Siti yang akan membawa penumpang berkeliling Jakarta secara cuma-cuma alias gratis sepanjang tahun 2014. Dari awal tahun hingga akhir tahun ini, baru kali ini aku tergerak untuk mengajak keluargaku berjalan-jalan ama Mpok Siti. Kebetulan liburan sekolah anak-anak bertepatan dengan long weekend. Dan berhubung masih tanggal tua aku pengen ngajak jalan-jalan yang murah meriah aja, alias liburan nggak ke luar kota. Yang penting fun dan tetap irit. Hidup irit! Karena itulah aku pilih berkeliling Jakarta bersama Mpok Siti.

Seperti biasa sebelum traveling aku selalu mencari tahu dulu kondisi medannya. Walaupun cuma di dalam kota, tetap perlu persiapan donk, apalagi aku mengajak anak-anak. Jangan sampai mereka nggak nyaman selama perjalanan. Mulai dengan searching artikel sana sini, dan memfollow akun twitter @CityTourJakarta. Ini kulakukan agar aku bisa mendapatkan informasi resmi dari sumbernya langsung yang jelas lebih terpercaya. Dan mulailah aku memention akunnya Mpok Siti. Berikut ini beberapa twitku:


 Dijawab sama Mpok Siti:


Oke sip, aku udah jawaban bahwa tanggal 25 Desember 2014, Mpok Siti beroperasi seperti biasa, mulai jam 09.00 pagi. Yup! Siap berangkat dengan tenang karena udah dapat info yang jelas. Tanggal 25 Desember tepat jam 09.00, aku, suami dan anak-anak sudah sampai di halte Sarinah. Kami memilih menunggu di Sarinah, karena di sana ada tempat parkir mobilnya. Di halte Sarinah udah ada 4 orang yang lagi nunggu Mpok Siti juga. Jalanan sekitar Sarinah cukup lengang pagi itu. Dan aku berharap penumpang Mpok Siti juga nggak terlalu ramai. 


 Dengan sabar kami menunggu. Sudah 1 jam kami menunggu, Mpok Siti belum juga menampakkan batang hidungnya. Kucoba buka akun twiternya dengan harapan mendapatkan kabarnya di sana. Ah, nggak ada. Yang ada cuma mention dari orang yang lagi nunggu Mpok Siti juga di halte Monas. Dan dijawab sama Mpok Siti seolah bus itu akan datang segera. Aku sih berbaik sangka aja, mungkin Mpok Siti agak telat. Nggak kepikiran kalau Mpok Siti bakal ingkar janji. Kucoba menenangkan Ariq yang mulai gelisah dan bosan. Matahari yang makin tinggi dan menyengat, mulai membuat keringat kami bercucuran. Tapi kami tetap tegar, begitu juga calon penumpang yang lain.

Tiga puluh menit kemudian aku cek lagi aku twitternya. Ada berita dari Mpok Siti isinya begini:

 


Waduh! Kenapa baru sekarang ngasih tahunya? Padahal kemarin dan tadi pagi masih ngetwit kalau beroperasi mulai jam 09.00. Eh sekarang udah ditungguin dari jam 09.00, tahu-tahu berubah dadakan jadi mulai beroperasi jam 12.00 siang. Apa kabar kami ini yang udah mbuang-mbuang waktu nunggu berjam-jam? Ya sudah, mau gimana lagi. Daripada nunggu di situ kepanasan, kami memilih ke tempat lain dulu. Kecewa sih, tapi mungkin ada kondisi yang mendesak, jadinya Mpok Siti nggak datang sesuai janji. Maklum ajalah. 

Akhirnya kami menuju Toko Buku Gunung Agung untuk membunuh waktu. Dan bisa tebak, ujung-ujungnya pasti beli buku. Itu berarti harus keluar uang nggak sesuai rencana. Total habis sekitar Rp 100.000 buat beli buku. Duh nggak jadi irit nih. 

Jam 12.00 kami kembali lagi ke halte Sarinah. Wah yang ngantri tambah banyak. Kebanyakan rombongan keluarga yang membawa anak-anak, seperti kami. Bisa dibayangkan panas matahari yang menyengat tepat di tengah hari. Tapi demi bisa jalan-jalan ama Mpok Siti kami rela. Apalagi anak-anak udah nggak sabar pengen naik bus tingkatnya. Yah memang demi menyenangkan anak-anak dan menjawab rasa penasaran mereka kami ini rela berpanas-panasan antri. Nggak tega juga sebenarnya melihat keringat bercucuran membasahi tubuh anak-anak ini. Tapi semoga ini semua terbayar dengan keceriaan mereka nanti. 

Cukup lama kami menunggu, dan akhirnya Mpok Siti datang juga. Semua calon penumpang menyambut dengan semangat. Mengingat banyaknya orang yang pengen naik, aku bilang ke suamiku agar naik duluan biar bisa nyariin tempat duduk buatku dan anak-anak. Tapi yang terjadi di luar dugaanku. Begitu pintu bus terbuka, beberapa crew bus menghadang kami, dan salah satu dari mereka berkata bahwa bus nggak bisa mengangkut kami semua, jadi cuma beberapa orang aja. Kupikir itu karena kursi kosongnya tinggal sedikit. Tapi ternyata aku salah, nyatanya masih banyak kursi kosong di dalam bus, tapi kami udah distop nggak boleh masuk lagi. Jadi cuma 3 atau 4 orang saja yang berhasil naik. Salah satunya suamiku. Ya, suamiku berhasil masuk ke dalam bus sesuai dengan rencana, tapi aku dan anak-anak nggak boleh masuk seperti puluhan calon penumpang yang lain. Waduh! Mau ngasih tahu suamiku juga susah kalau begini, karena dia udah nunggu di atas. Mau nelpon juga pasti udah telat, keburu busnya jalan. Aku cuma berharap suamiku menyadari kalau istri dan anak-anaknya nggak berhasil naik. Aku hampir hilang harapan ketika pintu bus menutup. Pasrah suamiku dibawa Mpok Siti. Tapi beberapa detik setelah pintu menutup, tiba-tiba kulihat sosok suamiku muncul, dan saat itu bus udah mulai jalan. Kulambaikan tangan agar dia menyadari kami masih ada diluar. Alhamdulillah suamiku tahu dan segera meminta bus berhenti. Dan karena aku dan anak-anak tetap nggak dibolehin naik, akhirnya suamiku yang turun. 

Jangan ditanya perasaanku saat itu, udah pasti kecewa banget. Apalagi dengan penjelasan crew bus yang nggak masuk akal. Kursi masih banyak yang kosong kok kami nggak boleh naik. Biar nggak ngomel sia-sia akhirnya kuputuskan mengeluhkan pelayanan Mpok Siti via twitter. Itu omelanku

 
Anak-anakku kini benar-benar ribut. Mereka kecewa kok nggak jadi naik bus tingkat. Aku pun harus memutar otak untuk menenangkan anak-anak. Tentu aku putuskan untuk mengakhiri saja harapanku naik Mpok Siti. Di halte itu masih ada puluhan ibu-ibu dan anak-anak yang masih berharap bisa naik Mpok Siti, mendingan aku ngalah aja. Agar anak-anakku tenang, kami ajak mereka makan di KFC kesukaan mereka, sambil bicara pelan-pelan kalau hari ini kami nggak jadi naik bus tingkat. Yup, harus keluar uang Rp 150.000 untuk makan di KFC. Huh! Mana iritnya coba? 

Sehabis makan sekitar jam 13.30, calon penumpang di halte Sarinah masih banyak sekali. Sepertinya nggak berkurang sejak bus pertama tadi datang. Ya sudah, kami putuskan pulang, setelah di PHPin Mpok Siti. Tapi masalahnya, Ariq tetep aja merengek-rengek dan ngambek karena nggak jadi naik bus tingkat. Yah maklumlah, aku aja yang orang dewasa kesal, apalagi anak-anak. Pasti mereka kecewa. Ah, aku harus menebus rasa kecewa mereka. Makan di KFC nggak mempan, dikasih jajanan dan permen nggak mempan, dijanjiin es krim juga nggak mempan. Duuh, piye iki? Akhirnya aku ajak mereka nonton film di XXI, baru mereka tenang. Huhuuuu... Jadi boros begini. Padahal niat awalnya pengen irit dengan naik bus gratis, eh jadinya malah bikin dompet tipiiiis... Total ngabisin duit Rp 500 ribu lebih. Duh nasiiib.. 

Pagi tadi Mpok Siti ngirim message via twitter isinya begini:


Aku udah terima permintaan maaf Mpok Siti, dan aku maafin. Walaupun sebenarnya aku berharap ada kompensasi untuk menebus rasa kecewa kami. Yah minimal diajak keliling Jakarta tanpa ngantri dan nunggu kepanasan, trus bisa duduk di bagian tingkatnya paling depan.. Hehe.. *ngarep banget*.
Bagi yang mau naik Mpok Siti long weekend ini, silahkan dipikir-pikir lagi, soalnya hari ini masih ada yang kecewa sama pelayanannya Mpok Siti. Mungkin Mpok Siti belum siap menghadapi banyak penggemar.
Semoga besok-besok Mpok Siti nggak bikin masyarakat kecewa lagi.


Monday, December 15, 2014

Antara Poligami, Selingkuh, dan Kesetiaan

Lama nggak muncul di sini, tiba-tiba aku ingin menulis lagi. Ini sebuah tulisan yang sedikit berat, berbeda dengan tulisan-tulisanku sebelumnya yang cenderung ringan. Gara-gara nggak sengaja membaca status FB seorang teman, aku jadi terusik ingin membahasnya. Statusnya tersebut intinya mengatakan bahwa dia tidak berpoligami karena dia setia dan cinta pada istrinya. Kalau aku membacanya dulu waktu aku masih umur 20-an, aku pasti setuju dan kagum dengan pendapat beliau. Tapi berhubung bacanya sekarang, saat umurku sudah 30-an, saat aku sudah menempuh kehidupan rumah tangga belasan tahun, dan sudah bergumul dengan kerasnya kehidupan, kini aku punya pendapat yang berbeda.

Apa itu berarti aku setuju jika suamiku berpoligami? Eits, jangan buru-buru menyimpulkan sebelum tahu isi hatiku lebih dalam. Jadi gini, aku sudah menjalani pernikahan sejak umurku 22 tahun, dengan seorang pria yang aku jatuh cinta padanya. Saking cintanya, rasanya nggak rela kalau dia melirik wanita lain (melirik dalam arti sebenarnya -red). Jadi sudah jelas waktu itu aku menentang keras yang namanya poligami, karena itu menunjukkan ketidaksetiaan seorang suami. Karena poligami cuma alasan para laki-laki yang nggak pernah puas dengan 1 wanita. Yah, itu pendapatku dulu. 

Seiring berjalannya waktu, aku sering nggosip mendapat curhatan dan cerita dari teman-temanku. Ada yang cerita di kantornya si A yang selingkuh sama si B. Ada pula yang cerita dirinya dirayu oleh si C yang sudah beristri. Ada pula si D yang terang-terangan bilang kalau dia mencari wanita lain, karena istrinya jauh. Haduuuh.. Pusing kalau dengar cerita seperti itu. Banyak sekali orang yang nggak setia sama pasangannya. Tapi herannya sampai sekarang rumah tangga orang-orang yang nggak setia ini semuanya tampak baik-baik saja, semua tampak normal, dan belum ada yang bercerai. Apa mereka sudah insaf? Sama sekali tidak. Tentu saja rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja karena mereka pandai berbohong dan menutupi sisi gelap mereka. Nah, terbukti kan, tidak berpoligami bukan berarti setia loh. Mereka tetap bermonogami, tapi tetap tidak setia juga. Jadi menurut pendapatku monogami atau poligami itu nggak ada hubungannya dengan kesetiaan. 

Selama ini poligami memang dianggap sebagai musuh para istri. Sering digambarkan seorang istri yang merana karena ditinggal kawin lagi oleh suaminya. Banyak cerita sinetron bahkan lagu-lagu dangdut yang mengggambarkan galaunya seorang istri yang dimadu. Dan semua itu sukses membuatku berpikir poligami itu sebuah ancaman besar. Tapi suatu ketika aku mendapat cerita lain yang bertolak belakang. Sebut saja namanya Ana. Dia temanku, anak dari seorang ayah yang berpoligami. Dan dengan bangga dia mengatakan kalau ibunya ada 3. Semua ibunya sangat dia cintai dan mencintai dirinya layaknya anak kandung. Hebatnya lagi ibu-ibunya tinggal di tempat yang sama, satu pekarangan dengan rumah yang berdekatan. Dan para ibu ini punya tugas masing-masing. Ibu pertama membantu ayahnya mencari nafkah, ibu kedua mengurusi rumah dan masak, sedang ibu ketiga bertugas mengurus anak-anak, dengan segala pernak perniknya. Aku sempat terpana mendengar cerita ini. Ternyata ada kisah sukses poligami. Apa kisah di atas sebuah contoh poligami yang benar? Aku nggak tahu. Yang jelas nggak selamanya poligami itu menyengsarakan istri. Tergantung pribadi .masing-masing dalam menjalaninya.

Pengalaman-pengalaman di atas membuatku tak lagi memusuhi yang namanya poligami. Toh, dalam Islam memang diperbolehkan, tentu semua itu ada maksudnya. Poligami dalam Islam bukan sekedar pelampiasan napsu semata. Karena poligami itu sebuah penikahan, yang menuntut tanggung jawab besar. Bukan seperti selingkuh yang hanya sebagai pemuasan hasrat seks semata tanpa tanggung jawab. Itulah mengapa laki-laki pelaku selingkuh itu nggak mau berpoligami. Karena laki-laki peselingkuh itu laki-laki pengecut, laki-laki yang nggak mau memikul tanggung jawab, tetapi mau mencari kenikmatan. Mereka itu bukan hanya pengecut, tapi juga pendusta. Berbuih-buih membohongi istri dengan kata-kata cinta, agar istrinya percaya bahwa dia setia dan nggak bakal selingkuh. Padahal besarnya cinta suami kepada istri bukan jaminan seorang suami nggak bakal selingkuh. Tapi rasa takut kepada Allahlah yang menjamin seorang suami tidak berbuat dosa.